Pemandangan terindah dan aku suka. Pagi tadi, kami; Aku dan beberapa orang teman; Teh Cacha, Teh Feni, Teh Bella, dan Teh Inay berangkat ke Punclut.

Punclut adalah sebuah lokasi di Bandung, yang menyediakan beragam pemandangan yang menarik. Salah satunya adalah sebagaimana yang terdapat pada gambar di bawah. Ahaaaa…

Beautiful
Beautiful

It’s wonderful view, friend.

Untuk kedua kalinya berkunjung ke Punclut, membuatku sungguh bahagia. Setelah sebelumnya, aku berkunjung ke lokasi ini pada malam hari. Ya, kunjungan pertama pada malam hari, yang terlihat adalah kerlipan lampu-lampu dari kejauhan.

Very ….. ? ?

***

Upss..! Ketika lagi asyik-asyiknya merangkai kalimat di sini, tiba-tiba telepon genggamku berdering. Dering yang tidak terlalu nyaring, namun terdengar. Tidak juga terdengar terlalu jelas, karena volumenya hanya beberapa tingkat saja. Ditambah lagi dengan derasnya gemericik air yang turun di luar sana. Yah, gerimis itu mulai ramai teman.

Tidak perlu menunggu terlalu lama, akupun segera meraih sumber suara, lalu memencet satu tombol saja. Tombol yang berwarna hijau, dan itu berarti aku bersedia untuk bicara dengan siapakah di ujung sana yang akan menyampaikan suara?

Adapun tulisan yang tertulis pada lembaran bercahaya yang sedang berkedipan adalah “Ibunda.” Ai! My love, cintaku sayang sungguh aku sangat merindukan beliau. Hikss..? Dari siang tadi keingetan beliau terus.

Wahai Ibunda…

Beberapa saat setelah kami tersambung, ada suara renyah di seberang sana yang segera bercuap. Ahahaaa, suara yang bukan berasal dari pita suara Ibunda, namun Onna.

Onna adalah salah seorang kakak perempuanku. Beliau baru saja menikah pada bulan November 2011 yang lalu. Dan Onna sudah dikarunia seorang buah hati yang lucu, cabi pipinya dan imut. Namanya Khayla Ahnaf Faeyza.

Ingatan ini membuat aku rindu kampung halaman. Dan rinduku segera bersemi di sini. Agar pada suatu hari setelah saat ini, aku pun menjadi tahu berapa kali aku merindukannya selama kami berjauhan.

Berhubung bukan suara Ibunda yang aku dengarkan, maka aku segera bertanya-tanya. Ada apa gerangan? Padahal, sangat jarang aku berbicara dengan Onna, apabila panggilan berasal dan datang kepada nomor dengan tulisan “Ibunda”. Namun kali ini, berbeda.

Tentu saja, karena kami mempunyai keperluan.  Dan kepentingan ini memang sudah bermula dari beberapa hari yang lalu. Untuk urusan administrasi kepindahanku ke kota ini. Rencananya, aku akan menjadi penduduk kota Bandung, saja. Yaa.  Semoga lancar prosesnya, mohon doakan yaaa. Makasi so much.😀

“Onny, coba kirimkan Onna beberapa rincian data berikut, yaa. Via sms saja,” tambah Onna dengan aliran suara yang mulai ramai dan lebih jelas. Setelah beberapa lama aku berbicara dengan Onna. Onna yang semenjak dulu baik padaku. Onna yang menjembataniku dalam berbagai hal kebutuhanku. Onna pula yang dengan segala kecekatannya, membuatku bergegas untuk segera melanjutkan rangkaian kalimat di sini, beberapa saat setelah kami berganti informasi. Dan berikut adalah pesan yang baru saja terkirim kepada beliau, berisi tentang:

Draft alamatku di sini:

Jalan, Nomor rumah, RT/RW, Kelurahan, Kecamatan, Kota, Propinsi, Kode pos, untuk keperluan pengurusan surat pindah dari tempat asalku.

Untuk selanjutnya, pembicaraan kami pun berjeda untuk beberapa waktu ke depan. Dan kami akan kembali berkomunikasi seperti saat ini. Xixii. Kabarnya Onna juga akan mengirimkan sesuatu ke alamat yang telah aku jelaskan.

“Ada kiriman apa ya, Onna,” bisikku pada beliau. Bisik yang aku suarakan dengan semangat.  Karena kami berbicara tanpa tatap wajah.

“Ada deeeeee, tunggu aja kabarnya, yaa…” jawab Onna diselingin gelak tawa yang berderai.  “Semoga Onna mengirimkan kabar baik,” gumamku. Dan hati ini menyetujui dengan lekas.

***

Ketika kita berjauhan raga dengan saudara, sanak dan keluarga, tentu kita sangat berharap bahwa beliau di sana baik-baik saja. Adapun kiriman yang sangat kita harapkan adalah doa terikhlas bersama dengan rangkaian kabar yang membuat kita segera tersenyum saat mendengarkannya. Dan itulah kiriman yang senantiasa aku tunggu-tunggu hingga saat ini.

Tidak banyak yang aku harapkan, memang.  Namun harapanku sungguh berlebih kepada ALLAH saja.

Ya Allah… lindungilah keluarga kami selalu, di saat perlindungan yang mampu ku baktikan belum sampai kepada beliau di sana. Limpahkanlah ulasan senyuman yang terus terangkai sebagai penghias wajah beliau di kala bahagia. Dan selipkanlah kesabaran di dalam jiwa beliau, sebagai kalung yang menguntai dengan penuh keindahan.

Ya Allah… hiasi hari-hari kami di manapun kami berada dengan segala keberkahan dari-Mu. Dari-Mu, kami mengharap ridha. Agar Engkau damaikan hati kami selalu dalam ketenteraman yang bertumbuh dan bertambah hingga ia menghijau saat mata memandang. Segarkan ingatan kami terhadap-Mu, ketika ingatan ini membuat rindu kami semakin menggunung.

Ya Allah… tempat terbaik yang pantas kami tempati di dunia ini, adalah tempat yang telah engkau pilihkan untuk kami. Dan sekiranya keberadaan kami merupakan salah satu jalan yang dapat membawa kemanfaatan atas keberadaan kami di dunia ini, maka jadikanlah kami betah di sana.

Ya Allah… Sesungguhnya hanya engkau sebaik-baik penolong, pemberi tempat, dan Engkau yang senantiasa menjaga kami.

Ya Allah… Cukupkan pula rezeki yang engkau titipkan kepada kami. Kecukupan yang membuat kami ringan untuk membagikannya. Karena kami yakin, engkau mengganti segala yang pergi dari kami. Dan engkau telah siapkan yang terbaik untuk kami jemput, lagi.

Aamiin ya Rabbal’alamiin…

***

Selanjutnya, aku pun meneruskan rangkaian kalimat yang sebelumnya ingin ku rangkai di sini. Ya, tentu saja setelah aku mencurahkan kerinduan bersama ingatan pada beliau yang ku sayangi dan saat ini jauh di mata.

Yuukss, marii, kita kembali ke Punclut. Punclut yang indah di Bandung.

Hamparan putih awan yang menyalami bukit-bukit itu, segera mengalihkan perhatian kami. Ketika kami sedang memilih lokasi yang ingin kami jadikan sebagai tempat untuk berrehat setelah jauh perjalanan kami tempuh. Sejauh apa yaaa?

Yes, akhirnya kami memilih sebuah tempat bernama ‘Mekar Sari’. Yang konon akhirnya, kami pun berada di sana untuk beberapa puluh menit lamanya. Untuk menikmati suguhan alam yang membuat kami,  terlebih aku, ingin kembali lagi padanya.

Adapun semilir angin yang bertiup dengan sepoi, membuat mata ini ingin segera terpejam. Lalu, terlelap di balik selimut. Namun impian ini tidak berlangsung, karena pada saat yang sama waktu masih pagi. Dan mana mungkin kami akan terlelap di sebuah lokasi yang sangat jarang kami kunjungi? Tentu saja untuk berrekreasi saja, cuci mata, sightseeing, dan apa lagi namanya yaa..?

Sesudah melepaskan pandangan mata ke hadapan, kami pun asyik mengabadikan potret. Dari satu sisi ke sisi berikutnya, kami tidak ketinggalan. Hingga terciptalah sebuah kesan yang tidak akan pernah kami lupakan. Kesan yang memesankan. Dan kami ingin agar ia menjadi satu kenangan yang akan abadi selamanya. Lalu, menjadikannya sebagai prasasti dalam perjalanan kehidupan, adalah salah satu jalan ingatkan kami satu dengan yang lainnya. Ya, ketika kami tidak lagi dapat bersama seperti saat ini.

Pada suatu kesempatan, terlihat sebuah pesawat melintas di antara awan yang memutih, cuma sekali. Sepertinya ia akan mendarat di bandar udara Husein Sastranegara. Oia? Seingatku, belum pernah aku berkunjung ke bandar udara di Bandung.

Jadi, kapan yaa?

Kapanpun itu, aku yakin dapat sampai di sana. Mungkin untuk jalan-jalan saja, atau dengan suatu keperluan. Lah iya, kalau ada rencana, kita akan sampai di sana, yakin dech. Seperti saat ini, kehadiranku di Punclut bersama teman-teman, sebelumnya hanya ada dalam ingatan. Lalu, seiring dengan bergulirnya waktu, ingatan ini pun menjadi kenyataan. Dan semua tidak pernah luput dari schedule yang ALLAH siapkan untuk kita jalani.

Cukuplah pengalaman pagi ini, menjadi salah satu ingatan bagiku, untuk teruskan cita yang sebelum ini pernah hadir di dalam hati. Dan aku ingin terus menjaganya, ada. Hingga kelak, sebuah kalimat pun tergores di dalam catatan kehidupanku. Bahwa ternyata aku tidak hanya berhak untuk bermimpi. Namun aku pun berkewajiban untuk merangkainya dalam catatan perjalanan diri. Tentu saja sebagai bukti yang menjadi prasasti untuk ku bagi.

Semoga, doa beliau yang saat ini jauh di mata, segera mendekat pada diri ini. Selayaknya para saudara yang saling membantu dan melengkapi, kita tidak pernah mampu melakukan apapun sendiri. Sangat banyak pihak-pihak yang berkontribusi terhadap kehadiran kita di dunia ini. So, apakah yang sedang kita rencanai untuk kita kirimkan pada beliau di sana? Ketika mimpi demi mimpi kita pun menjadi nyata?

Belum usai perjalanan ingatan menembus awan nan memutih, ternyata waktu kami tersisa beberapa menit lagi. Dan aku beserta beberapa teman yang berkunjung ke ‘Mekar Wangi’ pun undur diri. Kami senang berkunjung. Insya Allah, kami akan kembali walau tidak dengan personel yang sama dengan saat ini.

Aku pun menyimpan beberapa kesan tentang kebersamaan kami di Punclut bersama teman-teman, di sini. Walaupun tidak sempat berfoto bersama untuk mengabadikan potret kami, tidak mengapa. Karena sepanjang waktu yang kami habiskan, semua asyik dengan pikirannya masing-masing. Seraya melayangkan arah pandang nun jauh ke hadapan, tentu ada yang sedang beliau-beliau pikirkan. Semoga jauhnya arah pandang, merupakan langkah awal bagi kita untuk menentukan acuan yang ingin kita tuju, ya friend.

Seiring dengan mulai menepinya awan, semburat sinar mentari pun naik perlahan, membawa silaunya. Lalu, beberapa kali kami menundukkan arah pandang. Pandangan yang menyapu pepohonan nan menghijau. Sungguh tampilan alam yang sangat memesankan.

Ia berpesan bahwa kami perlu terus berjuang dan berjuang dalam menjalani hari-hari yang sedang kami jalani. Karena tidak selamanya kami bersama di sini. Pada suatu hari kami akan meneruskan bakti pada lokasi yang berbeda. Yah, semoga kebersamaan kami saat ini menjadi salah satu pengalaman yang dapat terus kami ingat.

Semoga berbagai hal yang kami jalani dan itu merupakan yang pertama kali, dapatlah ia menjadi ilmu pengetahuan yang tidak semestinya kami biarkan mengendap di dalam hati. Maka, dengan membagikanya, kami dapat lebih lega dalam menjalani aktivitas.

Fresh and cool.

Inilah dua kata yang aku bawa sebagai oleh-oleh dari Punclut. Ya, karena sepanjang perjalanan yang kami lewati dari dan menujunya, semilir angin terus saja memeluk raga kami. Dan ia ingin terus mengalami nuansa yang sama. So, kami hanya dapat mengenangnya saja, ketika kami menginginkan suasana yang sama, lagi.

Tidak terlalu lama waktu yang kami pergunakan untuk dapat sampai pada awal kami berasal. Hanya dua puluh menit saja, kira-kira. Dan kami pun bergumul kembali dengan aktivitas sebagaimana hari biasanya.  Semoga, keberangkatan kita ke Punclut merupakan salah satu ajang untuk menemukan semangat baru ya, friend. Dengan demikian, untuk beberapa hari ke depan, kita tetap dalam suasana hati yang penuh semangat, jiwa yang bertekad, dan raga yang tegap.

Camkan di dalam hati, bahwa kita berarti kapanpun dan di manapun kita berada. Walaupun apa yang kita hadapi dalam hari-hari, janganlah menjadikan kita putus asa, melainkan terus berjuang.  Walaupun keringat yang menetes pada raga kita sudah demikian deras alirannya, petik pesan dari kehadirannya. Pun terhadap hal-hal yang kita jalani, namun sebenarnya tidak kita inginkan. Ditambah lagi kita tidak dapat menghindar darinya, maka nikmati saja.

Sesuai dengan apa yang kita alami pada saat berkunjung ke Punclut pagi tadi, semoga kesegaran senantiasa menghiasi pikiran kita. Sedangkan kedamaian menjadi bagian dari jiwa kita. Sehingga kita terus mengajak raga untuk takpernah mengucap bahwa ia lelah. Sekalipun ia berkata pasrah. Namun ketika jiwa dan pikiran kita mampu merubah persepsi yang ia hadirkan, maka menepilah rasa lelah itu.

Ya, karena seorang pejuang tidak akan pernah berkata lelah, sebelum ia capai kemenangan atas apa yang ia usahakan. Begitu pula dengan kita, yang berada di manapun. Teruslah memetik buah-buah hikmah dari pohon-pohon hari yang kita temui. Lalu, berteduhlah sejenak di bawahnya, untuk menikmati rasa yang ada. Agar kita dapat membedakan bagaimana asinnya garam kehidupan. Agar kita tahu manis itu seperti apa. Bahkan pahit juga kita perlu merasai. Termasuk gurih dan asam. Semua itu tergantung pada cara pandang kita dan penilaian yang kita berikan.

Cerdaslah dalam menyikapi keadaan. Karena sesungguhnya, semua ada untuk menjadikan kita lebih baik dari waktu ke waktu. Kalau kita mau bijak dalam menjalaninya.

Teman, engkau mungkin saja lebih muda dariku. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa engkau lebih berpengalaman. Begitu pula dengan jauhnya jarak yang engkau tempuh untuk dapat sampai ke sini setiap hari, sehingga kita dapat berjumpa. Semua tentu karena engkau mempunyai tujuan, bukan?

Nah! Ketika engkau telah menempuh jarak perjalanan yang jauh, apakah yang sedang engkau lakukan di lokasi tujuanmu? Agar engkau dapat menjadi lebih bernilai dan bermanfaat bagi sekitar. Agar engkau menjadi tahu, bahwa engkau begitu berarti.

Boleh saja engkau menerima penolakan, namun engkau tidak dapat menolak untuk terus mencoba. Ya, sekali ditolak coba lagi, setelah itu ditolak, coba lagi. Hingga akhirnya para penolak itu bosan terhadapmu. Dan menerimamu dengan lapang dada. Karena ia menerimamu dengan alasan belas kasihankah?

Oho, tidak! Justru karena engkau bermakna dan engkau mempunyai manfaat, maka engkau akhirnya berada di lokasi di mana engkau berada kini.

Yakinlah satu hal ini. Karena engkau berarti, di sini.

Kecuali kalau engkau tidak mau lagi di sini, itu terserah padamu. Karena pasti ALLAH telah berikan kesempatan padamu untuk menemukan wilayah baru, di sana. Nah! Ke manakah engkau akan berada setelah di sini, teman? Keep in touch yaach, agar kita dapat terus berkomunikasi. Komunikasi yang kita jalin untuk menjadi jalan ingatkan kita satu sama lainnya.  [Goodluck].

🙂🙂🙂

One thought on “Zephyr ❦ It

  1. panjang mbak tulisanne dari pemandangan sampai doa buat keluarga🙂
    wuih pemandangannya mupeng mbak…

      😀 Hehee, curahan rasa dan ekspresi, Ukhty…
      Lha, mari-mari kita ke Bandung, lalu mampir di Punclut. Untuk menyaksikan indahnya alam kota Bandung yang tak terlupakan, yuuks?

    Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s