Satu persatu bulir bening pun berjatuhan di pipinya.  Pipi yang semenjak tadi ia jadikan sebagai tameng yang siap sedia menampung luahan rasa dari dalam jiwa. Jiwanya yang sedang bergemuruh, terlihat pula dari pancaran cahaya matanya yang tidak sepenuhnya benderang. Redup. Namun belum sepenuhnya temaram. Karena ia masih mempunyai harapan yang terus ia jaga.

Satu persatu langkahnya menjejak bumi di antara genangan air yang memercik pada pakaiannya. Oleh karena kaki-kakinya yang bergerak cepat, tidak lagi terkendali. Hingga akhirnya, aku melintas di hadapan beliau. Aku yang sedang tidak terlalu terburu-buru, sedang melangkah dengan anggunnya. Dan air yang juga ikut membasahi hampir sebagian kakiku, tidak lagi ku hiraukan. Terlebih lagi saat hampir seluruh sepatu ku sudah kuyup.

“Ah, sudah terlanjur basah, jadi kita main-main air saja, yaaaaa…,” bisikku pada dua kaki yang terus melangkah semenjak tadi.

Kami pun mempergegas langkah. Karena tidak ingin berlama-lama di perjalanan. Namun, sesosok wajah yang penuh dengan harapan yang aku temui di perjalanan, membuatku segera berhenti, tepat di hadapan beliau. Di tambah lagi karena beliau memang sengaja mencegatku, rupanya.

Aku tidak sedang berpikir lain, hanya tersenyum. Kemudian, ku pandangi dua bola mata yang mulai berkedipan lebih cepat. Ku edarkan arah pandang pada kedua pipi beliau yang belum terlalu keriput. Masih separuh baya.

Aku segera berhenti, seiring dengan beberapa baris kalimat yang mengalir dari bibir beliau. Beliau yang tampak sangat risau, masih mempunyai harapan. Harapan untuk sampai pada tujuan. Tujuan yang beliau sebutkan, sungguh masih jauh. Sedangkan beliau sudah tidak mempunyai biaya lagi dalam perjalanan. Aku terharu. Seraya membayangkan, bagaimana kalau yang mengalami hal demikian adalah seorang aku? Apakah yang aku lakukan?

Selanjutnya, pikirku pun menerawang jauh ke ujungnya. Hingga, sampailah ia pada sebuah negeri yang penuh dengan senyuman. Negeri di mana berkumpulnya orang-orang yang sedang berbahagia. Negeri yang sangat asing, dan semua kita pasti akan sampai di sana. Negeri akhirat, tempat kita berpulang. Dan semua kita sedang dalam perjalanan menuju ke sana.

Tidak perlu menghabiskan lebih banyak waktu untuk berpikir, maka aku segera memperkenankan apa yang beliau harapkan. Karena aku yakin, ada yang sedang Memandangku. Aku lalu teringat pula pada kedua orang tuaku di sana. Nun jauh di ujung arah tatap mata. Aku ingat bahwa beliau pernah memesankan pada kami, “Semoga engkau bertemu dengan orang-orang yang baik, ya Nak…?.”

Sedangkan beliau yang sedang berdiri di depanku, adalah seorang yang baik, pikirku. Sehingga, apa yang dapat aku lakukan atas kebaikan yang beliau sampaikan padaku? Adakah aku mengingat bagaimana bahagianya seorang yang sedang tersenyum dengan jiwanya yang tersenyum pula? Bagaimana kalau aku pun segera tersenyum di hadapan beliau? Lalu, cukupkah hanya dengan memberikan beliau selembar senyuman dari wajah ini? Lalu aku pun berlalu? Sedangkan beliau sedang mengulas harapan pada wajah yang sedang tersenyum. Untuk selanjutnya, lembaran bibir yang sedang beliau pergunakan sebagai penyampai pesan jiwa, turut berpartisipasi. Ya, harapan untuk kembali berjumpa dengan keluarga di sana, bersama senyuman yang beliau jaga.

Aku bertanya beberapa hal, pada ibu separuh baya yang sukses mencuri perhatianku. Hingga untuk beberapa langkah berikutnya, kami pun berjalan beriringan. Sama-sama di bawah umbrella yang sedang membentang dengan megahnya memahkotai kepala kami. Ya, kami berlindung dari tetesan hujan di bawah payung-payung yang sedang mengembang. Oia, payungku berwarna millenium, sedangkan beliau ungu muda. Aku suka.

Tidak lama kami melangkah, aku pun segera sampai pada tujuanku. Sedangkan beliau perlu melanjutkan perjalanan dengan jarak yang lebih jauh lagi.  Kalau berjalan kaki terus-terusan, entah berapa hari sampainya. Bersama cuaca yang tidak menentu seperti ini? Mungkinkah? Aku sungguh ga tega memikirkannya, hingga saat ini.

Dan ujung-ujungnya, kami pun berpisah dengan membawa perasaan masing-masing. Aku yang hampir saja menitikkan bulir-bulir bening permata kehidupan, engga jadi. Karena aku perlu segera berjumpa dengan beliau, yang ingin ku kunjungi untuk sebuah keperluan penting. Ai! Rejekiku bertambah hari itu, yaitu perjumpaan dengan beliau, Bapak Lucky.  Xixixii. Aku tidak menyangka, keberuntungan terus menyertaiku. Dan aku beruntung dapat bercakap dengan beliau, hingga sedetail-detailnya. Dan aku akan selalu ingat, bahwa setiap kita adalah keberuntungan. Tidak hanya beliau yang membawa keberuntungan di sepanjang kehidupan beliau, melalui nama yang artinya ‘keberuntungan’. Beliau adalah orang baru yang aku temui pada Jum’at pagi menjelang siang, kemarin. Dan ini adalah salah satu citaku. Alhamdulillah.

Untuk bertemu dengan orang-orang baru pada berbagai kesempatan, merupakan pengalaman penting bagi ku. Karena sebelum ini, aku tidak seperti itu.

Bertemulah dengan orang-orang baru yang belum pernah engkau temui sama sekali, maka engkau dapat menemukan pengalaman baru.  Begini inti dari sebuah pesan yang aku petik pada hari sebelumnya. Dan pada keesokan harinya, benar-benar terjadi. Karena pesan tersebut, aku camkan benar-benar di dalam hati. Dan aku tidak hanya ia berada di dalam hati saja. Namun aku ingin menjadikannya sebagai bagian dari prasasti perjalananku di dunia ini.

Aku kembali merasa sangat beruntung pada hari tersebut. Hari yang memberikanku satu pengalaman berarti. Bermula semenjak keberangkatanku dari kost-kostan.  Aku yang sedang tidak mempunyai payung, ternyata mempunyai tetangga yang berbaik hati padaku. Beliau meminjamkanku payung. Padahal beliau mempunyai hanya satu-satunya. Dan bagaimana kalau beliau ingin memakainya, saat benda tersebut masih berada padaku?  Namun tetap ku terima kebaikan beliau, hikks terharu. Makasih ya Yet. Honey bunny sweety.

Di sepanjang perjalanan, aku terus berpikir. Hingga akhirnya aku menyadari, semua adalah bagian dari rezeki. Ya, tetangga yang baik adalah rezeki sungguh berharga. Dan ini adalah salah satu harapan yang terus ku ulas. Aku mengulasnya lagi, saat ini. Ketika aku sedang menjalani kehidupan di dunia ini.

Berharap, berharap, berharaplah banyak-banyak. Namun, tentu ada konsekuensinya. Nah! Apabila harapan belum menjadi kenyataan, maka teruslah menjaganya ada. Karena apabila kita mempunyai harapan, namun terputus, bagaimana bisa kita dapat menemukan apa yang kita harapkan?

Dengan begini, aku terus-terusan ingin berusaha untuk mengulas harapan demi harapan yang pernah mampir di relung hati, di pelosok pikir, hingga ia bersemayam pula di sini, via jemari yang merangkai huruf demi huruf.

Adapun salah satu harapanku yang terus ku jaga hingga saat ini adalah mempunyai tetangga-tetangga yang baik. Karena tetangga adalah orang-orang yang akan terlebih dahulu tahu tentang kondisi terbaru kita, sebelum keluarga yang mungkin saja sedang berada jauh dari lokasi tempat kita berada. Maka, mempunyai tetangga yang baik adalah salah satu kebahagiaanku. Insya Allah, kita akan terus saling menjaga, wahai my neighbour, walaupun kita kini sudah tidak lagi berdekatan. –Dalam ingatku pada Siti [My Neighbour 4ever].

Temukanlah lokasi tempat tinggal yang baik dan menyenangkan, bersama orang-orang sekitar yang membuatmu dapat menjalani kehidupan dengan tenteram. Dan salah satu jalan kebaikan, kesenangan dan ketenanganmu adalah tetangga-tetangga yang berada sangat dekat denganmu. Tetangga adalah orang-orang yang kita temui dalam perjalanan kehidupan ini, beliau yang juga sedang melanjutkan perjuangan.

Tidak banyak yang dapat kita berikan kepada tetangga, selain membahagiakannya semaksimal upaya yang kita mampu lakukan. Namun, kalau engkau belum dapat memberikan bantuan berupa materi terhadapnya, selipkanlah beberapa baris senyuman, nasihat ataupun harapanmu bersamanya. Maka ia akan berjuang untuk terus mengulas harapannya.

Dan begitu pula dengan sesiapa saja yang engkau temui di sepanjang perjalanan yang berikutnya. Terimalah beliau sebagai tetanggamu yang seakan sudah lama engkau temui. Lalu, perlakukanlah beliau dengan sebaik-baiknya. Karena konsekuensi dari apapun yang engkau lakukan, akan terpancar kembali dari sesiapa pun yang mendapatkan perlakuanmu. Apabila engkau mudah tersenyum, maka sesiapapun yang engkau temui pun tersenyum. Apabila engkau ternyata sedang kebingungan atau berwajah penuh dengan pertanyaan. Maka alirkanlah ia melalui bibir yang mampu menyampaikan ekspresi. Ya, berbicaralah. Karena tidak selamanya orang mengerti ekspresimu, kalau engkau belum menyampaikannya dalam nada-nada suara.

Ha! Ini pula yang menjadi pengalaman baru  bagiku, hari ini.

Pada Sabtu pagi, tidak seperti biasanya, aku memulai aktivitas lebih awal. Bahkan sangat awal. Lalu, seiring dengan mulai meningginya sang mentari, aku pun melangkah dengan segera. Aku ingin menemukan jawaban dari tanya dan tanya yang menghiasi pikirku semenjak tadi malam. Tanya yang apabila hanya aku pikirkan, tentu belum bertemu jawabannya. Maka, aku beranikan diri untuk bertanya pada seorang Ibu yang aku temui di perjalanan. Konon beliau bernama Ibu Imas. Ibu Imas yang baik hati, pikirku. Senang berkenalan dengan beliau.

Aku bertanya-tanya, lalu aku pun menyampaikan tanya kepada beliau. Beliau yang sebelumnya aku tidak pernah berjumpa.  Beliau yang baru saja aku temui, segera aku tanyai. Tanya yang aku juga tidak tahu, apakah beliau dapat menjawabnya??? Aku tidak memikirkan sampai sejauh apapun. Yang aku pikirkan hanya, bagaimana cara agar aku dapat menemukan jawaban dari pertanyaan yang sedang terangkai indah dalam ingatan ini. Ingatan yang membuatku tidak dapat beristirahat dengan penuh, pada malam harinya. Hingga tadi siang, aku merasa ada yang aneh di bagian kepala ini. Sepertinya efek kurang istirahat dan berpikir mendalam, rupanya.

Walhasil, setelah jawaban aku terima dari Ibu Imas, ada yang plong dari pikir ini.  Aku kembali lega, dan senyuman mengembang indah pada wajahku.  O! Seindah apakah?

Jam dan menit terus susul menyusul. Silih berganti, detaknya menjemput detik-detik berikutnya. Hingga hari ini hampir saja berlalu. Dan aku tidak ingin melewatkan hari ini tanpa menyelipkan sebaris atau dua baris pesan, kesan, dan atau kenangan di dalamnya. Oleh karena itu, ku sisihkan beberapa menit waktu yang tersisa ini, untuk menitip prasasti tentang hari ini, di sini.

Prasasti ini kelak akan menjadi bukti bahwa aku ternyata pernah bertemu dengan dua orang baru yaitu Bapak Lucky dan Ibu Imas, dalam hari-hari yang berturut-turut, yaitu kemarin dan hari ini.

Dan esok?? Apakah aku akan bertemu dengan minimal seorang yang terbaru dalam perjalanan kehidupanku? Lalu, siapakah beliau, kiranya?  So, tunggulah informasi selanjutnya, yaa…😀

Hmm, ataukah engkau adalah seorang yang baru akan aku temui, teman? I hope.  And I wish.

Aku terus mengulas harapan, pun terus merangkainya lagi. Ketika aku merasa bahwa harapanku mulai terputus, aku ingin ia kembali ada. Ya, selagi aku masih ada di dunia ini. Semoga setiap harapanku yang menjadi kenyataan, dapat ku bagikan pula di sini. Ya, sebagai kenang-kenangan tentang kita. Kita yang pernah bersua walau beberapa menit saja. Kita yang pernah bersapa, walau beberapa patah kata saja. Pun, kita yang pernah bersama, walau bukan untuk selamanya. Semoga, kelak kita kembali bersama, yaa. Semoga engkau adalah salah seorang calon tetanggaku. I wish and I hope. Terus ku ulas harapan ini.

Hingga pada saatnya kita segera mengembalikan ingatan atas harapan demi harapan yang pernah kita jaga. Karena kita ingin membuktikannya hingga menjadi nyata. Ya, harapan yang tidak hanya ada di relung jiwa, pun di dalam pikiran saja. Harapan yang tidak hanya memenuhi ruang ingatan kita, namun kita bersegera untuk menebarkannya di sepanjang hari-hari dalam perjalanan yang sedang kita tempuh. Agar sesiapa saja yang mempunyai harapan sama dengan kita, dapat menjadikannya sebagai jalan yang mempertemukan kita.

Terus mengulas harapan, adalah salah satu aktivitas yang sangat menyenangkan. Sekalipun kita dalam kondisi yang penuh dengan kekalutan pikiran. Karena hidup bersama harapan bagaikan melihat seberkas sinar di kejauhan, saat kita sedang berada dalam kegelapan. Dan kita dapat bergerak lagi untuk segera mencapai sinar tersebut untuk dapat berada di dekatnya. Dan kita pun berada pada suasana yang berbeda, penuh dengan cahaya.

Harapan yang terus kita ulas, memberikan kita kesempatan untuk terus berjuang dan berusaha. Karena tidak akan ada lagi waktu yang kita pergunakan untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan harapan yang sedang kita jaga. Bahkan, kita terus berusaha untuk menjadikan harapan tersebut hingga berbentuk rangkaian yang tiada akan pernah berjarak lagi walau sedikit.

Harapan yang terus kita ulas, perlu kita kuat eratkan. Dan semua itu membutuhkan tekad yang perlu semakin mantab. Ya, karena kalau saja kita tidak memberikan perhatian terhadapnya, maka tentu saja kita akan merasakan apa itu putus harapan.  Dan kita tidak ingin, bukan?

Harapan yang terus kita ulas, tentu tidak akan pernah lapuk oleh cuaca yang terus berganti. Karena ia sedang kita jaga di dalam jiwa kita. Dan kita memberikan perlindungan terbaik terhadapnya.  Sehingga harapan itu tidak mudah terkena tetesan air hujan yang membasahi bumi. Pun tidak akan pernah merasakan betapa teriknya terpaan sinar mentari yang sangat menyengat.

Harapan yang terus kita ulas, menjadikan jiwa kita terus bersemangat saat melangkah. Dan ketika kita teringatkan pada tujuan akhir yang akan kita temui, maka kita akan segera tersenyum. Ketika menemukan beraneka goda dan coba yang terus menerus mengintai di sepanjang perjalanan.

Teruslah mengulas harapan. Karena aktivitas ini tidak membutuhkan pengorbanan materi. Hanya kerelaan hati dan ketulusan jiwa saja yang mampu membuat harapan itu menghangat di tengah dinginnya alam. Dan percayakah engkau teman, bahwa sesiapa saja yang sedang kita temui, membawa harapan di dalam jiwanya. Harapan yang dapat kita lihat pada sorot mata yang menatap kita, pada wajah yang mensenyumi kita. Pun pada ekspresi dan perilaku yang dapat kita lihat dengan mata hati yang terbuka.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s