Engkau Mentari di HatikuSemakin jauh berjalan, maka kita akan bertemu dengan banyak jenis persimpangan. Begitu pula dengan tampilan alam yang kita perhatikan. Tentu sangat banyak pula jenisnya. Terkadang kita bertemu dengan raut wajah yang penuh dengan himpitan rasa, beraaattt, terlihat. Namun, seringkali kita berhadapan dengan wajah yang berbeda. Sehingga ada yang membuat kita segera bergegas untuk mengekspresikan hal yang sama dengan sendirinya.

Terhadap hal, keadaan dan situasi yang kita suka, tentu kita merasa senang berlama-lama.  Namun terhadap hal yang sebaliknya, ingin segera kita berlalu. Dan rasa, tidak dapat kita paksakan.  Apalagi untuk menerka-nerka keberadaan terbarunya bersama kita.

Intinya adalah rasa itu penuh dengan rahasia. Sedangkan rahasia sepotong rasa saja, tidak dapat kita ketahui. Apalagi untuk mengetahui rasa yang terdapat pada berbagai jenis makhluk hidup di muka bumi ini.

Rasa itu tiada wujudnya. Namun demikian, kita dapat mengetahui apakah keberadaan kita disuka ataukah tidak. Ya, lihat saja sorot mata sesiapa yang sedang berada di dekat kita. Lalu, perhatikanlah bagaimana wajah yang sedang berekspresi pada saat yang sama. Karena dari sana, sesungguhnya kita sedang belajar satu bahan pelajaran sungguh berharga.

Untuk berguru pada sesiapa yang sedang kita temui, tentu mudah saja. Apabila kita membersamai wajah-wajah yang penuh dengan rupa cerah, maka kita akan sangat senang pada saat yang sama. Alhasil, aktivitas yang sedang kita jalani bersama dengan sesiapa saja yang suka dengan kehadiran kita, tentu lebih bermakna. Lalu, apa yang terjadi ketika keadaan yang sebaliknya kita alami?

Apakah kita cepat-cepat menanyai, “Wahai mengapa engkau berekspresi sedemikian, terhadap kami yang sedang mengunjungimu?”

“Bukankah semestinya engkau menyambut kehadiran kami dengan ekspresi terbaikmu, yang engkau punyai? Seperti tersenyum, walau sebaris,” bisik hati yang bertanya-tanya.

Ketika kita membawa suasana hati yang awalnya penuh dengan energi, lalu dalam perjalanan kita berjumpa dengan wajah-wajah yang membuatnya segera menanyai. Apakah kita memberinya jawaban atas apa yang ia pertanyakan? Ataukah kita malah asyik mencari-cari kesimpulan sendiri. Lalu menjadikannya sebagai salah satu bahan pelajaran dari alam-Nya?

Untuk selanjutnya, kita bergumam, “Ingin ku mengenali wajah itu lebih dalam lagi. Kemudian ku sampaikan padanya bahwa ia sangat cantik ketika sedang tersenyum, walau sebaris saja. Atau, ia sungguh tampan saat tersenyum walau sekilas adanya.”

Ai, terkadang memang begitu. Kita tidak dapat menerka apa yang sedang  berada pada diri-diri yang kita temui. Diri yang kita pandangi dan sedang  berekspresi tidak biasanya. Ya, hingga akhirnya kita pun bertanya di awal jumpa. Karena kita tidak mengetahui rasa apakah yang sedang melekat di balik wajah yang sama.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s