Scodai
Berasa Reuni.

“”Jadi, jangan merecoki perjalanan orang lain, kecuali Anda diajak. Jangan terlibat dalam drama kehidupan orang lain, kecuali Anda diundang. Dan, kalau Anda diundang, hati-hati, jangan menyamakan hidup Anda dengan kehidupan mereka dan tantangan-tantangan yang mereka hadapi. Mundurlah sedikit, tetap pertahankan jarak, maka andil yang Anda berikan apabila Anda diundang akan mempunyai nilai yang jauh lebih besar.” – Mike George

🙂🙂🙂

Walaupun aku mengenalmu tidak lebih awal dari pada aku mengenal beliau, namun aku bahagia karena engkau yang menjadi jalan pertemuan kami. Lalu, siapakah aku, siapakah engkau dan beliau?

Kita dengan kehidupan yang sedang kita jalani, tentu pernah dan bahkan seringkali berkenalan dengan orang-orang baru di sekitar kita. Dan hingga akhirnya, beliau-beliau semua menjadi bagian dari kehidupan kita. Baik laki-laki maupun perempuan. Semua kita tercipta untuk saling mengenal di dunia ini.

Kita dapat berkenalan kapanpun dengan siapapun. Namun, apakah kita pernah merencana untuk mengenali sesiapa saja yang sebelumnya tidak pernah kita temui? Dan yakinkah kita akan kembali berkenalan dengan beliau-beliau yang sebelumnya sudah sangat akrab dalam kehidupan kita? Apakah kita pernah membayangkan, untuk keduakalinya atau kesekian kalinya bertemu lagi dengan orang yang sama? Padahal sebelumnya kita sudah berkenalan, bersama dan berjumpa. Lalu, untuk pertemuan yang selanjutnya ini, tentu bukan lagi bernama perkenalan, bukan? Namun, namun apakah namanya?

Reuni.

Ya, reuni adalah bertemunya lagi para sahabat, para pejuang, pun para teman dan atau kolega yang telah lama terpisahkan oleh jarak dan waktu. Karena semua saling sibuk dengan aktivitas yang selanjutnya. Sehingga jeda antara waktu yang mereka habiskan bersama sebelum terjadi perpisahan dengan hadirnya masa pertemuan, tentu melekatkan ingatan di antara mereka. Nah! Ajang reuni merupakan detik-detik untuk melebur ingatan tersebut. Hingga akhirnya semua kembali bersatu dalam indahnya tautan akrab persahabatan, pertemanan, pun hingga ikatan kekeluargaan.

Membahas tentang reuni, aku menjadi teringatkan dengan para sahabat yang saat ini sedang jauh di mata. Aku kembali terbayangkan pada saat-saat kebersamaan kami sebelumnya. Dan saat ini, di sini, tentu saja kita sedang berreuni. Kalau engkau adalah sahabat atau teman di dunia nyata.

Lha, iya. Setiap kali pertemuan kita merupakan ajang untuk berreuni.  Karena kita masih terpisahkan oleh jarak dan kita telah dipertemukan oleh waktu, saat ini. Sungguh, berkesan.

Reuni.

Bincang-bincang tentang reuni, tidak hanya terbatas pada pertemuan kita kembali dengan teman-teman seperjuangan. Namun, berjumpanya kita dengan keluarga yang saat ini sedang berada jauh di mata, pada sebuah lokasi yang tidak pernah kita duga, pun merupakan ajang reunian. Karena kita masih terpisahkan jarak. Sedangkan ingatan, telah menyatukan kita dalam pertautan barisan kata berupa kalimat-kalimat yang saling bersalaman.

Untuk mengadakan acara semacam reuni, perlukah perencanaan terlebih dahulu? Lalu, bagaimana kalau kita kembali bertemu dalam waktu yang tiba-tiba? Dan kita dapat menyebutnya sebagai reuni? Boleh kannn..?

Bagimu, teman, untuk keperluan apakah reuni itu ada?

Tentang reuni, sangat jarang aku mengalaminya. Namun aku pernah berreuni dengan teman-teman. Dan kesan yang paling berpesan bagiku dalam acara reuni tersebut adalah, banyak yang membawa wajah penuh dengan senyuman. Ya, wajah-wajah pada hari pertemuan setelah perpisahan raga untuk waktu yang lama tersebut, sangat berbahagia.

Mengapa bahagia? Aku yakin karena ada sekumpulan rasa yang mereka bawa. Ada beraneka cerita dan kisah yang ingin mereka saling pertukarkan. Pun, tentu saja ada pengalaman dan pengetahuan yang mereka ingin bagikan kepada teman-teman yang lainnya.

Hm,… karena jalan hidup kita memang tidak sama. Dan ada pandangan berbeda yang kita selipkan pada beraneka warna dalam hari-hari yang kita jalani saat belum lagi bersama.

Bukankah begitu, teman?

Dapat dipastikan bahwa hal ini akan terjadi.  Selama kita masih berjuang, bergerak dan berusaha. Tentu saja warna-warni dunia menjadi bagian dari kehidupan kita, yaa?

Namun demikian, terkadang kita belum lagi menyadari. Bahwa sebenarnya, dalam pertemuan untuk kesekian kalinya dengan para sahabat, teman dan kolega serta saudara, kita perlu menitipkan sebaris dua baris pesan untuk beliau semua. Pesan yang tidak hanya kita rangkai dalam susunan huruf berwujud kalimat-kalimat yang mengalir melalui nada suara. Lalu kita menyampaikannya dengan alunan nada yang merdu, syahdu dan membuai. Bukan, bukan dengan cara begitu saja, kita dapat menitipkan pesan pada beliau semua. Namun, dari sikap, kita pun dapat menitip pesan.

Lalu, pesan seperti apakah yang engkau titipkan sebagai salah satu wujud kebahagiaanmu karena telah mempunyai kesempatan untuk dapat berjumpa kembali dengan beliau semua? Beliau yang pernah menjadi bagian dari kehidupanmu sebelumnya. Karena engkau pernah menjalani waktu dengan beliau. Dan engkau menjadi seperti dirimu saat ini, pun berkat bantuan beliau baik secara langsung maupun tidak langsung.

Ai! Pesan.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s