Talk without speaking
Image by Celeste via Flickr

Di antara pertemuan dua senja. Wahai malam dan mentari, aku yakin bahwa engkau seringkali berada diantaranya. Walaupun engkau tidak akan pernah muncul bersamaan, namun kehadiranmu menjadi pelengkap hitungan hari.  Karena engkau hadir dalam waktu yang beriringan. Dengan demikian kehidupan ini memang benar-benar berlangsung dengan sempurna.

Pernahkah dalam sehari, salah satu darimu tidak hadir? Aku percaya walaupun mungkin saja terjadi, namun sangat langka, bukan?

Seperti halnya engkau yang dicipta berbeda, satu dengan yang lainnya tidak ada yang sama, maka begitu pula dengan kami. Kami yang dicipta dengan ragam kelebihan dan kekurangan masing-masing, perlu belajar darimu teman. Ya, agar kami dapat pula saling mengerti dan memahami. Lalu, memberikan kesempatan pada yang lainnya untuk memulai bakti, setelah itu kami. Bergantian, tentu semakin indah jadinya.

Sebagaimana adanya engkau, malam dan mentari. Engkau tidak akan pernah dapat bersatu, karena memang tercipta demikian. Mungkin demikian pula halnya dengan kami. Walaupun memang tidak akan pernah bersatu, namun kami yakin tercipta untuk saling melengkapi.

Agar jeda waktu yang kami jalani di antara dua senja, dapat kami jalani dengan sebaik-baiknya.

***

Bukan untuk ngebut, namun karena waktunya mepet, maka berbagai jalan pun ditempuh. Hingga akhirnya, kami pun sampai tepat waktu. Yes!

Ahaahaaa…😀 Di sepanjang perjalanan kami siang tadi, aku hanya mampu tertawa di dalam hati. Ketika aku menyadari bahwa kecepatan gerak laju kendaraan yang kami tumpangi tidak lagi normal. Ya, lebih tepatnya di luar batas kewajaran, begitu.

Aku yang berada di belakang pengemudi kendaraan, sempat menyadari ada yang tidak biasa. Aku yang awalnya tenang-tenang saja, berubah menjadi penuh tanya. Namun tanya itu hanya bisa ku sampaikan pada diriku sendiri. Karena kalau untuk bertanya pada pengemudi, aku memang tak sudi. Aku takut mengganggu konsentrasi.  Hihii…  Karena kami sedang dalam perjalanan.

So, aku nikmati saja laju kendaraan yang tidak biasa itu. Seraya bergumam dalam hati, tak henti berdzikir sepenuh hati. Semoggaaa.. semogggaaa, selamat sampai ke tujuan. Aamiin.

Alhamdulillaahirabbil’alamiin, kini aku dalam keadaan utuh, tetap diriku. Karena perjalanan yang kami tempuh berlangsung dengan lancar dan selamat.

Ada apa tadi?

Begini, teman.  Agar dapat sampai ke tujuan yang ingin aku capai, maka aku pun meminta seorang pengemudi untuk mengantarkanku dengan kendaraan yang beliau kendalikan. Seperti biasanya, memang demikian. Dan aku memang sudah terbiasa.

Namun dalam hari ini, ada yang tidak biasanya, terjadi. Aku pun segera berpikir diantara laju kendaraan yang cepat sekali. Hingga akhirnya, muncul tema dalam tulisan kali ini. Tentang malam dan mentari. Dua-duanya tidak jauh berbeda dengan apa yang aku alami tadi.

Mereka, walaupun terlihat tidak sedang bergerak ataupun berpindah tempat, namun malam dan mentari pun aslinya sedang dalam proses berpindah. Dari hari ke hari, malam dan mentari saling berpacu. Bukan untuk mendahului salah satunya, namun untuk mengikuti arah perjalanan bakti. Ya, mereka berdua perlu terus bergerak dan berganti.  Hingga tidak ada yang terlewat, ketika yang lainnya mengunjungi. Ya, pernahkah engkau memperhatikan hal ini dengan teliti, teman?

Ya, apakah engkau pernah melihat dua kali mentari bersinar dalam satu hari, sedangkan malamnya belum hadir? Lalu, pernahkah engkau mengalami malam untuk waktu yang lama, dalam hitungan angka lebih dari dua puluh empat jam  satu kali putaran waktu? Mungkin saja terjadi pada belahan bumi yang lain. Namun bagaimanakah dengan pengalamanmu sendiri?

Mungkinkah?

Lalu, apakah hubungannya dengan kecepatan laju kendaraan yang aku tumpangi siang tadi? Untuk menghubung-hubungkannya dengan tanpa meneliti terlebih dahulu, tentu mudah sekali. Namun saat ini, aku hanya ingin menitipkan beberapa baris ingatan yang hadir dalam pikirku semenjak kejadian tersebut berlangsung.

“Kita itu, manusia, kalau berjumpa dengan waktu yang sudah mepet,… walau bagaimanapun pasti dapat menjalani. Sedangkan kalau merasa bahwa waktu masih lama dan panjang jedanya, maka santai-santai dan tenang-tenang saja.”

Inilah kalimat-kalimat yang mengerubuni pikirku sepanjang perjalanan yang kami lalui, tadi. Dalam nuansa kebut-kebutan di jalan, tidak akan terpikirkan lagi bagaimana akibatnya. Dan apakah kita akan melakukan hal yang sama, ketika waktu yang kita punya tidak mepet? Eits, perlu pembuktian dan penelitian lagi, niech.

Ah! Benarkah? Atau hal ini hanya berdasarkan pada pendapatku saja?

Ya, berdasarkan pengalaman langsung yang aku temui dalam perjalanan ini, memang demikian adanya. Berbagai risiko akan kita simpan jauh-jauh. Sedangkan kita akan fokus dan konsentrasi pada apa yang sedang kita jalani.  Termasuk beraneka sapa yang mendekati, kita akan menyimaknya sekilas, lalu kita terus lakukan apa yang sedang kita perjuangkan. Ya, begitulah jurus mepet.

Nah! Inilah pelajaran hari ini.  Tentang salah satu sifat insan, manusia. Mereka akan mampu berbuat optimal apabila ada yang mendasarinya dalam melakukan apa yang ia sedang jalani. Mengejar waktu, misalnya. Demi ketidakterlambatan, contohnya. Dalam kondisi begini, akan ada-ada saja ide yang bermunculan. Dan akan terlihat pula jalan-jalan yang sebelumnya tidak pernah ia lalui.

Cukuplah manusia menempuh jalan baru, karena ia berpikir.

Tentu saja, tidak akan menempuhi jalan yang sama, sedangkan keadaan telah berubah. Dan insan yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, tidak akan pernah mengeluh di perjalanan. Tidak pula akan menyalahkan keadaan. Apabila jalan yang sedang dilaluinya ada rintangan. Ia akan mencari jalan alternatif, jalan yang memudahkannya untuk dapat sampai pada tujuan dengan waktu yang pas.

Jurus mepet ini, aku pelajari dari beliau, kurir perjalanan kami yang mengantarkanku menuju tujuan dengan tiada terlambat. Sungguh-sungguh-sungguh-sungguh dan benar-benar-benar-benar, jalan-jalan itu sedang membentang dengan senang hati untuk kita lalui. Kalau saja kita sudah mempunyai tujuan yang jelas untuk kita capai.

Begitu pula dengan malam dan mentari. Ia ada diantara jeda waktu kita untuk bertemu dengan senja dan senja yang lain. Dan senja dapat kita manfaatkan untuk melanjutkan langkah-langkah kita dalam mencapai tujuan kehidupan.

Walaupun setiap hari kita akan berjumpa dengan malam dan mentari, namun sudahkah kita memaksimalkan kebersamaan dengannya lebih optimal? Ketika bersama dengan malam, kita dapat berada dalam nuansa yang sunyi, sepi dan melanjutkan perenungan terhadap diri. Berbeda halnya dengan mentari, yang menjanjikan pertemuan bagi kita dengan berbagai jenis karakter insan. Apakah bahan pelajaran yang dapat kita petiki dari keduanya?

Lalu, saat senja menyapa, kita dapat merangkai beberapa baris pesan, kesan dan atau kenangan yang dapat kita prasastikan. Agar, sesiapa saja yang tidak membersamai kita dalam menjalani waktu dalam pertemuan dengan malam dan mentari, dapat pula menemukan intisari dari apa yang kita jalani. Dengan demikian, kita sedang dalam upaya untuk mengeratkan pertautan temali kata dengan beliau-beliau yang sempat menemukannya. Karena kita perlu terus menjalinnya lebih sering. Agar kekuatan makna dari rangkaian kata yang kita beraikan, semakin teruji kekokohannya.

Tidak ada sesuatupun yang berhasil optimal kalau kita melakukannya pada waktu-waktu yang mepet. Namun, kalau tidak melakukannya dalam kemepetan, maka kita tidak akan pernah tahu, kapan lagi akan menyelesaikan. Begitu pula dengan beraneka rencana yang hingga saat ini masih tersusun dalam draft kehidupan kita. Sebisanya dalam jeda-jeda waktu yang kita temui, dapat kita selesaikan dengan segera. Adapun salah satu contohnya adalah catatan saat ini.   Aku merangkainya diantara waktu-waktu yang semestinya aku pergunakan untuk melanjutkan masa belajar.

Ah! Aku yakin, di sini juga aku sedang belajar. Belajar.  Ya. Sebelum senja berikutnya datang, maka waktu malam aku manfaatkan untuk belajar.

😀🙂😀

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s