deep feeling
deep feeling (Photo credit: shaq_t)

Yap! Lima puluh menit ke depan, insya Allah saya akan berada di sini. Xixii😀

Entah mengapa yaa, sebelum memulai sebuah catatan, akhir-akhir ini aku mengawali dengan memandang jam di dinding, seraya membaca ‘Bismillaahirrahmaanirrahiim‘ – di dalam hati. Sempaaat saja mata ini melirik pada benda mati yang senantiasa berdetak itu.

Begitu pula dengan yang baru saja terjadi. Aku yang sempat melirik padanya, ingin segera menyusun jadwal. Tentang lama waktu yang ingin aku habiskan di sini, dalam pertemuan pagi kita di dunia ini.

Dunia maya.

Berkisah tentang dunia maya, aku mempunyai sebuah pengalaman. Pengalaman yang hingga saat ini masih ku teringat. Ingatan yang membawaku ke sini lagi. Bawaankah ini? Atau memang ini jalan kehidupanku yang selanjutnya? Ya, aku ingin terus-terusan berkunjung ke sini dalam berbagai kesempatan yang aku miliki. Termasuk pagi ini, dalam jeda waktu menjelang pertemuan dengan para sahabat di Sangga Buana nanti.

Pagi ini, sebelum aku benar-benar melanjutkan langkah-langkah lagi, ingin ku menitip beberapa jejak langkah di sini. Tepatnya jejak-jejak jemari. Lalu, untuk keperluan apakah? Yes! Melanjutkan mengukir prasasti tentang keberadaanku di dunia ini.

Sebelum memulai tulisan dalam masa-masa yang lalu, aku pasti sedang membawa beberapa suara hati yang ingin segera aku sampaikan. Dan hal ini pula yang menjadi jalan pertemuan kita, teman.

Teman. Yah, di sini aku bertemu dengan teman-teman yang kembali ceriakan hari-hariku. Karena pada umumnya, hari-hariku pada masa lalu penuh dengan mendung kelabu. Tidak jarang aku menangis di hadapan teman-teman di sini. Namun berkat kasih dan sayang yang mereka alirkan, akhirnya aku kembali tersenyum. Seraya mengingatkan diri, bahwa ternyata aku tidak sendiri.

Atas beraneka kondisi, keadaan dan hal-hal yang aku alami, aku memang sempat berpikir bahwa aku sendiri. Namun ternyata, tidak! Setelah mengalirkannya dalam beraneka catatan di dalam diari yang sudah berpindah ke dunia maya, sungguh banyak aku bertemu sahabat yang senasib. Ckckckkk. Ya, tepatnya, kami sehati.

Aku bertemu dengan wajah-wajah yang pada suatu masa penuh dengan senyuman, dan pada kesempatan lain ada aura berbeda yang menaungi hari-hari beliau. Pun aku berjumpa dengan kebahagiaan yang membuat hari-hari kami terus berseri. Di sini, aku benar-benar temukan warna-warni dunia yang sesungguhnya. Yang ketika aku alami di dunia nyata, belum seluruhnya dapat aku temui.

Ketika pada suatu hari aku berkunjung ke lain negeri, kondisinya juga sama. Ada yang berekspresi atas kebahagiaan yang beliau temui, pun sebaliknya. Dengan demikian, aku segera menyadari dan mengerti, bahwa kami benar-benar sehati. Kami semua, kita, engkau dan aku adalah satu. Yukks kita bersatu untuk saling menyemangati dalam menempuh hari-hari. Walaupun hingga saat ini, mungkin dan pasti saja kita belum pernah bertautan tatapan mata untuk saling menyelami pesan yang ia sampaikan dari lubuk hati. Namun demikian, dari pertemuan rasa yang kita alirkan lewat rangkaian kalimat yang tersusun via jemari, kita dapat saling memahami, mengerti dan peduli.

Aku sangat bersyukur kembali lagi ke sini, untuk menyusun beberapa baris kalimat berikutnya, setelah kalimat ini. Adapun tujuannya adalah untuk menyapa para sahabat yang mungkin saja masih terlelap, “Haiiii, yuks bangun pagi?“. Atau bagi yang sudah berberes dan rapi, lalu siap beraktivitas lagi, “Keep spirit yaach…??!!” Sedangkan bagi para sahabat yang hingga saat ini sedang lari-lari pagi alias jogging untuk melemaskan otot-otot, semangat pagiii!!!.😀

Aku di sini, sedang melatih jemari untuk menyampaikan suara hati. Berlatih mengalirkan isi pikiran agar ia tidak menumpuk. Berjuang untuk menata hati agar ia seringkali mengucap syukur pada Ilahi. Karena ia bukanlah siapa-siapa, tanpa peran dan serta sesiapa saja di sekitar yang ALLAH izinkan untuk menemani.

Ada yang saat ini jauh di mata, ternyata begitu dekat di hati. Ada yang belum lagi tersapa, ternyata sedang mengingat diri. Ada yang sedang meneruskan langkah-langkah dalam perjalanan kehidupan ini, semoga kemudahan dan kebaikan senantiasa menaungi yaiii. Agar kita kembali bersua, teman. Dalam pertemuan pagi di negeri yang abadi.

Aku pernah menerima serangkai bunga senyuman dari seorang teman yang belum pernah sekalipun aku temui. Namun demikian, aku seakan menemukan diriku sendiri di dalam senyuman yang sedang beliau tebarkan. Nun jauuuh, sangat lokasi dan jarak yang membentang di antara kami. Sedangkan hari-hari yang dapat kami pergunakan untuk saling menggenggam jemari, tentu akan banyak sekali. Kalau kami menempuh jarak dengan berjalan kaki. Namun ada kekuatan Maha Dahsyat Yang Menghampiri kami. Hingga akhirnya kami dapat berjumpa dengan sekejap mata. Ya, hanya dengan menyalakan sebuah tombol dan beberapa kali klik saja, kami pun berjumpa, bersapa, bersama, dan menjalin keakraban. Aku menamai lokasi pertemuan kami dengan “Dunia Maya”.

Di manakah dunia maya berlokasi?

Pertanyaan ini seringkali menghiasi hari-hariku semenjak pertemuan kami. Hari-hari yang aku jalani dengan langkah-langkah kaki yang terus menjejak bumi. Dan setiap kali aku bertemu dengan sebuah kota berbeda dalam langkah-langkah tersebut, belum ku temukan negeri yang bernama dunia maya. Ah! Memang kasat mata.

Dunia maya, ia tidak terlihat. Dunia maya, namanya memang ada. Dunia maya, mirip juga dengan dunia nyata yang sedang kita jalani ini, rupanya. Karena di dalamnya pun banyak penduduk yang mendiami. Dari beraneka negeri, pula. Ada laki-laki dan perempuan, juga. Namun terdapat pula gender yang tidak terdeteksi. Ah! Berada di dunia ini, sungguh membuatku segera mengenali kehidupan yang penuh dengan warna.

Ada kejadian yang segera membuatku tertawa seperti ini😀 , ada yang membuatku tersentuh hingga relung hatiku terenyuh😦 Pun menjadikan wajah ini pennnnuuuh dengan senyuman🙂🙂🙂

Tentang aneka warna dan warni dunia maya, lain waktu ingin ku ceritai engkau, teman. Termasuk tentang berbagai pengalaman yang aku temui saat berinteraksi dengan makhluk-makhluk yang mendiaminya. Aku yang merasa asing dan sendiri di sini, awalnya sungguh sangat sering bertanya-tanya di dalam hati.

“Ada apa di sini?”

“Apakah aku dapat kembali lagi ke duniaku yang sesungguhnya, sekembali dari sini? Karena aku tidak ingin tersesat di dalam rimba yang penuh dengan hiiiiiiiiiiyyyyyyy……..”

Mungkin engkau pun mempunyai pengalaman yang lebih bervariasi, teman?

Terkadang aku membayangkan hal-hal aneh di dunia ini. Aku membayangkan pula hal-hal menarik ada di sini. Pun sangat sering ku bayangkan, ada mentari yang sedang bersinar dengan cerahnya di dunia ini. Dan mentari itu tidak lagi satu, teman. Seperti mentari yang sedang menyinari alam tempat kita berada saat ini.

Dari hari ke hari, bayangku terus menyertai. Ingatan akan banyak mentari yang bersinar, terus membersamai. Sehingga lama kelamaan, aku benar-benar menemukannya. Mentari di sini, sungguh banyak sekali. Dan tahukah engkau, teman. Bahwa mentari itu adalah engkau. Mentari yang bersinar untuk menjadi jalan penerangan bagi sesiapa saja yang berada di dunia ini. Dunia maya. Dan aku sangat yakin, bahwa di sini tiada lagi kegelapan. Karena penerangan tersebut berasal dari sinar yang terus engkau jaga nyalanya. Sinar yang berasal dari hatimu yang gemar berbagi.  Berbagi senyuman, misalnya.

Ada hari-hari di saat kita memang terselubung ekspresi yang tanpa senyuman. Lalu, kita pun terlarut di dalamnya untuk beberapa waktu. Dan yakinlah bahwa waktu tersebut hanya lima puluh menit saja, yaaa.  Yakin dan praktikkanlah. Walaupun dalam kenyataannya memang sangat suu—llliittt, maybe. Namun kalau di dalam hatimu engkau tersenyum, maka kebahagiaan akan kembali menaungi hari-harimu. Aku sedang berjuang untuk mempraktikkannya.

Lima puluh menit berada di sini, boleh saja engkau jalani. Kalau engkau yakin bahwa keberadaanmu di dunia maya ini dapat mengembalikan –mood:mu yang semua berlalu dari hadapan.

Engkau mempunyai waktu untuk mengembalikan ekspresimu agar penuh dengan senyuman. Dapat dengan menemui diarimu, lalu berbagi suara  hati, dengannya. Dapat pula dengan menyapa mentarimu. Mentari yang bersinar, di dalam hatimu.

Siapakah mentari?

Mentari yang tidak lagi satu, dapat engkau temui di mana-mana. Karena mentari adalah jalan yang menghadirkan sinar untukmu. Sinar yang ia alirkan untuk menerangi sekelilingnya.

Mentari yang dapat berwujud apapun. Mentari yang bisa jadi, dirimu sendiri. Engkau yang sedang tersenyum, penuh arti.

Engkau tidak dapat menjadi seperti yang orang lain mau, kalau engkau tidak menyadari apa yang engkau mau. Dan orang lain tidak dapat mengerti apa yang engkau mau, kalau engkau tidak sampaikan apa yang engkau mau.

Hingga paragraf ini tercipta, waktu yang tersisa adalah dua belas menit lagi. Ai! Xixixiii… sungguh cepat waktu berlalu, yaa.

So, buat apa kita menggunakan sisa-sisa waktu dalam kehidupan ini, kalau saja kita seringkali menghadapinya tanpa senyuman? Bukankah senyuman adalah jalan bahagiamu? T ersenyumlah, saat ini. Senyuman yang mensenyumkan.

Siip?

🙂🙂🙂

-sepuluh menit sebelum publish, aku mau baca dulu. Hohoo.

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s