"Ini Adalah Hidupmu.. Lakukan Apa Yang Ka...
“Ini Adalah Hidupmu.. Lakukan Apa Yang Kamu Suka” (Holstee Manifesto) (Photo credit: Akinini.com)

Jam menunjukkan angka lima lebih tujuh belas menit ketika aku memulai catatan sore ini.  Ai! Masih terlalu dini rupanya menuju malam. Dan saat ini aku sedang duduk manis di depan lembar bercahaya yang siap aku curhati. Xixii..😀

Padamu, ku sampaikan rasa yang menebar dari dalam hati. Bersamamu ku menjalani beberapa puluh menit yang berikutnya. Ya, rencananya hingga menjelang adzan Maghrib berkumandang. Dan itu berarti aku perlu go dari sini. Xixixii..😀

Pada hari ini, aku peroleh pengalaman baru, teman. Tentang arti penting kehadiran diri. Dan dari kehadiran tersebut, aku pun belajar tentang menghargai kehadiran. Dan dari menghargai kehadiran itu pula, aku belajar tentang berprasangka baik atas kehadiran. Setelah itu, ku belajar pula tentang arti penting mendamaikan alam pikiran tentang apa saja yang ia munculkan terhadap diri. Dan semua itu menjadi bahan bagiku untuk segera merangkai catatan saat ini, di sini.

Semenjak tadi pagi, aku berangkat beraktivitas lebih awal. Tidak seperti biasanya, memang. Lebih pagi dan dengan semangat yang berapi-api. Hal itu dapat tercermin dari kostum yang aku kenakan, merah marun dengan corak bunga-bunganya. Aku bahagia hari ini.

Seiring dengan meningginya mentari hingga tengah hari, aku menjalani hari dengan damai yang menyertai. Begitu pula dengan siang hingga sore harinya. Dan dari semua itu, aku belajar untuk menjaganya agar ia menjadi bagian dari hari-hariku yang berikutnya.

Aku merasakan kedamaian, bukan karena tidak ada pikiran berbeda yang hadir dari diriku. Bukan pula karena ia tidak kunjung menggodaiku dengan apa yang ia inginkan. Justru karena banyaknya aliran pikiran yang menghampiriku, maka aku segera menatanya menjadi lebih baik.

Dalam waktu demi waktu, sempat ku berpikir tentang makna kehadiran, memaknai kehadiran dan menghadirkan penghargaan. Sering bahkan ia menyapaku dalam hari ini. Dan ia menjadikanku berpikir lebih banyak lagi. Pikir yang ingin segera ku sisipkan pada bagian dari perjalanan ini. Agar pada suatu hari nanti aku menjadi mengerti, bahwa kehadirannya saat ini menjadi salah satu prasasti dalam langkah-langkahku.

Berbeda halnya apabila kita berada dalam suatu lingkungan yang baru, lalu kita tidak menyadari arti kehadiran. Karena memang pada lingkungan tersebut mungkin saja kita belum mengenali seluk beluknya. Namun, ketika kita berada dalam sebuah lokasi yang sudah sangat lama dan kita kenal baik, maka kita akan mempertanyakan makna kehadiran diri di dalamnya. Untuk kepentingan apakah kita berada di sana, lagi? Padahal kita sudah pernah bahkan sudah sering berada di lingkungan tersebut.

Hingga bertanyalah diri, akan arti penting kehadirannya.

Kita hadir bukan karena kita tidak penting. Namun karena suatu kepentingan dan kehadiran kita merupakan hal yang penting, maka kita hadir. Namun, kehadiran tidak hanya sekadar hadir. Karena kehadiran tanpa adanya hal berarti yang kita lakukan, tentu per-cuma saja, bukan?

Teman, di manapun kita berada pada saat ini, detik ini, ingatlah akan arti penting kehadiran kita. Kemudian, kita segera meyakinkannya bahwa ia berarti. Mungkin saja orang lain atau sesiapa saja belum menyadarinya. Namun percayalah, bahwa kita berarti. Tidak untuk kehadiran yang sia-sia, kita berada di sini saat ini.

Lalu, di manakah engkau berada pada detik ini, teman? Dan sudah berapa lamakah engkau berada di sana? Apakah yang engkau lakukan? Dan memang demikiankah yang engkau inginkan? Atau kehadiranmu hanya karena permintaan? Bukan atas keinginanmu? Ya, kalau terpaksa ga usah saja.

Apapun itu, kita perlu lakukan dengan sepenuh hati. Termasuk kehadiran kita di manapun. Datanglah dengan sepenuh hati. Melangkahlah dengan sepenuh hati menujunya. Lalu, beraktivitaslah dengan sepenuh hati, di mana saja kita berada.

Karena hanya dengan melakukan apapun sepenuh hati, kita dapat menghayati arti penting kehadiran kita di dalamnya.

Saat engkau bergerak dengan tujuan yang pasti, semenjak mula engkau melangkah, maka ke depannya dan seterusnya pun akan berefek baik. Berbeda halnya kalau dari awal sudah setengah-setengah. Akan tidak sempurna adanya.

Walaupun banyak halangan yang merintangi jalan yang sedang engkau tempuhi. Namun selagi engkau tahu makna penting dari kehadiranmu pada lokasi yang ingin engkau tuju, maka beraneka cara pun engkau taklukkan agar sampai di sana. Dan engkau pun bersungguh-sungguh dalam menempuh beraneka onak duri pun bebatuan yang menghadang.

Cukup dengan menetapkan apa tujuan kehadiranmu, maka engkau akan sampai pada arah yang sedang engkau tuju. Bukan lagi mementingkan apa kata orang, dan bagaimana pandangan orang tentang apa yang sedang engkau tempuh.

Engkau boleh berada di mana saja, dalam beraktivitas. Asalkan engkau yakin bahwa dengan berada di sana, engkau dapat mencapai apa yang engkau tuju. Karena engkau sangat menyadari arti penting kehadiranmu ketika berada pada tempatmu saat ini.

Engkau dapat beraktivitas optimal, apabila engkau benar-benar menyukai apa yang sedang engkau lakukan. Dan engkau benar-benar betah berada pada lokasi keberadaanmu. Karena dengan semua itu engkau akan menemukan kedamaian. Bukan lagi kedamaian sesaat, namun kedamaian yang berkelanjutan. Engkau tidak akan merasa le-lah, ca-pek, le-tih, apalagi bo-san. Ya, karena engkau dapat menikmati apa yang engkau lakukan. Sedangkan beraneka pikir yang hadir diantara jeda waktu yang sedang engkau jalani, dapat engkau tata dengan sebaik-baiknya.

Tidak dapat tidak, saat berinteraksi dengan orang lain, siapapun itu, kita akan menerima tanggapan, penilaian ataukah pemakluman. Nah! Apabila orang lain menilaimu dengan penilaian yang engkau yakin itu bukan dirimu, maka engkau dapat mengatakan pada dirimu sendiri, bahwa ia bukan seperti itu. Karena engkau mungkin saja lebih tahu tentang dirimu dibandingkan dengan pengetahuan orang lain tentangmu. Pun sebaliknya, dapat saja orang lain mengetahui lebih banyak tentang dirimu dibandingkan dengan pengetahuanmu tentang dirimu. Ini dapat terjadi apabila engkau tidak belajar untuk mengenal diri semenjak awal.

Apabila kita menerima penilaian dari orang lain yang menurut kita “ga gue banget!” maka kita akan segera menampilkan emosi dari dalam diri. Lalu, kita pun berekspresi dengan cepat. Namun berbeda halnya apabila kita sangat mengenal diri dengan baik. Maka, bagaimanapun penilaian yang kita terima dari orang lain, tidak segera membuat kita mengalirkan emosi, betuul?

Dirimu bukanlah seperti yang orang lain tahu, kalau engkau tahu siapakah dirimu,

Engkau adalah dirimu yang engkau tahu, kalau engkau berjuang untuk mengetahui apa yang seharusnya engkau tahu,

Karena pengetahuanmu dan pengetahuan orang lain tentang dirimu, tidak dapat disamakan,

Kalau engkau terus berusaha mencari tahu, tentang dirimu.

***

Setelah sampai pada paragraf ini, aku pun melirik jam di dinding. Angkanya yang terus bergerak maju, mengingatkanku pada lama waktu yang dapat aku pergunakan saat berada di sini. Hanya sampai menjelang adzan Maghrib menyapa saja. Dan sekitar sepuluh menit lagi akan berlangsung. So, saatnya berhenti. Xixixii.

🙂😀🙂

One thought on “Jelang Detik-detik Panggilan Datang

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s