"You May Say I'm A Dreamer" (John Le...
“You May Say I’m A Dreamer” (John Lennon) (Photo credit: Akinini.com)

Satu persatu undangan berdatangan. Salah satunya adalah undangan pernikahan. Akankah aku datang atau tidak? Ini urusan belakangan. Namun undangan tersebut membuatku terkesan, karena sebelumnya kami belum pernah berjabat tangan, bersalaman atau berpandangan. Undangan dari siapakah gerangan?

Ya, tepat, teman. Ini undangan berasal dari kahyangan. Undangan pernikahan sepasang bidadari dan bidadara yang sedang merancang masa depan. Masa depan yang penuh dengan kedamaian, ketenteraman dan keberkahan. Dan aku yakin bahwa engkau bukan pengirim undangan yang bersangkutan. Karena lembarannya tidak kelihatan. Wahai, sungguh aku masih penasaran. Bagaimana ia tahu alamat rumahku?

Aku yang belum pernah bertemuan dengan pengirim undangan, mengajukan beberapa pertanyaan pada lembaran yang saat ini sedang berada dalam genggaman. Aku terpesona akan indah tampilan yang membuka dalam tatapan. Kemudian aku bolak balik lembarannya yang berjumlah sembilan. Ai! Angka yang mengingatkanku pada jumlah kotak sepatu di depan kamar. Ya, kotaknya ajaaa…

Aku pun berpikir lalu merenungkan. Manakah dari sembilan kotak tersebut yang aku pilih isinya? Apakah aku akan memakai sepatu berwarna putih, kuning, pink, biru, hitam atau hijau, cokelat ataukah merah atau ungu? Ah! Semua warna itu membuatku kebingungan. Ya, aku pun bingung akan berdandan seperti apa. Karena itu bukan aku. Walaupun aku seorang perempuan. Hahaa,😀 ini memang bukan alasan. Ya, bukan alasan.

Lalu, aku pun meraih salah satu dari kotak tersebut. Ku buka satu persatu, lalu ku pandangi pertama kali sepatu berwarna kecokelatan. Sudah berdebu karena lama tidak dipakai. Dan ini juga bukan alasan, mengapa ia menjadi berdebu sedemikian. So, leave it.

Kemudian ku pandangi pula sebuah kotak lainnya yang berada di deretan sebelah kanan. Kini mataku memandang sebuah kotak berwarna hitam, lalu membukanya perlahan. Lha, ternyata kosong. Tidak ada isinya. Karena memang itu sepatu yang berwarna hitam, sudah sering ku pakai dalam beraktivitas keseharian. Dan tentu saja ia tidak lagi berada di dalam kotaknya. Kemudian aku palingkan wajah ke sekitaran, menuju tempat penyimpanan sepatu harian. Dan memang, ia sedang duduk manis bersama teman-temannya yang lain, di sana. Mereka sedang bercakap-cakap. Sudahlah, silakan lanjutkan.

Kemudian, aku pun meraih kotak sepatu berwarna putih. Yang aku yakin masih berada di lokasi. Dan tralaaaaa, apa yang terjadi? Memang, betul teman. Si putih sedang berada di dalam kotaknya. Dan ia masih clink. Benar-benar bersih, karena aku belum pernah memakainya sama sekali semenjak kami bersama. Lalu, untuk keperluan apakah ia ada?  Maka ku ambil dia segera. Karena pilihanku pun jatuh padanya, sebagai sarana dalam melangkah menuju pesta pernikahan. So, kesimpulannya, jadikah aku menghadiri undangan pernikahan yang sedang berada dalam genggaman?

Aku tidak tahu kelanjutannya bagaimana. Yang jelas, aku sudah terbangun dari lelapku semalam. Tepat ketika jarum jam masih berdetak, sedang suara kokok ayam jantan bersahutan dari kejauhan. Aku bermimpi. Mimpi yang aku yakin, menjadi hiasan dari rehat raga.

***

Mimpi hanya sebuah permainan?
Mimpi hanya sebuah permainan? (Photo credit: nunnui ™)

Kini, pagi. Aku sedang mengingat kejadian di dalam mimpi. Sekiranya memang menjadi kenyataan, apakah yang aku lakukan? Apabila aku menerima lembaran undangan dari seorang yang aku belum pernah bertemu?

“Aah tak mungkin,” pikirku.

Eh, mungkin saja kannn,” bisik pikirku yang lain.

“Lhaa, emang pikirku ada berapa yaa?,” Aku bertanya pada langit. Aku bertanya pada semilir angin. Aku pun bertanya pada awan nan memutih. Aku juga bertanya pada mentari yang mulai memperlihatkan senyumannya pagi ini. Bertanyaku pada semua yang mungkin saja tidak akan pernah memberikan jawaban padaku. Mungkinkah sia-sia? Aku yakin tidak.

Karena mereka semua mengajarkanku tentang bagaimana cara menjadi sabar atas tanya yang belum terjawab. Dan semua yang sedang ku tanyakan adalah jawabannya. Mereka adalah bagian dari jawaban pertanyaanku.

Langit, ia menjadi atap kehidupanku. Menatapnya menciptakan syukur di dalam hati, karena keindahannya yang sungguh megah seringkali membuatku terharu. Walaupun ia belum menjawab pertanyaanku.

Angin, memang ia tidak terlihat. Namun aku dapat merasakan kehadirannya, tepat ketika ia bertiup di permukaan kulitku. Bersamanya ada damai. Begitu pula dengan awan. Susunannya yang membaris berlipat-lipat siang kemarin, membuatku sungguh takjub. Ia memutih berbaris memanjang, dengan susunan yang sungguh rapi. Hikksss, inginku menyentuhnya.

Sedangkan mentari? Ai! Ciptaan Allah yang satu ini, membuatku ingin segera berlari menujunya. Untuk dapat mendekap eratnya lalu ku bawa pulang. Untuk ku simpan di pigura. Lalu, ku pandangi ketika malam menghiasi alam. Karena mentari tidak lagi berevolusi di belahan bumi yang lain, namun di ruang istana hatiku. Ia sedang bersinar dengan cemerlang. Sehingga aku mengalami hari-hariku penuh dengan sinarnya yang gemilang.  Hingga aku tidak pernah mengalami gelap lagiiiiii….. Apalagi tertidur hingga bermimpi.

🙂😀🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s