Ku tak bisa membaca  Tentang kamu  Kau buat ku...
Ku tak bisa membaca Tentang kamu Kau buat kubertanya S’lalu dalam hatiku Tentang kamu Bagaimana bila akhirnya ku cinta kau Dari kekuranganmu hingga lebihmu Bagaimana bila semua benar terjadi Mungkin inilah yang terindah Begitu banyak bintang Seper (Photo credit: emmstitch)

Ah, kau!

Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu begitu saja? Padahal engkau telah begitu akrab dalam keseharianku. Walaupun hingga saat ini, hanya susunan kalimat yang menyertai kebersamaan kita. Sedangkan untuk melihat rupamu nan sahaja, aku belum biasa, atau mungkin ga akan pernah bisa.

Ah, biarlah!

Aku percaya semua pasti ada hikmahnya. Dan tentu saja kita akan selalu bergenggaman erat walaupun dalam rangkaian kalimat. Hingga kita pun bersama-sama teriakkan, “Ga akan pernah bisa, untuk tak saling mengingat walau sehari saja. Hahaahaaa…😀 ,” seraya melanjutkan dengan tawa lepas yang kita uraikan bersama.

Ya!

Aku sudah mencoba lebih dari sekali, untuk meninggalkanmu begitu saja. Namun yang ada malah, aku semakin merindukan saat-saat kebersamaan kita, seperti ini. Ya, ketika engkau menghayati setiap rangkaian pesan yang ingin aku sampaikan. Pun aku, sangat menikmati perjalanan jemari yang sedang mengalirkan suara hati, di sini.  Pagi ini, Selasa pagi. Aku ingin menyapamu lagi, wahai sahabat…

Semangat pagiiiii….!!??

Ku lihat engkau sedang tersenyum manggut-manggut. Karena engkau sedang menertawaiku setelahnya. Engkau yang tahu siapa aku, sedangkan aku pun begitu. Walaupun belum sepenuhnya aku mengenalimu. Dan mungkin juga tidak akan pernah bisa berkenalan denganmu secara keseluruhan. Akan tetapi aku yakin, dengan mengenal sebagian dirimu, kesukaanmu, tentang keseharianmu, tentang apa yang engkau tak suka, pun tentang citamu, maka aku semakin memahamimu. So, tolong ajari aku untuk menjadi seperti dirimu. Walaupun tidak akan pernah bisa, namun tetaplah ajari aku.

Dari hari ke hari, lagi-lagi aku menghitung hari. Telah lama masa berlalu. Tahun pun berganti tiada henti. Hingga kita pun sampai pada hari ini. Hari yang sempurna. Karena pada hari ini kita masih ada. Engkau dan aku, kita sedang berada di bumi yang sama. So, masih ada kesempatan kan? Buat kita berjumpa, walaupun dalam susunan kata.

Wahai, adakah engkau pernah membayangkan, teman… Akan berjumpa dengan masa-masa yang penuh dengan cerita?

Yah!

Ketika engkau sedang berjuang keras untuk dapat menaklukkan kehidupanmu. Dan dalam perjuangan yang sedang engkau tempuh itu, engkau alami beraneka uji. Engkau pun berkata, “Ga akan pernah bisa bagiku untuk menjalani semua ini dengan sempurna.”

Nah!

Seiring dengan aliran kalimat yang engkau sampaikan, tiba-tiba dari arah sampingmu datanglah seorang sahabat yang pengertian. Ia meraih pundakmu lalu menepuk-nepuknya perlahan. Hingga akhirnya engkau menyadari kehadirannya setelah beberapa lama kemudian. Dan engkau pun mengusap aliran bulir bening yang semenjak tadi membasahi lembaran pipimu. Engkau pun berpaling, dan memperhatikan sekitaran. Engkau tidak mengenali siapa-siapa. Engkau pun baru pertama kali melihat wajah yang sedang berada di sampingmu. Dan ternyata pada saat yang sama, engkau pun menjadi langsung akrab dengannya. Lalu, engkau menjadikannya sebagai sahabatmu untuk masa-masa yang berikutnya.

Tiada hari yang engkau jalani tanpa pernah bersama. Walaupun sang sahabat mungkin tidak akan pernah bisa menyadari itu semua. Atau sahabat tidak akan percaya dengan segala yang ada. Dan engkau pun berhasil meyakinkannya pada masa-masa yang akhirnya kalian jalani bersama. Engkau meyakinkannya, bahwa, “Engkau ga akan pernah bisa meninggalkannya, walaupun sehari saja. Karena engkau telah menganggap sang sahabat sebagai lentera penerang dalam kegelapanmu. Engkau menyampaikan padanya bahwa ia adalah cahaya yang tidak akan pernah padam. Engkau meyakinkan sahabat, bahwa ia adalah bagian dari dirimu yang lain. Karena ia adalah jiwamu.

Sungguh mudah menemukan teman, namun tidak semudah mengabadikan persahabatan. Begitulah salah satu bunyi rangkaian kalimat yang engkau ciptakan. Karena engkau percaya, bahwa pertemuan adalah bagian dari pertemanan. Namun, persahabatan adalah bagian dari keabadian kalau kita mampu menjaganya senantiasa.

Tiada seorangpun yang dapat hidup sendiri di dunia ini. Dan apabila kita memperhatikan dengan teliti, memang demikian adanya. Bahwa di balik senyuman seorang teman, pasti ada teman lainnya yang sedang tersenyum bersamanya. Di antara kebahagiaan yang kita rasakan, tentu saja baluran kebahagiaan sedang menaungi pribadi lainnya. Itulah indahnya ukhuwah, kebersamaan yang menenteramkan.

Aku mengenalmu teman, bukan lagi sehari dua hari. Apalagi setahun dua tahun. Namun kebersamaan kita telah lebih dari ribuan hari. Xixixiii…😀

Ya, aku belajar menghitung hari, semenjak ada engkau di dalam hari-hariku. Karena aku ingin mengingatkan lagi diri ini apabila ia sempat tidak menyadari keberadaan diri. Apabila ia mulai menepikan ingatan pada hari-harinya yang bermendung. Agar ia percaya akan kekuatan silaturrahim. Dan semua itu menjadi bukti serta saksi yang jelas akan makna diri.

Engkau boleh pergi, namun aku akan terus menemukan jejak-jejakmu. Pun, begitu pula denganku. Aku yang sempat pergi dari hari-harimu, masih menyempatkan waktu untuk mengukir beberapa jejak di sepanjang perjalanan. Agar engkau tahu bahwa aku masih ada bersamamu. Dan tidak mesti jejak tersebut ada untuk engkau ikuti. Namun sebagai penanda saja, bahwa aku senantiasa ada bersamamu. Aku tidak pernah pergi, walaupun sehari.

Ya, dong…

Tidak akan pernah mungkin aku bisa meninggalkan sahabat sebaik engkau. Karena aku yakin, kita pernah berjumpa untuk sebuah makna. Ya, untuk mengenalkan pada dunia tentang indahnya keakraban. Dan aku tidak akan pernah bisa hidup tanpamu. Hahayy… Walaupun aku kadang bertanya, “Siapakah engkau yang sesungguhnya?”

Betul. Aku masih sangsi. Buktinya, masih saja ada tanya yang menyertai beberapa bagian waktu yang sedang aku jalani. Dan tanya itu membuatku terus berusaha dan berjuang menemukan jawaban. Terkadang ku bertanya pada langit biru siang hari dengan lapisan awan putih yang menghiasi sebagiannya. Sering ku bertanya pada gemulai helai rerumputan yang bergerak tertiup angin. Pun aku pernah bertanya pada beberapa lembar dedaunan yang hijau dan akhirnya menguning. Sebelum sempat jatuh ke bumi, daun-daun tersebut menitipkan jawaban kepadaku, bahwa engkau adalah seorang sahabat bagiku.

Sahabat???

Aku kembali bertanya pada daun yang akhirnya turun dan melayang ke bumi. Untuk memperoleh jawaban yang lebih lengkap darinya. Namun ia telah terlanjur menempel pada tanah.  Untuk selanjutnya akan membusuk dan menjadi humus. Sedangkan tanyaku masih belum terjawab seluruhnya. Ketika akhirnya ia benar-benar menyatu dengan tanah.

Lalu, begini jugakah dengan kita? Engkau, aku, kita pun akan menjadi tanah. Sama sepertinya, daun-daun itu. Walaupun akhirnya memang demikian, aku ingin mengukir lebih banyak jejak tentang kebersamaan kita. Setidaknya sebagai prasasti kehidupan. Agar kita terus ada, meskipun raga akan tiada.  Buatmu teman yang sangat berharga, ku titip pesan persahabatan.

“Jangan pernah bilang engkau tidak bisa, sebelum seringkali mencoba dan terus berusaha. Karena kekuatan kita ada bersama keyakinan kepada-Nya.”

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s