Agar's plough DSC_0019
Agar’s plough DSC_0019 (Photo credit: farouq_taj)

“Aku tidak perlu menyukai semua yang engkau sukai agar engkau menyukaiku. Pun engkau tidak perlu menyenangi segala kesenanganku agar aku menyenangimu. Namun dengan kesukaan dan kesenangan yang tidak sama, maka kita perlu terus saling menghargai. Bukan untuk memperdalam perbedaan yang jelas-jelas sudah ada semenjak mula, namun untuk menyadarkan kita kembali akan makna perbedaan yang ada. Bahwa kita tercipta berbeda untuk mengingatkan diri dan mengembalikan harapan pada-Nya. Agar kita dapat terus selalu bersama-sama. Dengan demikian, hari-hari kita yang selanjutnya menjadi semakin semarak adanya. Apa sebab? Karena kita tidak lagi melihat perbedaan. Namun kita bersyukur telah Allah izinkan bertemu di dunia ini dengan membawa perbedaan kita masing-masing,” begini kalimat-kalimat yang engkau sampaikan padaku, pagi ini.

Membuka hari dengan setekad syukur yang perlu terus kita perbarui, engkau mengajarkan padaku. Aku yang jelas-jelas sangat menyukai sinar mentari pagi, segera bangkit dan berdiri. Ketika kalimat-kalimat tersebut engkau sampaikan padaku. Kalimat-kalimat ringan yang aku hargai sebagai sinar cerah dari pikirmu yang cemerlang. Maka pantaslah kiranya engkau ku hargai sebagai mentari di hati ini.

Bersamamu teman, aku belajar menghargai perbedaan. Bersamamu teman, aku mengenali perbedaan yang sedang berada di antara kita. Bersamamu teman, aku belajar bagaimana cara mengerti bahasamu. Apabila aku bingung dan tidak tahu mau ngapain lagi? Tiba-tiba engkau datang padaku. Atau, ingatanku yang menggerakkan diri ini untuk menyapamu, segera. Hingga akhirnya kita kembali bersua dan bersapa, untuk saling mengalirkan kekuatan rahasia. Kekuatan yang kita sama-sama tahu, berasal dari dalam diri kita.

Engkau yang melebihi aku dalam hal pemahaman, menjadi salah satu guru untuk ku jadikan teladan. Engkau yang meneteskan bulir-bulir embun ilmu pengetahuan, segera ku sentuh dengan pelan sebelum mentari memuaikannya lalu ia hilang tanpa bekas. Engkau yang mengukir bahasa dengan sesungguhnya, ku pandangi laksana mentari yang menyinari bumi. Sungguh mencerahkan. Ai! Aku bersyukur masih menjadi bagian dari kehidupanmu hingga saat ini. Walaupun untuk dapat menerima aliran energimu, aku belum dapat menyentuhmu. Karena engkau berada nun jauh di sana. Hanya dapat ku pandangi saja rupamu, mentariku.

Engkau terlalu tinggi untuk ku raih…

Engkau terlalu hangat untuk ku dekap…

Engkau terlalu cerah untuk ku tatap…

Engkau terlalu bersinar ku hiasi dengan bening sorot mataku…

Engkau mentariku…

Tingginya cita yang telah lama ku sangkutkan, membuatku tidak henti untuk meraih ketinggianmu. Membuatku lebih giat melangkah padamu agar kita saling bergenggaman. Hingga terseok sekalipun dan mata ini tak lagi jelas, ia menatap dengan buram, namun aku ingin terus membukanya. Agar ku dapat menyaksikan engkau menyinari bumi. Untuk ku kabarkan pada seluruh alam, bahwa engkau begitu berarti. Suatu hari nanti, bila engkau benar-benar berada di sini. Memeluk matahari, citaku. Oh… terlalu tinggi, bukannn..?

Ah!

Biar saja.

Karena kalau ia terlalu tinggi, ku ingin menjaganya terus ada. Agar aku dapat menjadikan cita ini sebagai salah satu bukti bahwa aku pun punya mimpi. Sama seperti engkau, dia, mereka dan dirinya di sana. Cita yang perlu terus kita jaga, agar ia menjadi tambahan suplemen raga ketika ia mendadak hampa. Cita yang mampu membangkitkan ingatan lebih kuat lagi untuk terus melangkah menujunya. Agar setiap hati yang menempuh jalan yang sama dengan kita, turut termotivasi dan mendapatkan inspirasi. Bahwa ternyata memang, cita merupakan bagian dari harapan. Berharap terus tanpa kenal lelah. Karena dengan harapan, kita menemukan cerah di kala gulita. Yakin dan buktikanlah.

Namun kini, ketika mentari jelas sedang berada jauh di mata, hanya setekad syukur yang terus ku jaga nyalanya. Lalu, aku pun tersenyum. Alhamdulillaahirabbil’alamiin, mata ini masih dapat menyaksikan kemilau sinarnya. Mata ini masih sanggup membuka lalu berkedip beberapa saat. Ketika silaunya menembus retina. Sungguh ku bahagia dengan kondisi pagi ini. Hati yang sedang ku bawa serta dalam langkah-langkah ini pun serupa. Ia tersenyum dan tersenyum lagi. Berpinta pada seluruh alam, untuk terus memberikan kesempatan pada mentari untuk bersinar. Termasuk pada awan yang mencuri-curi pandang dari kejauhan. Ia seakan ingin berlari mendekat pada sang mentari. Lalu menghalangi arah tatapnya.

Namun aku yakin, mentari akan bersinar lagi esok hari. Walaupun pada hari ini ia belum dapat bersinar sempurna. Begini aku mengeraskan tekad. Agar ia terus ada dalam harapan terhadap mentari.

Memang demikian adanya. Selayaknya nuansa alam yang berganti rupa. Terkadang hujan dan tidak jarang pula berhiaskan sinar mentari. Maka begitu pula dengan hari-hari yang sedang kita jalani. Apabila bahagia menerpa, kita dapat segera tersenyum lalu menitipkannya pada sesiapa saja yang kita temui. Ini namanya menebar syukur. Lalu, nuansa yang sebaliknya pun tidak dapat tidak akan berada di sekeliling kita. Ia hadir terkadang pada waktu kita belum siap dan bagaimana kita menanggapinya? Menjaga hati yang sedang terkena hembusan cuaca serupa hujan yang mengguyurnya, dengan atap kesabaran adalah pilihan. Karena, sesiapapun tahu bahwa perbedaan akan terus ada dan kita temukan dari waktu ke waktu.

Bersyukurlah atas apa yang kita suka, dan bersabarlah dengan yang sebaliknya. Niscaya hari-hari yang sedang kita jalani akan penuh dengan untaian hikmah yang kita genggam. Genggamlah dengan erat dan kuat, seumpama tekad yang terus kita camkan di relung hati. Lalu, bersiaplah dan berikanlah ia segera pada sesiapa saja. Kapanpun, dan di manapun.  Karena kita tidak tahu pasti ada yang sedang membutuhkannya.

Kita mungkin menganggap sebaris kalimat yang kita ucapkan hanya angin lalu tanpa bermakna. Karena kita sudah terbiasanya dengannya. Sehingga kita tidak menyadari bahwa ada yang sedang menyimak suara ringan yang kita sampaikan. Dan berkebetulan pula saat yang sama ia ternyata sedang membutuhkannya. Lalu, dipetiknyalah kalimat tersebut dari daun bibir yang jatuh pada lembaran indera pendengarannya. Ia mencerna, ia menghayati, ia memahami, lalu berkata segera, “Yes! Aku menyukai dan aku senang dengan kalimat-kalimat ini.”

Kemudian orang tersebut menjelaskan dengan segera pada seluruh personel yang berada di dekatnya. “Bahwa kita perlu menjadikannya sebagai salah satu inspirasi,” seraya mengungkapkan panjang lebar makna yang akan mereka peroleh setelahnya. Termasuk aneka keuntungan yang akan menyertai.

Untuk dapat menemukan inspirasi, kita tidak perlu pergi jauh-jauh ke ujung negeri. Kalau kita masih ada di sini untuk meneruskan bakti. Namun, cukup dengan menatap indahnya sinar mentari yang sedang menerangi bumi, maka kita akan tersenyum segera. Lalu, memperhatikan bait-bait pesan yang sedang ia sampaikan pada seluruh alam. Karena mentari, tatapannya tidak terbatas. Ia mampu menembus berbagai lokasi dan sisi serta sudut yang paling dalam. Kecuali kalau kita sedang berada di sebuah lokasi yang beratap, berjendela, berpintu dan kita menutup semua celah yang dapat menyampaikan sinarnya, mendekati. Lalu kita sembunyi di dalam kotak hitam yang gelap dan kemudian menitipkannya di alam lemari di kamar. Niscaya kita akan selamanya berada di dalam kegelapan tanpa terkena sinar mentari. Kecuali kalau kita mau berrelahati untuk membuka mata hati, maka sinar itu akan sampai pada sudutnya sekalipun.

Percayalah dan yakinlah, bahwa apa saja yang sedang berada di sekeliling kita, semua berarti. Sekalipun untuk awal kita tidak menyukai. Namun kalau kita mau dan terus mau mengambil pelajaran, maka kita akan menemukan banyak bahan pelajaran, dan itu mencerahkan.

Sssstt…! Ada yang memanggil-manggil diriku… 😀

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s