Subhanallah…
Tampilan langit pagi ini terlihat seperti butiran pasir putih di pantai yang sedang tersapu angin. Ada lukisan awan syahdu yang meliuk, berwarna kelabu. Sedangkan pada sisi lain terdapat pula awan yang memutih bak kapas. Semua bersatu di angkasa. Membuatku teringatkan pada sosok mentari yang memang belum menampakkan diri untuk saat ini.

Dan aku yakin, beberapa saat lagi akan muncul bersama sinarnya yang cemerlang. Untuk mengubah tampilan langit menjadi biru sebiru-birunya. Yah! Seperti hari kemarin, cerrrahhh sangat.

Adapun ketika aku kembali menebarkan pandangan ke sekeliling, alam masih kedinginan. Datanglah wahai mentari, agar alam pun tersenyum bersamamu. Termasuk tetesan embun yang sedang asyik-asyiknya bertengger di ujung-ujung daun. Aku yakin, bahwa ia akan dengan senang hati meleburkan diri, bersama dengan hangatmu yang menghampirinya. Karena engkau membawa nuansa yang lain dari saat ini.

Lalu, ketika aku membawa arah tatap ini ke permukaan bumi, tanah masih lembab. Walau tidak lagi basah seperti tadi malam, namun lembab itu terasa menarik-narik persendian ini. Brrrr…. pagi yang penuh dengan kesejukkan. Damai. Bersama alam yang seperti ini, aku suka. Karena ia merupakan salah satu jalan hadirnya inspirasi. Terima kasih alam… Terima kasih ya Allah, atas kesempatan pagi yang penuh dengan janji. Janji bahwa siang nanti, ia akan memberikan nuansa lain pada bumi pertiwi.

Aku yakin, pada sudut alam yang lain, ada banyak orang pun sedang menikmati nuansa pagi seperti ini. Engkaukah teman? Ya, engkau yang walau belum pernah aku temui, namun kita sehati. Buktinya, pada pagi yang seteduh ini, kita sama-sama sedang menyaksikan tampilan alam. Untuk kita jadikan sebagai salah satu bahan pelajaran. Belajar bersyukur semenjak dini.

Untuk selanjutnya, kita saling mengabari, tentang aktivitas yang sedang kita jalani, di sini. Ah! Namun aku tak yakin, bahwa engkau akan segera merangkainya di dalam catatan pagi. Kalau memang iya, mana buktinya? Agar aku pun tahu, bagaimana engkau menggambarkan nuansa pagi walau dalam bait-bait puisi sekalipun.

Oia, bagaimana kalau engkau cipta satu dua baris puisi untukku tentang hal ini? Terutama yang ada hubungannya dengan mentari pagi. Karena aku suka mentari. Please, berkreasi.😀

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s