Pagi ini, aku ga ada kerjaan. So, mampir-mampir di sini sejenak, boleh lah ya. Haha. Berhubung lagi tidak ada aktivitas di luar, juga. Rencananya si begitu. Namun, berbeda lagi nanti dengan yang terjadi dalam kenyataan. Bisa jadi begitu. Yah! Berhubung semenjak satu hari yang lalu, full, aku ga ke mana-mana. Oh, it’s mine?

Semenjak masa kecil dulu, saya memang begini. Suka betah di satu tempat, untuk jangka waktu yang lama. Termasuk diam lama di rumah. Lha, ngapain aja? Ada-ada aja yang aku lakukan. Salah satunya ya, dengan bercurhat ria di dalam diari. Bersamanya, aku mengungkapkan segala isi hati. Termasuk tentang rasa-rasa dan pikir-pikir yang aku alami pada waktu yang sedang berlangsung.

Sangat sering aku mengalami hal ini. Baik ketika masih kecil dulu, sampai saat ini pun begitu. Huhuuuu..😀 Namun, I enjoy it so much. Karena aku yakin semua akan berlalu. Dan menitipkan kesan terhadap diariku.

Wahai diari, kini aku sedang berada di lembarmu yang baru. Bukan lagi kertas-kertas yang lembarannya siap ku tulisi satu persatu. Lalu, ketika lembaran tersebut telah penuh semua, maka aku pun menggantinya dengan yang baru. Namun tidak dengan saat ini. Engkau bukan lagi lembaran kertas yang apabila aku menitikkan airmata di atasmu, maka engkau akan layu. Halaman ini adalah lembaran tanpa wujud. Ai! Hingga aku mulai meragu, untuk menulismu lebih banyak lagi. Karena aku takut, akan keberlangsungan usiamu. Walaupun engkau tidak akan pernah usang ataupun berubah warna karena perjalanan waktu, aku masih meragukan keberlangsungan usiamu bersamaku. Itu kalau aku tidak segera merangkai kalimat bersamamu, lagi. Atau mengubah wujudmu menjadi lembaran kertas.

Bersamamu, kita pernah bercita untuk meneruskan langkah bersama. Ya, apakah engkau masih ingat, Di? Ataukah engkau pernah menerima kabar tentang hal ini dari para leluhurmu yang membersamaiku sebelum engkau ada? Apakah beliau pernah memesankan padamu tentang citaku? Aku yakin engkau pun tahu, walaupun aku belum pernah memberi tahu.

Oleh karena itu, saat ini dengan nuansa yang sama ketika aku pernah mencipta cita dulu, aku hanya ingin menebarkannya pada lembaranmu. Lembaran maya seperti ini. Hanya dengan satu tujuan, untuk berbagi. Xixii. Aku berbagi suara hati. Suara hati yang aku perlu sampaikan melalui lukisan kata. Karena tidak semua dari suara hati dapat aku sampaikan dalam nada-nada suara. Karena aku ingin ia ada.

Di, saat ini aku sedang merangkai kata seraya menyimak pemaparan dari seorang ibunda muslimah. Beliau sedang menyampaikan kuliah pagi. Ya, ini berarti bahwa beliau adalah guruku saat ini. Dan aku ingin menitipkan beberapa baris bahan pelajaran yang aku peroleh dari beliau. Beliau sedang membincang tentang keislaman. Karena beliau adalah seorang muslimah.

Siapakah beliau yang sesungguhnya?

Untuk lebih tahu tentang hal ini, aku perlu menyimak apa yang sedang beliau sampaikan. Aku seakan menemukan diriku saat memandang raut wajah beliau. Bukan karena kami mirip atau mempunyai hubungan kekeluargaan. Namun karena kami adalah bagian dari keluarga maka aku menyadari bahwa kami sama. Dalam naungan Islam kami berada. Sebagai bagian dari muslimah kebanggaan. Ini hasil pikirku yang muncul pada awal kami bersua. Namun hingga ke ujung pertemuan, aku sanksi. Lalu bertanya, so? Siapakah beliau yang sesungguhnya?

Hingga akhirnya aku menyadari bahwa inilah … -Ghazwul Fikr-. Lalu, aku pun mematikan video tadi. Kemudian beralih ke halaman lain yang menyejukkan jiwa, hati dan fikir. Ya Allah, laahaula walaa quwwata illaabillaahil’aliyyul’adziim. Kami mohon bimbingan-Mu terhadap hamba-hamba-Mu yang lemah ini, hingga akhir zaman.

Aku pun ingat ibunda nun jauh di sana. Beliau semenjak kecil seringkali mewanti-wanti kami, putra-putri beliau, agar terus menjaga diri, hati dan pikir.

“Ingat! Kita hidup di dunia tidak selamanya,” bisik Ibunda.

“Tauhid jangan berubah,” pesan Ayah.

Dua kalimat yang beliau sampaikan, membuatku segera tersenyum, saat ini. Karena aku ingat pesan beliau. Terima kasih Ayah Bunda, menjadi orang tua terbaik bagi kami. Karena tanpa kasih dan sayang beliau dalam mendidik kami semenjak kecil dengan dedikasi terbaik, aku tidak tahu akan menjadi apa saat ini. Karena dunia penuh dengan coba. Termasuk pagi ini, ketika tadi aku memutar sebuah video yang membuatku bertanya-tanya.

Dan pertanyaan pun membawaku pada masa kecil dulu. Saat Ibunda dengan sangat rajin, menitipkan kami bekal untuk menjalani kehidupan dengan memperdengarkan tausiyah pagi dari radio, hampir setiap hari. Karena itu yang kami punya, tiada televisi. Lalu pada suatu kesempatan, aku menyimak pemaparan kondisi umat Islam akhir zaman. Yang intinya dapat kita simak di sini

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s