Youthful
Fresh and Fine

Di sini, yes! Di sini, aku menemukanmu bersama senyuman yang menebar dengan lepas.

Di sini, aku mendapatimu sedang menitipkan kedamaian dan kehidupan.

Di sini, aku membawamu pada kehidupan yang penuh dengan kemudaan dan kesegaran.

Awalnya kita tidak pernah saling mengenal. Lalu di sini, kita mulai mengenali satu persatu hal-hal yang ingin kita kenali dengan baik. Bermula semenjak mentari pagi mulai menampakkan senyumannya lalu menyinari bumi, hingga ia berpamitan sejenak.

Di sini, kita pernah menyampaikan janji untuk terus melangkahkan kaki agar kita dapat sampai pada cita di hadapan.

Terus?

Teruskan berjalan. Kita melangkah dengan pandangan lurus ke depan. Fokus dan teguh, tegap dan sedap dipandang.

Dari waktu ke waktu kita berjalan. Kita melangkah berdampingan. Dengan beraneka kesan, pesan dan kenangan yang terus kita petik di sepanjang perjalanan. Hingga pada suatu masa, ketika kita sedang meneruskan perjalanan, ada yang menyampaikan pesan.  Pesan tentang satu alasan, mengapa engkau ditolak?

Engkau kurang tegas.

Engkau terlalu sederhana.

Engkau belum cukup pengalaman.

Segera ku pandangi rupamu yang segera kemerahan. Ya, wajahmu yang sebenarnya sedang berada tidak di bawah terik mentari, pun bersemu. Engkau ku pandangi karena engkau adalah sahabatku. Engkau langkah-langkahku dalam mencapai tujuan. Engkau saranaku dalam merengkuh impian. Engkau, setelah aku berhasil melewati rintangan bersamamu, tentu aku dapat meneruskan perjalanan dan siap untuk tantangan yang berikutnya.

Namun kini, aku menyadari bahwa engkau sedang tertunduk sendirian. Engkau tersimpan di dalam sebuah ruang hati, bersama teman-temanmu yang lain. Engkau sedang bersapaan dengan mereka semua, yang memang untuk pertama kali aku pertemukan denganmu. Engkau mungkin saja sedang mengingatku saat ini, teman.  Karena aku pun demikian.

Lembaranmu yang ku coba susun dengan lebih baik, masih mengalami penolakan. Ai! Engkau belum sepenuhnya sempurna, sebagaimana yang aku harapkan. Namun demikian, aku ingin mengantarkanmu pada ujung perjalanan kita. Ya, aku ingin membimbingmu terus dalam melanjutkan perjuangan.

Karena aku yakin, bersama kita bisa.

Tidak selangkah dua langkah kita berjalan. Tidak sehari dua hari kita menghabiskan waktu dan kesempatan. Namun, sudah berbulan-bulan, kiranya. Hmm… ternyata memang benar, apa yang orang-orang bilang. Bahwa untuk mencapai tujuan tidak memang selalu mudah dalam menempuh jalan menujunya. Dan pasti saja ada rintangan, halangan ataukah tanjakan.

Aku yakin, semua mengandung bahan pelajaran. Dan pastinya ada hikmah dan pesan, serta kesan untuk ku rangkai dalam bait-bait tulisan bersama kedamaian.

Damai dan segar, adalah suasana yang selama ini berada dalam impian, cita dan harapanku. Karena dengan kedamaian dan kesegaran, kita dapat berpikir lebih baik. Karena kedamaian serta kesegaran itu erat kaitannya dengan kemudaan.

Masa muda yang merupakan sebuah kesempatan, dapat kiranya kita manfaatkan untuk belajar banyak hal. Salah satunya adalah belajar tentang apapun yang kita temukan di dalam perjalanan. Baik ketika kita benar-benar sedang melanjutkan langkah-langkah kaki bersama ayunan tangan. Maupun ketika kita sedang melangkahkan jemari dengan kecepatan yang tertata.

Kita, aku dan engkau, tentu pernah menempuh masa-masa pendidikan, bukan? Nah! Di dalam prosesnya, apakah engkau menyempatkan waktu untuk menitipkan pesan, kesan dan kenangan, teman. Lalu, bagaimanakah caramu dalam menyampaikan semua itu dalam barisan kalimat yang mewujud sebuah tulisan? Apakah engkau dengan mudah dapat menyusunnya ataukah menemukan beberapa kesulitan atau rintangan?

Ketika kemudahan demi kemudahan yang kita alami mengajarkan kita untuk segera melahirkan senyuman, maka kesulitan, rintangan ataupun halangan, semoga dapat menjadi jalan sampaikan bahan pelajaran pada kita untuk menguatkan kesabaran.

Ketika kesabaran mengajarkan kita berusaha untuk melakukan yang terbaik demi kesempurnaan, maka keyakinan membawa kita pada pencerahan pikiran.

Kita dapat saja memberikan tanggapan terhadap berbagai keadaan yang kita temui dalam menempuh masa pendidikan. Lalu, memberikan pendapat terhadap berbagai pihak yang turut berperan serta bersama proses yang kita tempuh di dalamnya. Lalu, tentu kita menemukan beraneka tanggapan pula. Karena setiap kita, merupakan insan yang berpikir.

Merdeka itu bukan bebas memetik panen, namun b...
Merdeka itu bukan bebas memetik panen, namun bebas untuk berkarya. #17an #hellogram #helloindonesia (Photo credit: Bukik)

Ketika di bangku pendidikan formal kita belajar dari seorang guru yang berhadapan dengan kita. Namun berbeda halnya dengan jenjang pendidikan dalam kehidupan nyata. Kita tidak selamanya bertemu dengan para guru yang dapat menjelaskan bahan pelajaran secara langsung.  Karena terkadang, guru-guru tersebut tidak berwujud. Hanya saja, perlu kejelian kita dalam menangkap bahan pelajaran tersebut.

Saat kita sedang bertukar hasil pikiran dengan seseorang, walaupun seorang yang kita hadapi bukanlah seorang guru. Namun, yakinkah kita bahwa tiada satu atau dua bahan pelajaran yang dapat kita peroleh dari beliau yang sedang berada di hadapan? Yakinkah kita bahwa setelah bertemuan kita tidak akan teringatkan dengan beliau lagi? Begitu pula dengan sesiapa saja yang kita temui di dalam dunia pendidikan. Walaupun beliau yang kita temui bukanlah seorang guru, seperti petugas kebersihan misalnya.

Diantara banyaknya aneka pekerjaan yang beliau lakukan, kita mempunyai kesempatan untuk bercakap dengan beliau walau sejenak saja.  Kita bertanya apa saja. Kita meminta beliau untuk melakukan apa yang kita pinta. Padahal kita dapat melakukannya dengan segera, kalau kita mau. Namun demi memperoleh bahan pelajaran, maka kita berpinta dan menanya.

Lalu, apakah yang engkau saksikan, teman? Saat beliau menjawab tanyamu dengan senyuman.  Sedangkan pintamu, beliau jawab dengan tindakan. Adakah engkau dapat mengambil bahan pelajaran dari petugas kebersihan tadi?

Aku sedang teringat dengan selembar wajah yang pernah berada di hadapan. Saat aku berada di sebuah lokasi yang ada petugas kebersihannya. Aku pernah bertanya pada beliau. Aku pun pernah meminta beliau untuk melakukan apa yang aku mau. Dan kenyataannya beliau mempertunjukkan lembar wajah yang penuh dengan senyuman.

Kemudian melanjutkan dengan menjawab, “Mohon maaf, aku tidak tahu.

Aku yang menyimak bahasa yang beliau sampaikan, segera menemukan kelegaan. Walaupun jawaban yang aku terima belum dapat menjawab tanya yang aku sampaikan. Namun, bersama dengan ekspresi yang beliau perlihatkan bersama senyuman, aku pun menemukan kesegaran.

Sungguh damai.

Lalu, tentang pengalaman yang aku temukan dalam proses menempuh pendidikan, ingin ku selipkan sebaris janji dengan diriku sendiri. Bahwa, ketika aku mempunyai kesempatan menjadi bagian dari dunia pendidikan dengan adanya para pemuda/pemudi yang menemuiku untuk bertanya tentang kesulitan mereka. Maka aku bersedia hanya menyampaikan kalimat-kalimat yang positif dan bersifat membangun saja. Agar, yang mendengarkan menjadi termotivasi. Karena ini menjadi bagian dari pengalamanku. Aku ingin menjadi bagian dari kesuksesan mereka.

Kini, aku masih berjuang dan menemukan kesulitan dalam proses menempuh pendidikan. Aku menyampaikan tanya, dan jawaban yang aku temukan menimbulkan tanya yang berikutnya. Tanya yang ku sampaikan dengan segera, agar aku segera pula menemukan jawabannya. Namun, hasilnya masih membuatku bertanya dan bertanya lagi. Hingga sampailah ia pada lembaran ini. Dalam tanya yang menanya, aku pun mencatat beberapa hal yang ku temui dalam hari-hari menjelang berakhirnya tahun 2012 ini.

Padahal aku ingin memperoleh jawaban dari pertanyaanku sebelum angka 31 menjadi tanggal pada bulan ini dan tahun ini. Namun, dengan jawaban yang aku terima dan jawaban tersebut membuatku bertanya lagi, maka aku hanya mau meyakinkan diri, bahwa  jawaban itu akan segera aku peroleh. Tentu saja dengan terus berusaha untuk menemukannya.

Aku ingin dan masih sangat ingin belajar lagi. Untuk menciptakan ruang baru pada kehidupan yang selanjutnya. Agar, dengan cara belajar seperti ini sedikit demi sedikit aku sedang menempuh jalan menuju cita hati. Aku ingin menjadi dosen, pada hari-hari yang akan datang. Dosen Akuntansi bagi mahasiswa/mahasiswi semester akhir yang akan menyelesaikan masa studinya pada perguruan tinggi. Agar aku dapat menyampaikan tentang beraneka kisah yang aku temui, pada detik-detik yang juga sedang mereka jalani. Aku hanya ingin berbagi. Dan aku pun ingin menjadi bagian dari hadirnya motivasi mereka untuk terus berjuang. Karena langkah-langkah yang mereka jejakkan sudah sangat banyak. Dan akan menuju ujung perjalanan lalu bertemu persimpangan.

Nah! Di jalan yang sedang mereka tempuh, semoga dapat lancar sampai ke persimpangan yang sudah siap menanti.

***

Dengan bertemu kesulitan berarti kita sedang menempuh tingkatan yang lebih tinggi. Karena, sudah pasti dan jelas terbukti. Bahwa selama kita masih dapat menjalani segala hal dengan mudah, berarti kita sudah terlalu terbiasa dengan aktivitas yang sama. Namun, kalau ternyata kita bertemu kesulitan, tentu saja karena apa yang sedang kita jalani merupakan hal baru dan sama sekali belum pernah kita temui.

Lalu, ketika kesempatan untuk menempuhnya menghampiri, maka kita perlu menjadikan sebagai salah satu sarana untuk melatih diri. Agar kita dapat menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Karena untuk menjadi terbiasa kita perlu berjuang dan berusaha seringkali.

Beruntunglah engkau yang mengalami kesulitan, karena setelah kesulitan ada kemudahan. Bukankah telah tertulis dengan jelas dalam salah satu firman-Nya Q.S Al Insyirah [94] ayat 5-8 yang artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

Ceylon Blue Magpie (Urocissa ornata)
Ceylon Blue Magpie (Urocissa ornata) (Photo credit: David Cook Wildlife Photography (kookr))

Adapun penggalan ayat tersebut, sempat pula aku jadikan sebagai salah satu penguat dalam detik-detik menjelang akhir masa pendidikan di lembaga pendidikan sebelum ini. Ya, saat aku akan menyelesaikan pendidikan di Politeknik LP3I Bandung, beberapa tahun yang lalu. Dan alhamdulillaahirabbil’aalamiin… semua kesulitanpun berlalu. Aku yakin, saat ini pun begitu. Tentu saja dengan pertolongan Allah Yang Satu, doa kedua orangtuaku, serta  doa dari teman-teman yang sangat menyayangiku pun begitu. Aku yakin, bahwa aku tidak sendiri hingga saat ini.

Di tengah kesulitan yang aku alami, aku percaya bahwa ia akan berlalu. Ia akan menjadi bagian dari kisah perjalananku. Maka aku menjadikannya sebagai kenangan yang tidak akan pernah terlupa. Oleh karena itu, aku pun menitipkannya pada salah satu lembaran ini. Semoga, ketika aku membacanya lagi, aku semakin yakin dan percaya, bahwa engkau mendoakanku, teman. Dan doa-doa terbaikmu sampai padaku, walaupun aku juga tidak mengetahui dan mengenalimu. Namun kita sehati, kan.n.n.n.

Aku bertemu dengan wajah-wajah yang penuh senyuman, selama aku meneruskan perjuangan ini. Pun aku berjumpa dengan orang-orang yang penuh dengan kesegaran. Semua itu terlihat dari rangkaian kalimat yang ku temukan di perjalanan. Aku terkesan sungguh dan menjadikan beliau sebagai teladan. Karena di balik rangkaian kalimat yang aku baca, terlihat ada senyuman. Begitu pulakah yang engkau alami teman, ketika engkau sedang menyusun kalimat-kalimat tersebut?

Bukankah apa yang kita rangkai, mencerminkan bagaimana suasana yang sedang berada di sekitar kita? Kalau aku memang demikian. Entahlah denganmu, aku masih menyangsikan. Mohon maaf yaa…😀

Karena aku pernah membaca sebaris teks yang sedang berjalan di ujung langit tatapan. Adapun tulisan tersebut menyampaikan pesan yang intinya bahwa, “Kita tidak perlu menangis terlebih dahulu untuk dapat menyusun rangkaian pesan yang berisi kepedihan, kesedihan atau pun keharuan. Namun kita dapat menciptakan kesan bahwa di dalam rangkaian kalimat yang kita rangkai terdapat kesedihan. Begitu pula dengan kebahagiaan. Kita tidak perlu berbahagia terlebih dahulu untuk dapat menuliskan tentang kebahagiaan. Namun, tuliskanlah tentang kebahagiaan sebagaimana yang engkau harapkan. Maka engkau mampu menjadi seorang yang berbahagia.”

Betulkah, demikian? Lalu, bagaimana dengan pengalaman, kesan dan pesanmu tentang hal ini, teman?

Terkadang kita dapat menyampaikan apa yang sedang kita alami dengan segera. Namun seringkali kita baru dapat menyampaikan apa yang ingin kita sampaikan setelah beberapa waktu kemudian. Karena kita terkadang perlu mengendapkan terlebih dahulu apa yang ingin kita sampaikan di dalam ruang pikiran. Nah, lho… kalau diendapkan terlalu lama, nanti debuan-dong. yaa?

So, berhubung saat ini aku sedang teringatkan tentang arti yang ada di balik kesulitan, maka aku ingin menjadikannya sebagai sebuah catatan. Agar, aku menjadi teringatkan pada pentingnya perjuangan dan berjuang lagi. Sekalipun kita menemukan kesulitan demi kesulitan dalam menempuh proses menuju cita yang telah kita sisipkan di ruang harapan.

Green Spider (Oxytate sp.)
Green Spider (Oxytate sp.) (Photo credit: Vishal Bhave)

Tidak perlu bersedih terlalu lama, teman, atas apa yang engkau temukan dalam menempuh perjuangan. Walaupun ia memang datang pada masa-masa kita tidak sedang dalam kesiapan menyambutnya. Namun yakinlah dan pahamilah lagi ayat-ayat-Nya yang tertulis nyata dalam al-Quran, bahwa pasti ada hikmah dan bahan pelajaran untuk kita. Karena semua yang kita jalani di dunia ini, menjadi jalan sampaikan ingatan kita kepada Allah. Allah Yang Maha Dekat. Hanya saja kita mungkin belum menyadari kedekatan-Nya. Mungkin karena kita sedang berdekatan dengan selain-Nya. Sehingga lupa bahwa kita mempunyai Allah subhanahu wa ta’ala di hati.

Ya Allah, apabila apa yang sedang kami tempuhi saat ini adalah yang terbaik, maka mudahkanlah kami dalam menempuhnya. Namun, kalau engkau mempunyai jalan lain yang lebih baik demi kebaikan kami, maka sampaikanlah kami di jalan tersebut. Jalan yang dapat menyampaikan kami pada harapan-Mu terhadap kami.

Hanya pada-Mu ya Allah, kami mengharap. Karena tiada daya dan upaya kami tanpa pertolongan dari-Mu.

Kumpulkanlah kami dengan hamba-hamba-Mu yang telah engkau pilihkan. Hamba-hamba-Mu yang dapat menjadi jalan ingatkan kami pada-Mu, setiapkali kami bersua, berjumpa dan bersapa serta bersama. Dengan demikian, ada kedamaian dan kesegaran yang kami alami, ketika berdekatan dengan beliau semua. Karena di antara kami, ada Engkau yang menjadi perantara. Satukan ingatan kami, pertemukan harapan kami. Agar, kami tidak salah ingat. Agar kami tidak salah harap. Selain harapan dan ingatan pada-Mu, ya Allah.

Aamiin ya Rabbal’alamiin…

Penang - Tanjung Bungah Beach
Penang – Tanjung Bungah Beach (Photo credit: WohinAuswandern)

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s