English: Looking eastwards from Laki over the ...
English: Looking eastwards from Laki over the ridge of Lakagígar. (Photo credit: Wikipedia)

Pada awal malam ini, aku ingin berkisah tentang satu hal. Ya, satu saja. Mari kita duduk berdampingan, karena ini adalah tentang kita.

Awal mampir dan bergabung di dunia maya dalam ranah perbloggeran, aku di kenal sebagai laki-laki. Whats? Hahaa…😀 Entah dari cara pandang yang mana, para sahabat baru yang aku kenal, pun melekatkan predikat gentleman padaku. Padahal aku adalah perempuan. Benar-benar.

Dalam hari-hari yang berikutnya, setiap kali aku mampir dalam halaman catatan maya, aku pun memulai dengan senyuman. Karena, selalu saja ada yang menyapaku dengan mas. Karena apakah? Begini ceritanya.

Aku sangat suka dengan matahari. Terlebih lagi dengan matahari yang bersinar pada pagi hari. Nah! Aku pun sempat memajang nama mentari sebagai inisialku. Yang hingga saat ini, aku masih suka dengan satu nama ini. Mentari. Dan beberapa teman yang mengeja nama tersebut, mengira bahwa aku adalah laki-laki. Nah! Ketika aku menanya mengapa? “Karena kesannya seperti laki-laki,” jawab teman-teman di sana.

Aku sedikit lega, karena beberapa dari teman tersebut, dapat mengenaliku dengan mudah. Tanpa aku sampaikan pada beliau semua bahwa aku adalah seorang perempuan. Aku masih tersenyum menanggapi apabila ada yang mengenalku sebagai perempuan.

Lama-kelamaan, akhirnya aku menyadari. Bahwa panggilan tersebut terus saja melekat padaku. Hingga aku menjadi tidak mengenal lagi, siapakah aku yang sesungguhnya? Karena terkadang memang aku mengenal diriku sebagai seorang laki-laki yang sungguh-sungguh dan tegar dalam menjalani kehidupan. Namun akhir-akhir ini, aku seringkali menyadari siapa aku. Aku pun menemukan cara terbaik untuk mengenalkan diriku pada dunia maya. Ya, salah satunya adalah dengan menitipkan beberapa baris kalimat yang menandakan bahwa aku adalah perempuan.

Oh, ternyata tidak aku saja yang mendapat anggapan sebagai laki-laki. Pun pada beberapa teman lainnya, aku menganggap beliau juga laki-laki pada awalnya. Namun ternyata, jelas-jelas perempuan, sama seperti aku.

Kini, hingga detik ini, aku pun melanjutkan pikir tentang hal ini. Aku memikir tentang dua jenis ciptaan Allah di dunia ini. Ada laki-laki dan perempuan. Aku sempat memikirkannya untuk jangka waktu yang lama. Hingga di tengah perjalanan pun begitu. Ya, ketika aku sedang melanjutkan perjalanan pada Rabu malam yang lalu.

Tidak langsung pulang ke kost-kostan selepas beraktivitas di luar, aku pun memilih jalan-jalan dulu. Nah, di sepanjang perjalanan, aku menyaksikan dua jenis insan. Ada laki-laki dan ada pula perempuan. Saat aku perhatikan dengan saksama, dua-duanya mempunyai kelebihan dan kekurangan.  Pun ada kemiripan dan perbedaan yang dapat aku saksikan.

Ada laki-laki yang tua dan perempuan yang tua pula. Ada laki-laki yang muda pun perempuan yang belia. Ada laki-laki yang berkacamata, pun perempuan berkacamata. Aku menyaksikan dengan lebih teliti lagi. Hingga terlihatlah perbedaan yang sangat jelas dari semua itu.  Perempuan berdandan, sedangkan laki-laki tampil apaadanya. Terlihat pula pada beberapa kesempatan, perempuan tampil apaadanya, sedangkan laki-laki yang sebaliknya.

Sesekali, dalam melangkah, aku membawa arah pikir hingga ke masa kini. Aku yang pada saat itu sedang melangkah, pernah tertegun. Aku memandang ke sekeliling. Aku ingin memperhatikan lebih jelas lagi, ada apa dengan laki-laki dan perempuan?

Banyak hal yang dapat laki-laki lakukan. Pun perempuan, sama. Ketika laki-laki melangkah dengan gagah, perempuan pun berjalan dengan anggun. Saat laki-laki menebar senyuman yang terbaik, perempuan juga menampilkan wajahnya yang berseri. Lalu, ada di bagian manakah perbedaan yang dapat aku saksikan diantara dua jenis insan ini?

Dari penampilan dan aktivitas, ada kemiripan, persamaan pun kesamaan. Ada yang terlihat dengan jelas, pun perlu perhatian berlebih untuk dapat melihatnya jelas.4n

Aku yang senang memperhatikan sekitaran, sangat terkesan dengan beberapa insan yang menjadi jalan ingatkanku kepada-Nya. Hingga aku pun merasakan deru yang tidak biasa dalam dada. Aku tersentuh pun terharu. Aku teringat Allah Yang Maha Kasih. Allah sungguh, menciptakan kita semua tidak dengan sia-sia. Namun penuh makna.

Oleh karena itu, kepada teman-teman yang sebelumnya mengenalku sebagai laki-laki, aku ucapkan terima kasih terdalam. Karena dengan peran yang engkau berikan, aku benar-benar mengerti siapakah aku yang sesungguhnya?  Walaupun waktu yang aku perlukan untuk menemukan siapakah aku, tidak cukup sehari ataukah dua hari saja. Bertahun-tahun kiranya, waktu telah berjasa pula dalam mencipta sejarah perjalananku mengenal diri.

Lalu, ketika pada saat yang lalu aku hanya tersenyum ketika engkau mengenaliku sebagai laki-laki, tetap kenali aku sebagaimana pandanganmu, teman. Karena aku percaya bahwa semua itu bermakna. Terima kasih ya.  Dan aku menerimanya dengan bahagia. Karena dengan cara demikian, sesungguhnya aku sedang berlatih untuk mensenyumi dunia.

Sudah jauh-jauh hari, engkau memperhatikanku, mungkin. Lalu, begitu pula dengan diriku. Aku pun memberikan perhatian terhadapmu. Aku yang semula mengenalmu sebagai laki-laki, dan ternyata perempuan, lha… makasih juga yaa, telah menjadi jalanku belajar untuk peduli. Karena dengan cara demikian kita dapat belajar mengerti dan senantiasa peduli dengan lingkungan.

Kita tidak dapat menilai seseorang dalam satu kali pandang saja. Dan kita tidak mesti mementingkan penilaian subjektif kita terhadap orang lain. Karena dari berbagai sisi dan sudut pandang yang berbeda, kita semakin mengenali sesiapa saja yang kita pernah kenal. Bukan untuk membanding-bandingkan dia dan dirinya yang kita kenal pertama kali dengan keberadaan saat ini. Namun tidak lebih sebagai salah satu jalan bagi kita untuk terus belajar dari alam ini.

Apabila pada satu kesempatan kita ternyata salah dalam menilai, itu biasa. Asalkan kita mau memperbaiki pada penilaian yang selanjutnya. Karena, kegigihan dan keuletan dalam menempuh proses belajar dari alamnya, dapat menjadi penentu bagaimana tanggapan kita terhadap kehidupan.

Kita yang seringkali berinteraksi dengan banyak insan, sesungguhnya sedang dalam proses belajar. Kita belajar bagaimana cara memahami orang lain, pun kita belajar bagaimana cara membawa diri. Kita belajar setiap waktu, dari detik ke menit hingga jam-jam bergulir dengan teduh. Hari-hari ini menjadi semakin semarak adanya, apabila kita terus berusaha menjadikannya sebagai sarana untuk belajar.

Coba saja engkau lihat dan perhatikan, teman. Sesiapa saja yang saat ini sedang berada di sekitarmu. Apakah beliau semua laki-laki atau perempuan? Perhatikanlah bagaimana beliau bergerak, berjalan, pun menampilkan sikap. Sesungguhnya, beliau semua dalam proses untuk belajar. Ya, belajar, begini aku menyimpulkan.

Dalam satu kesempatan, aku menyaksikan selembar wajah sedang terdiam saja. Lalu, aku saksikan lagi lembaran wajah yang lain berhiaskan senyuman. Dan selembar wajah yang sedang diam, melayangkan pandangan pada lembaran wajah yang lainnya. Lalu, ia memikir bahwa tersenyum itu ternyata menyenangkan.  Maka, segeralah si wajah tenang mengembangkan senyuman terbaiknya. Dan aku menyaksikan, wajah tenang pun tersenyum padaku. Lalu, aku yang sedari tadi memperhatikannya dengan saksama, turut terbawa suasana. Dan aku pun tersenyum.

Sebuah ilustrasi singkat ini, aku peroleh tadi siang. Ketika melakukan kunjungan ke sebuah ruang perkantoran. Aku bersama seorang sahabat, sedang berada di dalam antrian. Kami mengantri sambil duduk. Kami tidak berhadapan. Sehingga diantara kami tidak dapat menyaksikan bagaimana ekspresi masing-masing.

English: Looking westwards from Laki over the ...
English: Looking westwards from Laki over the ridge of Lakagígar. (Photo credit: Wikipedia)

Aku sedang menyaksikan seorang perempuan separuh baya, di ujung sana. Beliau sedang serius sungguh dan sangat. Untuk beberapa puluh menit lamanya, wajah itu tidak berubah. Terlihat penuh dengan konsentrasi dan tanpa ekspresi, kecuali beberapa kerutan pada dahi. Aai!

Namun tidak berapa lama kemudian, aku berpaling pada teman yang sedang duduk di sisiku. Beliau segera tersenyum padaku. Dan aku pun mensenyumi temanku. Lalu, kami saling berpandangan. Kami bertemu pandang untuk beberapa lama saja. Setelah itu, temanku pun melayangkan senyuman pada perempuan separuh baya yang semenjak tadi aku pandangi, dengan wajahnya yang berbinar dan penuh dengan senyuman.

Lalu, dapatkah engkau membayangkan teman, apa yang sedang berlangsung beberapa detik kemudian?

Alhasil…

Wajah ibu separuh baya, mencerah seketika itu juga. Beliau tersenyum, membalas senyuman teman di sisiku. Sedangkan aku yang sedang semangat memperhatikan dua ekspresi tadi, segera nimbrung. Kami saling bersenyuman. Senyuman yang kami saling pertukarkan dengan secepatnya. Setelah itu, keadaan kembali normal seperti sediakala.

Ketika aku menyaksikan perempuan-perempuan begitu mudahnya saat mempertukarkan senyuman, maka begitu pula dengan laki-laki. Tidak sekali dua kali, aku memperhatikan hal ini. Bahkan sangat sering.7n

Tadi sore, saat aku sedang bersiap-siap untuk pulang dari beraktivitas kejadian ini berlangsung. Aku yang sedang berbenah. Sedangkan di ruangan lain tidak jauh dengan lokasi keberadaanku, sedang ada dua orang laki-laki. Laki-laki muda yang sedang beraktivitas pula. Sebut saja namanya A dan N, yang kalau disatukan menjadi AN.

AN sedang duduk di ruangan yang berbeda denganku. Beliau terlihat sedang asyik mengerjakan sesuatu. Sepertinya melanjutkan tugas-tugas yang masih belum beres. Beliau awalnya asyik sendiri. Namun lama kelamaan, terlibat perbincangan yang membuatku sangat enjoy menyaksikannya. Mengapa?

Karena AN sedang bercakap-cakap dengan penuh antusiasme. Ya, AN yang tidak menyadari keberadaanku di sekitarnya, terlihat sangat asyik mengobrol. Entah apa tema yang sedang AN perbincangkan. Aku tidak dapat menangkap dengan jelas. Karena ku sedang sibuk pula berberes.

Hingga akhirnya, aku pun pamitan lebih dahulu. Sedangkan AN juga begitu. Beliau berdua pun mulai bersiap.

Aku yakin, bahwa AN tidak akan mengikutiku. Namun aku yakin sungguh, bahwa beliau melakukan apapun yang sedang beliau lakukan, karena mendapatkan pengaruh dari lingkungan. Sehingga secara tidak langsung, beliau pun melakukan hal yang sama.

Tidak hanya ekspresi saja, begitu pula dengan karakter dan tingkah laku serta sikap kita. Bahwa, di mana saja kita berada, maka diri kita akan menjadi bagian dari lingkungan itu. Walaupun kita belum menyadari, namun sesungguhnya kesadaran kita dapat memberikan pencerahan. Bahwa kita sepenuhnya perlu memahami keadaan.

Sight to the central fissure of Laki volcano, ...
Sight to the central fissure of Laki volcano, Iceland (Photo credit: Wikipedia)

Kalau saja kita seringkali bergaul dengan laki-laki dalam keseharian, maka kita pun akan turut sikap dan tingkah laku beliau-beliau semua. Demikian pula dengan yang sebaliknya. Karena lingkungan dapat mencerminkan siapakah kita. Karena kita dapat dibentuk oleh lingkungan yang menjadikan kita seperti saat ini.

Baik kita menyadari ataukah tidak, sesiapa saja yang berada sangat dekat dengan kita, dapat menjadi bagian dari pola pikir kita. Lalu, apapun yang sedang kita perhatikan, dapat menjadi bagian dari landasan kita untuk bersikap. Oleh karena itu teman, banyak bergaul dengan pribadi-pribadi sebagaimana yang kita damba, merupakan salah satu langkah awal untuk menjadi sebagaimana apa yang kita damba.

Hari ini kita mungkin saja masih seperti diri kita yang sebelumnya. Namun, sadarkah kita, bahwa bagaimana kita pada lima hingga sepuluh dan berpuluh-puluh tahun yang akan datang, masih sama dengan diri kita yang sebelumnya?

Tidak ada yang dapat menerka bagaimana kita menjalani kehidupan pada masa-masa yang akan berlangsung.  Hanya saja, pada saat ini kita perlu lebih sering mendata diri. Tentang sesiapa saja yang kita pergauli. Tentang sesiapa saja yang kita perhatikan. Tentang apa saja yang kita lakukan. Karena kita yang sesungguhnya, dapat dibentuk oleh lingkungan di mana kita berada.

Apabila kita merasa tidak ingin menjadi seperti diri kita saat ini untuk masa-masa yang akan datang, maka segeralah berubah. Berubah untuk menempuh proses yang dapat menyampaikan kita pada –diri kita yang baru.

Kita boleh saja perempuan. Namun kita pun perlu bermental hebat. Kita bisa saja laki-laki yang penuh dengan wibawa. Namun kita perlu mengingat, bahwa di sebalik kita yang diciptakan-Nya sebagai laki-laki, ada insan lain yang penuh dengan kelembutan. Dan semua itu merupakan perekat erat persahabatan sesama insan.

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa, laki-laki ataukah perempuan, kita adalah sama dalam pandangan-Nya. Karena Allah menciptakan kita tentu dengan tujuan yang menawan. Agar kita saling menyadari keberadaan diri. Agar kita dapat mengenal diri dengan sebaik-baiknya. Lalu, menanya padanya lebih sering, atas apa yang sedang ia pikirkan. Apakah ia berpikir tentang bahan pelajaran yang ia dapatkan selama berinteraksi dengan insan lainnya? Ataukah ia ternyata menemukan beraneka pencerahan dari kehidupan sehari-hari.

Kita sebagai sesama insan, dapat saling mengingatkan atas tujuan kita diciptakan. Apakah sebagai laki-laki yang rupawan atau sebagai perempuan yang keibuan. Ya, karena dengan cara demikian, kita senantiasa teringatkan pada hari-hari yang penuh dengan pembelajaran.  Sedangkan setiap detik waktu yang terus bergulir, merupakan kesempatan untuk mengabadikan semua dalam rangkaian catatan.

Bersenyumanlah wahai teman, dengan senyumanmu yang penuh persahabatan.

Tertawalah dalam sedikit saja kesempatan, karena disebalik itu ada limpahan rasa yang perlu kita semaikan.

Teruslah memetik bahan pelajaran dari apa yang kita temukan, seraya memahami dan menghayati pesan, kesan dan kenangan yang kita dapatkan setelahnya. Lalu, bergeraklah dan teruskan perjalanan. Karena kita ada untuk menjadi bagian dari kehidupan insan lainnya.

Kalau saja kita mau memahami, sesungguhnya setiap pergerakan yang kita lakukan, ada bahan pelajaran bagi yang lainnya. Oleh karena itu, wahai teman. Berbahagialah ketika engkau menemukan ada yang sedang memperhatikanmu. Karena setelah itu, engkau menemukan dirimu menjadi guru kehidupan baginya.  Karena hanya siswa yang memperhatikan gurunya lah yang dapat memahami bahan pelajaran dengan baik. Lalu, menuliskan rangkaian pelajaran tersebut di dalam buku catatan kehidupannya.  Untuk ia pelajari lagi dalam banyak waktu dan kesempatan. Sehingga ketika masa ujian tiba, ia siap dan sedia senantiasa.

My advisor! hahaa
My advisor! hahaa (Photo credit: ap2il)

Sedangkan bagi para siswa yang tidak memberikan perhatian pada gurunya yang sedang menerangkan pelajaran, bagaimana mungkin akan mendapat predikat sebagai siswa teladan? Karena tiada teladan yang dapat ia petik untuk ia teladankan lagi.

Sungguh, hal ini menjadi salah satu ingatan, bagiku… yang ingin terus menjadikan alam sebagai guru dalam kehidupan. Dan engkau adalah bagian dari alam-Nya, teman. Terima kasih yaa.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s