Chania, sunset
Chania, sunset (Photo credit: Arian Zwegers)

Di laut lepas aku berada kini. Menyaksikan hamparan biru nan bergerak bergelombang. Di tengah lautan kehidupan, yang belum bertemu di manakah ujungnya? Dalam pelayaran yang sedang ku alami kini, terkadang timbul tanya di dalam hati. Akankah aku sampai pada pulau harapan yang kehijauan nun jauh di sana? Ataukah aku akan tenggelam saja di tengah dalamnya samudera biru?

Apapun yang terjadi, aku tetap berprasangka baik pada-Nya. Karena dalam menjalani kehidupan, ada pilihan-pilihan bernas yang membawa kita pada arah yang kita tidak dapat menduganya. Hanya saja, seberapa besar keyakinan dan kepercayaan kita dalam menjalaninya, itulah yang menentukan bagaimana tanggapan kita terhadapnya. Ya.

Jika aku tenggelam di lautan biru kehidupan ini, aku ingin menjadi mutiara yang mengendap di dalam dasarnya. Berada di dalam cangkang raksasa yang menaungiku. Hingga akhirnya nanti, mutiara yang berkilauan menampakkan kemilaunya. Aku ingin berada di antara rumput laut dan makhluk-makhluk lainnya. Aku ingin menanya mereka lebih sering, “Mengapa mereka semua begitu betah berada di dalam air nan asin.”

Jika aku memang betul-betul perlu tenggelam, maka dapat ku saksikan betapa indahnya ciptaan Allah di dalam sana. Walaupun keberadaanku di dalamnya, untuk selama-lamanya. Hingga aku tidak lagi dapat menyaksikan indahnya senyuman mentari setiap pagi secara langsung? Ya, bola mata ini dan retinanya tidak akan lagi mengalami silau. Ataukah aku tidak lagi dapat menjejakkan kaki-kaki ini di permukaan bumi? Aku pun berada di dalam genangan air yang kedalamannya tidak lagi sedepa ataupun sejengkal?

Atau masih ada pilihan lain. Aku terus berlayar di tengah deru gelombang yang riuhnya tidak lagi dapat ku ucapkan dengan kata-kata. Jika memang demikian,  maka aku masih dapat merasakan semilir angin yang menerpa lembaran pipiku. Aku masih merasakan kesejukan alam yang menggerakkanku untuk kembali membuka mata saat ia mengatup. Aku ingin menyaksikan, betapa hijaunya pulau harapan yang sedang membentang di hadapan. Lalu, kehidupan baru yang penuh dengan harapan selanjutnya, siap untuk ku jalani. Dan itu berarti aku masih berada di atas bumi.

Saat aku masih berada di permukaan bumi, maka ketika aku mengangkat wajah aku masih dapat menyaksikan sinar mentari. Aku masih merasakan hangat yang ia tebarkan pada raga ini. Dan aku akan sampaikan padanya senyuman terbaikku. Senyuman yang ku tebarkan sebagai salah satu wujud terima kasihku padanya. Karena ia telah menyinari hari-hariku hingga saat ini. Mentari tetap di hati. Walaupun ia tertutup awan nan bermendung kelabu, pada suatu hari. Namun ia senantiasa bersinar. Ia ada di dalam hatiku. Untuk mensenyumkanku saat mendung pun menggelayutinya. Intinya, aku sangat menikmati hari-hariku. Sekalipun malam hari.

Kini, yang jelas, aku sedang berlayar. Berlayar dalam hari-hari yang sedang aku alami. Aku tidak dapat menduga-duga atau juga mengira. Tentang dua kemungkinan tadi. Terus berlayar atau pindah ke dalam dasar lautan. Ai! Itu semua adalah ketentuan-Nya. Hanya saja aku berusaha untuk memberikan pikiran dan prasangka positif dan yang baik-baik saja. Karena aku, sangat inginkan kebaikan menjadi bagian dari hari-hari yang aku temui. Ya, aku hanya ingin bernaung di dalam lingkungan yang penuh dengan kebaikan.

Ketika pelayaran ini masih lama waktunya, aku ingin menikmati proses dengan baik. Karena beberapa waktu yang akan datang, aku tidak dapat menerka atau juga mengira-ngira. Hanya saja, ada harapan yang ku cipta di dalam ingatan. Aku ingin menjadi yang terbaik. So, aku melakukan yang terbaik.

Dalam pelayaran ini, aku yakin tidak sendiri. Ada banyak pelaut-pelaut ulung dan tangguh di kapal lainnya di sana. Aku yakin, banyak yang sedang berjuang menghadang badai ketika ia sedang menggulungnya. Aku percaya bahwa tidak ada kenyamanan yang beliau-beliau alami. Hanya saja, mungkin aku belum berjumpa dengan beliau, kalau aku merasa bahwa yang terombang-ambing hanya kapalku saja. Dan ketika aku menyaksikan sendiri bagaimana beliau-beliau berjuang keras dalam menaklukkan samudera, maka aku dapat tersenyum dari kejauhan. Bahwa memang benar, aku tidak sendiri.

Dalam berkesempatan terbaik aku jumpa dengan beliau semua, di tengah lautan kehidupan ini. Maka dari kejauhan aku lambaikan tangan, lalu sampaikan, “Helloo… how are you?” Dan dalam pikir ku ucapkan, semoga kedamaian senantiasa menjadi teman di dalam hati. Dengan demikian, walau bagaimanapun tingginya badai menerpa, hanya ada sebentuk syukur yang menyambut. Lalu, wajah-wajah itu pun ku saksikan penuh dengan senyuman.

Dari kejauhan, kami memang tidak dapat mendengarkan suara masing-masing. Namun hanya dari ekspresi dan raut wajah, dapat terlihat bagaimana beliau-beliau semua menanggapi kehidupan. Saat laut tenang dan gelombang tidak datang, terlihat ada yang sedang duduk di ujung kapal. Ai! Bukan berniat untuk loncat ke dasar lautan. Namun, karena ingin menyaksikan, betapa indahnya hasil cipta-Nya. Ya, di tengah lautan yang kita tidak tahu di dalamnya seperti apa? Kita ternyata sedang berada di permukaan air yang –subhanallah…– bagaimana bisa? Kalau saja kita tidak menguatkan keyakinan kepada-Nya saja, maka kita akan mudah merasakan hampa. Kita akan terpikir pada hal-hal yang tidak semestinya. Padahal, kalau kita mau menguatkan keyakinan kepada Allah, apapun bisa terjadi, dengan izin dari-Nya.  Dalam hal apa saja.

***

Teman, ketika menulis rangkaian kalimat dalam catatan ini, aku teringatkan dengan Ibunda dan Ayah nun yang saat ini sedang berada jauh di sana. Di seberang lautan, beliau berada. Dan ingatanku yang terhadirkan, sempat melewati luasnya samudera biru. Karena, untuk dapat sampai di sini, aku melewatinya terlebih dahulu. Dan pengalaman saat berada di atas permukaan air, turut menjadi jalan yang akhirnya sampaikan ingatanku pada beliau.

Untuk dapat sampai di sini, tentu tidak mudah. Dan waktu yang dibutuhkan tentu tidak sebentar. Butuh berjam-jam rupanya. Haha…😀 Teringatkan dengan perjalanan darat, laut, dan darat lagi, aku tergeli sendiri. Ketika aku menyadari. Ya, saat aku mulai merasakan semangat ini turun dan menurun. Lalu, buat apa aku menempuh jarak yang tidak sedepa itu? Kalau saja di sini aku menjadi seperti itu? Oh, tidak bisa!

Aku, perlu kuat.

Aku, mesti hebat.

Karena aku adalah pelayar yang tangguh.

Akan ku buktikan bahwa aku pun bisa seperti beliau-beliau di sana. Aku mampu melewati apapun yang ku temui di tengah luasnya lautan kehidupan. Pun, aku yakin bisa, insyaAllah.

Pengorbanan berupa airmata yang menetes pelan-pelan, tidak lagi akan terasa. Kalau aku sempatkan waktu untuk menyaksikan luasnya samudera. Ya, airmata yang menetes itu tidak ada artinya. Karena ia hanya titik-titik bening yang akan segera hilang dan menguap di pipi, sebelum membasahi alam. Yah, airmata hanyalah hiasan dalam kehidupan.

Dalam menempuh hari-hari, tidak selamanya kita penuh dengan senyuman, bukan? Nah! Justru karena itu, kita perlu menemukan cara, bagaimana agar itu senyuman dapat menjadi bagian terbanyak dalam kehidupan kita. Untuk menemukan cara tersebut, tentu tidak mudah teman. Ya, tidak semudah mengedipkan mata, clink…??! Lalu kita bertemu senyuman baru. Pun, tidak semudah menggerakkan jemari di atas tuts-tuts ini. Sungguh, perjuangan yang panjang, membutuhkan proses yang tidak sebentar. Dan semua orang yang sedang tersenyum pun pasti mempunyai pengalaman.

Banyak orang bilang, tersenyum itu mudah. Itu bagi yang bermudah-mudah dalam menghadirkan senyuman pada wajah. Pun, sangat indah kiranya proses yang kita tempuh sebelum senyuman itu hadir. Kalau saja kita mempunyai cara-cara terunik untuk tersenyum.

“Bukankah senyuman itu ibadah?”

Nah! Dengan mengembalikan ingatan kita pada sebuah kalimat ini, maka tentu sangat mudah bagi kita untuk kembali tersenyum. Walaupun pada hari-hari yang bermendung dan kelabu serta berkabut itu, alam sepenuhnya gelap. Dan selembar wajah yang sedang menyaksikannya, terkadang turut terbawa suasana. Karena ia memang mudah terbawa suasana.

Walaupun engkau termasuk dalam tipe pribadi yang terbawa suasana dan mudah sekali terpengaruh lingkungan, namun aku yakin. Bahwa engkau tidak selamanya begitu. Ya, kalau engkau yakin dan percaya pada dirimu, bahwa engkau adalah dirimu. Dan engkau sungguh dapat berubah. Engkau mampu kalau engkau mau.

Ketika alam mengajakmu berdamai, melalui angin yang bersemilir, maka engkau boleh turut dengannya. Saat alam mengajarkanmu bagaimana cara tersenyum, melalui sinar mentari yang cerah hari ini, maka engkau dapat mempraktikkannya. Pun ketika alam membawamu pada keadaan yang membuatmu terus bertanya, melalui hamparan lautan biru yang engkau sedang berada di permukaannya, maka engkau dapat menentukan pilihan. Ya, salah satunya adalah dengan mengubah cara pandang, dan memutar arah kendali. Engkau adalah dirimu.

Engkau boleh saja menerima penilaian dari sesiapa saja, tentang dirimu yang mereka saksikan. Namun yang lebih tahu dirimu yang sesungguhnya, bukankah engkau?  Makanya, engkau dapat menyampaikan bahwa, “Aku bukanlah seperti yang engkau sampaikan padaku.” Tentu saja kalau engkau benar-benar yakin, bahwa engkau memang tidak begitu. Semudah itu cara untuk menyadari keberadaan diri.

Karena di dalam kehidupan ini, kita benar-benar tidak sendiri. Ada banyak lagi sesama insan di luar sana, yang sedang menjalani hari-hari sebagaimana kita.

Sudah demikian adanya. Ketika siang, kita dapat menikmati indahnya senyuman mentari, kalau alam sedang bercengkerama dengannya. Sehingga kita dapat memperhatikan beraneka tampilan alam dengan leluasa. Ya, dengan lepas dan bebas, kita menyaksikan dedaunan yang bergerak, tertiup angin. Dengan gegas kita pun menyaksikan lengkungan cakrawala yang terkadang membiru, terkadang penuh dengan bercak-bercak putih nan lembut, itulah awan. Pun tidak jarang, ada lukisan maha sempurna yang kita saksikan di atas sana, bukan?

Ai!

Sedamai langit yang sedang membentang itu, aku ingin menjalani hari-hari. Saat aku masih mempunyai kesempatan untuk menyaksikannya dari tengah lautan kehidupan. Aku yang sedang menepikan ingatan pada beliau-beliau nun yang sangat berjasa. Ya, ingatan terhadap beliau semua, menjadi jalan sampaikan aku di sini. Untuk ku susun beberapa huruf yang selamanya bersedia untuk ku petik satu persatu. Lalu, dengan kekuatan ingatan tersebut, akupun menembus dunia maya. Yah! Di sini aku mulai merangkai senyuman.

Belajar setiap hari, hampir saja aku lakukan. Untuk menitipkan beberapa lembar ingatan. Agar, ketika pada suatu waktu aku berada pada ujung pelayaran ini, aku dapat menyaksikan kembali hari-hariku. Terkadang hari bermendung kelabu. Pada suatu masa, aku berada di bawah cerah mentari. Dalam waktu yang telah lama berlalu itu, aku pun terjebak di antara hujan airmata. Namun yang lebih penting, ada banjir kebahagiaan yang ku lewati. Ai! Duniaku penuh dengan aneka iklim. Bahagianya berada di Indonesia, dengan iklimnya yang berganti.

Ya, kini aku mulai menyadari arti kehadiranku di sini. Dengan begini, aku mempunyai duplikat dalam perjalanan. Duplikat yang selayaknya menjadi jalan bagiku untuk tersenyum, ketika baru hari ini aku menyadari. Bahwa pada waktu-waktu yang telah lama berlalu itu, semestinya aku begini dan begini. Lalu, ketika ia sudah lama berlangsung, cukup menjadikannya sebagai salah satu pelajaran bagi diri. Pun, semoga sesiapa saja dapat memetik satu dua tangkai dari kembang-kembang tersebut. Aku ingin ia berarti.

Atas kebahagiaan yang aku tebarkan dengan segera, atas ketidakbahagiaan yang juga aku sampaikan dengan secepatnya. Semestinya ia menjadi salah satu bahan ingatan. Bahwa kehidupan memang demikian. Ada perputaran.

Demikian pula dengan pelayaran ini, tidak selamanya badai dan angin kencang menerpa-nerpa. Ada saat nya laut tenang dan angin bertiup mendamaikan. Selayaknya pula kita menjadikan apapun yang kita jalani sebagai salah satu jalan untuk mengembalikan ingatan kepada Allah, yaa. Karena semua yang kita jalani, walau bagaimanapun adalah yang terbaik. Sebaik prasangka kita kepada-Nya. Bahkan, kebaikan-Nya melebihi sebaik-baiknya prasangka kita.

Hari ini mentari bersinar dengan semarak

Terpaan sinarnya menembus hingga ke ruangan ini,

ruang hati yang sedang ku tempati,

Di bahwa teriknya yang mulai menyengat,

aku menjaga harapan agar ia kembali bersinar seperti ini,

pada saat hatiku sedang bermendung,

Pelayaran ini, sedang ku alami di permukaan lautan yang airnya asin. Karena terkadang aku mencoba mencicipinya. Sungguh, asin itu ternyata engga enak yaa. Namun kalau tanpa asin, bagaimana bisa kita dapat merasakan kelezatan? Ya, sebagaimana halnya masakan saja.

Engkau dapat membayangkan teman, atau merasakannya sendiri. Bagaimana rasanya masakan tanpa ada asin? Karena asin itu adalah bagian dari rasa dalam kehidupan. So, ketika engkau merasakan ada asinnya, enjoy it.

Lalu, engkau dapat membedakan rasa yang lain setelah ia berlalu, bukan? Terkadang manis, juga bukan? Nah! Ingatan terhadap hal ini, menjadi jalan tersenyumnya kita. Ya, karena kehidupan ini berlangsung dengan harapan. Maka harapkanlah hari-harimu berhiaskan kemanisan, ketika saat ini engkau sedang mencicipi asinnya kehidupan. Dan begitulah salah satu cara untuk terus menikmatinya.

Terjagalah lebih sering, karena kita sedang dalam pelayaran. Bukalah mata dengan leluasa, karena lautan sedang menampilkan pemandangan terindah untuk kita. Lalu, lambaikanlah jemarimu beberapa lama, untuk beliau yang engkau temui pula. Ya, tentu dengan satu makna, agar kita sama-sama berjuang dengan sempurna.

Teman, walaupun kita belum dapat berjabatan jemari, namun kita sama-sama dapat menjabat kalimat dan makna yang kita rangkai dengan jemari ini. Karena ia adalah jalan bagi kita dalam memaknai hari-hari.

Wahai jemari, engkau betul-betul berharga. Terima kasih ya, atas partisipasi dalam menyampaikan suara hati ini. Hingga akhirnya ia pun mengalir di sini. Untuk mengabadikan kisah kita dalam pelayaran kehidupan ini. Kehidupan yang kita tidak tahu pasti, kapankah akan berakhir? Oleh karena itu, kita perlu menghayatinya betul-betul, lalu  merangkai pesan, kesan dan kenangan selama bersamanya. Yaa.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s