cropped-img00004-20121217-1000.jpg

Ya, aku menyadari bahwa saat aku marah, maka pada waktu yang sama aku sedang marah pada diriku sendiri. Dan ini adalah satu pengalaman hari ini yang ingin ku saksikan dalam bentuk rangkaian kalimat

Ya, ketika aku sedang tidak nyaman dengan diriku sendiri, maka aku akan sangat mudah meluahkan emosiku. Aku berucap nada suara dengan tinggi. Aku sampaikan susunan kata yang tidak biasa. Dan aku, ku temukan diriku bukanlah yang sesungguhnya aku. Sesaat setelah aku menyadari apa yang telah aku lakukan, maka aku pun segera memandang sang wajah di depan sebuah cermin. Lalu, ku mematutnya, menanya dan memberikan sapa.

Ya, sebagaimana aku yang sedang menjalani nuansa serupa, maka aku pun mengulas sapa pada sesiapa saja yang sedang berada di hadapanku dalam kondisi yang sama. Sehingga aku pun akhirnya menyampaikan tanya dengan diriku sendiri.

“Apakah memang, seorang yang sedang marah, sebenarnya sedang tidak nyaman dengan dirinya sendiri? Lalu, ia pun meluahkannya dalam bentuk emosi yang tidak lagi semestinya ia sampaikan.”

Ya, dengan begini, maka aku pun menjadi yakin. Bahwa bagaimana aku memandang diriku sendiri, demikian pula adanya sesiapa saja yang ada di luar diriku.

Ya, aku tidak akan menjadi sebagaimana yang orang lain sampaikan tentang aku. Karena aku adalah diriku. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, aku akan bertemu dengan seorang teman yang sangat memperhatikanku. Teman yang membuatku segera merangkai kalimat dalam susunan yang tercipta dengan mudahnya, setiap kali aku ingin menyampaikan suara. Namun, semua tersendat. Karena aku tidak lagi dapat bicara dalam nada-nada suara yang mengalir. Hanya gerakan jemari yang menjadi jalan sampaikan semua.

Ya, sesaat setelah membuka lembaran bercahaya ini dari lipatannya. Maka aku pun memandang sesosok wajah yang sudah sangat lama aku kenali. Wajah yang perlahan ku sapa dengan senyumanku. Wajah yang nun sedang berada di ujung arah tatapku merupakan selembar potret. Wajah tersebut bukanlah aku. Karena aku bukan dirinya. Dan aku adalah diriku yang saat ini sedang memandangnya.

Ya, wajah itu seringkali ku lihat mengekspresikan beraneka rupa yang seringkali ia ganti. Terkadang ia menitikkan airmata hingga melewati lembaran pipinya yang mulai menganak sungai. Kemudian, ia pun terlihat menarik kedua ujung bibirnya ke samping kiri dan kanan secara bersamaan. Dan aku sangat menyukai beraneka ekspresi yang ia tampilkan. Sekalipun ia sedang marah. Dan aku mengusaha untuk menemukan cara bagaimana supaya ia segera menghidupkan kesadarannya. ‘Karena dalam yakinku, pada saat ia sedang marah, wajah itu dan raga yang sedang berekspresi itu, sedang tanpa kesadaran.

Ya, aku pernah pula menyaksikannya yang sedang serius dan penuh dengan konsentrasi. Terlihat ia sedang merangkai huruf demi huruf melalui gerakan jemarinya. Lalu, terlihat pula ia terdiam untuk beberapa lama. Entah apa yang ia pikirkan. Hingga beberapa menit kemudian, terlihat raga itu segera menggerakkan jemari nya untuk kesekian kali. Ai! Sepertinya ia mempunyai ide untuk ia tebarkan di permukaan lembar catatannya.  Dan inilah idenya. Rangkaian kalimat yang sedang engkau nikmati, teman, merupakan catatannya.

Aku yang semenjak tadi memperhatikan apa yang ia lakukan, segera tersenyum padanya.  Karena wajahnya yang tanpa senyuman, kini mulai berbinar. Ia puas dengan apa yang ia lakukan.  Namun dengan raganya yang tanpa senyuman, sungguh ia tidak tenteram sama sekali. Apalagi kalau ia dalam rengkuhan emosi yang tidak terkendali.

Raga yang sedang tanpa senyuman itu, ku lihat menggigit bibirnya. Seakan ada kegetiran yang sedang ia rasakan. Ah! Sepahit dan segetir apakah? Sehingga wajah itu tiada senyuman sama sekali? Sungguh aku ingin menggenggam jemarinya yang sedang bergerak, lalu ku salami satu persatu. Agar, ia menyadari kehadiranku. Namun, sayang… tiada mungkin ia melihat diriku. Aku yang tanpa raga, sebagaimana ia. Aku lalu tertegun.

Seiring dengan hadirnya kedipan pada kedua bola matanya, terlihat ia semakin serius. Perlahan kedipan itu semakin ramai. Dan di antara lekukan bola matanya, mengalirlah tetesan air yang menganak sungai. Raga yang tanpa senyuman itupun sesenggukan. Aku tidak lagi kuasa menatap ia dan dirinya. Hanya saja, aku berjuang untuk menemukan cara, bagaimana cara agar ia kembali tersenyum?

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s