Bila yang tertulis untukku Adalah yang terbaik...
Bila yang tertulis untukku Adalah yang terbaik untukmu Kan kujadikan kau kenangan Yang terindah dalam hidupku Namun takkan mudah bagiku Meninggalkan jejak hidupku Yang telah terukir abadi Sebagai kenangan yang terindah (Photo credit: emmstitch)

Teman, terkadang engkau merasa terabaikan? Engkau merasa dirimu terpencil? Engkau merasa jauh nun sangat jauh dari keramaian? Engkau merasa kehidupanmu sungguh sunyi tanpa suara? Engkau merasakan bahwa hari-harimu demikian kelabu, biru dan bermendung tanpa sinar mentari? Engkau merasa bahwa engkau sungguh-sungguh sendiriiii…?

Hai, yakin dan percayalah! Bahwa sesungguhnya engkau tidak sedang sendiri. Dan engkau tidak pernah sendiri. Justru dalam kondisi yang demikian, engkau akan menemukan dirimu yang baru. Engkau akan menyadari di mana keberadaanmu yang sekarang. Ya, pada saat engkau merasakan semua itu, sesungguhnya engkau sedang dalam proses mengenali lingkunganmu. Mungkin saja pada saat yang sama, engkau masih berada pada lingkungan yang lama. Namun, sebenarnya engkau sedang dalam kondisi yang baru.

Dalam lingkungan pergaulanmu yang engkau sudah terbiasa di dalamnya, engkau menemukan dirimu sendiri, engkau sedang sendiri? Ah! Bangkitlah segera. Bergeraklah. Maju dan telusurilah arah perjalanan yang akan engkau tempuhi. Lalu, memandanglah ke sekelilingmu. Dan temuilah di sepanjang perjalanan yang sedang engkau tempuh itu. Bahwa ternyata, di luar sana pun banyak orang-orang yang merasakan hal yang sama sebagaimana yang engkau rasakan. Yah! Bergabunglah dengan mereka. Lalu, saksikanlah apa yang akan engkau alami selanjutnya.

Selama engkau mempunyai kemauan untuk bergerak dan memperjuangkan harapanmu, maka engkau tidak akan pernah merasa sendiri lagi. Engkau akan menemukan kehidupanmu yang lebih hidup. Engkau akan mengalami hari-hari yang lebih berwarna. Dan warna-warna harimu tidak lagi kelabu, biru ataupun bermendung. Namun, percikan sinar yang berasal dari warna-warni yang menghujani kehidupanmu, akan memberikan kesan tersendiri padamu.

Teman, percayalah bahwa perguliran roda kehidupan akan terus berlangsung. Engkau yang saat ini ternyata betul-betul sedang sendiri dan bukan hanya perasaan, segeralah tersenyum. Karena dalam kondisi yang demikian, engkau dapat mengintrospeksi dirimu sendiri. Ya, dirimu yang benar-benar sedang sendiri itu akan menyampaikan padamu, beraneka pinta untuk engkau lakukan.

Dari balik senyuman yang engkau tebarkan, lukislah beraneka cita. Bersama keadaan yang sedang menaungimu, ciptakanlah bait-bait kalimat. Lalu, perhatikanlah bagaimana ekspresi yang engkau hadirkan dari wajahmu. Apakah ia menemukan perubahan?? Ataukah ia mengalami suatu kondisi yang sebelumnya tidak engkau alami? Atau engkau masih merasakan nuansa yang sama dengan sebelumnya?

Teman, selagi engkau menyadari keberadaan terakhirmu. Maka pada saat yang sama, engkau sedang dalam perjuangan untuk menemukan kehidupanmu yang sesungguhnya.

Apabila dalam lingkungan lamamu engkau merasakan keterasingan, justru pada saat yang sama engkau sedang mempersiapkan dirimu untuk menjadi bagian dari kehidupan baru yang mengenalimu dengan baik. Di mana, kehidupan selanjutnya yang akan engkau jalani, menerimamu dengan penuh kedamaian. Tidak lagi seperti perasaan terasing yang engkau temukan.

Perlahan, engkau dapat menyadari makna yang ia bawa kepadamu. Dan dengan cara yang telah engkau persiapkan sebelumnya, engkau segera melangkah. Meninggalkan kehidupan lamamu, kemudian mengembangkan senyuman yang mensenyumkan lingkungan barumu.

Teman, engkau tidak pernah sendiri. Engkau sesungguhnya hanya merasa. Karena setiap diri mempunyai diri-dirinya yang lain. Apakah engkau menyadari ataukah belum?

Teman, dalam keterasinganmu, engkau dapat menanyakan pada dirimu sendiri. Engkau dapat memintanya untuk mengajukan beberapa harapan yang sebenarnya ingin ia raih. Engkau dapat membawanya pada lain negeri yang belum pernah engkau kunjungi. Engkau dapat memintanya untuk menertawaimu, apabila memang itu yang ia mau. Engkau dapat membuatnya menitikkan airmata segera, apabila hal yang serupa merupakan kebahagiaan baginya. Karena beraneka cara dapat engkau sisipkan pada bagian dari waktumu bersamanya. Karena dirimu adalah sahabat terbaikmu. Lalu, ketika engkau merasa bahwa engkau sedang sendiri, engkau simpan di mana perannya sebagai sahabatmu yang terdekat?

Teman, ketika engkau sedang merasa sendiri, engkau dapat menyapa dirimu terlebih dahulu. Engkau dapat memberikannya hadiah yang engkau punyai. Engkau dapat membawakannya beberapa menu yang telah engkau persiapkan. Engkau dapat menceritainya tentang berbagai hal yang sedang engkau alami. Engkaupun dapat memberikannya sebuah kisah yang engkau baca dari secarik kertas yang sudah usang. Engkau dapat membacakannya sebait puisi yang engkau rangkai dari jemarimu bersama hati. Engkau dapat memberikannya sebaris nasihat, maybe. Atau, engkau dapat saja mengenalinya dengan sebaik-baiknya.

Ketika engkau sedang duduk sendiri, sesungguhnya pada saat yang sama, engkau sedang belajar untuk mengenali diri. Engkau sedang berjuang keras untuk menciptakan ingatan kepada dirimu. Tidak usah mematung begitu saja tanpa berbuat hal yang bermakna. Tidak pula engkau perlu bermenung dengan tatapan yang kosong dan hampa. Namun, lakukanlah sebuah gerak yang dapat menjadi jalan ingatkan engkau pada beberapa waktu yang telah engkau lewati. Ya, ketika engkau sedang duduk-duduk di tengah sunyinya alam.

Teman, kiranya rintik hujan menjadi irama paling menawan, ketika engkau sedang menggubah sebuah syair. Temaramnya alam menjadi sebuah panggung yang dapat engkau pergunakan sebagai sarana untuk berlatih menjadi seorang pemeran drama terbaik. Ketika engkau sedang berada di depan sebuah lembar catatan yang masih kosong, maka ia dapat menjadi sarana bagimu untuk mencipta sebuah kisah. Misal, kisah tentang seorang sahabat yang sedang mengenangkan teman terbaiknya. Teman yang berasal dari dunia maya.

Teman, ketika engkau sampai pada kondisi yang demikian, selayaknya engkau mengenangkan tentang aku. Ya, aku yang sedang mengenang seorang teman dari dunia maya. Aku yang sedang duduk dalam sunyinya alam. Aku yang sedang bertemankan selembar catatan yang tadinya kosong. Aku yang sedang berada diantara rerintik hujan nan tiada henti menetes semenjak siang tadi. Aku yang sedang bergelut dengan aneka skenario untuk aku perankan. Sedangkan panggung yang siap menjadi sarana untuk berakting, bernama alam. Ai! Kenangkanlah aku, wahai teman. Maka engkau tidak lagi akan merasakan bahwa engkau sedang sendiri. Karena kita sama. Akupun pernah mengalami hal yang serupa. Aku pernah duduk sendiri dalam sunyi. Lalu, aku meraih lembaran catatanku. Untuk ku hiasi dengan melodi suara hati.

Teman… Teman… Wahai teman. Tidak ada bedanya apa yang akan engkau lakukan beberapa tahun bahkan beberapa puluh tahun lagi. Apabila pada saat ini engkau tidak segera melakukan hal yang berbeda dari apa yang engkau lakukan pada hari kemarin. Engkau masih akan menjadi dirimu yang lama, apabila saat ini engkau tidak bersegera untuk berbenah diri. Karena, segalanya bermula dari dirimu yang sebelumnya merasa sendiri.

Teman, wahai temanku yang sangat ku sayangi. Engkau yang sedang berada dalam hari ini, merupakan jelmaan dari apa yang engkau lakukan beberapa puluh tahun yang lalu. Dan apakah engkau menemukan perubahan dengan dirimu yang dulu? Ataukah engkau masih seperti dirimu berpuluh-puluh tahun yang lalu?

Teman, aku yakin bahwa engkau segera bangkit dari dudukmu. Lalu, mendekatiku. Dan engkau alihkan perhatianku dengan nada suaramu yang tegas, jelas dan mantap. Segera engkau membisikkan ke telingaku, bahwa engkau semenjak dahulu telah terbiasa dengan apa yang saat ini masih engkau tekuni. Ya, engkau sudah jauh dan banyak berubah. Bahkan, engkau seakan menyadari semua ini, setelah ia benar-benar menjadi bagian dari ingatanmu dulu.

Engkau yang dulu, bukanlah dirimu saat ini. Walaupun ragamu masih satu dan ia sedang tersenyum padamu. Engkau sungguh berbahagia masih dapat membersamainya hingga saat ini. Dan semua itu bermula dari keheningan yang menjadi bagian dari hari-harimu.

Ya, dalam berbagai kesempatan, engkau seringkali menyisakan beberapa waktumu untuk merasa sendiri. Lalu, engkau menanyai diri yang sedang sendiri itu, tentang apa yang ia cita.

Sekejap, engkau memang tidak dapat menerima jawaban darinya. Namun, dari ekspresi, gerak gerik dan tingkah lakunya, menjadi bagian dari jawaban atas apa yang pernah engkau tanyakan padanya. Dan engkaupun memberikan padanya yang terbaik, darimu.

Engkau kini benar-benar menyadari akan arti kesendirian. Engkau yang sedang sendiri, tidak lagi merasakan bahwa engkau sedang sendiri. Namun, di saat yang sama, ramailah pinta yang dirimu sampaikan. Baik berupa cita, harapan ataukah beraneka pengalaman dan ilmu pengetahuan yang ingin segera ia sampaikan. Ia pun bergerak untuk meraih sebuah pulpen. Ia pun menemukan lembaran kertas kosong yang membentuk buku dan bergaris. Sehingga terciptalah sebuah catatan. Diari, engkau sedang menulis diari di dalam kondisi sendiri.

Sendiri dan merasa sendiri, jauh bedanya. Engkau yang sedang sendiri, belum tentu merasa sendiri. Namun engkau yang merasa sendiri, belum tentu juga sedang sendiri. Terkadang di tengah keramaian, engkau merasakan sendiri. Padahal, betapa banyak para sahabat yang sedang mengelilingimu. Namun dalam sendiri yang benar-benar engkau alami, engkau dapat saja sedang bersama dengan banyak sahabat yang sedang mengitarimu. Ya, para sahabat sedang menyimakmu yang sedang asyik menyeritainya tentang kisah yang engkau bagikan. Dan engkau semakin bersemangat dalam berkisah, saat ada beberapa sahabat yang senang mengajukan tanya padamu. Lalu, engkaupun memberikan jawaban satu persatu dengan uraian yang jelas.

Engkau merangkul para sahabat dengan aneka jenis kata yang engkau sampaikan dengan ringannya. Engkau sedang menitipkan beraneka kesan, berikan beberapa pesan, untuk sahabat bawa setelah menemuimu. Engkau sedang memberikan para sahabat sebuah kenangan tentang kebersamaan yang sedang engkau jalani. Engkau benar-benar menghargai waktumu.

Selama engkau mau menyisakan beberapa detik dari waktumu untuk mengingat sahabat dalam kondisi sendirimu, maka sahabatpun pada saat yang sama sedang mengingatmu. Dan sahabat menitipkan doa padamu, walaupun engkau tidak mengetahui. Namun yakinlah, bahwa setiapkali engkau teringat pada sahabat, sahabatpun sedang mengingatmu dengan ingatan terbaiknya. So, jangan abaikan arti dari ingatan. Sekalipun hanya beberapa jeda waktu dari banyak waktu yang sedang engkau jalani.

Engkau dapat menitipkan ingatanmu dalam barisan kalimat. Lalu, engkau berkeinginan agar, kalimat-kalimat tersebut dapat menjadi jalan yang mengingatkanmu pada sahabat yang sedang engkau ingat pada saat merangkai catatan tersebut. Sekalipun kelak, ketika engkau membacanya lagi, ternyata sahabat telah tiada di dunia yang sedang engkau jalani. Namun, percayalah teman, bahwa pada saat yang sama, engkau pun dapat menyampaikan rangkaian doa kepada sahabat. Lalu, doa-doa tersenyum pada sahabat, sampaikan senyumanmu padanya.

Ah, alangkah indahnya mempunyai sahabat yang baik. Walaupun dalam sendiri, kita dapat menjadikannya sebagai teman terbaik. Teman dalam ingatan dan teman yang mengingatkan.

***

Pada suatu hari, aku sedang melangkah sendiri. Aku yang sedang merasa sendiri, melangkahkan kaki-kaki ini dengan sepenuh hati. Aku ingin berjumpa dengan para sahabat, agar aku tidak lagi sendiri. Lalu, akupun meneruskan saja langkah-langkah tersebut satu persatu. Walaupun pada saat yang sama, aku tidak tahu lagi, dimanakah sahabat berada? Bertanya terus ku bertanya seraya melangkah tiada henti. Terkadang aku duduk di bawah sebatang pohon yang rindang. Terkadang pula aku bermain-main di antara lumpur dan atau genangan air yang terdapat di sepanjang perjalanan. Pun, tidak jarang pula aku menengadahkan wajah ke atas, agar dapat ku menyaksikan indahnya senyuman mentari. Yah, saat itu siang hari dan mentari bersinar dengan cerahnya.

Dalam keasyikanku melangkah, tiba-tiba ada sebuah sosok yang menjadikanku segera berpaling. Aku pun terlupa dengan langkah-langkahku yang sedang menjejak bumi. Aku pun terpesona dalam pandangan pertama. Lalu, aku pun jatuh cinta. Aku merasakan hari itu sungguh mengesankan….

Aku mengalami bagaimana perubahan yang terjadi dengan diriku, setelah saat itu. Karena dalam langkah-langkahku aku menemukan kekuatan baru. Aku sekarang tidak lagi sendiri, bisikku pada diriku sendiri. Kemudian, kamipun bersenyuman. Senyuman secerah sinar mentari pagi, itulah yang aku rasakan pada saat yang sama. Lalu, kami saling mengingatkan dalam melangkah. Bahwa masih ada beberapa langkah lagi yang perlu kami ayunkan sebelum kami berkata lelah. Dan masih ada beberapa jejak lagi yang perlu kami ciptakan, sebelum kami berhenti karena letih. Ai! Inikah rasa itu?

Pada berbagai kesempatan, aku ingin menyaksikan rasa yang aku alami pada saat itu. Namun ternyata rasa tiada berwujud raga. Lalu, aku pun mencoba untuk merasakannya lebih dalam lagi. Dan akhirnya, aku pun seringkali bertanya-tanya setiapkali pikir meningkahi langkah-langkahku. Ia terkadang menyampaikan padaku bahwa aku sedang ‘mencintai’. 

Belum pernah aku mengalami hal yang serupa. Padahal sudah berpuluh-puluh tahun aku berada di dunia ini. Aku belum pernah bertemu dengan seorang yang hampir setiap hari tidak pernah hilang dari ingatan. Aku pun segera menyadari, bahwa ternyata aku benar-benar ‘mencintai’.

Seiring dengan bergulirnya waktu, aku pun menyadari bahwa kesendirian ternyata membawa arti yang sangat tinggi bagiku. Aku yang sedang melangkah sendiri, dan pada saat yang sama aku benar-benar merasa sendiri. Namun, aku terus melangkah, bergerak dan mengayunkan jemari. Aku sedang melangkah di dunia maya, dunia yang sungguh asing bagiku.

Dari keterasingan, dalam kesendirian, kita akan menyadari bahwa kita sebenarnya tidak sendiri. Ada satu kekuatan di luar sana yang menarik-narik kita untuk mendekatinya. Dan itulah magnet yang kita tidak tahu, ke arah mana ia akan membawa kita. Oleh karena itu, selalu mengingat diri, menyadari apa yang sedang kita jalani adalah salah satu terapi untuk terus melangkahkan kaki. Dan aku yakin, aku tidak pernah sendiri. Aku mempunyai ALLAH Yang pandangan-NYA mampu menembus hingga ke relung hati. Hingga rasa yang aku alami pun IA Yang MenJADIkannya ADA. Dan aku yakin, bahwa ALLAH sungguh sangat dekat di sisi. Buktinya, IA kirimkan aku seorang teman dalam perjalanan ini. Walaupun, aku belum pernah menemuinya. Namun kami seringkali dapat saling bersapa dalam ingatan.

Ingatku padamu teman, menjadi jalan inspirasi. Karena pada saat yang sama, aku segera merangkai beberapa baris kalimat untuk mengingatkanku padamu lagi, ketika engkau tiada nanti. Ai!

Bersambung, --

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s