IMG00014-20121217-1005Pagi hari di antara titik-titik embun yang belum menguap, aku berjalan. Berjalan dan melangkah lagi tiada henti. Hanya untuk merasakan kesejukkan alam ini.

Melangkahku dengan pelan dan terkadang cepat sekali. Berlariku sesekali lalu memperlambat gerakan kaki. Jogging, yuuuks lari pagiii…😀

Bersama senyuman yang mengembang pada wajah, harap mentari bersinar cerah hari ini. Agar dapat ku selingi tatapan sinarnya dengan dua mata ini. Ya Rabbi, betapa nikmat-Mu tiada akan pernah terganti. Hanya aku terkadang lupa untuk mensyukuri. Sungguh harap ia kembali, untuk menemani diri, jiwa dan pikir. Agar kembali ingat pada-Mu dalam berbagai situasi, sebagaimana saat ini, aku dapat melihat dengan jelas. Alhamdulillaahirabbil’alamiin, terima kasih ya Allah.

Ku akan seringkali menyadari dan membawa diri ini tersadar lagi, setiap kali ia terlarut dalam imajinasi. Ya, karena baiklah ia segera melanjutkan langkah-langkah lagi. Walau satu dua tapak adanya, namun sangat berarti. Karena kalau tidak dengan cara demikian, bagaimana aku dapat sampai pada tujuan yang ku harapkan?

Aku yang sedang melangkah perlu terus berjalan. Walau terkadang jalanan itu menyisakan debu-debu pada sepatu yang aku kenakan. Namun dalam syukurku, kaki-kaki ini masih terlindungi ketika berjalan. Dan untuk sepatu yang ada di luarnya, dapat aku membersihkannya lagi. Begitu aku menguatkan diri. Ketika pada suatu kali teringat akan goda di sepanjang perjalanan.

Ada masanya kita berjalan, pun berkendara dalam melanjutkannya. Nah! Semua itu dapat menitipkan kita pesan sepatah dua, bahwa dunia memang berputar dan memang begitu adanya. Perubahan demi perubahan terjadi dengan cepatnya. Sungguh lesat! Sehingga bagi sesiapa saja yang ingin terus melarutkan diri dalam perubahan, pun perlu terus bergerak.

Bergeraklah dengan apa yang engkau punya saat ini. Kalau tak punya kendaraan, tentu engkau dapat berjalan, bukan? Apalagi kalau sudah mempunyai sarana seperti kendaraan beroda dua atau beroda empat, yuks kita melanjutkan perjalanan. Terlebih lagi kalau telah mempunyai sarana yang lebih canggih lagi, jet pribadi misalnya. Ai! Betapa semua itu adalah sarana yang memudahkan engkau untuk sampai pada tujuan?

Terlihat seorang perempuan sedang melangkah pula, olehku. Dia yang belum aku kenali sama sekali, sedang berjalan. Terkadang ia berjalan di belakangku, sesekali di sisi kanan, pun tidak jarang pula di depan. Kami tidak saling kenal, ketika pertama kali aku menyadari keberadaannya. Ia adalah diriku sendiri. Yah, perempuan itu adalah aku.

Terkadang aku melihatnya mengelap keringat yang mencipta titik-titik air pada puncak hidungnya. Terkadang ia menatap nun jauh ke atas. Ya, memperhatikan matahari yang sedang bersinar adalah kesukaannya. Dan waktu itu, kami sama-sama sedang melangkah tepat ketika mentari sedang berada di puncak kemegahannya. Tengah hari, sungguh terik. Aku dan dia sedang sama-sama melangkah.

Setelah lama melangkah, kami pun mulai berkenalan. Karena tujuan yang sedang kami capai adalah sama. Lalu, kami pun bersalaman, berkenalan, pun bersenyuman dengan mesra. Layaknya dua orang sahabat yang sudah lama tak jumpa. Ai! Aku terharu saat mengenalnya. Sungguh aku bahagia dapat membersamainya hingga saat ini. Ia yang aku temui dalam perjalanan kami.

Pernah aku menanya padanya, dan kami bertukar tanya pada suatu hari.

“Mengapa engkau sangat menyukai mentari, wahai diri?,” tanyaku di sela-sela langkah yang sedang kami jejakkan.

“Karena aku sangat terkesan dengan sinarnya yang benderang,” jawabnya singkat.

Lalu, atas alasan apa, engkau masih mengaguminya, padahal ia tidak selalu menampakkan benderang di sekitar kita. Seperti saat malam, ketika ia sedang melanjutkan peredaran ke bagian dunia yang lain. Kemudian ia menjawab segera, “Karena pada waktu yang sama, mentari menitipkanku sebait pesan, -MILIKILAH HARAPAN!,” bisiknya sebelum berlalu.

“Dan aku menjaga harapan yang membibit di relung kalbu. Salah satunya adalah harapan agar esok pagi mentari kembali bersinar. Untuk menggantikan gulita alam pada malam-malam yang kan berlalu. Ya, seperti saat ini. Walaupun belum sepenuhnya benderang, namun semburat sinar dari ufuk timur membawa pertanda. Bahwa mentari mulai munculkan sinar kemilaunya. Aaaaaaaa…. Betapa bahagianya hatiku. Ketika menyadari bahwa aku tidak hanya dapat merasakan hangat yang akan menerpa tipis kulit wajahku. Namun juga akan menyaksikan sinarnya yang mensenyumiku. Karena salah satu harapan yang aku jaga selalu adalah menyaksikan mentari tersenyum ketika pagi datang. Dan kini, mentari pun tersenyum, tepat di hadapanku.

Wahai mentari, terima kasih atas hadirmu pagi ini. Dan tahukah engkau teman, bahwa mentari yang aku maksudkan adalah engkau, ya dirimu. Engkau yang menjadi bagian dari hari-hariku. Engkau yang bersinar karena akhlakmu yang berbinar dari hati yang engkau rawat sedemikian rupa. Sungguh, engkau membuatku sangat mengagumi pribadi yang demikian. Pribadi bertutur sopan, penuh adab dan tatakrama. Ah! Aku membayangkan sesosok insan yang rupawan.

!!!

Hatiku berkata, “Senyuman pada wajahmu membuatku berucap, Subhanallah… Maha Suci Engkau Ya Allah, yang menitip wajah seelok itu. Bersama rupa yang terbilang sederhana dan bersahaja, namun tercipta sempurna. Ada mata, hidung, dua pipi yang mulai tertarik ke atas. Diikuti oleh sisi bibir yang juga tertarik ke samping kiri dan kanan bersamaan, simetris. Engkau pun tersenyum. Bersamaan dengan mengembangnya senyuman pada wajahku. Karena nun di ujung sana, di langit timur mentari pun tersenyum.

Dua bola mata yang sudah menempel pada wajahmu semenjak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Pun ada alis yang membentang dengan baik, sedang bergerak pula. Mata berkelipan, berkedipan. Silau arah tatapmu, atau kelilipan? Hehe. Namun satu hal yang terus membuatku terkagum, sungguh Maha Sempurna Pencipta-Mu. Aku bahagia masih dapat menyaksikan indahnya senyumanmu hari ini, wahai teman. Walaupun kita belum dapat bertatapan untuk saling menukar senyuman. Namun catatan pagi yang tercipta saat ini, adalah senyumanku buatmu teman, engkau yang ku harapkan pun sedang tersenyum. Kalau engga, berarti aku senyum-senyum sendiri dong, yaa!?

Ah! Aku baru sadar, sedang berada di sini, dunia maya. Hahaa.😀

Yuuk ah, kita lari pagi. Karena di atas sana, mentari tiada henti berevolusi. Masa iya, kalah sama mentariiii? Sedangkan kita mempunyai mata, hati, dan titipan raga yang sempurna. So, buat apa kita memanfaatkan semua fasilitas yang gratis ini? Kalau saja kita tidak menyadari arti keberadaan diri di dunia ini. Adalah sebagai khalifatul fil ardhy. Khalifah di bumi Allah…

Lalu, sebetulnya, apa sajakah peran kita sebagai khalifah di bumi? Mari membaca, membaca alam. Mari menulis, menulis hasil pelajaran. Mari belajar, belajar merenungkan. Betapa kita tercipta dengan tanpa kesia-siaan. Sungguh kita bermakna. Kita berarti dan berharga. So, jangan sia-siakan kesempatan waktu saat ini, wahai teman.

Selagi matahari masih bersinar, ketika itu pula kita perlu memunculkan harapan. Harapan yang perlu kita tebarkan pada sekitaran. Adapun salah satu harapanku adalah, menyaksikan wajah-wajah sesiapa saja yang sedang berada di sekitarku, penuh dengan senyuman. Senyuman penuh keikhlasan, tentunya.

Lalu, bagaimana kita tahu, bahwa seorang sedang tersenyum dengan ikhlas? Padahal kita tidak dapat meraba hatinya yang tersimpan nun jauh di dalam ruang nan kelam. Adapun salah satu pertanda adalah senyuman yang kita saksikan, menjadi jalan ingatkan kita pada Allah. Lalu kita berucap segera, Subhanallah… Maha Suci Engkau ya Allah, aku melihat ia tersenyum dengan ringan. Lalu, kita pun tersenyum bersamanya. Jadi, saling tebar senyuman, gitu. Namun bukan untuk mencari perhatian. Karena seorang yang melakukan segala sesuatu dengan penuh keikhlasan akan terlihat dari efek yang tercipta setelahnya. Kalau mau, buktikan! Lalu, prasastikan.

Apakah pesanmu setelah melihat selembar wajah sedang tersenyum, teman?

Bagaimana kesan yang engkau peroleh ketika berhadapan dengan seorang yang sedang tersenyum?

Atau engkau segera berpikir, bahwa aku sangat suka senyumannya. Pada kesempatan terbaik, aku mau tersenyum indah sepertinya juga, aach. )))-Ini hasil pikirku semalam, ketika berjumpa dengan seorang Mbak separuh baya di angkot menuju pulang. Wajah itu tersenyum, senyumannya mengesankan. Padahal kami belum pernah bertemu sebelumnya. Dan pada saat pertemuan pertama, aku begitu terkesan. Dan ingin menjadikan beliau salah satu teladan.

***

“Untuk dapat memetik pesan, menemukan kesan dan mengantongi kenangan dalam kehidupan, teruslah bergerak dan atau berjalan. Lalu, perhatikanlah lingkungan sekitar. Dari sana, kita dapat menemukan bahan pelajaran baru, wahai teman,” inilah pesan pagi ini buatmu mentari. Mentari yang sedang tersenyum bersama alam.

Bahagianya jiwa mempunyai sahabat. Sahabat yang sejiwa. Ia bahkan tidak lagi mengenal jauh ataukah dekat. Hanya satu yang ia pelihara dengan kuat, tekad. Untuk membersamai sahabat hingga ke negeri akhirat, ia sungguh berniat. Taat dan berhasrat untuk terus mendekat, mendekat dan menjadi lebih dekat lagi. Hingga benar-benar erat ikatan jiwa tanpa sekat.

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s