Langit sore ini tidak cerah. Mendung. Yah. Alam tidak lagi tersenyum bersama mentari. Namun entah di mana sang raja siang sedang berada kini.

Hujan.

Iringan gemuruh bersahutan dari kejauhan, membuat suasana semakin ramai saja. Ditambah lagi dengan kilat yang berkelipan dengan segera. Ai! Aku ingin berada di bawah rerintik air yang menggemuruh itu, kini.

Hujan.

Cuaca alam yang satu ini, membuatku terkagum dan bersyukur. Meskipun ia datang tanpa benderang. Namun hadirnya menyisakan senyuman pada dedaunan yang bergerak gemulai terkena tetesannya.

Hujan.

Ia mengantarkan kesejukan pada alam. Dan menyisakan kedamaian yang anggun.

Hujan.

Kembali ia mencipta jejak di dalam ingatan ku. Ingatan yang muncul segera dan tidak akan mudah hilang. Ingatan padamu, engkau mentari di hatiku.

Hujan.

Hujan bagiku, tidak sekadar satu kata yang setelah ia berlalu kemudian hilang begitu saja. Namun hujan adalah salah satu pertanda, bahwa kesempatan bagi mentari untuk bersinar itu masih ada. Ya, selepas kepergiannya, mentari akan muncul dengan binar cemerlangnya.  Pun hujan menyisakan tanah yang basah.

Hujan.

Hujan yang turun hari ini, pun menitipkan sebaris kalimat berujung doa. Karena ada sekeping hati di sana yang sedang berbahagia, kiranya. Buat beliau, Ibunda, selamat hari lahir ya Bun… “Terima kasih pizza-nya, Bunda. Enak, mm.. yes! Hehe..😀 Alhamdulillah…” Ibunda, terkhusus pada hari ini, terima kasih berbuah catatan, buat Ibunda.

Hujan.

Ia menjadi sebuah cermin yang memantulkan bayangan senyuman di dalam ruang ingatan ku. Ketika aku menatap genangan air yang bening di permukaan bumi.

Hujan.

Ia mengingatkanku pada mentari. Walaupun untuk saat ini, kami belum lagi dapat bertatap mata, untuk saling menukar bahagia.

Hujan.

Ia mengingatkan ku pada mentari yang mengajarkan tentang makna berbagi. Karena berbagi itu sungguh indah. Dan aku ingin, meneladani sesiapapun yang gemar berbagi. Semoga aku dapat pula menjadi demikian, walau tidak akan pernah menyamai beliau-beliau yang sangat teruji. Dan kesempatan terbaik, adalah setiap kali hujan turun, seperti saat ini. Setidaknya, berbagi suara hati. Ketika aku teringatkan dengan beliau-beliau semua, yang sangat berarti. Terlebih lagi dengan mentari, xixixiii…

“Sampai berjumpa wahai mentari, setelah hujan reda kembali,” ku selipkan harapan di balik dedaunan yang basah.

“Happy Birthday Bunda,” bisikku di balik hujan.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s