You are my best friend

You are my best friend

Pagi ini, belum ada matahari yang bersinar. Ya, masih gelap, temaram dan tanpa sinarnya. Hari masih gulita, alam pun sama. Hanya saja cahaya lampu dan kelipan cahaya dari layar televisi, sedikit menerangi lokasi tempat kami berada saai ini. Tepatnya, ada benderang di sekitar. Namun bukan berasal dari sinar matahari, teman…

Kami adalah tiga orang sahabat. Ada Timoet, TMey dan saya. Saya, mewakili dua orang sahabat tercinta untuk menitipkan selembar catatan di awal hari ini.

Semalam, kami kembali bersua. Tepatnya, setelah pertemuan kami dengan salah seorang dosen di Sangga Buana. Beliau adalah Bapak Bambang Rustandi yang menyambut kami dengan penuh senyuman untuk awal pertemuan. Kami bahagia. Lalu kami melanjutkannya dengan kebersamaan. Hingga saat ini, tiada sang dosen dekat dengan kami. Karena lokasi tempat tinggal kami berjauhan.

Hanya tiga sahabat yang masih ada. Namun kami tidak hanya bertiga tentunya. Karena masih ada para sahabat lainnya yang sedang diam dengan dia dan dirinya. Itulah buku-buku yang sedang berbaris di atas rak. Ya, buku-buku tersebut pun sahabat kami. Sehingga di mana saja kami berada dapat dipastikan ada mereka. Tidak pernah tidak. Termasuk dalam kondisi alam yang masih sepi saat ini. Apalagi ketika kelam menyelimuti alam, ia berubah menjadi cahaya.

Ada beberapa alasan mengapa buku menjadi sahabat bagi kami. Karena buku adalah sahabat terpilih. Mereka mampu menjadi penasihat yang paling bijaksana setiapkali kami menanya padanya. Ini berarti bahwa kami sedang bertanya pada penulis buku tersebut. Jawaban yang membuat kami salut. Jawaban yang membuat kami ingin meneladani dan mencontoh jejak-jejak penulis buku-buku yang ada. Karena kami merasakan dan membuktikan dengan diri-diri kami bahwa sungguh sangat berharga kehadiran beliau semua.

Ketika kami ingin menemukan jawaban tentang bagaimana cara mengatur maka kami dapat memilih buku yang membahas tentang manajemen. Saat kami bertanya tentang bagaimana cara menciptakan masakan yang enak, maka kami memahami buku-buku tentang masakan.

Buku ada banyak jenisnya. Ada buku mata pelajaran pun buku umum. Ada buku harian pun buku formal. Ada buku catatan alias buku tulis pun buku bacaan. Ada buku bergambar pun hanya berisi tulisan saja. Ada buku-buku Timoet yang sedang berbaris di atas rak, akhirnya saya abadikan pada salah satu catatan ini.

“Lha, mengapa harus buku-buku Timoet, bukankah engkau pun mempunyai susunan buku-buku?,” engkau bertanya pada saya.

Sedang tiada dia dan dirinya di sisi, untuk saat ini. Walaupun wujudnya mudah dibawa ke mana-mana, namun tidak semuanya dapat kita bawa, bukan? Karena hanya beberapa buku saja yang dapat kita bawa dalam dekapan saat melanjutkan perjalanan. Dan saat ini, saya sedang menjadi musafir. Untuk selanjutnya bersinggah sejenak di istana barunya Timoet.

Di istana Timoet yang baru, merupakan pertama kalinya saya berkunjung. Yah, hingga pagi hari ini.

“Di istana Timoet ada juga banyak buku-buku lho, friend. Jadi engkau bakal betah di sini untuk beberapa lama,” bisik hati ku bersuara.

Beberapa di antara buku-buku yang Timoet koleksi, ada satu yang Timoet rekomendasikan pada kami. ‘Chicken Soup for the Single Soul (Kisah-kisah cinta indah untuk menikmati masa lajang yang bahagia dan menyenangkan. By; Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Jennifer Read Hawthome, Marci Shimoff) terima kasih yaa. -Ya, beliau menyarankan kami untuk membaca buku tersebut, teman. Ai! Betapa Timoet baik sekali. Seakan beliau tahu apa yang sedang kami alami. Xxixixiii. Atau hanya kebetulan saja, kah?

EnGga ada yang kebetulan di dunia ini. Semua terjadi tentu saja bersama hikmah untuk kita. Hanya saja kita perlu menjawab satu pertanyaan atas apapun yang sedang berlangsung pada saat yang sama.

“Apakah hikmah dan pelajaran dari hal ini?,”. merupakan salah satu pertanyaan penting yang perlu kita jawab segera.

Ada tanya tentu ada jawaban. Karena selagi kita mau mengajukan pertanyaan, maka kita akan memperoleh jawaban. Bertanyalah maka engkau tahu. Walaupun untuk menyampaikan pertanyaan terkadang memang tidak mudah. Karena semua itu tergantung pada seberapa tinggi hasratmu untuk membersamai jawaban dari pertanyaan yang engkau ajukan. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa kita bertanya.

Kami sedang bertanya, “Mengapa kami merasa sendiri padahal kami sedang bersama?”

Tidak ada jawaban.

Hening. Tanpa suara yang terdengar. Kecuali suara-suara yang berasal dari televisi yang sedang menyala. Di tambah lagi dengan gemericik aliran air yang sedang mengalir.

Sepi ku di sini, sendiri tanpa mu, teman.

***

“Oia, kalau saya tidak salah baca, tadi engkau bilang ada suara yang berasal dari televisi, ya?,” engkau bertanya.

“Betul, benar, engkau benar teman. Saya jelas-jelas menulis sebelum ini. Bahwa ada suara-suara yang berasal dari televisi,” jawab ku.

“Orang shalat itu tidak akan stress,” sapa Ustaz Maulana.

***

Menonton televisi, saya sangat jarang. Kecuali dalam beberapa kesempatan saja. Namun sekali menonton, temanya mesti yang bermanfaat. Dan pagi ini, “Islam itu Indah” merupakan salah satu siaran yang sedang berlangsung, bersama Ustaz Maulana.

-TransTVuntukIndonesia, Alhamdulillaah-, tutup beliau pada ujung kebersamaan pagi ini.

😉

“Untuk dapat menaklukkan gunung harapan tertinggi, maka kita harus mau menjejakkan kaki di atas jalan berkerikil setiap hari. Karena gunung terbentuk oleh kerikil-kerikil kecil yang saling menyatu. Yakinlah, tiada kesuksesan tanpa rintangan. Hanya saja semua itu menjadi penguji ketulusan dalam berjuang. Apabila kita terus bergerak, maka satu persatu kesulitan pun tertinggal di belakang. Lalu, bersiaplah untuk menyaksikan luasnya pemandangan alam yang sedang membentang di hadapan. Saatnya menghirup udara kebebasaaaaaaaaaannnn bersama senyuuuuuuuman secerah sinar mentari hari ini.”

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s