Ini bukan matahari, sayanggg...

Ini bukan matahari, sayanggg…
“Usaha teruuusss, hingga engkau tidak tahu lagi saat ini pukul berapa. Hingga matahari tidak lagi terlihat, namun engkau masih merasakan aura dan sinarnya. Sampai engkau tiada lagi dapat membedakan, ini siang atau malam?”

***

Pukul 06.27 PM, on the way

Apz! Aku lupa. Bahwa di jalan ini hanya ada angkutan umum sampai pukul 05.00 sore saja. Sedangkan setelah jam segitu, tidak dapat dipastikan.

Nah! Keasyikan tadi tuch aku dengan aktivitas. Padahal memang para kolega udah pulang semua, dan aku tahu. Karena beliau berpamitan terlebih dahulu padaku, sebelum berangkat. Sedangkan aku, tidak dapat pulang ontime today. Karena memang ada beberapa tugas yang masih belum sepenuhnya selesai. Padahal aku juga ingin, segera kembali. Namun, masih ingin berjuang ‘tuk tuntaskan segalanya. Akibatnya, satu jam kemudian dan meskipun belum tuntas adanya, aku pulang juga. Karena udah senja.

Aku baru menyadari, setelah melihat keluar jendela. Temaram mulai menyapa, meskipun belum sepenuhnya gulita. Terkaget! Dikiiit. Lalu, aku pun segera berkemas.

Perlahan aku menuruni anak tangga yang berhias karpet merah. Menginjakkan kaki-kaki ini di permukaan bumi, lalu berdiri sejenak. Rencananya nunggu angkot. Namun, “Kok ga datang-datang ya,” pikir ku. Hingga akhirnya aku menyadari, bahwa ini memang telah senja. Lalu, aku pun melangkah saja. Satu persatu memang, adanya. Pelan, anggun, gemulai dan tentu saja dengan perasaan yang syahdu. Huhuu… Aku sedikit terharu. Karena mengingat perjuangan ku. Jam kerja dan aktivitas yang memang tidak sama dengan para kolega yang lainnya, aku menikmati semua. Karena aku berbeda, yakin ku.

Aku melangkah terus berjalan. Turunan ku lewati, agak licin memang. Karena baru selesai hujan. Dan masih tersisalah sedikit basah yang tidak lengket namun sejuk saat kaki-kaki ini menginjak-nya. Berhubung saat ini aku pakai sepatu, jadinya ya biasa saja.

Eeits…! Aku hampir saja terpeleset. Namun berhubung badan ku agak ramping, jadi raga ini mampu mengimbangi kondisinya yang sempat terhuyung. Akan tetapi, semua karena Allah Yang Membimbing ku dalam perjalanan ini.

Aku kembali meneruskan langkah demi langkah, seraya mengharap angkot ada yang lewat, walau satu aja, please… 

Melangkah tenang, namun hati bimbang. Aku mulai takut dalam berjalan. Karena beberapa langkah ke depan akan ada lokasi yang penuh dengan rerimbun pepohonan di pinggirnya. Dan itu jalanan sepi bangeettts! Ya, tepat di dekat picture yang akhirnya ku abadikan. Near “Kirana Garden.”

Aku menengadahkan wajah dan memandang sekilas ke arah atas bagian depan.

“Aaaii! Indah sekali,” aku senang. Di atas sana ada benderang.

“Itu lampuuuuu, bukan matahari,” bisik hati ku.  Ketika ia menyaksikan bibir yang segera mengembang karena bahagia.

Ya, ketika senja telah menyapa, maka lampu-lampu mulai dinyalakan. Dan untungnya ada lampu di sepanjang perjalanan. Sehingga aku tidak perlu takut lagi dalam melanjutkan langkah demi langkah.

Pukul 09.47 PM, at room sweet room

Kini, aku sedang duduk manis. Saat merangkai catatan ini. Senja yang mengesankan. Karena aku menyaksikan di langit, mega berwarna merah jambu sore tadi.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s