Kata Tjuta 1
Kata Tjuta 1 (Photo credit: Wikipedia)

Time to leave now, get out of this room, go somewhere, anywhere; sharpen this feeling of happiness and freedom, stretch your limbs, fill your eyes, be awake, wider awake, vividly awake in every sense and every pore.

Stefan Zweig

Nomad apabila ku coba menemukan terjemahannya di sini, artinya adalah pengembara. Pengembara. Ya, tentang satu kata yang telah berimbuhan pada awalnya. Adapun kata dasarnya adalah kembara. Sehingga pengembara adalah orang yang melakukan kembara. Siapakah pengembara? Berikut definisinya.

Apakah engkau sedang mengembara?

Wahai pengembara, ke manakah engkau hendak pergi?

Seorang pengembara, ada yang mempunyai tujuan, ada yang belum mempunyai tujuan dengan arti kata masih menemukan tujuan dan ada pengembara yang tidak mempunyai tujuan sama sekali. Lalu, kalau engkau adalah pengembara, apakah tujuan yang engkau ingin capai?

Masih belum ada jawaban pertanyaan ku terhadapmu teman. So, mari kita berkisah tentang seorang pengembara yang benar-benar menyadari bahwa ia adalah pengembara sejati. Kisah ini, tentang seorang teman yang mengembara. Dan pertemanan kami berjodoh. Karena kami adalah sama-sama pengembara. Aku, dia dan dirinya adalah pengembara yang sedang meneruskan perjalanan dalam kehidupan. Kami mengembara hingga ke hutan rimba bernama dunia maya. Hahaa.

Di tengah perjalanan dalam pengembaraan ku, aku bertemu dengan beliau. Seorang pengembara yang ternyata telah terlebih dahulu sampai di rimba ini. Sedangkan aku, baru saja sampai ketika kami berjumpa. Saat itu, beliau sedang duduk-duduk sejenak, berehat. Mungkin karena lelah dan sedang mengisi lagi energi baru. Untuk dapat melanjutkan langkah-langkah yang berikutnya.

Alhamdulillaahirabbil’alamiin, beruntung aku mengenal beliau lebih awal. Karena, kalau tidak, aku tidak pernah tahu, sudah sampai sejauh apa aku dapat melangkah saat ini. Aku bahagia sungguh. Sangaaatt. Kebahagiaan yang tidak selalu dapat ku ungkapkan dengan kata-kata yang mengalir, pun ekspresi yang memancar pada wajah ku. Namun, kebahagiaan itu mengalir pula hingga ke sini. Kembali ke dunia ini. Xixixii.

Hingga saat ini, kami masih bersama. Kebersamaan yang kami abadikan dalam ringkas jejak di permukaan maya. Ya, ketika lelah ku rasa dan perlu tambahan kekuatan, maka aku mampir di sini. Adapun salah satu tujuan ku  berada di sini adalah untuk menitipkan pesan terhadap pengembara-pengembara yang lain, menitipkan kesan tentang pengembaraan yang masih sedang berlangsung. Pun mengabadikan rangkaian ingatan dalam goresan kata bernama harapan.

Beliau sang pengembara, sedang berada di sini, saat ini. Kami sedang duduk bersama, untuk   menikmati pagi. Karena kami juga sedang menanti mentari yang akan bersinar, beberapa saat lagi. Yes! Di tempat tertinggi, kami sedang duduk menjuntaikan kaki. Dingin yang menusuk hingga ke tulang, tidak lagi kami rasai. Karena kami telah terbiasa dengan iklim alam seperti ini.

Tidak bergenggaman jemari, kami saat ini. Saling melepaskan pandangan hingga nun jauh ke puncak-puncak bukit yang sedang kelabu, kami lakukan. Kabut tipis yang melayang-layang di udara, menutup arah tatap kami. Sementara mentari, masih belum menunjukkan senyuman yang berseri. Kami masih di sini.

Pengembara, pada suatu waktu, ia memang perlu berhenti. Karena ia pun seorang insan yang mempunyai persediaan energi. Dan begitu pula yang kami lakukan. Dengan harapan, dengan berhenti sejenak, kami kembali dapatkan kesegaran yang belum pernah kami punyai. Sehingga ketika kami berniat untuk melangkah lagi, maka kesegaran itu yang sedang kami bawa untuk kami tebarkan di sepanjang perjalanan.

Sambil duduk, kami mulai melihat mentari memancarkan sinar. Ia membawa kehangatan, menyisakan kesan yang tidak mudah untuk terlupai.  Kami saling berpandangan seraya bersenyuman. Saling mengagumi, saling memotivasi, pun menginspirasi. Walaupun dari tatapan mata yang saling kami pertukarkan. Dan memang, kami belum berucap satu patah kata pun semenjak tadi. Hanya senyuman yang menjadi bahasa pengganti.

Ketika pagi seperti ini, di sini. Aku teringat awal pertemuan kami. Pagi ketika itu, saat aku sedang asyik sendiri dengan aktivitas ku. Aku yang sedang meneruskan langkah-langkah kaki, melirik-lirik tuch…. ke samping kanan dan kiri. Eh, mata ini akhirnya bertemu pandang dengan beliau, teman sesama pengembara. Sekilas perkenalan kami, menyisakan kesan nan mengabadi. Walau hanya dari ekspresi, aku tahu bahwa beliau adalah seorang yang baik. Kebaikan yang ku temukan pada barisan kalimat yang mengalir dari bibir nan bicara, tanpa suara. Ha, itulah bahasa jiwa yang akhirnya ku seksamai dengan sepenuh hati.

Tidak banyak kalimat yang kami saling pertukarkan. Namun, sekali bertukar bahasa, ada yang melekat di dalam hati. Oleh karena itulah, akhirnya aku menitipkannya sebagai salah satu hasil ekspresi. Aku tersenyum dan tersenyum lagi, beberapa saat setelah kami berkomunikasi. Aku tersenyum dengan lepas, bebas dan ku sampaikan pada mentari yang sedang bersinar pagi itu,”Wahai Mentariiiiii, tersenyumlaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh…………………………………………………………………………………………….”

Mentari adalah sahabat ku. Lalu, ku saksikan -Mentari pun Tersenyum.

Pada suatu hari, ketika kami tidak sedang melangkah bersama, maka aku hanya dapat menyaksikan mentari pagi yang sedang tersenyum. Dan ku bayangkan bahwa beliau yang tersenyum pada ku. So, dengan demikian aku menemukan energi baru lagi, ketika pagi telah hadir. Ai! Tidak pernah aku memikirkan tentang hal ini sebelumnya. Namun kini, kepikiran terus tentang kebersamaan kami.

“Lho, kok bisa, yaaa…?,” sempat aku menanyai diri sendiri hampir setiap hari. Tentang ingatan yang tidak pernah bertepi, terhadap sahabat pengembara yang sungguh berarti. Aku akhirnya memutuskan jawabannya bahwa, mungkin kami berjodoh. Hahaa. *)menasihati diri sendiri. Agar ia tidak bertanya-tanya lagi tentang “Siapakah jodoh ku?”. 

So, semangat ku hari ini yang kembali, karena aku sedang berada di bawah sinar mentari pagi. Dan aku ingat dengan diri ku sendiri yang saat ini masih mengembara. Pengembaraan panjang yang mungkin saja berakhir setelah saat ini. Lalu, masihkah kami dapat bersua setelah beberapa saat yang lalu, beliau teruskan berjalan? Ya, aku ingat. Bahwa, kaki-kaki kami yang sedang melangkah memang tak sepadan.  Namun, kalau aku masih mau bergerak dan terus melangkah, maka kami masih dapat bersama. Semoga beliau mengerti, mengapa aku selalu berada di belakang beliau untuk mengikuti. Karena aku menemukan diri ku pada diri beliau, sahabat pengembara yang aku bersamai.

Jangan lelah, dan bosan, yaah… Ketika engkau menoleh ke kiri atau ke kanan, ternyata di sana ada aku. Aku yang sedang melangkah sangat dekat dengan mu. Mungkin aku sedang menunduk saat berjalan, sehingga aku tidak mengetahui bahwa engkau sedang melihat ku dan berkata, “Ah, dia lagi…dia lagi….” Sedangkan aku tidak menyadari akan hal ini.

Dan mungkin saja pada waktu engkau sedang memalingkan wajah ke sekitar, aku pun sedang menatap alam. Sehingga kita sempat bertemu pandang. Ini hanya kebetulan. And let’s we are continue our next step.  Tentu saja dengan langkah-langkah yang lebih tegap lagi.

Teruslah melangkah wahai pengembara, sebelum engkau sampai pada tujuan. Karena pengembaraan tidak akan berakhir sebelum engkau menghembuskan nafas terakhir.

Tetaplah percaya dan memelihara keyakinan dengan sesungguhnya. Bahwa tidak ada yang dapat merubah suatu nikmat yang kita alami, kalau kita tidak berusaha untuk mengubah apa yang ada pada diri kita sendiri, terlebih dahulu. Dan Allah pun menjelaskan tentang hal ini dengan sangat jelas pada salah satu ayat Al Quran dalam firman-Nya :

“… karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (Q.S Al Anfaal [8]: (53) 

Terkadang kita lelah dalam melangkah dan merasa bahwa kita tidak lagi berdaya sedikit pun. Lalu, kita pun pasrah dan tidak  menikmati setiap jejak langkah yang sedang kita ukir. Padahal, kalau kita mau menyadari langkah-langkah yang sedang kita pijakkan walau di mana pun, pasti ada kenikmatan tersendiri. Baik saat kita melangkah di antara lelumpur yang lengket, di atas aspal yang landai, pun di balik rerumputan nan gemulai. Kita mungkin saja bertemu dengan duri-duri yang dapat menusuk kaki. Namun, dapatkah kita membayangkan, betapa lega rasanya, ketika duri-duri yang menusuk kaki itu segera enyah dan tidak lagi menempel di kaki? Hai, bagaimana kita akan merasakan arti kebahagiaan, kalau atas kepedihan, sedih, duka dan lara saja kita berkeluh kesah? Sedangkan Allah mengembalikan ingatan kita pada-Nya, dengan melantunkan barisan kalimat yang menyejukkan jiwa.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar Ra’d [13]: (28)

Wahai, sungguh indah bukan…? Betapa menenteramkan. Semoga ada harapan yang terselip di dalam rangkaian kisah perjalanan yang sedang kita temui dalam pengembaraan ini. Harapan untuk segera berlalu dari kekalutan pikiran, berganti dengan energi cemerlang nan mendamaikan hati sesiapa saja. Semoga di balik tetesan airmata yang mengalir, masih ada stok senyuman yang mampu kita tebarkan pada wajah. Karena bumi ini tidak diam, ia terus bergerak, berrotasi dan berputar dengan cepat. Dan kita tidak pernah tahu tentang apa yang ada di hadapan. Ya, tentang perubahan yang terjadi begitu cepat. So, siapkah kita menempuh jalan yang berikutnya, wahai pengembara?

Berbekal tekad, semangat, dan niat yang terlebih dahulu telah kita pancangkan di relung hati terdalam, semoga masih ada selangkah dua langkah jejak yang kita titipkan di sepanjang perjalanan. Dengan demikian, kita terus berjalan sebelum sampai pada tujuan.

Dan kini, engkau sedang apa, teman? Kalau duduk, mari kita bangkit. Kalau sedang berjalan, yuks meneruskan. Namun kalau masih tiduran? Eh, ini pengembara atau bukan?

Dalam menempuh perjalanan, cuaca memang sering kali berubah. Terkadang hujan, ada waktunya panas. Pun bermendung mengelabu di atas sana. Beberapa saat kemudian, gerimis menerpa sekitaran. Itulah kehidupan. Dan kalau kita benar-benar menyadari bahwa kita sedang hidup, maka tolong hiduplah dengan sepenuhnya.

Hiduplah dengan hati, dengan pikiran dan dengan budi yang memperilaku. Kita mempunyai segalanya lengkap. Sempurna Allah menciptakan kita, tidak ada yang kurang. Sungguh, kita saja yang terkadang tak mengingat. Dan itulah hamba.

Menilai orang lain, tentu kita sudah biasa. Lalu, untuk menilai diri sendiri, sudahkah kita bisa?

Menertawakan orang lain, lumrah terjadi. Namun untuk menertawakan diri sendiri, kapankah kita mempunyai waktu? Padahal tertawa adalah salah satu jalan untuk bahagia. Lihatlah mereka di sana, mereka tertawa dan berbahagia. Sedangkan kita? Tertawa saja belum bisa. Karena merasa bahwa beban kehidupan ku terlalu berat, hingga menghimpit seluruh persendian ku. Sampai tulang-tulang pada wajah ku pun demikian. Ia membatu. Ah, aku memang belum bisa tertawa saat ini, karena aku menyadari bahwa aku bukan siapa-siapa dibandingkan mereka di sana. Kalau terus-terusan mencari perbandingan, maka jelas sudah bahwa kita tidak akan pernah sama dengan sesiapa pun juga, di dunia. Termasuk pemikiran pun serupa. Tidak ada yang dapat menyamai kita, termasuk diri kita saat ini dengan yang sebelumnya.  Dan saat ini, kita sedang melakukan apa? Itulah yang membedakan kita dengan si diri yang dulu. Duluuuu….sekali. Ia yang merasa bukan sesiapa. Padahal ia sungguh bermakna. Kehadirannya memberikan bukti bahwa Allah, Sang Pencipta sungguh Maha Terpuji. Alhamdulillaahirabbil’alamiin. Aku bersyukur menjadi diri ku, Ya Rabb.

Untuk dapat mengenal siapa kita, kita dapat bertanya pada teman-teman yang ada di dekat kita. Kita dapat bertanya, “Menurut mu, aku itu gimana sich orangnya?”. Aku pernah menerima kalimat yang seperti ini dari beberapa teman. Lalu, aku pun menjelaskan pada beliau dengan sepengetahuan yang aku tahu tentang beliau. Sedangkan tentang apa yang ada di dalam hati beliau, sungguh aku tidak mengetahui. Padahal, hati adalah bagian dari diri kita, juga kannn? Termasuk tentang apa yang ada di dalam pikiran beliau. Aku sungguh tidak mengetahuinya. Sehingga, penilaian ku hanyalah tentang apa yang terlihat oleh mata. Kalau kami sedang berhadapan.

Sedangkan untuk menilai seorang teman yang nyata-nyata tidak sedang bertatapan, bagaimana bisa? Mudah caranya. Ya, semudah kita menatap sinar mentari pagi ini, teman. Kalau kita membuka mata, maka sinar tersebut akan sampai pada retina mata kita. Lalu bibir ini pelan melantunkan, “Subhanallah… indahnyaaa.” Segera kita mengembangkan tangan, merasakan kehangatan yang memancar dari sinar mentari. Lalu, mata pun menutup perlahan.

“Apakah yang sedang engkau pikirkan, teman?,” sebuah suara menepi melalui daun telinga ku. Aku mendengarkan nada yang aku sangat kenal.  Suara yang semenjak beberapa waktu yang lalu, tidak pernah lagi hadir di telinga ku. Suara jiwa yang menyapa ku ramah. Dan aku tahu, bahwa suara tersebut berasal dari tutur sang pengembara. Beliau kini sangat dekat dengan ku. Aku pun membuka mata, dan ku saksikan mentari semakin meninggi. Ah, sudah dulu yaa. Masih ada jadwal berikutnya yang perlu ku sapa. Untuk melanjutkan langkah-langkah di dunia. Agar beberapa waktu yang akan datang, ku sempatkan mampir di sini, menitip jejak tentang kisah perjalanan.

Semoga kita dapat berjumpa lagi yaa. Perjumpaan yang tak hanya dalam ingatan. Pun tak sekadar bersapa dalam barisan kalimat yang tersusun. Senyuman, senyuman secerah sinar mentari pagi ini, ingin pula ku saksikan dari lembaran pipi mu, teman. Senyuman yang menjadi jalan sampaikan ingatan ku pada seorang pengembara. Pengembara yang berjalan bersama mentari nan tersenyum.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s