Semboyan/Slogan (Indonesian railroad sign) num...
Semboyan/Slogan (Indonesian railroad sign) number 7 is a fixed slogan represented by: red round board at signal pole; one horizontal arm at the right of the signal pole; two horizontal arms at the right of the signal pole; one red light of the signal turned on. (Photo credit: Wikipedia)

Aku ingin mendengarkan suara Ayah…

***

Aku bertempat tinggal jauh dari keramaian. Bukan berarti aku tinggal di hutan rimba apalagi di pegunungan. Karena di sekitar ku masih ada penerangan dengan cahaya lampu yang berkelipan. Ditambah lagi dengan bunyi-bunyian dan suara yang berasal dari peralatan elektronik yang dinyalakan seperti televisi, radio, tape, dan lain sebagainya.  Begitulah suasana yang terjadi di sekeliling ku, setiap hari. Sehingga, walaupun jauh dari keramaian, kami; aku dan para tetangga merasakan bahwa kehidupan kami lebih hidup.

Dari hari ke hari kami jalani bersama-sama. Selalu saja ada nuansa yang berbeda terasa. Terkadang, suara yang kami dengarkan bercampur dengan bunyi mesin air yang ketika dinyalakan sungguh menggema. Dan suara-suara tersebut sudah biasa bagi kami.

Penerangan? Kami sangat cukup. Kecuali ketika pada suatu waktu memang kami sedang tidak mempunyai stok lampu-lampu neon. Ketika tiba-tiba lampu yang biasa terpasang pada masing-masing ruangan mulai rusak. Ya, bola-bola lampu tersebut seringkali aus dan habis masa pakainya. Nah, ketika kami tidak segera menggantinya, maka akan kekurangan peneranganlah kami.

Sudah biasa. Lokasi-lokasi yang biasanya mengalami hal yang sama adalah teras-teras tertentu. Seperti ruang tamu yang akhir-akhir ini tidak lagi kami pergunakan sebagai tempat untuk menerima tamu. Akan tetapi, lokasi tersebut sekarang berganti menjadi gudang dadakan. Karena ada beberapa barang-barang tidak terlalu penting yang akhirnya mendiami bekas ruang tamu. Dan ruangan tersebut memang sengaja tidak dinyalakan lampunya. Ya, karena memang tidak dipakai. Jadi, sekiranya lampu pada ruang tersebut masih dinyalakan, tentu mubazir yah.

Selain ruang tamu, maka apabila lampu-lampunya mati, akan segera kami ganti. Tujuannya adalah sebagai penerangan. Termasuk juga kamar-kamar setiap anak. Segera kami bergotong royong memasangkan lampu yang baru, apabila ternyata ada lampu yang mengalami kerusakan pada sebuah kamar. Dan ternyata penghuni kamar tersebut tidak berani untuk memasang kembali dengan sendiri. Tentu saja dengan berbagai alasan. Ya, alasan tentu ada. Haha.

Biasanya, aku merupakan bagian dari penghuni yang tidak mau pasang lampu sendiri, kalau ternyata lampu di kamar ku lagi mati. Dan yang pasti, salah satu relawati yang akan aku mintai pertolongan adalah Siti, tetangga ku. Beliau adalah sahabat sejati yang selalu di hati. Hingga saat ini pun demikian. Meskipun sekarang, Siti tidak lagi bersinggah di sini, villa wisata kami. Siti telah pindah ke Antapani, semenjak beberapa hari yang lalu. Belum genap sebulan, memang.

Biasanya, aku minta tolong Siti, kalau ada hal-hal penting dan aku tidak sanggup menjalaninya sendiri. Biasanya, aku mempunyai seorang yang peduli. Biasanya, segera ku panggil namanya  agar menemani ku. Ketika dalam suatu kesempatan aku ingin berkisah satu dua hal. Namun, tidak selamanya, kann…?!

Kini, aku pun menyadari akan hal ini. Bahwa kebersamaan kami tentu saja tidak selalu. Sekarang aku merasakan sangat, bagaimana kondisi yang aku alami. Aku menjalani nuansa yang berbeda dari biasanya. Karena untuk saat ini, yang menjadi sasaran lampu mati mendadak adalah giliran kamar ku. Dan saat ini, aku tidak mempunyai penerangan di sekitar, lagi. Kecuali lembaran bercahaya ini, yang aku manfaatkan untuk mencurahkan beberapa bait suara hati.

Ya, tepatnya semenjak satu jam yang lalu, tiba-tiba lampu neon di kamar ku tidak lagi menyala. Setelah kedipan terakhir matanya, yang aku yakini tidak akan menyala lagi. Dan ternyata memang. Ia benar-benar padam dan mati untuk selamanya. Sedangkan pada saat ini, aku tidak mempunyai stok bohlam yang dapat aku jadikan sebagai penerang ruangan. Akhirnya, ya begini. Aku ingin memprasastikan keadaan yang sedang terjadi di sekeliling. Xixixi.

Gelap-gelapan, adalah kondisi yang aku alami sekarang. Karena, untuk saat ini, sudah malam. Dan aku tinggal di tempat yang sangat jauh dari keramaian. Ini berarti, untuk berangkat ke keramaian demi menemukan sebuah bohlam yang masih baru, tentu tidak mudah. Apalagi sekarang gerimis sedang asyik mencengkeramai alam. Titik-titiknya yang terus saja berguguran ke bumi, membuat ku urung untuk melangkah kan kaki dan berjalan ke keramaian. Bukan karena aku tidak mau, namun karena aku yakin, ada sensasi tersendiri dengan kondisi ini. Jadi, aku ingin menghayati pesan dan kesan yang aku alami saat ini.

Akhir-akhir ini, aku berusaha untuk memetik hikmah dari berbagai keadaan yang aku alami. Aku berjuang dan menjadi peduli dengan beraneka ragam kondisi yang ku temui. Aku belajar membaca keadaan, aku belajar memahami tulisan alam, aku belajar mendengarkan suara-suara alam, pun aku belajar untuk memahami apa yang sedang aku harapkan. Dan terkadang, harapan demi harapan yang aku susun mewujud ingatan, belum menjadi kenyataan. Makanya, aku menjadikan sebagai salah satu prasasti dalam perjalanan kehidupan ini. Termasuk keadaan yang saat ini sedang aku hayati.

Suasana gelap, temaram dan tanpa penerangan sama sekali, kecuali kilatan dari lembaran bercahaya ini. Nuansa sepi, sunyi dan suara para sahabat kini telah terlelap dengan aktivitas masing-masing. Suara tersebut berubah menjadi sunyi. Sunyi yang membuat detak jarum jam di dinding menjadi demikian jelas. Nah! Aku berjuang untuk mengiringi detak detiknya. Dengan ditambah oleh rintik hujan yang masih terdengar satu persatu, menimpa atap, tentu saja. Aku sedang menghayati suara alam nan alami.

Aku tinggal jauh dari keramaian. Dan saat ini benar-benar tak ramai sama sekali. Mungkin karena sudah malam, yaa. Sehingga, aktivitas yang biasanya berlangsung, kini sedang jeda terlebih dahulu. Termasuk aktivitas lampu di kamar ku, yang kini ikut-ikutan jeda. Namun, bedanya, ia jeda untuk selama-lamanya. Karena ia tidak akan lagi menyala.

Aku memandangi langit-langit kamar yang biasanya putih berseri, kini tiada terlihat sama sekali. Aku menatap dinding empat persegi yang biasanya memutihkan mata ku, kini pun tak jelas. Mereka berubah menjadi temaram. Mereka bukan lagi seperti biasanya.

Belajar dari keadaan saat ini, aku teringatkan pada roda kehidupan. Dan mengingat roda, aku teringatkan pula pada Ibunda. Karena beliau pernah memesankan pada ku, dulu. Ketika kami bercakap bersama. Ibunda menitipkan barisan kalimat yang maknanya lebih kurang begini; “Bahwa kehidupan yang sedang kita jalani dari masa lalu, kini dan berikutnya, sebagaimana roda yang sedang berputar. Lihatlah roda. Satu sisinya kadang berada di bawah, kadang berada di samping, dan tidak jarang pula berada di atas. Begitu juga dengan kehidupan. Selama bumi masih berrotasi, selagi matahari berrevolusi, maka kehidupan kita pun demikian. Ada saatnya kita mengalami pasang dan surut dalam hari-hari. Pada suatu waktu kita bahagia, tersenyum ceria penuh kesenangan. Dan dalam kesempatan yang lain titik-titik permata kehidupan pun berguguran. Namun demikian, semoga kita dapat menangkap hikmah dan pesan yang tersirat dari setiap keadaan yang sedang kita jalani. Dengan demikian kita dapat bersyukur dalam kebahagiaan, pun bersabar dalam kondisi yang sebaliknya. Karena begitulah kehidupan.”

Mengingat tentang pesan Ibunda, maka saat ini pun aku sedang memaknai keadaan. Kondisi gelap yang semakin menggulita, baru pertama kali aku alami. Kecuali pada saat lampu padam untuk keseluruhan. Namun, untuk satu dan sendiri, baru sekarang. Dan dengan semua ini, dapat menjadi jalan ingatan bagi ku khususnya, bahwa kita perlu mempunyai stok dan persediaan peralatan-peralatan yang rentan rusak. Salah satu contohnya adalah bohlam. Milikilah persediaan satu atau dua bohlam yang masih baru dan sekiranya kita membutuhkan, maka kita dapat pergunakan dengan segera. Tidak hanya bohlam saja, namun peralatan selain elektronik pun begitu. Peralatan yang tidak dapat kita peroleh dengan cepat. Apalagi kalau kita bertempat tinggal jauh dari keramaian. Sebagaimana yang aku alami pada saat ini. Inilah bahan pelajaran kehidupan yang tidak kita terima di dalam ruang perkuliahan. Inilah bahan pelajaran yang tidak kita peroleh dari guru-guru yang mengajarkan materi berdasarkan kurikulum pendidikan. Dan ini merupakan salah satu bahan pelajaran yang kita peroleh dari alam. Karena alam adalah guru yang dapat memberikan kita ilmu pengetahuan dan pengalaman dengan cuma-cuma. Karena alam takambang jadi guru, kann?

Gelap-gelapan di sekeliling. Sehingga aku tidak dapat melihat dengan jelas, apa saja yang sedang bergerak di sekeliling ku. Apa saja benda-benda yang berada di sekitar ku saat ini, pun tidak dapat ku perhatikan dengan baik. Meraba aku dalam melangkah. Satu persatu kaki aku ayunkan. Itu pun kalau aku berani. Namun, kalau tidak maka aku akhirnya berdiam untuk jangka waktu yang lama pada tempat di mana aku berada, semula. Aiii! Betapa indahnya berada bersama penerangan. Dan demikian juga salah satu alasan, mengapa aku sangat suka dengan matahari. Matahari yang mencerahkan hari-hari.

Tentang matahari, tentang hujan dan air, kini ingatan ku melayang nun jauh ke ujung alam. Aku teringat dengan dua sosok yang selalu aku rindukan. Beliau yang aku harapkan dapat berjumpa dalam waktu dekat. Beliau yang seringkali mendoakan ku agar selamat dalam melanjutkan perjalanan. Beliau yang apabila ku jauh, terasa semakin dekat. Beliau yang seringkali menyapa ku dalam berbagai suasana, walaupun tanpa nada suara yang mampir di telinga ku. Beliau yang walaupun kami sedang belum lagi berhadapan, namun seperti beliau sedang berada di sekitar ku, mengawasi, memperhatikan, melihat, dan menegarkan jiwa ku kalau aku terlarut. Beliau adalah Ayah dan Bunda.

Tentang matahari, hujan dan air. Ibunda lebih senang bersama mentari yang tersenyum ketika menjalani aktivitas keseharian. Sedangkan Ayahanda adalah yang sebaliknya. Dan hal ini baru aku ketahui semenjak beberapa hari yang lalu. Ketika Ibunda berkisah tentang kehidupan, menceritai ku beraneka kisah yang beliau jalani. Termasuk tentang selera Ayahanda dan Ibunda yang berbeda. Ayah senang berhujan-hujanan, dan Ibunda seringkali bersenyuman dengan mentari . So, kesimpulannya adalah, aku mendapatkan kelanjutkan karakter dari Ibunda. Ibunda yang sedang dengan matahari yang bersinar. Dan aku adalah putri Ibunda yang juga menyenangi hujan. Dengan demikian, dalam berbagai cuaca, aku teringatkan pada beliau berdua, orang tua ku.

Kini, gerimis masih bersahutan, saling menyapa dengan sesamanya. Dan kini, aku tidak hanya teringat pada Ayahanda dan Ibunda yang meneladankan ku pada nuansa alam. Aku pun teringat akan engkau, teman. Engkau yang menjadi mentari di hati ku. Engkau yang bersinar dengan cerahnya akhlak mu. Engkau yang tersenyum untuk membuktikan bahwa engkau pun sedang belajar dari berbagai situasi yang engkau alami. Engkau yang juga pernah berada pada suasana yang gelap. Sebagaimana yang aku alami saat ini. Makanya, mungkin engkau menganggap hal ini adalah sesuatu yang sudah biasa, yaa….?

Akan tetapi bagiku, belum biasa. Memang aku pernah berada dalam kondisi alam yang gelap. Namun, tentu saja pengalaman saat ini berbeda dari kondisi-kondisi yang lainnya. Oleh karena itu, dalam kesempatan terbaik ini, ingin ku selipkan beberapa bait senyuman tentang keadaan alam, keadaan lingkungan dan keadaan ingatan.

Aku harap, walaupun sekeliling gelap dan tak bercahaya dengan sempurna, namun aku masih dapat mengalirkan ingatan dengan benderang. Begitu pula dengan engkau, teman. Meski bagaimana pun keadaan yang saat ini sedang engkau alami. Sekelam dan segelap apapun engkau melihat lingkungan mu berada kini. Namun selagi engkau berusaha untuk menemukan hikmah dan makna bersamanya, maka engkau akan mampu tersenyum setelah keadaan tersebut berlalu. Jangan tinggalkan, apabila ada yang engkau tidak suka. Karena, boleh jadi, apa yang engkau tidak sukai menjadi jalan sampaikan engkau pada makna tertinggi pemahaman  Dan bisa saja, engkau sedang menghayati keadaan dengan sebaik-baiknya. Namun engkau masih belum sanggup menemukan hikmah dan makna di dalamnya. Maka teruslah berusaha, berjuang dan membuka mata. Walaupun mata mu telah membuka dengan sempurna, namun engkau masih menyaksikan kegelapan di sekitar, maka buka lah mata hati mu. Karena dengan mata hati yang terbuka, engkau dapat menyaksikan hikmah meski di tengah kegelapan sekalipun.

Meraba keberadaan, merasakan kehadiran, lalu menyeksamainya dengan penuh perhatian, adalah salah satu jalan untuk menemukan pemahaman. Karena, terkadang kita terlalu cepat dalam menarik kesimpulan atas keadaan. Dengan tidak mengenalinya terlebih dahulu. Lalu, setelah keadaan berlalu, kita baru teringatkan, “Yah, mengapa tadi aku tidak begitu… begini… dan begini.” Ini namanya menyesali keadaan. Padahal, sesal kemudian tentu tidak berguna. Begini pepatah mengenalkan.

So, agar kita dapat menemukan pengalaman dari keadaan yang saat ini sedang kita alami, segeralah untuk merenungkan. Lalu, membawanya ke dalam diri kita terlebih dahulu. Apabila kita masih merasakan kegelapan, mungkin saja kita belum membuka mata hati. Sehingga kita tidak dapat menemukan penerangan dan pencerahan dari keadaan. Bukankah tidak ada yang terjadi dengan sia-sia, wahai teman ku yang budiman…

Telusurilah setiap liku dalam perjalanan. Lalu, perhatikanlah apa yang sedang terjadi di sekitar. Saat melangkah, usahakan untuk belajar dan menemukan pengalaman, sebelum akhirnya menarik kesimpulan. Lalukanlah dengan penuh pemahaman. Lalu, setelah ilmu dan pengalaman engkau temukan, segeralah membagikan. Karena dengan berbagi itu adakan kita temukan kesegaran.

Kesegaran pikiran akan kita rasakan, ketegaran perasaan akan kita alami. Pun wajah akan segera bersenyuman terhadap sesiapa saja yang menjadi jalan sampaikan ingatan. Karena dengan berbagi, berarti kita sedang menempuh jalan untuk saling mengingatkan.

Kalau engkau sedang berada dalam kegelapan, jangan hanya gelap-gelapan. Namun, segera buka mata hati, lalu pelajarilah keadaan. Temukanlah penerangan, dan lihatlah berbagai kejutan yang siap engkau terima. Salah satunya adalah senyuman yang memancar dari wajahmu yang akhirnya menemukan pencerahan.  Alangkah indahnya…

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s