On the way when becoming

A self is not something static, tied up in a pretty parcel and handed to the child, finished and complete. A self is always becoming.

Madeleine L’Engle

The author of A Wrinkle in Time was born on this day in 1918.


Catatan pagi ini, ku persembahkan buat salah seorang saudara laki-laki ku yang ku sayangi. Beliau akrab ku panggil dengan sapaan Own. Artinya, ya Own.

Own adalah saudara laki-laki kandung yang tertua. Saat ini, beliau menempuh hari lahir yang ke sekian kalinya. Yah. Hari ini tanggal tiga puluh November, beliau berulang tahun.

Jauh di mata adalah keberadaan Own saat ini. Walaupun begitu, aku ingat beliau. Beliau yang merupakan kakak ku.

Sudah sekian lama kami terpisahkan oleh jarak. Semenjak kami sama-sama sudah menamatkan pendidikan di sekolah menengah atas. Ya, semenjak saat itu, sangat jarang kami berjumpa dalam tatap mata. Karena Own langsung mempunyai aktivitas di luar rumah. Ya, beliau telah mulai berkelana untuk melanjutkan perjalanan kehidupan di kota yang berbeda. Sedangkan aku pada saat yang bersamaan, masih melanjutkan pendidikan. Hingga akhirnya aku pun lulus sekolah dengan nilai yang memuaskan.

Tidak banyak yang tahu, bagaimana kondisi kehidupan keluarga kami. Pun kami. Karena, dalam keseharian, Ibunda dan Ayah senantiasa berusaha untuk memenuhi kebutuhan kami. Sangat jarang beliau berkata =tidak ada= walaupun kami berasal dari keluarga yang tak berpunya. Ah, Ibunda dan Ayah seringkali membuat ku terharu. Hingga saat ini. Ya, ketika kami sudah berjarak raga untuk jarak yang tidak lagi sedepa.

“Sudah nelepon Ayah jo Amak?,” begini tanya yang Own sampaikan pada ku beberapa hari yang lalu.

Beliau sungguh memberikan perhatian pada ku. Sekalipun kami belum lagi dapat bersua raga. Namun ingatan yang beliau alirkan melalui pertanyaan segera mengingatkan aku pada beliau, saat ini. Bertepatan dengan hari Jum’at. Hari yang menyenangkan. Aku bahagia mempunyai kakak seperti Own.

Hmm… mau titip pesan apa yaa, buat beliau. Sejenak ku berpikir. Lalu, mengalirkan ingatan dan pikir pada hari-hari yang kami jalani. Seiring dengan hadirnya sebaris senyuman dari wajah ini, aku pun segera merangkai kalimat. Karena aku hanya ingin menitipkan pesan buat beliau, “Tersenyumlah.”

Dan hari ini dalam yakin ku merupakan hari yang penuh senyuman. Hingga ke depannya, adalah hari-hari yang menyediakan kesempatan bagi kita untuk tersenyum.

Adapun kutipan yang aku selipkan pada awal catatan ini, maknanya lebih kurang begini. Bahwa “Diri bukanlah sesuatu yang statis, diikat dalam paket yang cantik dan diserahkan kepada anak, selesai dan lengkap. Sebuah diri selalu menjadi.” So, intinya adalah bahwa kita-kita bukanlah diri-diri yang statis. Namun kita adalah pribadi yang -menjadi-. Apakah makna menjadi di sini?  Hmm,.. aku pun melanjutkan pikir.

Telah kita ketahui bersama bahwa setiap kita senantiasa bertumbuh. Kita bertambah pengalaman seiring dengan jauhnya perjalanan. Kita peroleh ilmu pengetahuan sesuai dengan lamanya kehidupan. Dan apakah dari perjalanan dan kehidupan tersebut kita dapat menangkap pelajaran? Karena dari kehidupan, sesungguhnya kita sedang belajar banyak hal. Baik saat kita berinteraksi dengan orang lain, pun saat kita sedang duduk sendiri berdiam diri untuk berkontemplasi.

Own, adalah ‘sendiri’ kalau kita menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Own memang sendiri dan beliau adalah diri yang satu. Namun begitu aku yakin bahwa beliau adalah diri yang mampu mandiri. Aku mengenal bagaimana karakter beliau semenjak lama. Karena dari masa kecil kami seringkali bersama. Sungguh, kenangan indah itu akan senantiasa ada dalam ingatan. Merindukan beliau sangat saat ini. Hikss.  Aku bahagia menjadi bagian dari kehidupan beliau. Seorang kakak yang penyayang, baik hati dan senantiasa peduli. Aku memang tidak sering berkomunikasi dengan beliau. Karena aku mengetahui siapa beliau. Own adalah seorang yang penuh wibawa, bijaksana dan aku menghargai beliau.

Buat Own, I am writing this note.

Ingatkah engkau wahai saudara ku. Bahwa usia bukanlah bertambah. Namun ia sedang berkurang. Dan hari ini adalah awal bagi kekurangan usia yang berikutnya.

Selayaknya menjadi peringatan bagi kita agar senantiasa ingat. Bahwa pergantian usia adalah saat-saat yang mendebarkan. Apakah kita masih dapat bersamanya untuk masa yang akan datang? Ataukah bagaimana? Dan semoga kita selalu ingat akan akhir usia. Dengan demikian kita kembali mau terjaga setiap kali kita akan melakukan apa saja. Karena kita tidak pernah tahu kapankah usia berakhir?

Hari ini, tanggal yang sama, engkau terlahir ke dunia. Sedangkan Ayah dan Bunda begitu bahagianya. Beliau sungguh bahagia. Karena putra beliau yang pertama telah hadir ke dunia. Untuk menjadi bagian dari hari-hari penuh senyuman yang beliau jalani berikutnya.

Lalu, masihkah Ibunda tersenyum hingga saat ini dengan penuh kebahagiaan? Seringkali ku menanya pada semilir angin yang bertiup sepoi. Karena aku tidak tahu pasti bagaimana keadaan wajah beliau saat ini. Namun aku berdoa semoga kebahagiaan senantiasa menaungi Ibunda dan Ayah. Beliau pada tanggal yang sama beberapa puluh tahun yang lalu, tersenyum bahagia.

Oia. Hingga saat ini, Own sudah berada pada usia yang ke berapa tahun ya?  Hm, seingat ku memang sudah lebih dari dua puluh tahun. Karena kami berbeda usia beberapa tahun saja. Dan yang pasti, beliau bukan kelahiran tahun ’86, lho yaa. Hehe.

Own… pada pergantian usia tahun ini, apakah yang Own rasakan?

Dari jauh, aku membayangkan ekspresi beliau. Dan setiap kali bayangan beliau mendekat di dalam ingatan ku. Yang aku lihat adalah wajah beliau yang sangat serius. Ah, seringkali begitu. Dan saat ini pun sama. Own serius sangat. Memang hal ini lah yang menjadi ciri khas beliau. Dalam pandangan seorang adik perempuan terhadap kakak laki-lakinya.

Own. Dari tampilan raga, beliau sungguh bijaksana. Dari ekspresi wajah, beliau luar biasa. Belum ada aku menemukan sosok sebagaimana beliau di dunia ini, kecuali seorang laki-laki berikutnya yang semenjak beberapa tahun terakhir menjadi bagian dari aktivitas ku. Lalu, siapakah sosok lain yang semirip dengan Own? Seorang yang berwibawa, bijaksana dan setiap kali mengingat Own, wajah beliau pun hadir dalam bayangan ku.

Senyuman tipis yang beliau ukir pada saat bertatapan dengan ku. Beberapa lembar jenggot yang tipis, itu sungguh membuat ku segera tersenyum. Ya, saat aku mengingat impian ku. Aku akhirnya bersama dengan pribadi yang aku damba. Walaupun sebelumnya aku tidak menyadari. Dan Alhamdulillah… impian itu satu persatu pun menjadi kenyataan. Hanya perlu menjaganya ada dalam keseharian. Pribadi yang bagi ku sungguh mengesankan. Sehingga pantas kiranya, aku lebih sering tersenyum. Senyuman karena bahagia kah? Senyuman karena ada yang lucu kah? Atau senyuman karena aku memang benar-benar bersyukur pernah mengukir impian?

Tidak ku sangka, ketika kami bersua untuk jangka waktu beberapa tahun kemudian, Own pun sudah berjenggot. Berjenggot tipis. Xixixii…

Eh.., aku pun tersadar.  Baru saja aku menulis apa yaa,?

😀

Kembali lagi pada beliau, Own. Saudara laki-laki ku yang saat ini sedang berada di perantauan. Beraneka ragam karakter insan, tentu saja beliau temui. Berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang-orang yang beliau belum kenali, tentu sering terjadi. Karena beliau adalah seorang businessman. Own akhirnya mampu benar-benar mandiri, saat ini. Walaupun awalnya, dalam berbisnis beliau ikut dengan orang lain terlebih dahulu. Itupun menjadi salah satu inspirasi bagi ku kini. Walaupun mulanya mesti begitu. Namun, sebagai pribadi dan insan yang tidak statis, tentu saja kita adalah karakter yang dinamis. Kita mampu menjadi, karena kita adalah seorang yang selalu menjadi.

Menitip rangkaian catatan untuk Own my brother, serasa menitipkan pesan buat diri ku sendiri. Karena dari perjalanan kehidupan seorang Own, aku dapat meneladani. Aku dapat belajar dari pribadi beliau. Aku dapat mencontohi. Yha, karena kami adalah kakak dan adik yang berasal dari diri yang satu. Ya, Ibunda. Dan diri yang satu nya lagi, Ayahanda. Dan dari satu diri – satu diri tersebut, akhirnya tercipta pula kami. Kami kini tidak lagi sendiri. Karena kami bukanlah pribadi yang sendiri. Karena kami adalah keluarga. Kami memang terpisahkan raga, namun hati hati kami senantiasa menyapa. Ya, setiap kali kami saling mengingat satu sama lain.

Untuk kakak laki-laki ku Own, selamat menempuh usia yang baru, yaa. Usia yang bukan bertambah, namun sesungguhnya ia sedang mendekati akhir. Usia yang suatu waktu akan berakhir, semoga menjadi jalan ingatkan kita pada hari akhir. Hari berakhirnya kehidupan di dunia ini. Dan terlebih lagi, hari-hari terakhir setiap pribadi, termasuk diri kita sendiri.

Own, kakak ku…

Jalan di hadapan masih membentang dengan indahnya. Sedangkan kehijauan yang ada di sekitar, seakan mengingatkan kita pada kesejukan yang dapat mengalir kapan pun. Tentu saja, kesejukan itu akan hadir seiring dengan mengalirnya ingatan. Hingga hadir pula kedamaian.

Own, kakak ku…

Engkau adalah pribadi yang menggambarkan bagaimana sosok yang selama ini ada di dalam ingatan ku. Untuk menjadi bagian dari diri ku yang lain. Diri yang satu, seperti kita.

Own, kakak ku…

Kini pun aku telah beranjak usia. Aku bertumbuh dan Own juga tahu, bahwa kita sudah bukan lagi balita. So, mari kita bersiap untuk kehidupan yang selanjutnya.

Own, kakak ku…

Kelak bila tiba masanya, kita pun sama-sama berkeluarga. Kita pun akan menjadi Ayah dan Bunda. Dan kita bukan lagi pribadi-pribadi yang sendiri. Dan ingatlah senantiasa, bahwa kita bukanlah diri yang statis. Begitu pula dengan pribadi lain selain kita. Kita sebuah diri yang selalu menjadi. Itu terjadi, kalau kita mau dan mau untuk terus menjadi seperti apa yang kita mau. Dan kita pun menjadi. Lalu, sudah menjadi apa kah kita saat ini? :D Xixiii…   “Aku ingin menjadi diri sendiri.”

Own, kakak ku…

Pada hari ini, mungkin engkau belum langsung membaca catatan yang aku persembahkan buat engkau wahai saudara ku. Mungkin saja engkau akan membacanya setelah beberapa hari lagi kah? Atau mungkin beberapa tahun berikutnya? Mungkin, saja.

Own, kakak ku…

Atau barangkali engkau tidak berkesempatan untuk menikmati rangkaian kata ku pada pagi ini. Bisa juga. Mungkin saat engkau ternyata mempunyai kesempatan untuk membaca, aku sudah tiada lagi di dunia. Atau, aku sudah tua. Hahaaa… tahun berapa itu? Oh, noo. Baiknya, engkau segera membacanya, yaa. Akan tetapi, bagaimana engkau dapat mengetahuinya? Karena boleh jadi, engkau belum mengetahui bahwa aku yang merangkainya untuk engkau.

Own, kakak ku…

Telah lama aku ingin menjadi seperti ini. Bermula semenjak aku masih kecil dulu. Aku ingin merangkai kata-kata. Aku ingin menjadi seorang yang seringkali memanfaatkan huruf-huruf sebagai bagian dari hari-hari ku. Aku ingin mengaturnya sedemikian rupa untuk ku pandangi lagi. Aku pun ingin ‘mengacak-acaknya,’ semau ku.  ^^

Own, kakak ku…

Dalam kesempatan ini, aku sedang tidak bermimpi. Namun, aku sedang merangkai senyuman. Senyuman yang perlu aku selipkan dari waktu ke waktu, pada lembaran pipi ini. Karena syukur ku. Adakah engkau ingat dengan barisan kalimat pembuka catatan ini,  wahai saudara ku? Aku ingin menjadi

Own, kakak ku…

Sebagaimana aku yang ingin menjadi, tentu Own sudah terlebih dahulu menjadi.  Karena Own adalah kakak ku yang telah lebih awal menjejakkan kaki-kaki di dunia ini. Own, berbagi itu ternyata menyenangkan, yaa. Karena dengan berbagi, meskipun suara hati, kita dapat tersenyum lebih indah. Dan senyuman pagi ini, aku persembahkan buat Own, sajaaa….

Lalu, bagaimana dengan yang lainnya?,” Own bertanya kepada ku.

Kalau yang lain, boleh menikmatinya juga,” jawab ku segera.

Dan Own pun tersenyum. Senyuman yang beliau rangkai dengan mudahnya. Senyuman itu penuh makna.

Aku memandangi Own yang sedang memperhatikan barisan-barisan kalimat yang tercipta. Aku menerka-nerka apa yang sedang beliau pikirkan saat ini.

Aku pun segera menyapa, “Own, bagaimana, bagaimana, bagaimana kabarnya?.”

***

Pribadi penuh wibawa yang saat ini sedang berada di hadapan ku, mungkin saja bukan Own. Namun, aku harap Own merupakan salah seorang di antara beliau semua. Karena, aku merangkai kalimat-kalimat ini buat Own. Beliau adalah saudara laki-laki ku.

Ingin ku paket kan suara jiwa, untuk sampaikan ucapan penuh kebahagiaan. Namun, jiwa ku ingin menitipkannya di sini saja. Ingin pula ku beralih untuk melangkah dan menemui beliau di sana. Untuk ku hadiahi beliau dengan senyuman yang mengembang indah. Namun, hati ku berkata, “Rangkailah barisan kalimat dengan penuh senyuman, maka sesiapa pun yang sedang membacanya pun tersenyum pada saat itu juga.”

Lalu, bagaimana kah kondisi ku saat merangkai kalimat yang tercipta pagi ini? Sesuai pula dengan ekspresi yang engkau tampilkan saat membacanya, teman.  Dan aku sangat ingin membuktikannya. Karena aku ingin tahu, apakah engkau mengalami apa yang aku alami? Apakah engkau merasakan apa yang aku rasakan? Atau malah sebaliknya?

**) Berproses untuk menjadi… tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena, untuk menjadi… kita perlukan usaha dan upaya yang maksimal. Dan kita akan menjadi… kalau kita terus berjuang untuk menjadi… Ingin menjadi… apapun engkau, maka engkau bisa. Engkau mampu dan engkau benar-benar dapat menjadi seperti yang engkau damba.

*) Menjadilah diri sendiri terlebih dahulu, kemudian engkau mampu menjadi seperti yang engkau mau. Menjadilah adik yang baik, kemudian engkau akan mampu mengenal bagaimana menilai kakak yang baik. Menjadilah kakak yang penuh senyuman, maka adik mu pun akan tersenyum pada mu. Karena ingatannya terhadap engkau ketika kalian sedang belum lagi bersama, merupakan kebahagiaannya.

🙂🙂🙂

3 thoughts on “Untuk 'Own'

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s