Smile. Smile. For more beautiful smile only.
Smile. Smile. For more beautiful smile only.

Ada kesejukan menerpa relung hati ku. Ada hangat yang mengalir pada hampir seluruh wajah ku. Ada tetesan yang ingin menitipkan jejak di sudut-sudut mata ku. Hati ku berdesir. Hebat! Hanya dengan membaca rangkaian kalimat terdiri dari empat hingga lima kalimat, aku menjadi terharu.

Ada sebuah ekspresi yang ingin segera aku luahkan saat membaca kalimat tersebut.

“… akan merasa kehilangan.”

Ya, kalimat tersebut yang menjadi jalan hadirnya ekspresi yang aku segera alihkan ke sini. Agar, tidak menumpah air mata pada lembaran pipi ku. Agar, aku tidak mengalirkannya begitu saja. Karena aku yakin, semua ada hikmahnya. Termasuk satu keputusan yang saat ini aku genggam erat. Aku sudah mengambil keputusan. Yes!

Jelas sudah apa yang sedang ku pandangi di depan mata. Pun sudah pasti aku akan segera menekan beberapa tombol berikutnya. Dan untuk selanjutnya, aku tidak akan lagi dapat berhubungan dan berkomunikasi dengan beliau-beliau yang berada di lingkungan tersebut. Dunia yang semenjak tiga tahun terakhir, menjadi jalan ku menemukan pengalaman baru. Termasuk teman-teman yang baru, semua aku peroleh dengan begitu mudahnya. Di dalamnya, aku dapat berekspresi lebih bebas. Namun, ada satu hal yang membuat aku segera menanya, “Buat apa semua itu?.”

Ada banyak teman yang aku temui, aku koleksi dan aku kumpulkan. Lalu, aku pun menjalani hari bersama beliau semua. Hampir setiap hari, aku menyaksikan beraneka aktivitas yang teman-teman lakukan. Aku belajar bagaimana cara berkomunikasi bersama teman-teman semua. Aku belajar tentang beraneka ragam kepribadian bersama teman-teman semua. Aku menemukan apa yang ingin aku cari, bersama teman-teman pula. Bersama teman-teman aku mengenali banyak orang-orang penting yang berada di dalam lingkungan pergaulan teman-teman. Pun, banyak hal lainnya yang sebenarnya tidak perlu aku ketahui. Aku akhirnya mengetahui. Ai! Mohon maaf yaa, atas segala yang aku ketahui, dan teman-teman tidak berkenan sebenarnya. Karena, mungkin aku sengaja ingin tahu, atau karena memang itu adalah jalan untuk menjadi lebih akrabnya kita.

Hingga saat ini, aku pun akhirnya menemukan satu buah hasil pikir. Lebih baik aku mengenal teman-teman semua, dan teman-teman pun mengenal aku. Bukan hanya aku saja, tentunya. Ah! Benar-benar aku merasakan kelegaan yang paripurna, saat ini. Setelah akhirnya, aku menekan tombol-tombol tersebut. Aku tidak lagi bergabung dengan kehidupan teman-teman, seperti yang sebelum ini. Aku sedang melangkah lagi. Dan lingkungan pergaulan yang sempat mengumpulkan kita untuk beberapa masa, kini aku tinggalkan. Karena apakah? Sudah jelas alasannya, bukan? Karena aku ingin tersenyum, tersenyum, dan tersenyum lebih indah. Itu saja.

Dengan demikian, semoga senyuman yang aku tebarkan, adalah benar senyuman yang teman-teman semua harapkan. Senyuman yang aku sampaikan, sebagaimana saat-saat kita belum pernah bersama. Dan senyuman itu, aku yakin adalah senyuman persahabatan. Dan aku sangat ingin saat-saat tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kebersamaan kita untuk masa-masa yang selanjutnya. Masih senyuman persahabatan.  Karena dari seorang sahabat yang kita kenal, kita pun dapat belajar arti senyuman.

Awal keakraban kita, bukan di sana. Dan aku ingin, kita benar-benar memahami akan hal ini. Meskipun banyak teman yang kita punya, namun kalau kita tidak saling memahami satu sama lain, maka sama saja kita tidak mempunyai seorang teman pun. Namun, walau seorang teman yang kita punyai, dan kita saling memahami, maka ia lebih dari segalanya di dunia ini. Ai! So sweet kannn..?

Aku mengenal seorang teman, teman yang aku kenal sebagai diri ku yang lain. Aku yang pernah terlahir ke dunia ini, seakan menemukan bagian dari diri ku pada diri  beliau. Ya, seakan ada yang menarik ku untuk mendekat dengan beliau, lebih dekat lagi. Dan semua ini bermula semenjak aku mengenal beliau. So, beraneka cara pun aku jalani untuk lebih dekat lagi dengan beliau. Sehingga dalam berbagai kesempatan, aku mencari-cari cara bagaimana agar aku berada di dekat beliau, syeeellalluu… maunya sich begitu. Namun hanya ingin ku. Karena dalam yakin ku berkata hati, “Tidak semua keinginan mu menjadi kenyataan. Ada waktunya keinginan tersebut perlu engkau lenturkan. Dan ada saat dan kesempatan lain. Ketika keinginan yang engkau bangun benar-benar merupakan kebutuhan mu, bersegeralah untuk tersenyum. Bersama senyuman terindah yang engkau tebarkan. Lalu, berkatalah engkau pada ku, —– Terima kasih  ya, untuk menjadi jalan yang mengingatkan aku pada hari ini.”

Aku ingin bersama beliau dalam banyak kesempatan. Dari waktu ke waktu, aku pun mengikuti langkah-langkah beliau. Melangkah beliau ke Selatan, aku pun menjadi teman yang mengiringi. Berjalan beliau ke Utara, aku pun turut serta. Ke Timur dan atau Barat beliau melangkah? Aku pun menjejakkan langkah-langkah di belakang beliau. Aku menjadi begitu penurut. Aku mau saja ikut-ikutan. Karena dalam pandangan dan pikir ku, beliau adalah sahabat dalam perjalanan. Dan aku menemukan kedamaian saat berada di dekat beliau. Aku benar-benar menemukan kesejukan. Ya, seperti saat ini.

Pernah pada suatu hari, beliau tidak terlihat dalam perjalanan. Aku yang sebelumnya berada di belakang beliau, pun kehilangan jejak. Aku tidak dapat melihat dengan jelas, rupa yang sebelumnya dapat ku tatap. Aku pun tidak dapat menyaksikan punggung beliau yang sedang melanjutkan langkah. Termasuk bayang-bayang yang biasanya mengikuti seorang pejalan. Tidak, aku tidak dapat menemukan. Lalu, aku terus-terusan mencari dan mencari. Seraya bertanya aku sendiri, “Wahai, di manakah sahabat seperjalanan? Ke manakah beliau melanjutkan arah dalam melangkah? Aku bertanya, seraya menahan rasa yang ingin segera aku luahkan. Aku merasa kehilangan. Lalu, aku pun terpaksa menitikkan air mata di pipi ku yang menerimanya dengan sopan.

Teman…

Buat engkau yang saat ini sedang berada di dalam ingatan, semoga engkau dapat mengembalikan ingatan mu pada teman terbaik mu. Mungkin saja teman mu bukan lah aku yang seringkali mengikut dengan mu. Atau boleh jadi teman mu adalah aku. Hanya satu pinta ku, kembali lah dekat dengan ku… Karena aku membutuhkan mu.

Teman…

Engkau mungkin saja sedang melanjutkan langkah-langkah mu pula pada saat ini. Akan tetapi, di jalan yang bagian mana? Karena aku belum menemukan jejak-jejak mu. Jejak yang hampir setiap hari pada masa-masa yang lalu, aku temukan di jalan-jalan yang sedang ku tempuh. Karena ku sedang berada di jalan yang sama dengan mu. Namun kini, aku belum lagi dapat menemukan mu. Padahal tahukah engkau? Bahwa engkau sangat berarti bagi ku.

Teman…

Apabila ingatan ini sampai pada mu, tolong selipkan beberapa langkah kaki mu pada pagar-pagar yang engkau berjalan di sisinya. Agar,  jejak-jejak mu yang sangat berarti, tidak tersapu angin yang membawa debu ke atasnya. Agar, tidak meluruh ia lalu menghilang karena tertimbun oleh genangan air yang melimpah. Agar, dapat aku kenali, bahwa jejak-jejak tersebut adalah jejak langkah mu.

Teman…

Atau, engkau dapat menandai beberapa lembar dedaunan berwarna hijau pada pohon-pohon yang engkau pernah berada di bawahnya. Agar, saat daun-daun tersebut jatuh, aku dapat meraba keberadaan mu. Bagaimana, sudikah engkau?

Teman…

Pada saat-saat seperti ini, ketika aku mencari-cari jejak langkah mu namun aku belum lagi dapat menemukannya. Maka aku pun berkata pada diri ku sendiri, “Let’s we are continue our next steps.” 

Karena dengan begini, aku segera menemukan semangat baru. Lalu, aku pun tersenyum. Dan dengan senyuman tersebut aku temukan kesegaran. Kesegaran ingatan pada mu. Engkau yang pernah ada dalam perjalanan kehidupan ku, sebagai teman yang baik.

Teman…

Sekiranya pesan ini sampai pada mu saat ini, tolong titipkan beberapa bait nasihat yang engkau punya, buat ku. Agar aku menyadari kehadiran mu kembali di dalam perjalanan ku. Agar, aku tidak lagi mencari-cari keberadaan mu. Karena aku sudah tahu bahwa engkau sangat dekat dengan ku. Ya, seperti kedekatan kita saat ini. Ketika kita dapat saling mengingat.

Teman…

Selangkah demi selangkah, aku teruskan berjalan. Bergerak terus ku bergerak, tak hendak berrehat meskipun untuk beberapa jam. Sebelum bertemu dengan persimpangan, aku mempunyai harapan bahwa engkau sedang berada di persimpangan tersebut, sedang menunggu ku. Lalu, engkau arahkan aku untuk mengikuti mu. Saat engkau memilih arah ke Barat, agar aku pun turut dengan mu. Begitu selalu. So, saat ini, ketika jalan lurus yang sedang membentang sedang aku jalani, aku semakin semangat melangkah. Dan kadang-kadang aku berlari. Walau di bawah rintik hujan sekalipun. Meskipun di bawah teriknya sinar mentari. Namun aku seakan mendapati mu sedang tersenyum di hadapan. Nun di persimpangan berikutnya yang akan aku temui.

Teman…

Terletih memang aku saat berjalan. Terlelah juga aku rasakan. Kekuatan ku pun berkurang seiring dengan lama perjalanan. Begitu pula dengan persediaan bekal yang sedang aku bawa. Lama kelamaan, ia mulai menyusut. Energi ku? Bagaimana? Ya, sama saja. Ia juga berkurang seiring dengan jauhnya jarak yang sedang aku tempuh. Ini, saat ini, aku berusaha untuk menambahnya lagi. Walaupun dengan beberapa tetes minuman yang aku teguk membasahi tenggorokan ini. Alhamdulillaahirabbil’alamiin. Masih dapat aku bersyukur hari ini. Syukur yang ingin terus aku alirkan.

Teman…

Dalam keasyikan ku melangkahkan kaki-kaki ini, aku bertemu dengan persimpangan. Simpangnya ada empat. Dan seperti harapan yang terus aku jaga sebelum sampai di persimpangan, aku ingin engkau ada di sana. Namun, dalam kenyataannya, engkau tiada. Sedangkan aku yang sebelumnya membawa harapan, pun mulai berguguran satu per satu. Harapan ku mulai meleleh, seiring dengan tetesan air mata yang membasahi pipi ku. Ada rasa berbeda yang mengguyuri relung hati ku. Aku terharu. Engkau benar-benar tiadaaaaaaaaaaaa….. Huwaaaaaaaaaaaa…………..😦😦😦 Padahal… Pada saat yang sama aku harus menentukan pilihan. Aku perlu membuat keputusan. Dan dalam keputusasaan, aku memutuskan untuk memilih satu arah yang aku yakini.

Teman…

Semoga, setelah pilihan aku temukan, ternyata engkau ada di jalan ini. Jalan yang sedang aku tempuh. Dan aku masih sedang mengikuti mu. Walaupun engkau tidak tahu. Sedangkan aku pun begitu. Jalan yang sedang mendekatkan kita. Dan kita kembali dapat berjumpa, meskipun jarak yang kita tempuh sudah saaaangat jauhnya. Namun, bukanlah jauhnya jarak yang menentukan kedekatan kita saat melangkah. Akan tetapi, dekatnya ingatan kita yang membuat kita kembali mau menggerakkan kaki-kaki ini. Agar ia terus berpindah dan berpindah. Dengan demikian kita berada pada lokasi yang baru, pada waktu yang berikutnya, yaa.

Teman…

Walaupun di mana engkau berada saat ini, aku belum lagi dapat mengetahui keberadaan mu. Karena, terputusnya saluran komunikasi di antara kita. Walaupun begitu, yakinlah bahwa aku senantiasa dalam langkah-langkah yang sedang aku jejakkan. Dan dalam yakin ku, begitu pula dengan yang sedang engkau lakukan saat ini. Engkau masih bergerak, dengan gerakan mu yang lebih bermakna. Aku yakin ini.

Teman…

Aku percaya bahwa engkau masih ada hingga saat ini. Karena ingatan ku terhadap mu pun demikian. Kecuali, kalau engkau sudah jauh dari ingatan. Mungkin saja kita sudah berada pada dunia yang berbeda. Sungguh, engkau masih ada, bukan?

Teman…

Sebaris nama yang engkau sampaikan mengalir dari nada suara mu ketika pertama kali kita berjumpa, masih aku ingat hingga saat ini. Barisan kata yang aku ingat dengan baik. Ya, masih jelas nada suara mu yang aku pahami benar-benar. Nama yang indah, bisik ku ketika itu. Nama yang secara berangsur-angsur, aku hilangkan dari pendengaran ku. Nama yang kemudian beralih ke dalam peredaran nadi ku. Nama yang seiring dengan bergulirnya waktu, telah menyatu dengan aliran darah ku. Hingga ia bersemayam di dalam hati ku. Sebaris nama yang selamanya ada.

Teman…

Bersama langkah-langkah pikir ku yang menjejak satu persatu, aku tahu bahwa engkau pun begitu. Engkau pun memikir, tentang langkah-langkah yang sedang engkau rancang untuk menjejak. Sedangkan kaki-kaki mu yang sedang mengayun, semoga semakin mantab. Ya, melangkahlah dengan tegap. Lalu, tunjukkan bahwa engkau adalah diri mu yang semula aku tahu. Engkau yang mengingatkan aku pada sesosok hamba yang aku rindui semenjak lama. Sosok yang kemudian mewujud dalam nyata. Dan aku yakin akan keyakinan yang selamanya aku jaga. Bahwa engkau benar-benar ada.

Teman…

Barisan nama mu mengingatkan aku pada hari-hari penuh dengan impian. Hari-hari ku yang telah lama berlalu, dan saat ini aku sangat jelas mengingatnya. Ai! Inikah perjalanan kehidupan yang perlu aku pahami lebih dalam lagi? Pemahaman ku yang belum sepenuhnya mengerti, tentang apa yang aku alami dari detik ke detik waktu. Pemahaman yang secara tidak langsung membuat ku segera tersenyum. Senyuman yang aku tebarkan, dengan lepasnya. Sedangkan senyuman itu pun mensenyumi ku pada saat yang sama.

Teman…

Ada sejarah diri, ada rangkaian cerita kehidupan, ada kisah seorang insan. Dan begitu pula dengan engkau. Engkau mempunyai sejarah, cerita dan kisah, bukan? Pun aku demikian. Semua itu ingin segera aku saksikan sedang mengumpul dalam sebuah dokumen yang terdiri dari lembar-lembar kertas berjilid. Dan di dalamnya kita dapat menyaksikan, bahwa kita ada di dalamnya. Dengan tautan kata yang saling menguatkan, engkau dan aku bersenyuman di dalamnya. Aku bermimpi tentang hal ini, semenjak lama. Sedangkan saat ini, mimpi tersebut masih ada di dalam ingatan. Ingatan yang masih terus ku jaga, hingga aku menemukan mu. Dan engkau pun berkata, “Mari kita melanjutkan perjalanan bersama-sama, karena engkau adalah sosok yang selama ini ada di dalam ingatan.”

Lalu, aku pun tersenyum. Dalam pikir ku berkata, “Sammmmmmmmaaaaa…”

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s