Damai

Damai

Akhirnya aku pernah ke sini. Xixi. Di manakah aku berada saat ini?

Aku ingin tersenyum, namun pipi kaku.
Ku ingin tertawa, tapi tidak kuasa.
Aku ingin menangis, buat apa?

So, aku pun meraih sepotong note yang beberapa saat lalu ku simpan di dalam kantong. Aku menyalakannya, kemudian menekan tombol-tombol penting yang dapat menyampaikan aku ke sini. Hingga akhirnya, aku pun berada di lembaran maya. Lembar yang tak mampu berkata apa-apa saat aku mencurhatinya. Pun, lembar yang dapat melampirkan ekspresi ku setiap kali aku mengunjunginya.

Aku pun meluahkan rasa.

Aku bahagiaaaa…
Aku terpesonaaaaa…
Aku sungguh bersyukur adanya.

Ibu SurTini. Adalah beliau yang aku temui di sini. Beliau yang akhirnya berbaik hati pada ku. Beliau membuka pintu untuk menampung aliran bahagia ku segera. Aku ingin menjadi seperti beliau.

“Bunda yang baik, ramah dan bersahaja”, bisik ku.

Ibu, terima kasih atas senyuman. Terima kasih atas bantuan. Untuk ke depannya, aku ingin mengikuti saran yang Ibu pesankan.

***

Saat kita menemui orang asing dengan senyuman, maka ada kelegaan yang menaungi jiwa. Saat kita berhadapan dengan beliau untuk sebuah keperluan penting, maka beliau pun mengalirkan bantuan. Lalu, sudahkah kita bersyukur hari ini, teman?

Syukur itu tidak untuk kita simpan sendiri. Namun ia ada untuk kita alirkan. Agar, setiap bahasa yang kita suarakan saat bersyukur, mengalun indah memelodi dalam sikap dan perbuatan. Sehingga, benar-benar tercipta kedamaian yang sesungguhnya. Ya, syukur itu adalah jalan munculkan senyuman.

Syukur ku ingin ku titipkan pada engkau jua, wahai lembaran maya yang sedang ada di hadapan.
Syukur ku ingin ku alirkan senantiasa pada kehidupan yang menjadikan aku mengerti makna kehadiran diri di dunia ini.
Syukur ku untuk memberikan aku barisan senyuman, setiap kali aku belum lagi membersamainya.
Syukur ku menjadi jalan yang membawa ku bertemu dengan orang-orang ‘yang sebelumnya asing’ dalam kehidupan ku.
Syukur ku mengenalkan aku pada seorang Ibu nan sahaja.
Syukur ku segera menjadi jalan ingatan ku pada Ibunda.

Wahai Ibunda…
Aku ingat pesan beliau, “Berterima kasihlah pada sesiapa pun yang menjadi jalan bahagia mu, Nak. Berterima kasih lah. Kemudian, baru engkau kabarkan pada Ibunda, yaa. Dan yakinlah pada saat yang sama Ibunda sedang tersenyum.”

Aku terharu.
Di sebuah gedung yang baru.
Gedung yang selama ini aku pandangi dari kejauhan. Gedung ini kini mendekap ku erat. Aku merasakan kehangatan kasih Ibunda bersamanya. Ibunda.

🙂🙂🙂

Engkau yang awalnya satu. kini tak lagi begitu. Ada yang senantiasa bersamamu dalam melangkah. Buka mata, lalu melihatlah. Optimalkan fungsi telinga, lalu mendengarlah. Raba hati, lalu rasakanlah apa yang sesama rasakan. Indera penciuman, ada pada hidungmu. Pedulilah pada lingkungan. Ada kulit yang membentang luas pada dirimu, itulah alam.
Renungkanlah…”

~ Marya Sy ~

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s