English: bougainvillea red
English: bougainvillea red (Photo credit: Wikipedia)

Kertas…

Tentang kertas, aku ingin menitip mu sebait pesan, teman. Kertas yang biasanya kita biarkan bertebaran, ia seperti tidak bermakna. Seperti kertas koran, contohnya. Koran yang kita abaikan, terkadang. Setelah kita membacanya, lalu kita biarkan ia tergeletak begitu saja, di teras.

Kertas…

Tentang kertas, aku mempunyai kisah. Kisah pertemuan kami pada suatu pagi yang cerah. Karena hari ini mentari bersinar dengan penuh semangat. Aku yang sedang berjalan di bawah cemerlang sinarnya, pun ikut bersemangat. Aku tersenyum saat memulai langkah, aku terus tersenyum saat melanjutkan langkah-langkah ini. Hingga akhirnya, aku bertemu dengan selembar kertas. Kertas berwarna hitam, kertas yang aku belum tahu, kertas apakah itu?

Lalu, aku sempatkan waktu untuk bertanya padanya, pada awal pertemuan kami. Pertemuan di dunia maya. Dunia yang kasat mata. Ya, engkau pun tahu, bukan? Bagaimana keadaan dunia ini? Bagi  engkau yang sudah terbiasa dengan nya, tentu sangat paham bagaimana cara berinteraksi dengan penduduk di dunia maya. Sedangkan aku? Aku baru berada di sini, semenjak beberapa tahun terakhir. Di dunia ini, aku masih balita. Aku sedang belajar banyak di atasnya. Aku sedang belajar merangkak, bergeser, pun sedang belajar bagaimana cara berdiri.

Dan hari ini, saat aku sedang melangkah satu persatu, di sebuah sudut perjalanan diri, aku bertemu dengan selembar kertas. Kertas yang aku temui adalah kertas hitam. Lalu kertas menyapa ku terlebih dahulu. Adapun awal interaksi antara aku dan kertas lebih kurang, begini:

“Halo, pagiii…,” sapa kertas.

Aku yang sedang asyik melangkah, berpaling padanya. Kertas yang sedang tersenyum, membuat ku tersenyum, segera.

“Pagiiii kertas hitammmmm,” sapa ku padanya.

“Yup, dah menyinari dunia belum?,” tanya kertas melanjutkan pembicaraan.

“Ini lagi, baru mau bersinar..,” jawabku singkat.

Kertas pun berpaling ke arah ku. Kertas yang sedari tadi asyik dengan aktivitasnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan, sebelum kehadiran ku di sisinya. Kertas yang ramah, baik dan mengesankan, pikir ku. Ini adalah kesimpulan subjektif yang aku selipkan pada kertas yang baru aku temui. Karena, ketika aku mengajukan pinta terhadapnya, kertas menanggapi dengan baik.

“Aku boleh menulisi kertasnyaa?,” pintaku padanya.

“Ehmmm. Iya, boleh aja. Silakan. Trus mau pake tinta warna apa untuk nulisnya?” jawab kertas dengan singkat.

Aku pun berseri-seri menanggapi tanya sang kertas. Seraya membayangkan rangkaian tulisan yang mulai bertebaran di permukaannya.

“Dengan warna orange, dan seterusnya akan aku tulisi dengan warna-warni yang cerah. Kan kertasnya warna gelap,” jawab ku menanggapi.

“Ehmmm bisa aja deh,” kertas mulai serius.

***

Aku berusia lebih muda dari kertas. Karena kertas menginformasikan bahwa ia sudah lebih lama di dunia ini, dibandingkan aku. Walaupun begitu, aku akan mengabadikan kebersamaan kami, meski hanya beberapa saat saja. Karena aku yakin, setelah saat ini kertas mungkin saja tidak akan dapat ku lihat lagi. Mungkin terbawa angin, terbang ke arah yang lain, atau bagaimana. Aku pun membayangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Ihiiyy.

Kertas…

Aku yakin, kertas ada untuk menjadi bermakna. Aku yakin, kertas ada karena ia bermanfaat. Lalu, aku pun membersamainya untuk beberapa menit kemudian.  Oia, aku ingat, kertas sempat menyampaikan kalimat ini.

“Masih muda,” mungkin ia sedang bergumam sendiri.

Akan tetapi, aku mendengar apa yang ia sampaikan. Aku menyimak dan memperhatikannya yang sedang menatap -bukan pada ku-.

“Iyyya, aku lagi cari inspirasi di sini. Karena mau merangkai kata,😀,” tanggap ku cepat.

“Walah, lagi kasmaran ya,” bisik kertas lembut, di telinga ku.

Aku mikir dulu. Mau jawab apa, yaa? Hmm… aku punya ide. Hehe. Setelah beberapa saat kemudian, aku pun menjawab dengan penuh senyuman.

“Iyya,” aku tersenyum di dalam hati.

Eh, kertasnya ternyata menanggapi. Ini karena pedulinya pada ku, dan aku sangat terharu atas jawaban dan sarannya.

“Ehmm, ya telpon dong pacarnya. Kalo ga sms, bikin kata-kata yang manis,” ungkap kertas dengan sepenuh hati.

Aku ga tau mau bilang apa lagi. Makanya aku menitipkan barisan kata buat kertas yang sedang entah mengapa. Karena aku sedang tidak menatap padanya.

“Telpon ga diangkat, sms ga dibales…. Yaudah merangkai kata aja, aku mau bikin puisi. Xixii,” jawab ku sekenanya.

Lalu, kertas pun terdiam. Mungkin ia tersenyum. Atau malah tidak memperhatikan jawaban ku. Aku tidak peduli. Intinya, aku sudah memberikan alasan, mengapa aku akhirnya ada di lokasi yang sama dengan kertas.

***

Beberapa saat kemudian…

Kembali tercipta percakapan di antara kami. Kertas yang biasanya kita kenal dengan benda kering, dan sangat senang menjadi dirinya sendiri, kini malah berbeda. Kalau kertas yang biasa kita tahu adalah kertas yang bisa nya hanya diam, hanya di tempatnya semula, kalau saja kita tidak memindahkannya. Namun kini, kertas berbeda. Kertas hitam yang aku kenal saat ini, adalah seorang insan. Ia adalah makhluk bernyawa, ia hidup dan ia bermakna. Aku yakin, kertas hanyalah nama sebagai inisial semata. Entah apa maksudnya, aku pun belum menanyakan. Namun aku berharap sangat, mengapa seseorang di seberang sana, menamai dirinya kertas hitam, saat berada di dunia maya?

“Hai, kertas, tolong kasih tau, dong…,” pinta ku pada kertas. Ah, dan saat ini. Aku baru menyadari, bahwa pinta tersebut belum aku sampaikan padanya. So, hingga saat ini, pinta ku pun tersusun dalam rangkaian kalimat yang berbaris.

Teruntuk ‘kertas hitam’.

Kertas…

Aku yakin engkau tak hitam,

Aku yakin engkau tak diam,

Aku tahu engkau penuh dengan warna,

hari-hari mu pasti bermakna, yaa?

Karena engkau ada.

***

Kalau ini, adalah rangkaian kalimat dari kertas untuk ‘Mentari’. Karena saat berjumpa dengan kertas, aku mengenalkan diri sebagai ‘Mentari’:

Rembulan malam telah kembali keperaduan

menutup di ujung malam

memberi mentari buat bersinar

mengganti malam

menyibak embun malam …..

di temani ayam jantan berkokok

fajar merona membuka hari…..

memberi hari yang baru

buat kehidupan

mentari…

tanpa cahyamu bumi ini akan mati

tanpa cahyamu bumi ini tidak ada kehidupan

mentari… tunaikan tugasmu

menerangi bumi

sampai senja memanggilmu

mengembalikan di ufuk barat

Karawang: 25 November 2012

Oleh: Hitam Kertas

***

Aku terharu membaca pesan singkat yang kertas titipkan pada ku. Dan saat ini, kertas sedang tersenyum, yakin ku. Terima kasih kertas, atas inspirasinya. Engkau berjasa.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s