Waiting
For You

Hingga akhirnya aku menyadari, bahwa salah satu makna kehadiran kita di dunia ini adalah sebagai jalan untuk sampaikan kebahagiaan pada sesiapa saja yang belum mengalami bahagia.

Lalu, bagaimana mungkin kita dapat mengaplikasikan makna kehidupan yang satu ini, apabila kita belum berbahagia? Karena kebahagiaan hanya dapat kita alirkan dengan semaksimalnya, apabila kita berbahagia terlebih dahulu.

***

Seringkali aku menemui dan bertemu dengan orang-orang (beliau) yang akhirnya membuatku berbahagia seketika, sesaat setelah berjumpa dengan beliau. Dan ini lah salah satu bukti bahwa, beliau yang aku temui tersebut sedang berbahagia pada saat yang sama. Lalu, dalam kesempatan yang lain, aku bertemu dengan beliau-beliau yang membuatku mengalami hal yang sebaliknya.

“Apakah pada saat yang sama, beliau sedang dalam nuansa belum berbahagia, ya?,” begini tanya yang segera mampir di ruang pikiranku pada saat itu.

Dan kini, aku segera mengambil kesimpulan, bahwa kebahagiaan yang kita bawa dapat berefek pada kebahagiaan sesiapa saja yang berada di sekitar kita. Baik dalam lingkungan yang dekat, maupun yang jauh. Karena semacam ada daya tarik begitu, kiranya antara kita, aku dan beliau-beliau di sana.

Tidak dapat kita pungkiri, kita akan dan senantiasa berhubungan dengan sesama hamba-Nya. Ya, selagi kita masih berada di dunia ini. Karena di alam-Nya, kita sedang beraktivitas bersama, saling melengkapi. Ada yang bertanya dan ada yang memberikan jawaban. Ada yang membantu, pun ada yang memperoleh bantuan. Karena segala sesuatu, memang diciptakan saling berpasangan. Begitu pula dengan rasa dan nuansa jiwa yang kita bawa-bawa dalam melanjutkan perjalanan di dunia. Ada bahagia pun sebaliknya. Tentu saja, kehadirannya untuk melengkapi aneka rasa lainnya yang turut memperindah hari-hari.

So, saat kita menjumpa para sahabat yang belum berbahagia, cerminkanlah kebahagiaan terhadapnya. Bukankah di dunia ini keadaan berpasang-pasangan? Ketika engkau sedang belum berbahagia, pun begitu. Semoga sesiapa saja yang menemui membawa bahagia untuk dibagikan terhadapmu, teman.

Aamiin ya Rabbal’alamiin…

***

Diammu? Mengesan.
Bicaramu? Memesankan.
Yes!😀

Bahagia mengenalmu, meski belum bertemu.
Wahai? Siapakah engkau?

Ai! Tak perlu malu.
Apalagi tersipu dalam kelu.
Karena aku sahabatmu.
Kita adalah satu.

Terus ku memandangmu yang terdiam… lamaaa… hingga ku terpana. Dalam pesona tiada terucap kata, ku coba mengingat sebuah nama.
Sesosok wajah di hadapanku, terlihat serius.
Perawakan yang ku kenal sangat.
Jelas.
Aha!
Itu… benar dirimu, kannn…?
Nah, lha… lha… kok malah senyum?

@sahabat unikku

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s