Pink Note

Pink Note

Sore ini, dalam perjalanan menuju pulang. Di bawah tetesan hujan, aku sedang berjalan. Tepatnya berlindungkan ‘Umbrella’, tentu saja. Ketika sedang asyik berjalan, mata ku sempat menatap sebuah benda. Benda apakah itu?

Sebuah stereofoam bekas yang telah berhiaskan huruf-huruf sungguh menarik perhatianku. Karena ada warna cantik yang sedang menempel di antara huruf yang sedang bertaburan. Ada warna pink dan biru. Aku suka. Ditambah lagi, huruf-huruf acak tersebut adalah; A, Y, N, dan I.

“Aiii… So Sweet,” I was screamed.

Betapa selalu ada-ada saja jalan yang dapat membuatku tersenyum. Termasuk saat menyaksikan huruf demi huruf tersebut. Huruf-huruf yang membuat aku sangat ingin mengabadikannya dengan baik. Lalu, akan ku jadikan sebagai salah satu prasasti dalam lembaran perjalanan diri di dunia ini. Aku terharu.

Masih di bawah ‘umbrella’ yang mengembang, aku berada saat ini. Aku yang sedang melanjutkan perjalanan, segera mengajukan tanya pada huruf demi huruf tadi. Huruf-huruf yang aku yakin, hanya akan mampu terdiam, membisu dan menggigil. Brrr… Aku tahu bahwa ia kedinginan saat ini. Sungguh inginku meraih mereka semua, merengkuh untuk ku selamatkan. Namun, berhubung angkot yang akan mengantarkan ku pulang agar sampai lebih cepat pada tujuan sudah datang, maka aku hanya sempat mengabadikannya dalam selembar potret.

Sungguh aku ingin menemukan makna dari pertemuan kami sore ini. Tanya yang satu persatu aku leburkan di sini. “Mengapa mata ini tiba-tiba menangkap bayangannya?? Mengapa??”

Lalu, tanya tersebut pun aku jawab pula sendiri, di sini. Ya, dalam paragraf ini aku merangkai jawaban atas tanya ku tadi. Agar aku dapat menjadikannya sebagai sebuah ide yang baru. Ide yang dapat aku selipkan pada lembaran ini. Sungguh aku bahagia dapat menemukannya. Bertemu tanpa rencana, bersua tanpa diduga. Lalu, aku pun tersenyum lebih indah bersamanya. Senyuman yang sebelum ini ku harap segera datang. Namun, aku hanya bisa berharap sebelum ia benar-benar menjadi kenyataan. Dan kini, saat senyumanku mengembang, tentu sangat bermakna, bukannn…? Senyuman dengan sepenuh perasaan. Senyuman yang merupakan salah satu hiburan, bagi wajahku yang semenjak tadi bertarung dengan rasa berbeda yang membersamainya.

Lalu, saat ini, aku hanya inginkan ia benar-benar menikmati waktunya yang saat ini. Waktu yang tidak akan pernah terulang lagi, bersama huruf-huruf acak yang ia temui di pinggir jalan.

Aku senang menatapnya untuk pertama kali. Sehingga aku memutuskan untuk membawanya pulang. Untuk ku pandang-pandang bila ku ingin mengenang. Mengenang sebuah lokasi yang semenjak beberapa tahun terakhir, menjadi tujuanku. Di depan Toko Bahagia, aku menemukannya.

Seringkali aku menanyakan terlebih dahulu pada para supir yang sedang menuju ke arah Toko Bahagia, “Apakah beliau sampai ke Bahagia?”

Terkadang beliau langsung menjawab “Iya, sampai Neng. — dan benar-benar sampai.” Namun ada pula yang bilang “Iya, sampai Neng. — ternyata malah ga sampai.” Lalu, ada yang dengan jujur berkata, “Engga, hanya nyampe Pesantren aja, Neng.”

Tidak masalah, kita sedang menanya, apakah sesiapa yang menjadi jalan sampaikan kita pada tujuan, bersikap jujur ataupun tidak. Yang jelas, apabila kita telah benar-benar mempunyai tekad dan tujuan yang jelas, maka kita akan menerima bagaimanapun keadaan yang kita alami dalam menuju arah yang ingin kita capai.

Seperti aku yang ingin sampai ke “Bahagia” misalnya. Tidak mengapa, kalau ternyata para jalan tidak menyampaikan pada “Bahagia.” Kalau dalam perjalanan aku seringkali bahagia, maka sesungguhnya aku telah sampai pada tujuan, setiap kali aku berusaha untuk berbahagia.

“Semudah itukah caranya?,” engkau menanya.

“Iya, it’s the answer,” jawabku.

Karena jawaban dari apapun yang sedang kita tuju, adalah pada diri kita yang utama. Kalau kita inginkan bahagia, maka kita perlu berbahagia terlebih dahulu. Jangan menunggu orang datang untuk membahagiakan kita. Karena sesiapapun di luar diri kita, adalah jalan saja. So, masih mau menanya???

🙂🙂🙂

Engkau yang awalnya satu. kini tak lagi begitu. Ada yang senantiasa bersamamu dalam melangkah. Buka mata, lalu melihatlah. Optimalkan fungsi telinga, lalu mendengarlah. Raba hati, lalu rasakanlah apa yang sesama rasakan. Indera penciuman, ada pada hidungmu. Pedulilah pada lingkungan. Ada kulit yang membentang luas pada dirimu, itulah alam.
Renungkanlah…”

~ Marya Sy ~

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s