Timur

Timur

Di sisi bagian Timur langit sore ini, mendung. Lihat, lihatlah teman, awan berwarna kelabu sedang bergelayut di langit. Ini adalah pertanda akan turunnya hujan, bukan?

Ketika menyaksikan penampilan alam yang seperti ini, apakah yang terpikirkan olehmu, teman? Apakah engkau berpikir tentang kedamaian? Yach. Ketika tiada sinar mentari di sekitaran, maka yang ada hanya kedamaian. Saat teriknya telah berganti dengan cuaca yang sejuk. Sejuk yang sebentar lagi akan berubah menjadi sangat dingin. Bbbrr… Sekarang sudah mulai terasa.

Beberapa menit setelah aku menyaksikan mendung nan kelabu di sisi langit timur, terdengarlah gemuruh nan bersahutan dari kejauhan. Dan memang, ternyata, hujan pun mulai turun. Mula-mula hanya berupa tetesan air yang jatuh satu persatu. Namun lama kelamaan, tetesan itu semakin ramai saja. Dalam suasana begini, aku pasti ingat pada satu sahabatku yang mudah tersenyum, Mentari.

“Wahai Mentari, saksikanlah… Alam tempat kami berada kini, sedang diguyur hujan. Deras, sungguh. Lalu, terlihat pula sekilas cahaya yang datang sekejap. Kilat. Ia, bernama kilat. Kilat yang aku sangat suka menyaksikannya, akhir-akhir ini. Sehingga pernah terlontar sebaris kalimat pengandaian dari bibir ini, pada salah seorang temanku ketika kilat sedang datang.”

“Hay, Tehh… Kalau rumah kita berada pada tempat yang lebih tinggi dan dekat dengan kilat itu, alangkah indahnya yaa. Sehingga kita dapat menyaksikan kilat dengan sempurna,” lalu aku pun tersenyum seraya membayangkan sedang berada di depan kilat yang sedang beraksi.

“Aaaccc… Jangan ah, Mbak, kan takut,” jawab Yet Yet, tetanggaku.

Kami yang sedang bersama ketika itu, akhirnya hanya bisa merenungi keadaan. Lalu, mengalihkan ingatan pada hari-hari yang kami jalani ketika sedang tidak hujan. Dan bersyukur adalah satu kata pilihan yang terbaik, saat ini. Alhamdulillaahirabbil’aalamiin. Sungguh, hujan merupakan salah satu anugerah Allah untuk kita, yang saat ini sedang berada di bumi-Nya.

Hujan…
Bersamanya, semestapun bertasbih. Karena ia kembali merasakan kedamaian tersebab oleh air yang mengalir dengan bebas.

Hujan…
Kehadirannya adalah jalan hadirkan kedamaian bagi setiap jiwa yang selama ini mengharapkan.

Hujan…
Adalah pertanda bahwa setelah ia berlalu, langit kan kembali cerah.

Yyyee…eess!

🙂🙂🙂

Hujan di Jendela

Hujan di Jendela

Engkau yang awalnya satu. kini tak lagi begitu. Ada yang senantiasa bersamamu dalam melangkah. Buka mata, lalu melihatlah. Optimalkan fungsi telinga, lalu mendengarlah. Raba hati, lalu rasakanlah apa yang sesama rasakan. Indera penciuman, ada pada hidungmu. Pedulilah pada lingkungan. Ada kulit yang membentang luas pada dirimu, itulah alam.
Renungkanlah…”

~ Marya Sy ~

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s