Merayap
Merayap

Hingga akhirnya, aku bertanya pada langit, “Mengapa engkau berselimutkan mendung hari ini?.”

“Karena aku sedang larut di dalam genangan air mata kehidupan,” membisik ia tepat di telingaku. Suara yang aku simak dengan sebenar-benarnya. Lalu, aku pun membenarkan apa yang baru saja ia sampaikan padaku. 

***

Percakapanku dengan langit sore ini pun buyar. Seiring dengan sapaan yang datang dari sebuah suara nan renyah. Serenyah senyuman mentari pagi hari, ketika mendung tidak menggelayuti langit. Lalu, aku pun menyambut sapaan tersebut dengan senyuman yang mengembang lepas. Senyuman terindah yang aku pernah pancarkan dari wajah ini, tentunya. Karena aku yakin, bahwa senyumanku hari ini, adalah senyuman yang lebih indah dari hari kemarin. Begitu pula dengan hari esok, senyuman ku tentu lebih indah lagi. Bagaimana tidak akan tersenyum dengan megah? Ketika satu persatu, harapan demi harapan, impian demi impian pun menjadi kenyataan. Alhamdulillah… terima kasih ya Allah. Engkau Selalu Tahu Yang Terbaik bagi hamba-hamba-Mu.

Dan kami, seringkali tidak menyadarinya lebih awal. Padahal, Engkau senantiasa Memperhatikan apa yang kami lakukan. Engkau Memantau kami dengan sebaik-baik Perhatian yang Engkau berikan. Alangkah bahagianya saat-saat menyadari keberadaan terakhir kami saat ini.

Suara yang datang tadi, adalah suara dari sekeping hati. Ya, sekeping hati yang menyapa ku. Sekeping hati yang hadir sudah beberapa lama, ternyata. Mungkin ia sempat menyimak percakapan yang terjadi antara aku dengan langit. Namun, ia memilih untuk terdiam lebih lama, hingga akhirnya aku pun kembali menarik wajah ini lebih dekat. Agar ia tidak lagi menengadah ke langit. Agar, ia segera mau menatap bumi. Memperhatikan sekeliling, adalah pilihan yang akhirnya aku putuskan. Aku pun memandangi sekitaran.

Sejenak ku terpesona dengan apa yang sedang ku pandang. Tepat di sisi ku, sedang berdiri sesosok wajah yang sangat asing bagi ku. Wajah itu tersenyum tanpa suara. Karena suara yang ia sampaikan hanya beberapa kata saja, dan itu sudah berlalu.

“Assalamu’alaikum….,” begini bunyi kalimat yang beliau sampaikan.  Ucapan salam yang baru aku sadari, beberapa detik kemudian. Bahwa beliau sedang menyampaikan doa terhadap ku. Doa untuk keselamatanku. Doa untuk senyuman ku.

“Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh,” jawab ku pelan. Seraya mengedarkan pandangan ke seluruh wajahnya yang rupawan. Beliau bukan perempuan. Dan aku telah berani  memandang wajah beliau. Beliau yang entah siapa?? Aku belum mengenal jelas, siapakah nama dari pemilik wajah nan teduh itu.

Namun, aku mempunyai satu alasan, mengapa aku memilih untuk memperhatikan beliau. Karena satu hal saja. Ya, karena sepatah kalimat yang beliau sampaikan padaku. Sedangkan kalimat tersebut, jelas-jelas tertuju padaku. Karena dalam yakin ku, memang tiada siapa pun di sekeliling, selain kami.

Tidak lama kami saling berpandangan. Karena aku menyadari keadaan. Beliau pun begitu. Memilih untuk berpaling ke arah yang lain. Sedangkan apa yang ada di dalam pikiran beliau saat itu, aku tidak tahu. Karena aku pun kembali sibuk dengan aktivitas ku semula. Memandang awan, dan langit yang kelabu.

Beberapa lama, kami saling asyik dengan aktivitas masing-masing. Entah apa yang beliau lakukan di sana, di ujung dan lebih jauh dariku. Aku tidak dapat melihat dengan jelas. Sampai akhirnya, aku merasakan aliran sejuk membasahi lembaran pipi ku. Hujan.

Hujan telah turun, rupanya. Sedangkan sesosok rupawan yang tadi ada di dekatku, sudah tiada lagi. Ke manakah beliau melangkah? Aku bertanya pada sekeliling. Aku menanya rumput yang mulai basah oleh tetesan air yang semakin ramai. Aku bertanya pada tanah yang mulai basah. Aku bertanya pada sang bayu yang bertiup dengan santai. Aku bertanya dan bertanya lagi, ternyata tiada yang tahu, ke mana sosok rupawan berpindah arah. Aku pun menyadari, bahwa aku telah lama berdiri di bawah hujan. Kini, seluruh raga ku telah basah oleh tetesan air yang mengalir. Aku kedinginan.

Karena sibuk bertanya ke sana ke mari, aku sampai melupakan diriku sendiri. Akibat mempertanyakan kepergian seorang yang belum pernah aku kenali, aku menjadi seperti ini. Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang aku alami. Apakah aku telah sebegitu penasaran dengan sosok tadi? Siapakah beliau yang sesungguhnya?

Tidak ada tanda-tanda yang aku kenali dari sosok rupawan, selain selembar senyuman yang sampai saat ini masih ku ingat. Senyuman lepas yang beliau sampaikan padaku, sempat aku tangkap. Lalu, ku selipkan ia pada beberapa detik waktu yang telah berlalu. Senyuman yang kembali akan mengingatkan ku pada sosok tersebut, ketika kelak kami mempunyai kesempatan untuk berjumpa lagi. Entah kapan? Entah di mana? Namun yang pasti, aku mempunyai alasan untuk mengembangkan senyuman pada hati ini, saat ini. Karena aku teringat pada satu wajah baru dalam kehidupan ku. Wajah yang tersenyum pada ku.

***

Lama-lama, aku pun memahami dengan apa yang aku alami. Ternyata aku telah sekian waktu dalam ruang yang menenggelamkan ku di alam mimpi. Aku merasa bercakap dengan langit kelabu, namun ternyata tidak demikian adanya. Aku merasa berjumpa sesosok wajah yang tersenyum, ternyata juga tidak nyata. Akhirnya, aku pun memilih mendekat lebih dekat lagi ke bumi. Agar aku benar-benar merasakan di manakah aku sedang berada saat ini. Ya, aku masih ada di bumi. So, aku perlu lebih mendekat lagi dengannya. Bukan untuk tidak lagi mau memandang langit, bukan pula untuk tidak mau larut dalam mimpi-mimpi. Namun, agar sejenak aku  kembali pada awal kehadiran diri. Pun, agar aku teringat pada akhir perjalanan ini.

Aku tidak mau berlama-lama dalam kehidupan yang membawa ku untuk terus-terusan menatap langit, sedangkan aku tidak menyadari di mana aku sedang berada saat ini. Makanya, pada suatu kesempatan, bersama beberapa orang sahabat baik, kami melakukan perjalanan pagi. Baru beberapa hari yang lalu, kegiatan ini berlangsung. Bersama Siti dan Sha-Sha. Kami berjalan-jalan.

Lari-larian di tanah yang becek penuh lumpur, tidur di lantai berdebu dan kotor pun kami lakukan. Beratapkan langit yang berwarna biru, so sweet kesannya, Subhanallah, cantik sekali…. Saat memandang kondisi langit yang membiru pada saat itu, aku pun membandingkan dengan langit yang aku pandang sore ini. Berbeda, ya tidak sama. Antara langit mendung dengan langit yang membiru, sungguh tidak sama.

Ada kelembutan yang langit biru sampaikan pada kami yang sedang memandangnya. Ada kesemrawutan yang langit kelabu tampakkan pada kami yang menatapnya pula. So, dapat kita membedakan antara kedua tampilan tersebut, teman. Bahwa selembar wajah yang sedang tersenyum, dapat kita ibaratkan dengan langit biru dan cerah dan lembut tampilan nya. Sedangkan selembar wajah yang tanpa senyuman, bagaikan langit mendung dan kelabu, berat dan kelam. Ai! Aku belajar dari keadaan alam, setiap saat. Setiap kali aku menatap langit, aku berbisik di dalam hati, “Bagaimana engkau menatap wajah ku hari ini, wahai langit?”

“Apakah wajah ku berseri-seri penuh dengan senyuman yang menebar dengan lepas nya? Ataukah pada wajah ku ada tampilan yang sebaliknya?,” bertanya lagi dan lagi aku bertanya pada langit. Tanya yang jawabannya ingin aku peroleh segera, darinya. Karena aku yakin, bahwa langit akan memberikan jawaban yang sesungguhnya.

Kalau hari ini aku melihat langit kelabu penuh kabut nan kelam? Haruskah aku larut bersamanya? Padahal, aku pernah menyaksikan langit yang berwarna biru bersama kedamaian yang ia bawa.

“A… a… aku hanya ingin belajar darimu, wahai langit,” sapa ku pada langit.

Sehingga walau bagaimanapun tampilan wajahmu pada hari ini, aku tidak ingin larut pula bersamamu. Meskipun kita berada berdekatan, untuk saat ini. Namun aku hanya ingin mengalihkan pandangan darimu, sejenak. Ya, sebentar saja, boleh ya. Agar aku tidak tergoda olehmu. Agar aku tidak terbawa suasana. Karena aku sangat mudah larut dalam lautan rasa.

Wahai langit, aku tahu engkau sedang berjuang untuk menepikan awan yang menghalangi arah tatap. Aku tahu, bahwa engkau pun tidak ingin mengalami kondisi seperti ini. Aku tahu bahwa engkau ingin lebih cerah dari waktu ke waktu. Namun, harus bagaimana lagi, ketika kumpulan awan begitu ramainya mendekati dan mengelilingi. Aku hanya dapat menatapmu dari kejauhan, seraya menanyai, “Mengapa engkau mendung hari ini?.”

***

Siapapun kita, tentu pernah mengalami apa itu duka. Siapapun kita, tentu bersua dengan apa itu luka. Duka dan luka yang terkadang mungkin kita tidak mengetahui penyebabnya? Lalu, tiba-tiba saja kita larut di dalam nuansa yang tidak kita inginkan. Kita mungkin saja sedang meneteskan air mata pada suatu ketika. Namun, nun jauh di dalam lubuk hati sesungguhnya kita sedang mengalami kondisi yang tidak sama. Ada ketenangan yang kita rasakan pada saat yang sama. Ada gejolak yang tidak lagi mendidih, namun ia telah tenang dan tak lagi gemuruh. Ya, tepat setelah air mata menetes di pipi. Begitulah kehidupan di dunia. Terkadang rasa tidak dapat kita duga.

Mungkin saja kita sedang berduka karena tidak sanggup nya rasa menampung segala yang sedang mengimpit relung jiwa. Sehingga air mata begitu ramainya mengalir di pipi. Akan tetapi, kita terus berusaha untuk membendung. Namun, tidak sanggup. Kita tidak sanggup membendung lagi. Karena ia telah mencipta air bah. Ia sudah terlanjur tumpah.

Lalu, pada kesempatan yang lainnya, kita pun mengalami nuansa yang sama. Memang waktunya tidak sama, namun rasa yang hadir mirip dengan apa yang pernah kita alami. Kita berduka lagi.

Teman, pernahkah engkau berduka? Engkau terluka? Engkau pun berteman airmata. Engkau seakan penuh dengan nestapa. Engkau begitu tersiksa, tiada yang menyangka. Bahwa airmata yang sedang mengalir dari pipimu adalah airmata bahagia, ternyata. Engkau berbahagia, karena engkau ternyata masih bisa berekspresi. Engkau bahagia, sesungguhnya. Karena apapun yang sedang engkau alami, dapat engkau wujudkan dalam tindakan nyata. Walaupun banyak orang menilai bahwa engkau sedang terluka karena engkau menangis. Namun bagimu, bukan. Bahkan sebenarnya engkau sedang tersenyum dengan megah, di relung hatimu. Karena engkau berbahagia di dalam hatimu.

Seperti halnya tampilan langit sore ini yang mendung, kelabu dan berkabut, mungkin begitu pula keadaan yang sedang engkau alami saat ini. Namun janganlah terlalu lama larut dalam keadaan yang sama, teman. Tegak dan berdiri menatap langit yang mendung itu. Lalu, sampaikan padanya, bahwa engkau tidak akan selamanya menatapnya. Hanya saat ini saja.

Esok hari kan lebih cerah. Esok adalah awal hari yang lebih megah. Esok adalah harapan bersama mentari. Dan esok adalah awal senyuman yang lebih indah. Tanamkan di dalam ingatanmu semenjak saat ini, bahwa engkau dapat tersenyum esok hari dengan lepas. Tidak tergoda oleh keadaan saat ini, yang mungkin saja tidak engkau suka. Engkau pun berkata pada langit, “Temani aku dalam menitipkan pesan pada mentari, ya.”

Sedangkan pada awan yang saat ini sedang menyelimuti langit, engkau pun menyampaikan suara, “Tolong… angkatlah dirimu esok hari, tepat setelah mentari tersenyum pada bumi, yaa.”

Kemudian engkau sibak lembaran wajahmu yang penuh dengan awan dan sendu. Engkau pun tersenyum. Senyuman yang engkau buat mekar indah nya. Dengan meratakan nya dua sampai tiga senti meter ke kiri, dan dua sampai tiga senti meter ke arah kanan, secara bersamaan. Praktiklah saat ini…

“Hai,….😀 Adakah engkau telah tersenyum, teman,” tanyaku padamu.

“Manaaa…. manaa… mana senyumannya,” pintaku lagi, menagih senyuman terindah mu.

***

Aku berada di sini saat ini, untuk mengubah cuaca hati yang semula mendung dan kelabu, menjadi cerah berseri. Aku yang berwajah penuh awan, inginkan menepis semuanya, lalu tersenyum indah sebagaimana cemerlang sinar mentari. Karena aku ingin menjadi bagian dari kebahagiaan yang engkau rasakan teman. Engkau yang sedang berbahagia?  Aku ingin belajar darimu, tentang bagaimana cara untuk menjadi demikian. Sedangkan aku, kalau sedang berbahagia. Maka aku berjuang untuk membagikan padamu, tentang apa saja yang aku lakukan hingga bahagia itu membersamai. Karena aku tidak ingin bahagia dengan diriku sendiri. Aku ingin berbahagia bersamamu, teman. Teman yang baik.

Seringkali aku menatap langit yang bermendung kelabu, dalam hari-hariku. Bahkan lebih sering lagi aku menatap langit yang berseri cerah membiru. Begitu pula dengan wajah-wajah yang aku temui di sepanjang perjalananku. Ada yang mudah tersenyum saat ku memandang. Ada yang berusaha tersenyum, dengan sepenuh perjuangan. Pun, ada pula wajah yang seakan mahhal untuk tersenyum. Ai! Padahal aku hanya inginkan belajar dari alam-Nya. So, akhirnya aku sampaikan tentang apa yang sebenarnya aku alami. Bahwa aku sangat senang memandang wajah-wajah yang penuh dengan senyuman. Tentu saja, senyuman yang mengembang dengan lepas dan ringan. Karena, senyuman yang seperti itu, lebih nyaman buat mencuci mata yang penat setelah seharian menatap. Atau, wajah yang tersenyum dengan ringan, dapat menjadi jalan bagiku untuk segera tersenyum  pula dengan lebih ringan. Sehingga, siapa pun yang sedang berada di dekatku, seakan berada di bahwa sebuah pohon yang rindang. Mereka merasakan kedamaian, ketenteraman dan kesejukan.

Semoga, ini tidak hanya berada di dalam impian ku saja. Sebagaimana yang aku alami pada awal catatan ini. Aku yang mengimpikan sesosok wajah rupawan nan penuh senyuman. Yang ternyata hanya berada dalam ingatan saja. Sedangkan dalam kenyataan, ternyata aku sedang tersenyum pada langit yang bermendung. Agar ia pun tersenyum. Agar, ia mau tersenyum hingga mentari kembali bersinar di dekatnya.

Senyuman yang seluruh alam, pasti merindui. Senyuman mentari. Kalau mentari saja mampu tersenyum, lalu bagaimana denganmu teman. Padahal engkau, aku, kita adalah sama-sama ciptaan-Nya yang ada di bumi. So, selagi kita berada di bumi, belajarlah untuk tersenyum. Meskipun untuk dapat tersenyum, kita mesti merayap terlebih dahulu. Sekalian latihan. So, ketika  nanti kita benar-benar sudah berada sangat dekat dengan tanah, kita dapat mempraktikkan senyuman yang sama. Tersenyum, karena kita bahagia menjadi jalan hadirkan senyuman bagi wajah-wajah hamba-Nya yang lain, selagi kita ada di bumi.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s