Ku rasakan detakan jantung yang meneruskan pergerakan. Ku saksikan wajah ini tersenyum saat menghayati setiap detaknya. Setiap detik. Menuju menit hingga jam-jam yang berganti, ada frekuensi berbeda yang ku rasa. Ya, berirama dengan nada-nada yang sudah disetting sedemikian rupa. Begitu juga dengan senyuman yang tercipta. Ia memekar indah, untuk membuktikan bahwa diri ini sangat bersyukur atas setiap anugerah.

Tersenyum. Hari ini aku kembali hadir untuk menitipkan senyuman, di sini. Senyuman yang sebelumnya telah ku coba rangkai dengan telaten. Senyuman yang tercipta tentu ada sebabnya. Untuk memprasastikan kisah perjalanan diri. Inilah salah satu alasan. Ketika engkau bertanya, “Mengapa aku datang lagi? Mengapa sering-sering mampir di sini? Kayak ga punya kerjaan aja. Hahaa.”

Namun aku menjawabnya dengan senyuman. Senyuman yang ingin terus-terusan aku tebarkan. Senyuman hari ini yang dapat menjadi jalan tersenyumku lebih indah lagi pada keesokan hari. Karena dengan merangkai bunga senyuman seperti ini, aku merasa lebih baik dari hari ke hari. Setidaknya, aku menjadi tahu tentang apa yang telah aku usahai. Aku mengerti mengapa aku menjadi begini dan mengapa tidak begitu? Mengapa hari ini aku masih di sini, bukan di sana? Padahal sudah banyak teman-teman yang melakukan ini dan itu, sedangkan aku masih begini dan begini saja.
K.

Ku tidak akan membantah atau menyalahkan persepsi yang orang lain sampaikan tentang aku. Karena aku sepenuhnya adalah bagian dari mereka semua. Karena tanpa mereka, aku bukan siapa-siapa. Aku menyadari penuh akan hal ini.

Berbalik arah untuk kembali ke ujung jalan saat mula melangkah, tentu tidak mungkin. Walau aku tahu bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Dan aku percaya. Namun, untuk kembali ke masa lalu yang jelas-jelas sudah menjadi bagian dari kisah perjalanan, mana mungkiinnnn? Aku teguh bersama jalan yang saat ini sedang ku tempuh. Tentu saja dengan tidak melupakan ujung jalan awal mula ku melangkah. Walau ia jauh nun di ujung sana dan memang tidak dapat lagi ku tatap jelas. Namun aku yakin bahwa jalan itu masih ada. Jalan yang membentang indah untuk menyampaikan sesiapa saja yang inginkan berada pada tempat ku berada kini, pula.

Silakan engkau menyibak dedaunan yang berjatuhan di jalan-jalan masa laluku, agar engkau dapat menemukan satu dua jejakku. Walaupun ternyata ia telah hilang tanpa bekas tersapu angin atau tertutup debu, yakinlah bahwa aroma keringatku masih tersisa untuk memberimu pertanda, bahwa aku masih ada. Karena di bawah terik matahari aku pernah berada. Aku tertimpa panas sinarnya. Sedangkan saat itu aku sedang meneruskan perjalanan. So, apa yang dapat ku upaya? Kalau bukan terus berjalan? Kalau tidak demikian, aku tak yakin sampai di sini hari ini.

Sudah sejauh apakah aku melangkah?
Ada di negeri manakah aku saat ini?
Sudah berapa lamakah aku meneruskan perjalanan ini?

Sesungguhnya bukan jauh jarak yang ku tempuh yang menjadi bukti bahwa aku masih melangkah. Bukan pula lama perjalanan yang menjadi penentu siapa aku. Bukan pula di mana aku berada saat ini yang menentukan nilaiku. Namun adalah kebersamaan kita yang masih terjaga hingga saat ini, membuatku tersenyum lebih indah. Senyuman yang aku persembahkan buatmu, menjadi bagian dari kisah perjalananku. Senyuman khas yang aku rangkai dengan rajin.

Senyuman ini ada hingga akhir masa. Dan aku titip kembang bunga senyuman yang ku rangkai hari ini, yaa. Boleh engkau bawa pulang untuk menghiasi taman hatimu. Atau engkau genggam sementara sebelum engkau simpan di vas sebagai penghias meja belajarmu. So, setiap kali engkau mengingat perangkainya. maka engkaupun tersenyum. Dan yakinlah, pada saat yang sama, akupun sedang tersenyum. Semakin banyak yang tersenyum dengan beraneka jenisnya, tentu beraneka pula senyuman yang aku ekspresikan. Wah…?!.

🙂🙂🙂

Engkau yang awalnya satu. kini tak lagi begitu. Ada yang senantiasa bersamamu dalam melangkah. Buka mata, lalu melihatlah. Optimalkan fungsi telinga, lalu mendengarlah. Raba hati, lalu rasakanlah apa yang sesama rasakan. Indera penciuman, ada pada hidungmu. Pedulilah pada lingkungan. Ada kulit yang membentang luas pada dirimu, itulah alam.
Renungkanlah…”

~ Marya Sy ~

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s