Erat dan Akrab hingga ke Kawah

Erat dan Akrab hingga ke Kawah

Berpelukaannn

Berpelukaannn

Terima kasih buat jalan-jalan yang menjadi sarana sampaikanku pada tujuan, buat Bapak Supir yang sudah membangunkanku dari lelap saat perjalanan ketika beliau melalui jalanan berbatu. Then buat Sha Sha sang fotografer serta Nirama yang bawa kamera. Trus Dina yang mendampingi.

~Rajinlah bertanya ketika kita menempuh wilayah baru~ (Pesan dalam melanjutkan perjalanan)

***

Tertidur lama ku di ranah impian. Berbaring lelah ku menanti kenyataan. Tak ingin terus berselimutkan angan-angan. Hanya memperpanjang daftar perencanaan? Aih! Bukankah hari ini adalah kenyataan yang sesungguhnya? Jalanilah teman, dengan penuh keikhlasan. Insya Allah, mimpi kan jadi kenyataan. Harapan tak sekadar ada dalam ingatan. Yuuks kita bersenyuman sejenak, sebelum memulai langkah di awal hari ini. Mulakan dengan niat yang baik dan penuh ketulusan. Lalu rangkailah detik waktu yang akan kita jalani dengan benang kesabaran. Rajutlah cita hingga menghasilkan sulaman paling mahal harganya, apabila kita menawarkan pada calon pembeli. Yah! Yakinlah bahwa saat melakukan penyulaman, kita sedang merajut karya terbaik. Bahkan belum ada seorangpun yang berpikiran sebagaimana yang kita lakukan.

Jelajahilah ruang-ruang ingatanmu. Lalu selipkanlah sekata dua kata di antaranya. Kata-kata yang telah lama engkau rangkai itu, akan engkau baca kembali dalam suatu kesempatan. Kemudian. Ya, mungkin saja beberapa detik kemudian. Atau, selang bertahun-tahun lamanya, bisa juga. Namun teruslah merangkainya dalam ingatan, sekalipun engkau belum menemukan secarik kertas untuk engkau tulisi. Ataukah? Lembaran daun yang akan jatuh masih melekat pada ranting dan dahannya.

Selagi masih ada kesempatan, beraikanlah ingatanmu. Ingatan yang akan membawamu ke pucuk-pucuk hijau cita dan impian. Sungguh bahagia rasanya, yaa… Saat impian menjadi kenyataan.

Aku baru merayakan perasaan yang serupa, beberapa hari yang telah berjatuhan. Dan daun pengalaman telah aku tulisi dengan tinta emas bertabur senyuman. Intinya adalah aku sulit mengungkapkan dengan kata-kata, bagaimana cara untuk meluahkan segala rasa ketika itu. Hanya mampu ku menatap takjub ke sekeliling, terpesona, Memuji Sang Pencipta, AllahSubhanallah, karunia yang tak ternilai harganya dengan mata uang apapun. Bersyukurku dalam lingkungan alam yang kehijauan, sungguh membuatku menitikkan airmata kebahagiaan.

 i , er , san
i , er , san

Ada haru yang menyentuh kalbu, ada syukur yang menyelimuti sudut-sudut kesadaranku. Untuk berlama-lama memandang view yang hijau membentang, aku suka. Oleh karena itu, aku ingin membawa sebagiannya untuk menjadi kenang-kenangan. Sekaligus sebagai buah tangan dari perjalanan.

Kebun teh, adalah tema perjalanan. Berada di antara dedaunan yang sedang meluncurkan daun-daunnya, merupakan salah satu impian hatiku semenjak dulu. Yah. Jauh-jauh hari, aku telah menghayalkan berada di tengahnya. Seraya berpelukan, kami pun saling bersenyuman. Lalu masing-masing menceritai bagaimana kabar yang kami bawa. Bagaimana kabar keluarga, dan sahabat-sahabat yang menemani kami dalam perjalanan menuju pertemuan ini.

Ingin ku sampaikan padanya tentang impian yang terpendam cukup lama. Ingin pula ku tetesi ia dengan airmata keharuan. Agar ia merasakan kesegaran. Namun aku tidak mampu mengalirkan airmata. Hanya ada senyuman. Tersenyum dan tersenyum lagi, ini yang aku lakukan. Sekalipun banyak orang mempertanyakan ekspresiku yang penuh kegembiraan.

“Mengapaaa? Padahal ketemu sama kebun teh doang, udah segitu bahagianya,” begini bahasa yang aku baca dari raut wajah yang penuh tanda tanya.

Namun aku, terus tersenyum. Karena ada kelegaan yang segera berhamburan, lalu menempel sudah pada lembaran daun yang apabila ku sentuh, sejuk kesannya.

Tiga Sahabat
Tiga Sahabat

Ajalku mungkin akan datang sekejap lagi, begitu pula denganmu. Tidak ada yang mengetahui walau sedetik menjelang ia benar-benar datang. Oleh karena itu, aktivitas apapun yang membuat engkau merasakan kelegaan saat menjalaninya, hayatilah. Karena ia tidak akan pernah terulang lagi. Dan kebahagiaan yang menerpa hampir seluruh poriku, terjadi karena aku pernah membayangkan (baru bayangan) akan nuansa yang sama. Sudah lebih dari tujuh tahun lamanya, teman…

Impian masa remajaku, ada satu dari beribu. Remaja yang berasal dari keluarga nan sahaja. Keluarga yang menyayangiku bahkan lebih dari bayanganku. Ayah Bunda yang memperhatikanku dengan penuh kasih. Membuatku bertumbuh menjadi remaja yang sangat jarang mau menjauh dari beliau. Termasuk untuk acara jalan-jalan bareng teman-teman. Aku pasti ga mau… Karena mengingat kondisi keluarga yang pas-pasan ketika itu. Aku akan berpikir beberapa kali untuk merealisasikan inginku. Aku menahannya agar tak rubuh memberai airmata. Aku menepikannya di sudut hati terdalam. Biarlah aku tidak ikut jalan-jalan, asalkan aku dapat membantu orangtua. Inilah salah satu prinsipku. Prinsip yang tak tergoyahkan oleh apapun itu. Termasuk oleh ajakan teman-teman untuk berkunjung ke kebun teh. Kebun teh yang berlokasi agak jauh dari tempat tinggal kami. Sekitar tahun 2000, ketika itu. Saat aku masih menempuh pendidikan di jenjang pendidikan menengah. Aku ga ikut ke kebun teh, padahal aslinya pengen. So, keingetan dech… terus-terusan sampai benar-benar menjadi kenyataan. Dan puncak ingatan tersebut merembesi bagian dalam kepalaku, kemarin siang. Ada kesejukan yang mengalir… Mengalir… Lalu mengalir lagi ke muara ingatan akan kisah perjalanan dalam mewujudkannya.

Aku hanya dapat membayangkan keceriaan teman-teman yang sedang berlarian di antara daun-daun teh yang mungil. Aku mengimpikan sedang berada di sana, dalam ingatan.

“Nanaanaaaa…,” bersenandungku dari hari ke hari setiap kali ingatan hadir. Dan kemarin lusa, aku benar-benar tertawa karena mengingati semua. Ah, impian masa remaja yang baru mewujud setelah aku dewasa. Ya, kini aku telah dewasa. Hahaa…😀 namun tetap saja ingin berfoto di kebun teh… Aku merengkuhnya bak sahabat lama tak jumpa. Aku menyapanya dengan penuh tanda tanya. Apakah ia baik-baik saja? Walaupun kami belum pernah sedekat itu sebelumnya, aku merasa kami adalah sahabat lama yang sedang bereuni. Ai. Suburnyaaa… Engkau yang ku damba, kini di depan mata. Tersenyum pula.

Ingatan demi ingatan mendewasakanku. Pengalaman demi pengalaman membuatku bertumbuh. Pengetahuan demi pengetahuan membuatku terus membutuhkannya. Sehingga aku terus-terusan haus akan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Salah satunya adalah pengalaman berada di antara dedaunan teh yang sejuk dan beraroma mendamaikan.

Tidak ku tolak tawaran dari kedua orangtua untuk menempuh pendidikan ke tempat yang jauh. Ku sambut kesempatan dengan tangan terbuka. Lalu, ku genggam erat di dalam jiwa. Ku sapa hari demi hari dengan pikiran positif. Ku rangkai ingatan demi ingatan dengan menuliskannya. Ya, setiapkali aku ingat akan impian masa remaja yang belum menjadi kenyataan, maka aku merangkai catatan. Seingatku, sudah lebih dari tiga kali aku merangkai catatan yang temanya adalah tentang impian ke kebun teh. Dalam catatan demi catatan tersebut, ku selipkan beberapa buah senyuman. Agar ia mengembang seluruhnya di pucuk-pucuk teh. Agar teh pun berbunga-bunga. Btw, ternyata teh memang ga ada bunganya kahh?

Masih ku bertanya dan ku kaitkan pertanyaan di tangkai-tangkai daunnya. Pertanyaan yang ku titip pada jejak-jejak kakiku. Jejak-jejak yang membekas di balik rerumputan yang tumbuh di sekitar batangnya. Semoga pertanyaan tersebut tak hilang tersapu angin. Atau hanyut terbawa aliran air yang merengkuhnya.

Hanya beberapa menit saja di kebun teh, setelah itu kami akan melanjutkan perjalanan lagi. Perjalanan yang belum usai, perlu kami teruskan. Lalu, transit sejenalk di Kawah Putih untuk menjemput prasasti yang telah menanti semenjak lama untuk kami bawa pulang.

Zzzzzeeeenangggnyaa, saat kami memboyongnya, ringan sungguh bak kapas. Bersama hati yang plong, penuh kelegaan ku susuri hari ini bersama ingatan akan impian yang lainnya. Semoga ketika ia mewujud, dapat pula menetas di sini, yaa. Untuk meramaikan sangkar ingatan. Ingatan yang dapat membawa kita, engkau dan aku untuk terus berusaha melebarkan sayap senyuman dalam proses mewujudkan impian. Kepakkanlah ia dengan lambaian yang sempurna.

Agar keseimbangan senantiasa menyertai kita, yaa.

🙂🙂🙂

Alhamdulillaahirabbil'aalamiin

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin

Syahdu dalam Jiwa untuk pertemuan berikutnya

Syahdu dalam Jiwa untuk pertemuan berikutnya

Engkau yang awalnya satu. kini tak lagi begitu. Ada yang senantiasa bersamamu dalam melangkah. Buka mata, lalu melihatlah. Optimalkan fungsi telinga, lalu mendengarlah. Raba hati, lalu rasakanlah apa yang sesama rasakan. Indera penciuman, ada pada hidungmu. Pedulilah pada lingkungan. Ada kulit yang membentang luas pada dirimu, itulah alam.
Renungkanlah…”

~ Marya Sy ~

Bersiap Pulang

Bersiap Pulang

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s