Bag and Accessories

Bag and Accessories

Sudah menjadi tradisi di negeri kita tercinta, Indonesia. Khususnya. Bahwa pulang kampung saat hari raya tiba merupakan aktivitas paling penting. Ini berlaku hampir bagi semua orang. Baik yang berprofesi sebagai siswa yang sedang bertempat tinggal jauh dari kota kelahiran, para pekerja, buruh, karyawan, dan sebagainya.

Sebagaimana hari raya Idul Fitri yang berlangsung setahun sekali, begitu pula dengan hari raya Idul Adha. Tradisi mudik saat hari raya Idul Fitri pun terulang lagi. Tepatnya adalah hari ini, mudik pun berjalan sebagaimana biasanya. Ya, satu hari menjelang hari raya.

Bagi mereka yang berdomisili di kota kelahiran, tentu tidak perlu pulang kampung, bukan? Sedangkan yang bertempat tinggal di kota yang berbeda, memang perlu mudik. Tujuannya adalah untuk merayakan hari yang penuh kebahagiaan bersama keluarga, sanak saudara dan handai taulan. Ya, sekaligus sebagai salah satu ajang kangen-kangenan dengan beliau-beliau yang tersayang. Maklum, sudah lama belum lagi berjumpa, semenjak keberangkatan ke kota yang berbeda.

Hari raya tahun ini, akan segera hadir. Esok hari, tepatnya. Lalu, bagaimana denganmu, teman? Apakah engkau pun merayakannya bersama keluarga besar di kampung halaman, kota kelahiran? Ataukah ada pilihan yang lainnya?

Adikku yang saat ini tinggal di kota berbeda, Pekan Baru. Beliau telah melakukan perjalanan mudik semenjak tadi malam. Seperti biasa, memang begitu. Karena jarak tempuh antara Pekan Baru – Solok memang tidak satu dua jam saja. Namun membutuhkan waktu lebih dari lima jam, pastinya. Itu terjadi karena menggunakan alat transportasi darat, bermobil ria. Dan kini, aku sedang membayangkan perjalanan yang sedang adikku tempuh. Ngebayangin bahwa yang saat ini sedang ada di samping beliau adalah aku. So, ketika beliau sampai di rumah, akupun menyertai dalam bayangan.

Rindu. Haru. Inilah diantara ekspresi yang aku alami saat ini. Ya, karena dalam kenyataan, aku tidak melakukan tradisi mudik alias pulang kampung tahun ini. Aku yang sedang bertempat tinggal di kota lain, memilih untuk tidak mudik. Walaupun tegar, tetap saja ku merindukan pertemuan kami. Teringat kebersamaan saat berkumpul dengan seluruh anggota keluarga, itu yang membuatku ingin segera terbang ke kampung halaman. Berangkat dengan leluasa, untuk mengurai kerinduan yang mensuarakan diri bersahut-sahutan. Namun kini hanya ada dalam impian. Yah! Begitulah teman.

Lama rasanya belum lagi bersapa dalam bincang tentang hari raya. Dan saat ini kesempatan itu tiba. Lalu, apakah yang terpikirkan olehmu teman, tentang rangkaian kata bernama Idul Adha?

Apakah engkau membayangkan beberapa ekor hewan kurban yang sedang mempersiapkan diri untuk menemui detik-detik terakhir kehidupannya? Apakah engkau membayangkan pertemuan dengan anggota keluarga? Ataukah engkau telah menjelajahkan pikiran hingga ke sebuah negeri nun jauh di sana? Ya, negeri impian yang seluruh muslim/ah ingin berada di sana untuk beribadah. Apakah yang sedang engkau renungkan, teman?

Aku, engkau, semoga telah merangkai cita untuk dapat sampai di sana, pula yaa. Di negeri para anbiya’ tempat bertemunya muslim/ah dari seluruh dunia. Untuk lebih dekat dengan ka’bah. Agar lebih dekat dengan Allah. Aamiin…

Airmatamu mungkin saja tumpah meluah dan membanjir saat masih berada di negeri sendiri. Namun yang lebih berkesan lagi adalah saat tetesan itu masih sanggup mengalir walau di negeri yang berbeda. Saat ini mungkin saja engkau jauh dari keluarga dan belum lagi dapat kumpul bersama. Lalu, terbayangkankah olehmu bagaimana ekspresi yang memancar dari balik wajah-wajah keluarga yang mengalami hal yang sama?

So, selagi masih ada kesempatan jumpa, tinggalkanlah kesan terbaik buat beliau semua yang saat ini ada dekat denganmu. Karena boleh jadi kesempatan tersebut tidak akan terjadi lagi. Wallaahu a’lam bish shawab.

Semoga jarak yang membentang jauh di antara kita dan keluarga, dapat mendekatkan ingatan kita terhadap beliau semua, yaa. Agar kita pun dapat menjalani hari raya dengan kesan terbaiknya. Dan yakinlah, setiap apapun yang kita jalani saat ini, di manapun dan bersama siapapun adalah yang terbaik. Terbaik dalam pandangan-Nya, karena kita mengalaminya.

So, jangan sampai menitik airmata ya, walaupun rindumu untuk bersua keluarga belum menjadi nyata. Namun bertekadlah dengan sepenuh jiwa, bahwa ia akan menjelang segera. Semoga saja. Karena kita tidak pernah tahu tentang apa yang akan kita alami, kita hadapi dan kita jalani esok ataupun lusa. Teruslah menjaga harapan terhadap-Nya. Harapan untuk mempertemukan kita dengan beliau keluarga kita. Untuk menyatukan kita lagi dalam sebaik-baik suasana.

Yakinlah, innallaaha ma’ana. IA selalu ada bersama kita, kapanpun kita mengingati-Nya. So, selamat hari raya yaa. Walau pun jauh dari keluarga, namun hari raya Idul Adha kita perlu tetap bermakna. Kalau kita menjalaninya dengan bahagia.

Yang sabar, yaaaccc…

🙂🙂🙂

Engkau yang awalnya satu. kini tak lagi begitu. Ada yang senantiasa bersamamu dalam melangkah. Buka mata, lalu melihatlah. Optimalkan fungsi telinga, lalu mendengarlah. Raba hati, lalu rasakanlah apa yang sesama rasakan. Indera penciuman, ada pada hidungmu. Pedulilah pada lingkungan. Ada kulit yang membentang luas pada dirimu, itulah alam.
Renungkanlah…”

~ Marya Sy ~

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s