Sunrise

Sunrise

Pagi ini, aku berangkat lebih awal. Tidak seperti biasanya, memang. Karena aku ingin menemukan pengalaman baru. Pun, aku ingin memperoleh inspirasi dari suasana pagi yang Ibunda pernah bilang bahwa pagi adalah pintu gerbang aliran rezeki. So, bagi siapa saja yang ingin memperoleh berkah dan mengumpulkan banyak hikmah dalam hari-hari, rajinlah bangun pagi. Lalu, bertebaranlah di muka bumi. Untuk membuktikan, bahwa ternyata benar apa yang Ibunda sampaikan. Beliau berpesan karena beliau memang mengalaminya. Oleh karena itu, pesan beliau sungguh berisi.

Berjalanlah aku ke arah yang tidak biasanya. Ya, opposite the way. Biasanya aku menuju arah barat, kini ke timur ku menghadap. Lalu, aku pun melanjutkan langkah-langkah ini. Langkah yang ringan dan penuh dengan kedamaian.

Aku hanya ingin membuka rentangan tangan. Aku tak mau mendekapnya. Walaupun suasana alam sungguh membuatnya ingin berangkulan, berlama-lama. So, intinya adalah kedinginan. Yes! Like that, teman.

Awal melangkah, aku bergumam pelan, dengan membaca “Bismillaahirrahmaanirrahiim…” agar ingatan pada-Nya membuat langkah-langkah ini tetap terjaga, hanya di jalan yang Allah ridhai, aamiin ya Rabbal’aalamiin. Ku tangkupkan kedua telapak tangan pada wajahku yang dingin. Karena ia masih mengalami aura semula, kedinginan.

Dingin yang mampu ‘merontokkan’ persendian, memang acap kali aku alami. Terlebih lagi akhir-akhir ini. Saat musim berganti dengan malam. Oh, iya. Itu kalau malam ataupun sore menjelang senja. Sedangkan pagi harinya, pesona alam sungguh berbeda, ternyata. Tidak seperti yang aku pikirkan baru saja.

So, dengan memulai perjalanan lebih awal pada hari ini, aku sungguh sangat bersyukur. Syukur yang merembes hingga ke lembaran ini. Syukur yang ku ingin agar ia abadi. Makanya, ku merangkainya dalam sebuah catatan pagi. Pagi yang benar-benar mampu mengangkat kita ke tempat-tempat tertinggi. Pagi yang dapat menjadi jalan sampaikan kita pada siang yang berseri. Ya, bersama pagi yang masih damai ini, aku ingin berbagi tentang apa yang aku alami saat ini.

Dalam perjalanan, setelah keluar dari gerbang, tentunya. Ketika aku mengangkat arah tatap ini, dari ketundukannya menyapa bumi, aku terpesona. Subhanallah, indah sekaliiii… Aku tertakjuubb! Aku ingin segera memeluknya erat. Aku ingin lebih dekat dan mendekat lagi dengannya. Aku ingin berada lebih dekat dengannya.

Ku kedipkan mata sekali saja, ku tutup sekali juga. Lalu ku membukanya lagi. Aku membuka mata lebih lebar, lalu ku kucek ia perlahan. Aku seakan berada di alam mimpi atas semua ini.

“Ataukah mimpi kita sudah menjadi kenyataan?,” tanyaku pada sekeping hati yang kini tersenyum sumringah. Ia mensenyumiku atas tanya yang aku sampaikan padanya. Hanya senyuman yang ia sampaikan. Lalu, ke mana suaranya yang selama ini menjawab tanyaku?

“Kemana perginya suaramu, teman?,” tanyaku mengalir sekali lagi. Tanya yang berbeda. Dan aku yakin, ia mendengarkan. Namun, masih belum ada jawaban.

Aku pun tersenyum padanya, memahaminya. Karena tidak dengan paksaan, kita dapat mendengarkan suara hati. Hanya dengan kesabaran dan pengertian, kita memperoleh suara terindahnya.

***

Ai.

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin… Ingin ku terus menatap sorotan mata itu. Mata yang terang, berisi banyak harapan. Mata yang membuatku mengedipkan dua bola mata ini saat bertemu tatap dengannya. Mata yang membuatku segera mencari-cari sinarnya ketika ia tiada. Mata yang mungkin aku sudah sangat mencintainya. Namun bisa jadi sudah terlewat cintaku padanya. Hingga saat ini, aku hanya ingin menjaganya tetap damai saat menyampaikan bakti.

“Teruslah bersinar wahai mentariku. Bersama sinarmu yang meneduhkan alam ketika tertutup awan hari-hari. Bersama cemerlangnya akhlakmu yang mampu menjadi jalan sampaikan pesan dari-Nya pada seluruh alam. Bahwa engkau ada memang untuk itu. Untuk menjadi jalan kebaikan,” lalu aku melebarkan tangan-tangan ini. Merentangkan keduanya hingga membentuk sudut seratus delapan puluh derajat.

Kemudian, aku mensenyuminya. Senyuman yang aku yakin, dapat menjadi jalan tersenyumnya pula. Lalu aku kembali terkagum-kagum untuk kesekian kalinya. Karena akhirnya “Mentari pun Tersenyum.”

Di bawah ini bukan pictureku. Namun, ekspresi seperti ini membuatku mengalami nuansa yang pernah ku tahu. Dejavu.

Bro! Rentangkan tanganmu, hingga akhirnya kita kembali bersua. Lalu mari kita berpelukaaannn. Then tolong sampaikan titipan senyuman ini buat Ayah, Bunda dan keluarga yaach. I miss you so much. I miss them very much.

🙂🙂🙂

Rentangan tanganmu

Rentangan tanganmu

Engkau yang awalnya satu. kini tak lagi begitu. Ada yang senantiasa bersamamu dalam melangkah. Buka mata, lalu melihatlah. Optimalkan fungsi telinga, lalu mendengarlah. Raba hati, lalu rasakanlah apa yang sesama rasakan. Indera penciuman, ada pada hidungmu. Pedulilah pada lingkungan. Ada kulit yang membentang luas pada dirimu, itulah alam.
Renungkanlah…”

~ Marya Sy ~

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s