Aku senang memperhatikan. Memperhatikan apa saja. Termasuk memperhatikan seorang temanku. Teman yang kini menjadi sahabat baikku. Siapakah dia dan dirinya?

Terkadang aku bertanya sendiri, mengapa temanku terlihat menjalani hidupnya lebih mudah. Ia berjalan dengan lenggangan tangan yang mengayun lepas. Tak sekalipun terlihat ia mengeluh tanda tak berdaya menjalani kehidupan. Apalagi menyalahkan keadaan.

Tidak!

Bahkan, terlihat ia sangat menghayati kehidupannya yang begitu berharga. Saat belajar ia tekun. Ketika berlatih penuh ketelitian. Dalam praktik pun seringkali berhasil. Ia sukses dalam mengalahkan keadaan. Sehingga, saat kenaikan kelas memperoleh nilai yang membahagiakan. Ia bahkan tak terlihat memamerkan hasil kerja kerasnya. Ia adalah pelajar yang cerdas.

Dalam keberhasilannya, ia bantu teman-teman yang membutuhkan bimbingan. Karena ia memang mempunyai kelebihan. Ia mengajari teman dengan penuh kerelaan. Tak sekalipun terlihat kerutan pada keningnya yang landai. Hanya senyuman yang ia pamerkan.

Dalam berbagai kesempatan, terlihat ia melakukan perenungan. Sepertinya sedang berpikir mendalam. Terkadang terlihat ia menyampaikan ekspresi yang lain dari biasanya. Karena ia memperoleh pencerahan.

“Yes!,” teriaknya dengan diri sendiri.

Kemudian mengambil langkah pertama untuk ia jejakkan. Ia pun berjalan. Ia melangkah terus menerus sebelum sampai pada tujuan yang ia harapkan. Meskipun terlihat lelah saat melangkah, ia tak pernah berputar arah. Malah mencari jalan alternatif yang dapat ia tempuh. Karena ia yakin, selama jalan masih membentang, tidak akan bertemu dengan ujungnya. Oleh karena itu, ia teruskan berjalan. Untuk membangkitkan lagi energinya yang mulai menyusut, ia ingat dengan tujuan. Tujuan yang telah ia sangkutkan lebih awal. Tujuan yang membuatnya kembali tersenyum saat bertemu dengan rintangan. Ia sahabatku kini.

Tak sekalipun ia tak menyemangatiku lagi. Setiapkali aku menolehkan pandang ke arahnya saat kelelahan. Ia mengedipkan satu matanya, seakan mengingatkanku dengan pesan tersiratnya, “Hayuu kita lanjutkan perjuangan!”

Walau suaranya tak pernah kedengaran, namun aku berusaha memahami ekspresi yang ia tampilkan. Meskipun wujudnya tidak kelihatan, namun aku yakin ia ada.

Seringkali ku lihat ia terdiam. Terdiam dalam perenungan, rupanya. Setelah aku memperhatikan matanya yang tak henti berkedip. Sedangkan senyumnya tetap mengembang. Ia sedang merangkai harapan yang sempat berjatuhan. Agar dapat ia bawa selalu. Dengan keadaan utuh hingga akhir perjalanannya.

🙂🙂🙂

Engkau yang awalnya satu. kini tak lagi begitu. Ada yang senantiasa bersamamu dalam melangkah. Buka mata, lalu melihatlah. Optimalkan fungsi telinga, lalu mendengarlah. Raba hati, lalu rasakanlah apa yang sesama rasakan. Indera penciuman, ada pada hidungmu. Pedulilah pada lingkungan. Ada kulit yang membentang luas pada dirimu, itulah alam.
Renungkanlah…”

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s