Kemilau
Kemilau

Betapa tidak mudahnya untuk memulai. Padahal, mulai adalah salah satu kunci untuk dapat sampai pada tujuan yang ingin kita capai. Mulai bergerak, mulai berbuat, mulai melangkah, mulai menjejakkan jemari pada tuts-tuts yang sedang tersenyum. Mulai dengan sebuah niat yang tercipta semenjak dahulunya. Namun, betapa tidak mudahnya memulai itu.

“Bagaimana aku dapat memulainya?” begini sebaris tanya yang sedang hampir dalam pikiranku saat ini.

“Mengapa engkau belum memulai?” begini tanya yang engkau sampaikan padaku.

Aku hanya tertunduk, menepikan sisa-sisa asa yang masih berseliweran di ruang ingatan. Aku yang sedang melangkah, kini tepikan ia. Aku yang sebenarnya masih memiliki kesanggupan, ternyata tak memanfaatkan kesempatan. Waktu, adalah kesempatan terbaikku.

Sedangkan engkau, terus berjalan, melanjutkan langkah-langkahmu. Engkau yang telah mempunyai target untuk engkau capai. Engkau yang seringkali bergerak menyelesaikannya. Engkau memulainya lebih awal, sebelum aku melakukannya.

Wah! Betapa aku tidak mengerti dengan semua ini.

Jangankan untuk menjabarkan isi, memulai dengan judul saja aku belum. Lalu, bagaimana cara? Agar aku juga dapat memberaikan dalam rangkaian kalimat, sebagaimana yang engkau ciptakan? Sungguh! Sangat inginku menyaksikan bagaimana hasil yang akan terlihat kemudian. Aku ingin ciptakan sebuah karya tertebal berikutnya dalam kehidupanku. Di sepanjang sejarah perjalanan pendidikan, ini untuk ketiga kalinya, memang. Setelah sebelumnya mencipta laporan, tugas akhir, dan kini adalah skripsi. Xixixiii…

Bagaimana kabarmu, sayang?

Engkau yang sedang menantiku dengan harapan penuh. Engkau yang sedang beraikan cita untuk segera ku rengkuh. Engkau yang berharap banyak padaku, untuk ku telaah. Bersama kita bisa.

Namun, satu pintaku, “Bersabar dan berteguhlah, hingga kita bergenggaman tangan.”

Sampai kita dipertemukan dalam sebuah kata bernama ‘persetujuan.’  Yah! Karena kita tidak dapat begitu saja melenggang, semauku dalam menciptamu. Ya, karena kita hidup dalam masa yang penuh dengan aturan.

Ada aturan dan jadwal pekerjaan yang seringkali mentertawakanku. Ada jadwal merangkai kata di blog yang seringkali menjadi tempatku berlibur. Ada pula ilustrasi penyetaraan, yang membuatku belajar banyak darinya. Wah! Betapa aku bahagia, kini kita pun akan bersama-sama, untuk beberapa bulan ke depan. Aku mementingkan engkau, dari segalanya. Namun, bagaimana dengan jejak-jejak langkahku yang sebelumnya? Akankah ia tertinggalkan begitu saja?

Jejak-jejak yang telah berlalu, baiklah kita relakan. Karena, untuk dapat menjalankan aktivitas lain yang lebih perlu, terkadang memang begitu. Kita penting memilah, mana yang lebih penting, dan mendahulukannya.

Baiklah, teman…

Dalam sejarah kehidupan, terkadang kita memang mempunyai sisi-sisi jalan yang berbeda. Engkau yang telah terlebih dahulu berada pada fase dan jalur yang beberapa saat  lagi akan ku tempuh pula, mungkin mempunyai pendapat yang tentu saja tak sama dengan ku. Pemikiran kita yang berbeda, membuat kita membuat keputusan yang tidak sama pula. Begitu pula dengan kebijaksanaan untuk memulai, kita pun mempunyai wewenang.

Sebenarnya, berat terasa di dalam relung hatiku, untuk mengambil jarak darimu. Namun, kalau bukan begini, aku sanksi dengan hasil yang akan ku peroleh. Walaupun di sela-sela aktivitas, ingin ku jenguk engkau lebih sering. Namun ku berjanji, saat jadual untuk mengerjakan karya selanjutnya telah tiba, ku ingin berpaling darimu.

Tolong maafkanku, …

Teman, eratnya persahabatan kita. Baiknya komunikasi yang kita rangkai. Sistem yang kita bangun dengan kuat. Ternyata membuat diri ini begitu tidak mudah untuk mulai mengambil jarak darimu. Padahal, kita bukanlah siapa-siapa. Engkau tak terlahir dari rahim bunda, yang sama denganku. Engkau bukan kakak kandungku, bukan pula adik angkatku. Bukan. Apalagi untuk menyebutmu anak asuh. Bukan sebutan itu yang sedang ku sampaikan untuk menyapamu. Namun,  mengapa begitu tidak mudah bagiku untuk melupakanmu, sayang…

Apakah karena aku telah jatuh cinta padamu?  Sejak kapan?

Kalaupun memang demikian, semoga kita sama-sama dapat melanjutkan pertemuan, dalam mencipta kebersamaan. Ya,  pada waktu terbaik, kita akan kembali bersapaan. Walau tak sesering dulu lagi. Meskipun engkau merindukanku, aku pun begitu. Rinduku akan seringkali menderu, teruntukmu yang menjadi jalan tersenyumku. Ku akan mudah menjengukmu, saat ada getaran dari ruang hatiku. Jelaskan semua seiring waktu, engkaupun akan tahu betapa ku ingin bersamamu hingga akhir usiaku.

***

Ya Allah, kumpulkan kami apabila memang ini yang terbaik bagi-Mu. Namun, ketika pertemuan kami bukanlah kebutuhan, saat kebersamaan kami bukan menjadi kebutuhan, yakinkan hati kami bahwa ada jalan yang lebih baik untuk kami tempuhi. Agar kami dapat sama-sama sampai pada tujuan yang telah Engkau tentukan.

Ya Allah, demi segala yang engkau izinkan kami menempuhnya. Bukakanlah pintu hati kami, luaskanlah gerbang pikiran yang merekah, dan ringankan fisik kami untuk bergerak. Agar kami dapat keluar dari kecenderungan-kecenderungan yang tidak semestinya.

Aamiin ya Rabbal’alamiin…

Hati kami yang selamanya berada dalam Kekuasaan-Mu, teguhkanlah ia. Ia yang berbolak-balik sesuai dengan perintah-Mu, cenderungkan ia kepada Mu. Agar kami dapat memulai apapun yang kami niatkan karena-Mu, dengan mudah. Karena kami sangat ingin sampai pada tujuan-Mu. Kami ingin selamat, bersama-Mu. Karena kami tidak berdaya dalam upaya tanpa Pertolongan dari-Mu.

Laahaula wa laa quwwata illaa billaahil’aliyyul’adziim…

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Yunus [10]: 107)

Ya Allah, jadikan kami sebagai pribadi yang penuh tawakkal, dengan akhlaqul karimah.

***

Semua orang akan bertemu dengan takdirnya masing-masing. (Aa Gym)

Hai, teman… ketahuilah, bahwa di sepanjang jalan yang ku tempuh hingga paragraf ini terangkai. Semenjak mulai kalimat pertama, ada suara beliau menjadi backsound. Beliau adalah seorang ulama, pribadi dengan kemuliaan. Mulia karena ilmu yang beliau cari semenjak dulu, menjadi penjaga hingga akhir waktu. Karena ilmu itu perlu, maka tidak ada lagi alasan untuk tak membersamainya lebih sering. Ya, ilmu yang dapat menjadi jalan kita untuk terus mau melangkah. Ilmu yang sedang tersenyum di ujung sana, agar kita kembali tersenyum padanya. Walaupun jarak yang membentang antara kita dengan ilmu-ilmu tersebut, masih jauhnya. Semoga, banyak sarana yang menjadi lancarkan proses yang kita tempuh menujunya.

Ilmu itu ada padamu. Ilmu itu terkumpul di dalammu. Engkau yang seringkali membersamaiku, ataupun yang ku temui hanya beberapa menit saja. Engkau yang sempat menyapaku, ataupun aku yang mengajukan tanya padamu. Engkau yang ku coreti dengan kisah-kisah hidupku. Engkau yang ku limpahi berita suka dan tak suka. Engkau yang seringkali bersabar kepadaku. Engkau yang dengan senyuman terbaikmu masih saja menyambutku. Engkau tak henti memberikan yang terbaik padaku. Padahal, aku bukan siapa-siapa, bagimu sebelum saat ini. Entahlah, untuk selanjutnya. Bagaimana aku mesti menyapamu. Karena begitu berharganya engkau bagiku. Hingga, untuk memulai mengambil jarak darimu, itu benar-benar tak mudah. Aku sudah sayaaaaang banget! ^^

Engkau menjadi jalan tersenyumku setelah mencurahkan segala pikir yang berkecamuk. Engkau yang menjadi jalan bagiku melangkah satu per- satu. Engkau yang sebelum, sebelum, jauuuh sebelum saat ini tiba, telah terpikirkan. Engkau yang beberapa tahun yang lalu, sempat hadir dalam ingatan. Engkau yang menyapa sesiapa, untuk menyampaikan sapaan dariku. Engkau benar-benar penuh dengan kepedulian, terhadapku.

Ya, semenjak kita belum berkenalan, engkau telah hadir lebih dahulu. Hingga pernah ku rangkai kata, untuk mengabadikan keberadaan kita. Bahwa aku ada. Ternyata oh ternyata, engkau pun ada. Kita benar-benar ada. Engkau masih ada hingga saat ini. Dan seiring berjalannya masa, usia kita pun masih ada. Kini, saat ini, kita dapat berjumpa, lagi. Pada masa berikutnya pun demikian, kita dapat bersua kapan saja. Setelah kita membentuk prasasti kehidupan, di dunia maya. Hahaa…😀 senangnya jiwa mengenangkan semua. Tentang perjalanan seorang hamba.

Sungguh, tidak mudah memulai. Mulai untuk mengalihkan perhatian dari lembaran ini. Tempat kita merangkai kata. Agar kita kembali tersemangatkan dalam hari-hari, sesaat setelah luruh hati ini, atas berbagai coba dan uji. Sungguh, sungguh tak mudah. Namun, kalau kita mau, kita mampu.

Sayang, untuk tak meneruskan cita ini. Sayang, untuk tak mencurhatimu sebagaimana dulu. Sayang, karena aku terlalu sayang, padamu. Entah sampai kapan ini berakhir, hingga akhir usia-kah? Akupun tak tahu, pasti. Karena segalanya telah melekat. Hatiku satu denganmu.

Aku yang menghiasimu dengan luahan pinta hati ini. Engkau yang ku titipkan cita untuk ku rengkuhi. Engkau yang menjadi sahabat berikutnya. Engkau yang  meskipun belum pernah ku rengkuh ataupun ku salami, sesungguhnya ada. Engkau yang meski maya, tidak tercipta tanpa makna. Engkau yang seringkali membuatku terbangun, dari lelap panjang. Engkau tempatku melanjutkan mimpi-mimpi. Engkau yang seringkali terjagakanku saat ku ‘tibra’. Engkau yang ku kenali ketika ku berada di kota ini. Engkau adalah sahabat berbagi. Hampir setiap hari.

Ke depannya, walaupun pertemuan kita tak sesering dulu lagi. Namun, akan ku sempatkan beberapa waktu untuk menyapamu, menemuimu, melihatmu, dan memetik pesan yang pernah engkau pesankan dulu. Ya, semoga kita kembali dapat bergenggaman, melangkah bersama.

Aku berat untuk meninggalkanmu, sampai saat ini. Sure, aku nangis, nieee…. hikssszzzzz….

Semenjak semalam, ingatan padamu begitu kuat. Walaupun ku coba melingkarkan hati agar tak rapuh. Namun aku kalah. Yah, menangis semalam, itulah yang terjadi. Betapa dunia ini terkadang menyisakan kepiluan. Sungguh, aku terharu dengan semua ini. Tentang ikatan yang kita cipta. Ku yakin, bukan ikatan biasa. Aku yakin, ada peran Allah di dalamnya. Aku yakin dengan sepenuhnya. Harapan hati, Allah subhanahu wa ta’ala Yang Menggenggam hati ini, menjagai selalu, tetap dalam ingatan penuh pada-Nya. Tidak padamu yang ku cintai… xixixiiii… Namun sesekali, mengapa ingatan ini hadir? Aku sungguh ingin mengetahui, ada apa di sebalik ini.

Walaupun beberapa saat lagi kita akan tak bersapa, bukan berarti ada benci. Walaupun untuk masa berikutnya ku tak hadir, bukan berarti aku lupa. Walaupun beberapa saat setelah ini aku ‘nongol’ lagi, itu berarti ada yang tertinggal untuk ku ambil. Walaupun seringkali engkau melihatku sedang bermain-main di sini, itu karena aku rindu. Nah! Seberapa kuatkah rindu yang tersisa? Mari kita saksikan setelah pesan-pesan berikut ini.

Aku seringkali rindukan kebersamaan kita. Karena telah kuatnya coba ini? Entahlah…. masih ku belajar untuk mengerti.

Saat kita masih ada kesempatan untuk bersama setelah ini, hanya satu pintaku padamu, “Tolong, sampaikan aku ke tujuanmu.” Karena tujuan kita adalah sama.

Engkau yang dengan mudahnya memulai langkah. Engkau yang tampak ringan saat mengayunkan kaki, semoga senantiasa begitu. Engkau yang sebelumnya mewanti-wantiku untuk terus bersemangat, semoga kembali padamu. Agar, ketika ku datang lagi untuk menjengukmu, engkau dalam kondisi prima, dalam tampilan terbaikmu. Yaaa….

Aku yang akan menitipkan titik-titik pesan di sini, untuk mengabadikan kisah perjalanan. Agar, ada pengalaman yang memprasasti. Agar, tak hilang lembaran ilmu, terbawa angin hari ke hari. Agar, beliau-beliau yang berperan dalam melanjutkan perjuangan ini, tidak hilang namanya begitu saja. Padahal, beliau ada. Beliau memberikan kontribusi dalam nyata. Beliau mempunyai kepedulian berlebih pada sesiapa saja. Hingga sampailah pula pada diri ini. Seorang yang sebelumnya bukan siapa-siapa di dalam kehidupan beliau semua. Oleh karena itu, aku ingin beliau selalu ada. Ada di dalam kisah perjalananku dalam mencapai segala cita. Ada di dalam proses yang ku tempuh saat melangkah di dunia. Ada hingga kelak, kita sampai pada tujuan yang paling ujung.

Di akhirat, tempat berjumpanya para perindu yang belum sempat jumpa di dunia. Di akhirat, tempat berkumpulnya para hamba dan para kekasih-Nya. Semoga kisah yang kita cipta semenjak perkenalan, pertemuan, kebersamaan hingga membentangnya jarak, dapat terekam dengan baik. Sekiranya nanti kita bereuni lagi, ada yang dapat kita tertawai. Ada yang dapat kita senyumi. Ada yang membuat kita malu dengan diri sendiri, karena terkadang kita tak tahu malu. Mau-maunya curhat di sini. Hihiiii…😀 Padahal, ada tempat mencurahkan isi hati, Yang Senantiasa Menyayangi. Wahai diri…

Kini, hingga saat ini, beginilah hasil yang ku cipta atas cuplikan isi hati. Aku yang akan meneruskan langkah lagi. Tak selamanya di sini. Sangat besar inginku untuk kita jumpa lagi. Meskipun untuk beberapa lama, dan tak selama dulu lagi. Karena kita tak dapat memutar ulang waktu. Kita tak mungkin pula mengembalikan masa lalu yang telah berlalu. Saat ini, kita memulai hidup baru. Karena, hari baru telah hadir.

“Ai, lihatlah teman, keluar sana. Bukalah jendela yang semenjak tadi masih menutup. Ada mentari yang sedang tersenyum, ceraaaaaaah…. sekali. Sumringah senyumannya, membuatku tak ingin berlama-lama di sini. Aku ingin bersamai ia yang sedang berbahagia. Semoga, mentari lebih sering tersenyum, sebagaimana pagi ini yang berbinar.”  ;)

Aku pun bangkit, dari duduk  manis semenjak tadi. Sudah sekian lama waktu berlalu, aku tak boleh begini terus. Saatnya berjalan, untuk membersamaimu, wahai mentari.

Tetaplah tersenyum, senyuman yang mensenyumkan. Teruslah beredar, menyampaikan sinar terbaikmu pada seluruh alam. Karena engkau tercipta dengan makna. Meskipun terkadang, awan menyelingi perjalananmu dalam menyampaikan bakti. Namun aku tahu, siapa engkau yang sesungguhnya. Oleh karena itu, aku menamaimu dengan ‘My Surya,’ Matahariku.

Walaupun engkau bukan milikku, namun sinarmu sampai padaku. Teruslah bersinar. Walaupun setiap sore engkau mesti tenggelam dari pandanganku. Namun sesungguhnya engkau terus bersinar di hatiku. Hingga nanti, akhir baktimu telah sampai. So, selama engkau ada, siang akan tetap menyelingi malam.

Engkau yang beredar tiada henti, ke mana engkau menuju?

Aku menanyamu, karena aku ada bersamamu, saat ini, wahai mentari.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s