Seuntai Jalinan Kata

This slideshow requires JavaScript.

Biru. Di antara dedaunan yang menepi, bergeser kian kemari  ada selembar hati yang menanyai, “Kemana engkau hendak pergi?”

Putih. Ketika ia sedang menari-nari di ujung tatap ini, secuplik kisah sedang merangkai dengan mudahnya, bersama gerakan jemari yang terus bergerak. Ia sedang berupaya untuk melanjutkan langkah perjuangan. Hingga akhirnya sampai pula ke mari. Tak perlu menanyai, buat apa semua ini.

Hijau. Kuning. Kelabu. Merah dan hitam, turut menunjukkan diri. Mereka sedang unjuk gigi. Ai! Gigi-gigi yang sedang mereka pertunjukkan berbaris dengan rapi. Lucu sekali. Membuat bibir ini segera bergumam, menyentuhkan jemari ke hadapan hidung, memandang dengan sepenuh hati. Indahnya warna-warni yang sedang berteman.

Seuntai jalinan kata, ia sedang berusaha menciptanya. Hingga membentuk kalimat yang mensenyumi. Berapa lamakah lagi semua ini berlangsung? Tak perlu menanyai ataukah bertanya-tanya tentang apa  yang sedang terjadi, saksikan saja.

Sekumpulan harapan, sedang ia bersamai. Semenjak semula hadir dalam pikirannya yang terus berkelana, para harapan ingin segera memberikan bukti, bahwa ia ada. Bukan hanya sebaris kalimat yang terangkai dan kita dapat membacanya. Tidak, bukan seperti itu. Karena harapan adalah sebuah kenyataan yang akan menjejak dunia, ketika kita yakin dapat menjadikannya ada. Ya, usaha menjadi jalan senyumkan sang harapan yang telah ada.

Butiran cahaya sedang menumpah, membasahinya. Ia kuyup oleh guyuran keluarga warna yang bertaburan segera. Warna yang menyisakan kilau kemilau, karena seluruhnya telah menyatu menjadi satu. Siluet yang tidak lagi dapat dinamai dengan warna apakah ia? Tiada lagi warna yang terlihat, semua telah menyatu, mengikat diri dalam sebuah sinar yang menaut. Sungguh cemerlang seperti itu yang sedang ia perjuangkan. Sinar yang hadir atas kumpulan beraneka warna. Warna-warna yang saling memberikan bukti, bahwa ia ada. Tidak ada yang berlebihan, karena semua memberikan kontribusi sesuai dengan perannya. Sama rata, sama rasa, bersama.

Meski mempunyai warna yang berbeda, namun mereka terus bersama. Karena mereka menyadari arti penting kehadirannya bagi yang lain. Mereka ada untuk mencapai tujuan yang telah mereka tetapkan semenjak semula. Mereka adalah keluarga warna yang saling sapa dan menyapa. Untuk mengembalikan ingatan dan memberikan perhatian. Bersama mereka bisa!

Ketika kita memperhatikan tampilannya, maka kita akan segera membuka mata lebih lebar lagi. Lebih fokus, penuh konsentrasi dan memberikan tatapan terbaik. Sekejap saja, tidak ingin kita berkedip darinya. Karena keindahan yang ia pertunjukkan, sungguh mampu memukau pandangan sesiapa saja yang sempat melirik padanya. Pelangi itu, sedang menampilkan wujudnya, teman… Sungguh indah! Subhanallah…

Terpaan sinar mentari pagi yang menghinggapi tetesan air yang sedang memercik, ciptakan pelangi. Adalah pemandangan yang membuat bibir ini tidak henti berucap syukur, atas apa yang baru saja terlihat. Tepat di depan mata yang sedang menatap, ada tayangan sesaat! 😀 Ai! Sungguh, ingin selalu ku mengingat. Jepret! Jepret! Yes! Banyak anak-anak pula di sekitaran. Mereka begitu asyik dengan pemandangan yang serupa. Teriakan-teriakan yang hadir dari suara-suara itu, meramaikan pelangi dan sekitarnya, segera. Enjoy time, so sweet memories of me.

Warna, ia hadir bukan untuk dimengerti, namun ia ada untuk memengerti. Karena, ia menyadari akan peran yang ia bawa saat ini. Peran yang sedang ia pakai, untuk ia tebarkan ke sekeliling. Agar ketika ada yang memperhatikannya, maka sang warna pun unjuk gigi. Begitu ia tampil sendiri, warna terlihat sangat mencolok. Ia akan menjadi objek yang mendapat perhatian penuh. Namun, ketika lebih dari satu warna sedang tampil bersamaan, maka tiada lagi yang memperlihatkan kepentingannya masing-masing. Semua ada untuk memberikan bukti, bahwa dengan bersama, mereka mampu melakukan yang terbaik. Ya, lebih tepatnya, mereka dapat memberikan citra positif pada dunia yang sedang membersamainya. Mereka mengerti keadaan. Mereka ada untuk menghiasi alam. Mereka ada untuk memberikan keindahan tersendiri pada tatapan mata yang sedang melayangkan pandangan padanya. Seindah pelangi hari ini, berserinya hari menjadi lebih nyata. Tidak hanya untuk waktu yang telah berlalu saja. Namun hari ini juga demikian. Ketika pelangi memunculkan siapa ia yang sesungguhnya, maka kita pun terkagum, sungguh memesona tampilannya. Menyenangkan hati saat memandang, meneduhkan pikir saat menatap.

Cerah mentari begitu menyengat, padahal belum terlalu siang, teman. Namun, sengatan sinar mentari yang membuat bibir-bibir ia mendadak pucat, tidak lagi kentara. Karena ada seberkas sinarnya yang mengenai titik-titik air yang memancar. Pertemuan panas sinar mentari dan semburat air yang memancar, dengan jarak yang tertata, memberi kita sebait makna. Makna yang mengingatkan kita pada alam-Nya yang indah ini. Alam yang menyediakan segala rupa view  yang berbeda dari waktu ke waktu. Inilah negeri kita. Negeri yang penuh dengan pesan-pesan dan kenangan.

Ketika saat ini kita mengalami suatu kondisi yang sungguh di luar dugaan, maka percayalah. Ada makna penting yang sedang ia titipkan. Lalu, maukah kita bergiat-giat menemukan makna terpenting dari berbagai keadaan, teman? Karena percayalah, tiada yang terjadi dengan sia-sia. Semua pasti ada hikmahnya untuk kita. Hanya memerlukan waktu untuk menumbuhkan hadirnya pemahaman terbaik kita, padanya. Agar kita dapat memetik pelajaran dari waktu ke waktu.

Sungguh! Setelah siang, ada malam. Begitu pula dengan malam, tidak selamanya. Temaram yang pernah kita saksikan atas berbagai keadaan yang tidak kita sangka-sangka, pada suatu masa menjadikan kita mengangguk, paham. Lalu, berkata, “Oh, ternyata maksudnya ini, th…” Atau, kita segera menyulap ruang pikir dengan beraneka kalimat yang mengandung pesan. Akhirnya kita menyadari. Setelah beberapa lama terlelap dalam buaian pikir yang kita ciptakan sendiri.

Sungguh! Semua demi kebaikan kita. Kebaikan yang mungkin saja kita belum mampu merangkumnya dalam ruang hari ini. Semoga sesaat setelah kita memikir ulang, kita dapat menemukan pencerahan. Agar, tidak berlarut-larut kita dalam buaian dan terpaan aneka warna rasa yang menyapa. Semoga kita menjadi lebih mudah tersadar, dari waktu ke waktu. Agar kita senantiasa dalam kondisi terjaga. Terjaga dari berbagai hal yang tidak kita inginkan. Terpelihara dari beraneka kondisi yang semestinya tidak menyapa kita. Semoga, beraneka harap dan asa yang pernah kita bangun, dapat menjadi kenyataan, yaa. Semoga segera.

***

Hari ini, semenjak pagi tadi langit bermendung kelabu. Kelabu adalah sebuah warna yang tercipta atas perpaduan putih dan hitam yang menyatu. Kelabu adalah kumpulan dari dua warna yang menghasilkan makna tersendiri bagi kita yang sedang menatapnya. Kelabu bermakna sendu, syahdu, haru dan pilu. Ai! Memang demikiankah yang engkau alami saat ini, wahai alam yang kelabu?

Tanpa mentari bersinar hari ini, alam menjadi terlihat kuyu. Meredup meski tidak gulita. Kuyu, meskipun tidak menggigil. Ya, karena hujan belum turun. Hanya sebentuk mendung yang menggelayut langit. Pemandangan ini berlangsung semenjak pagi, hingga beberapa menit yang lalu. Namun, apa hendak dikata, ketika saya sedang asyik menjejakkan jemari pada tuts-tuts yang menyenandungkan irama ini, tetesan permata dari langit, mencurah segera.

“Aaaaaaaaaa…, Alhamdulillah…,” lari-lari, berlangsung sukses. 😀 Jemuran banyak sangat di depan. Sedangkan para rintik gerimis menyerbu seketika. Mereka ramai sekali. Banyak dan bukan lagi gerimis namanya. Ya, tiada gerimis saat ini. Adanya malah air yang menetes gede-gede dan mengucur sangat deras. Walhasil, beberapa diantaranya sempat berjatuhan pada tangan, dan jemariku yang sedang meraih pakaian. Dengan tanpa payung, seluruh pakaian yang sedari tadi berada di jemuran pun berpindah ke tempat yang teduh. Yupz! Bersama Echi, kami berjuang! Akhirnya basah-basahan. But, I like this moment.  😀

Dalam nuansa hujan begini, tiada pelanginya, teman. Karena, hanya ada air yang menetes ke bumi. Sedangkan mentari tiada bersinar pada waktu yang bersamaan.

***

Pelangi, ia hadir ketika gerimis datang bersamaan dengan sinar mentari yang menerpa alam. Pelangi hadir saat suasana alam tidak begitu menyengat karena teriknya mentari, pun bukan pula karena begitu sejuknya alam oleh tetesan air hujan yang berdatangan. Namun, pelangi hadir ketika keduanya, antara hujan dan mentari memberikan porsi yang seimbang pada alam.

Pelangi hadir, saat suasana alam penuh dengan kedamaian. Ketika benderang sinar mentari datang beriringan dengan tetesan air yang jatuh ke bumi. Selama berada di kota ini, dapat dihitung, berapa kali saya menyaksikan indahnya pelangi. Hanya beberapa kali, yaa, beberapa kali saja.

Pelangi itu indah yaa….

Namun demikian, ada seuntai jalinan kata yang segera tercipta, saat kehadirannya ada di depan mata. Tepat, di hadapan. Inilah pelangi kehidupan yang paling berkesan. Pelangi yang menunjukkan dirinya, beberapa hari yang lalu, Jum’at.

Di depan, tidak jauh dari monumen, pada rentang waktu antara pukul sembilan hingga pukul sepuluh pagi menjelang siang, saya dengan seorang teman bernama Kaito, memanfaatkan kesempatan untuk bertemu. Yah, karena sudah lama kiranya, kami belum lagi berjumpa semenjak terpisah oleh jarak. Padahal, kami adalah teman yang selama ini seringkali menjalani waktu bersama. Namun kini, aktivitas kami sudah berbeda. Meskipun masih berada di kota yang sama, kesempatan untuk bersua tidaklah sebebas dulu lagi. Ya, entah mengapa. Padahal, tidak perlu menggunakan banyak waktu, maka kami dapat saling bersapa. Kemudian merangkai janji untuk pertemuan. Setelah itu, jumpa dech

Nah! Pada tanggal dua puluh tiga Maret,  pertemuan tercipta. Ada kisah yang kami bagi bersama, saat berjumpa. Kisah yang masih menggantung di antara kita. Kisah yang perlu kita ceritai pada yang lainnya. Kisah tentang kehidupan dan perjalanan yang sedang kita tempuhi hingga saat ini. Termasuk kisah tentang masa depan yang sedang melambai-lambaikan telapaknya untuk kami rengkuhi. Wahai masa depan yang indah, ingin kami membersamaimu. Seindah pelangi yang sedang menunjukkan tampilannya yang memesona. Bahkan lebih semarak dari suara-suara para sahabat kecil yang begitu ceria menyaksikannya. Ada saatnya kita menatap keindahan. Maka ketika moment terindah itu ada di hadapan, mengabadikannya adalah pilihan.

Warna biru yang bening, sedang menyelimuti langit pada waktu pagi menjelang siang, hari itu. Sebelum mentari benar-benar meninggi, kami telah sampai di sebuah taman yang membentang. Lurus dan jauh, mata ini memandang. Dari ujung ke ujung, kita akan menemukan pemandangan yang berbeda. Ketika kita sedang berada di bagian dalam taman,  lalu menoleh ke kiri, maka kita dapat menepikan arah pandang pada puncak gedung sate yang berdiri megah. Jauh nun di ujung sana, ada sebentuh titik yang sedang berusaha menjangkau langit. Terlihat memang begitu, dari kejauhan.

Lalu, ketika kita melayangkan pandangan ke posisi yang sebaliknya, maka telah siap sedia pula sebuah pemandangan yang rupawan. Seekor burung bertubuh kekar, sedang membentangkan sayapnya. Ia mau terbang, namun lengket pada monumen yang sedang berdiri kokoh. Wahai burung, semenjak kapan engkau berdiam di sana? Panas terik yang menimpamu, engkau sabar saja, yaa. Begitulah salah satu wujud pengabdianmu. Engkau bisa, Yes!

Sedangkan lokasi yang merupakan tempat hadirnya pelangi, berada di antara kedua objek yang baru saja saya urai, sekilas. Ya, diantara keduanya terdapat sebuah kolam beserta airmancurnya. Nah! Pada waktu itu, air mancur lagi beraksi. Ia menyala. Padahal, dalam waktu-waktu yang sebelum ini, saya sangat jarang menyaksikan semburat air mancur tersebut. Inilah hari keberuntungan. Hari yang tak terduga. Hari yang akhirnya menyisakan kenangan. Kenangan tentang pelangi yang menunjukkan tampilanya. Ketika me-ji-ku-hi-bi-ni-u unjuk gigi dengan senang hati, di hadapan kami.

Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu adalah tujuh warna pelangi. Ya, pelangi yang indah itu, terdiri dari tujuh warna.  Warna-warninya tersusun dengan sangat rapi. Warna yang saling berdekatan, seakan menyatu dengan yang lainnya. Hingga akhirnya, warna-warna yang membentuk lengkungan itu, dinamakan dengan pelangi. Mengapa namanya pelangi, ya?

Pelangi…

Tampilanmu yang jelita, membuat mata ini tak henti menatapmu. Engkau ada untuk membuktikan pada alam-Nya, bahwa engkau benar-benar ada, lebih dekat. Senyuman kebahagiaan segera menerpa ruang hati, saat memandang padamu. Engkau luruhkan seberkas rasa bersama warna-warni yang membersamaimu.

Pelangi…

Meskipun jarang ku menatapmu, namun aku suka saat kau ada. Engkau yang hadir setelah hujan. Namun kini, hujan telah usai, di manakah engkau…?

“Oh, ternyata aku baru menyadari, tiada mentari saat ini, di sini,” tafakurku atas tanya yang terlanjur tercipta.

Namun, kembali ku mengenali arti hadirnya. Karena bagiku, pelangi itu sangat bermakna. Sungguh, pesan yang ia bawa menyisakan seberkas makna. Pelangi tersenyum dari alamnya. Meski tidak terlihat saat ini, namun sesungguhnya ia ada.

Pelangi…

Lain kali, ku ingin menatap warna-warni yang engkau bawa, meski tak di kota ini, lagi. Engkau perhiasan yang hadir tak sering, memang.  Namun, sekali engkau hadir, sungguh berkesan. Engkau titipkan kami seuntai pesan agar kami dapat mencipta jalinan kata bersamamu.

Pelangi…

Semestinya kami belajar dari apa yang kami saksikan dalam berbagai keadaan. Semestinya kami memperhatikan lebih sering, berbagai keadaan yang kami jalani. Termasuk tentang hadirnya hujan bersama mentari. Termasuk saat hujan tanpa mentari. Termasuk ketika mentari sedang bersinar begitu teriknya, tanpa hujan sekalipun. Ya, kami perlu belajar lebih banyak dari alam yang sedang kami saksikan. Agar kami mengerti tentang warna-warni yang ada. Karena semua warna adalah bermakna. Apalagi kalau warna tersebut hadir pada waktu yang sama, bersama-sama. Namanya pelangi kehidupan. Ya, engkaulah pelangi…

Pelangi…

Berulangkali, ku menatap langit siang ini. Ketika hujan mulai berhenti. Saat mentari perlahan menunjukkan diri. Namun engkau masih belum muncul juga. Wahai pelangi, tiba-tiba ada aura berbeda yang menyelimuti ruang hati, saat ini. Ia menanyai, “Kemanakah pelangi?”

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s