Yes
Yes

Nama lengkapnya Marya Suryani. Perempuan berdarah Minang ini lahir di Saok Laweh, Solok, Sumatera Barat pada 5 Maret 1986. Ia menghabiskan masa kecilnya di kampung halaman tercinta. Selepas menamatkan studinya di sekolah menengah kejuruan, ia pun merantau ke Ibukota Jakarta pada awal tahun 2006. Kemudian, berkesempatan melanjutkan pendidikan di Politeknik LP3I Bandung selama tiga tahun lamanya. Lalu, meneruskan pendidikan di Universitas Sangga Buana masih di kota yang sama dengan program studi Akuntansi. Dengan harapan, kehidupan yang lebih baik dapat ia dekapi. Saat ini, ia sedang menempuh proses untuk mencapainya.

Memulai karirnya dalam menulis diari semenjak mengenal arti penting kehadirannya di bumi. Apa yang terpikirkan, terasa, dan ia alami, akhirnya sampai pula ke sini. Sehingga, engkaupun berkenalan dengannya. My Surya adalah nama pena yang ia pakai.  Sedangkan Marya Sy adalah identitasnya ketika melanjutkan perjalanan di dunia maya.  Silakan menyapanya bersama senyuman, di maryas_y@yahoo.com.  Karena ia sangat suka dengan wajah yang tersenyum. Adapun diari maya pertamanya adalah “Engkaudanaku.” Sedangkan lembaran yang saat ini sedang engkau kunjungi adalah diari mayanya yang ke dua belas. Hwaaaaa…? Ia benar-benar nomaden ulung yaach. Hahaa…😀 Berikut ini adalah kemah-kemah yang pernah ia bangun. Entah bagaimana kondisinya kini. Mariiiii kita melihat sekejap:

    http://1kepinghati.wordpress.com

    http://yessemangatpagi.wordpress.com

    http://matahatisurya.wordpress.com

    http://muslimahanggun.wordpress.com

    http://chocolatebutterfly9.wordpress.com

    http://enjoyourtime.wordpress.com

    http://ekspresisyukur.wordpress.com

    http://kebuniman.wordpress.com

    http://dearmentari.wordpress.com

    http://maryasurya.wordpress.com

Untuk itulah, dalam kesempatan terbaik hari ini, ia ingin mengucapkan http://terimakasihya.wordpress.com , kepada berbagai pihak yang berpartisipasi memberikan kontribusi padanya. Untuk dapat melanjutkan langkah-langkah kecilnya yang terus menapak, ia perlu terus bergerak. Karena kalau tidak, tentu  saja ia tidak akan pernah berjumpa denganmu, teman. Ia sungguh bahagia menjalankan aktivitas yang satu ini. Ditambah lagi dengan bertemunya ia dengan para sahabat  yang berbaik hati padanya, lebih sering. Sungguh! Ia tidak mampu berbuat apa-apa lagi, kecuali mengabadikan semua itu dalam bentuk catatan-catatan yang terus ia rangkai. Dari waktu ke waktu, ia mencari-cari kesempatan agar dapat mengeksiskan diri. “Kalo engga nulis, engga eksis,” begini bunyi sebaris kalimat yang menemaninya semenjak pagi tadi. Ya, tepat setelah ia siuman dari rehat panjangnya, sang kalimat menyapa ruang pikirnya. Kemudian, mengajaknya untuk menggerakkan jemari yang segera tersenyum.

Kini, pada lembaran ini, ia ingin menyampaikan bait-bait kalimat yang berhasil ia cipta. Agar, dapat menjadi jalan baginya untuk membuktikan eksistensi. Ai! Tidak kenal waktu dan cuaca, terus saja ia mengurainya. Apakah musim hujan sedang berlangsung, ataukah musim panas berkepanjangan? Baginya, menulis adalah salah satu cara untuk menunjukkan bahwa ia ada. So, walau tetesan bening air yang jatuh ke bumi semakin ramai, ia menjadikannya sebagai musik pengiring dalam melangkahkan kaki-kaki jiwa. Sedangkan saat mentari bersinar terik dan menyengat, ia terus melangkah  di bawah pancaran sinarnya. Walaupun tetesan keringat telah membasahi sekujur tubuhnya. Ia tidak lagi peduli. Karena, ia menjadikan semua itu sebagai penyemangat agar terus menyala.

Ciiiaat..! Ia pun melompat, ketika bertemu dengan sekumpulan air yang sedang menggenang di jalanan yang sedang ia tempuh. Agar dapat menikmati perjalanan yang sedang dilaluinya, seringkali ia berlari-lari kecil untuk beberapa lama. Kemudian, melirikkan pandang ke sekeliling. Pepohonan yang rindang dan kehijauan, menjadi saksi atas apa yang sedang ia lakukan selama melangkah. Rerumputan yang bergerak pelan karena tertiup angin, merupakan pemandangan yang unik baginya.  Terkadang, ia menghentikan langkah sejenak, untuk membelai rerumputan yang melambaikan daun nan lembut itu, padanya. Mereka bersentuhan. Ia tersenyum di dalam hati.

Dalam melanjutkan langkah untuk meraih cita, seringkali ia bertemu dengan persimpangan. Persimpangan yang memberikannya kesempatan untuk langsung menentukan pilihan; lurus, berbelok ke kiri, menyimpang ke kanan? Atau ia berhenti sejenak untuk memikirkan?

Rentang waktu yang terdiri dari dua puluh empat jam dalam sehari semalam, membuatnya harus pintar memanfaatkan. Memanajemen penggunaan waktu dengan baik, perlu ia lakukan. Karena profesinya sebagai seorang diarist membuatnya perlu menyediakan sebagaian dari waktu tersebut untuk menulis. Karena dengan menulis, maka ia eksis. Ai!😀

Bukti eksistensi yang ia ciptakan dalam berbagai kesempatan terbaik, akan kembali ia baca, kapanpun ia mau. Semakin banyak catatan yang ia cipta, maka semakin banyak pula bahan bacaan yang mejeng di perpustakaan hari-harinya. So, menitipkan minimal satu catatan setiap hari, adalah impiannya kini. Impian yang tidak hanya mimpi semata. Namun, kenyataan bersegera menyampaikan bukti. Walaupun terkadang, selama beberapa hari ia belum dapat melakukannya, ia memaafkan diri sendiri. Mari, kita melakukan saat ini, bujuknya pada sahabat bernama ‘hati’ yang kemudian tersenyum.

Dalam menulis diari, ada beraneka topik yang menyelingi. Terkadang, ia menulis tentang rona bahagia yang menyinari jiwa, terkadang pula mengungkap beraneka rasa yang mendera. Karena suka-duka dalam melangkah, selamanya ada. Hanya, bagaimana cara yang ia tempuh dalam menyajikannya? Adalah sesuai dengan kondisi jiwa dan pikirnya pada waktu yang bersamaan. Seringkali ia menguntai airmata saat merangkai sebuah catatan. Karena memang begitu yang sedang ia alami. Pun, senyuman nan mengembang dengan bebasnya tidak kalah sering, menjadi hiasan dalam melangkahkan kaki-kaki jiwa yang sedang menapak lembaran catatannya.

Jemari, adalah para sahabat yang peduli. Ia adalah jalan untuk berbagi. Dengan sepuluh jemari yang terus berlari, terciptalah paragraf demi paragraf yang terdiri dari beberapa buah kalimat. Adapun kalimat-kalimat tersebut ia cipta untukmu specially, wahai sahabat yang sempat mampir ke sini. Yes, for you, specially.

Kalimat demi kalimat yang mewujud kisah, akan menceritakan padamu dengan mudah, tentang bagaimana kondisi yang ia alami.  Ketika bait-baitnya tersusun dengan indah, berarti penulisnya sedang tersenyum meriah saat mencipta. Apabila pada sebuah kalimat tersirat ada gundah, itulah yang sedang mengalir dari ruang jiwa, sebelum ia tercipta. Ya, karena segala yang ia sampaikan adalah salah satu cara baginya untuk mengetahui, apa yang telah terjadi dengannya?  So, tolong maafkan apabila ia berbuat salah, karena ia kerapkali tidak dapat menghindar dari satu kata ini. Ya, sebagai seorang insan yang hanya hamba Allah, tidak banyak yang dapat ia perbuat tanpa bimbingan dari-Nya. Oleh itulah, dengan tawakkal dan menunduk pasrah, ia kembalikan semua kepada Allah. Semoga Allah menjauhkannya dari kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja. Membuka mata hatinya untuk segera meminta maaf, saat ia menyadari bahwa memang ia salah. Padamu teman, apabila ada gurat-gurat rasa yang sebelum ini ia cipta dan sempat menerpa jiwamu, dan engkau tidak menyukainya, bersama rangkaian kalimat ini, ia sedang menitipkan permintaan untukmu teman, tolong maafkan yaa.

“Ketika kesempatan untuk berjumpa meski dalam pertautan kalimat yang tercipta masih ada, apa lagi yang dapat kita upaya, selain saling menguatkan. Apabila ada diantara kita yang mengalami lelah dalam melangkah. Semoga pertemuan yang hanya beberapa menit sekalipun, dapat kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. “

Setiap hari, dalam berbagai kesempatan ia menyampaikan satu tanya pada ruang pikir yang sedang melangkah bersamanya, “Apa yang dapat kita tulis pada catatan hari ini?.”

Pada umumnya, inti dari catatan-catatan kecil yang ia ciptakan dalam hari-hari, berasal dari hasil interaksi yang ia lakukan bersama alam. Ya, karena seringnya mereka bersama dalam menjalani waktu, menyisakan kesan, pesan maupun kenangan meski tersirat. Pesan, kesan, dan kenangan yang pada mulanya tersirat, ia menjadikannya berwujud dalam bentuk tulisan. Berkali-kali ia berlatih untuk dapat menciptakan bait-bait kalimat yang bermakna untuk mengabadikan semua itu.  Bait-bait yang apabila ia membacanya lagi pada suatu waktu, dapat menjadi jalan hadirnya senyuman di wajahnya menjadi lebih indah lagi. Meskipun pada umumnya, setiapkali ia membaca apa yang telah ia rangkai, pikiran baru segera hadir.  Y,a bertanya dan bertanya lagi atas semua yang terjadi. Mengapa semua ini terjadi? Bagaimana cara untuk menemukan solusii? Masih ada kesempatan lain yang lebih menantang. Dan aneka ekspresi senada yang sekiranya ia mau memetik hikmah, maka catatan-catatan tersebutlah yang dapat ia kembangkan untuk menciptakan catatan berikutnya.

Alur kehidupan yang ia jalani penuh dengan warna yang beraneka. Pun jalan yang ia tempuhi tidak satu jenisnya. Ada pendakian di hadapan, ada penurunan yang ia jejaki setelah mendaki, dan akan ada lagi pemandangan yang serupa setelahnya. Tidak dapat ia memungkiri semua itu akan ia tempuhi. Selama ia masih berada dalam jalan perjuangan, maka terus bergerak dan melangkahkah kaki-kaki jiwa yang memang pernah lelah, adalah pilihan. Kalau saat ia lelah, lalu ia berkata pasrah, maka ia tidak akan pernah lagi ada. Namun, setiap kali ada pilihan yang menemuinya, segera ia memberikan keputusan. Semoga, keputusan-keputusan yang ia ambil adalah yang terbaik. Terbaik bagi kebaikannya, bagi kehidupannya, bagi sejarah yang akan ia cipta, dan bagi alam di mana ia berada.

Di sepanjang perjalanan yang sedang ia tempuh seringkali ia berjumpa dengan para pejalan yang lainnya dan sedang berjalan juga. Terkadang ia yang menyapa, lain kesempatan ia menerima sapa. Begitu yang terjadi padanya. Ia menikmati setiap moment yang ada. Ia merekapnya dalam lembaran catatan yang akhirnya tercipta. Ai! Indahnya hari-hari yang ia jalani. Bersama, mereka meneruskan perjuangan. Apabila ada diantara sahabat yang ia temui ternyata mempunyai tujuan sama, maka ia pun bergerak bersama mereka. Mengikuti apa yang diteladankan padanya. Dengan senang hati ia menerima pemberian yang sampai padanya. Lalu, ia berpikir, kapan yaa, aku dapat melakukan hal yang serupa ini? Kapan pula yaa, aku dapat menjadi jalan yang mensenyumkan wajah-wajah lugu itu. Wajah-wajah yang di matanya tersimpan cita untuk ia wujudkan dalam nyata. Harapan akan masa depan yang lebih baik. Wahai, kaum papa…

Apabila ada kesan yang memesankan padanya untuk menyadari keberadaan diri setelah terlena dalam buaian waktu, maka ia segera terjaga. Teman-temannya adalah yang seringkali melakukan hal yang serupa, padanya. Teman yang ia kenali, walau jarang sekali berjumpa. Teman yang ia temui, walau beberapa kali saja. Teman yang ia bersamai, dan akhirnya mereka pun bersama untuk waktu yang lebih lama. Ya, semua kisah yang ia temui dalam perjalanan, segera ia abadikan menjadi prasasti eksistensi. Hari ini, ia ada untuk menciptakan salah satu diantaranya.

Teman yang ia temui, berasal dari berbagai kalangan. Teman yang tidak semuanya mempunyai cara melangkah yang sama dengannya. Ya, dalam hal ini mereka berbeda. Namun, ketika tujuan telah sama, maka mereka segera bergenggaman tangan, untuk meneruskan perjalanan yang berikutnya bersama senyuman. Teman-teman yang ia punyai, mengenalkan diri padanya, dengan cara mereka sendiri. Agar, ia dapat belajar tentang cara berkomunikasi. Pun agar ia bergiat-giat untuk menemukan jawaban dari barisan tanya yang akhirnya hinggap pada pikirannya.

 “Ada makna apa dari semua ini , yaa?.”

Lalu, hasil pikiran tersebut, ia rangkai dalam barisan kalimat. Dan itulah salah satu jalan yang membuatnya kembali menulis.

Mentari, adalah salah satu ciptaan Allah yang sangat ia kagumi. Dari hari ke hari, ia bersama-sama dengan mentari yang bersinar.  Mentari yang setiap pagi menampakkan diri bersama senyuman terindah, membuatnya ikut tersenyum pula.

“Untuk memberikan sambutan pada mentari yang sedang tersenyum, serta mensyukuri keberadaan diri pada hari ini, di bumi,” begini jawaban yang ia hadirkan dari bibirnya,  ketika ada yang bertanya padanya tentang arti senyuman.

Walaupun tidak setiap hari mentari bersinar cemerlang, namun ia tahu bahwa ketika siang menjelang berarti mentari ada. Sekalipun ia tidak dapat menangkap silaunya dari pagi hingga sore hari, sedikitpun. Ya, seperti hari ini, teman,… Semenjak pagi tadi, hingga saat ini, belum ada lagi cemerlang sinar mentari yang menyoroti bumi. Melainkan, rintik-rintik gerimis yang turun sangat ramai, menghiasi perjalanan yang sedang ia tempuh seharian ini. Bulirnya yang halus dan banyak itu, menebarkan kesejukan yang lebih dari biasanya. It’s very cold climate.

Mengingat perjuangan Ibunda saat melahirkannya ke dunia dengan mempertaruhkan nyawa. Diantara dua pilihan antara syahid atau hidup dengan sisa-sisa luka yang menganga, membuatnya ingin sangat membuat Ibunda bahagia. Kini, Ibunda tidak lagi muda. Ada banyak kerutan yang menghiasi wajah beliau karena dimakan usia. Ya, Ibunda yang seringkali menampilkan wajah ceria padanya, walaupun di dalam jiwa Ibunda ada sebaris luka. Namun, ia dapat menangkap pesan tersirat dari bait-bait kata yang seringkali ia dengarkan dari suara Ibunda.

“Ibunda merindukanmu, Nak…” suara yang ceria itu, membuatnya menitikkan airmata. Airmata penuh keharuan. Airmata yang seringkali ia gunakan untuk membasuh jiwanya yang menggemuruh. Agar kesejukan kembali ia rasakan.

Sebagai seorang perempuan, jiwanya mudah sekali meluruh dan kemudian luluh. Apalagi saat mengenangkan banyak kebaikan yang ia terima dari waktu ke waktu. Saat itu juga, ia akan mengurai segalanya melalui bulir-bulir yang segera tumpah. Itulah salah satu temannya dalam melangkah.

Lalu, ia pun tersenyum lagi setelah semuanya tersalurkan. Untuk melanjutkan perjalanan yang berikutnya. Agar ia tidak terlarut dalam suasana yang serupa dalam waktu lama. Bergerak, adalah salah satu jalan yang dapat mensenyumkannya. Bergerak dengan segala upaya yang mampu ia laksana. Walau jalanan yang sedang ditempuhnya tidak selalu datar, namun itulah yang meninggalkan kenangan tersendiri baginya dalam melangkah. Kelak… iapun tahu, bahwa jalan-jalan tersebut yang telah berjasa padanya. Jalan yang saat ini mungkin saja mendaki. Namun, ia tidak akan mencapai tempat yang lebih tinggi tanpa melewatinya. Ia tidak akan mencapai wilayah yang baru, tanpa berani merambah jalan yang baginya sangat asing.

Kini, ia sedang melepaskan arah pandang nun jauh ke hadapan. Ia sedang meneropong arah. Jalan mana lagi yang dapat ia tempuh dalam melanjutkan langkah untuk dapat sampai ke tujuan yang telah melambaikan tangannya, dari ujung sana?

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s