Pada suatu masa

Di bawah cahaya
Di bawah cahaya

Sudah lama tidak menatapmu.  Ketika sempat berpaling sejenak padamu.. engkau mulai berbeda.  Tubuhmu lebih tegap.  Kekar.  Dan suaramu itu, lebih berat.  Tak mampu berkelebat cepat.  Tertahan, memenuhi rongga pernapasan yang tak sempit lagi.  Hingga ia tersekat.  Tiada mampu berucap apa-apa.  Hanya menatap saja, bisanya.  Karena engkau mulai dewasa.  Engkau lebih mampu menjaga.  Semoga engkau pun terjaga yaa.

Dari dulu, semenjak awal mengenalmu, engkau tiada pernah menghilang meski sehari.  Walau pertemuan raga hanya sesekali menunjukkan parasnya.  Namun itu hanya berwujud cahaya.  Entah bagaimana rupa aslimu.  Aku tidak tahu pasti.  Namun kini, namamu senantiasa menari-nari mengelilingi ruang melodi.  Di hati.  Pure.  Semoga kelak engkau mengerti, tentang semua rasa dan hasil fikir ini.  Tentang yang saya alami kini.  Semoga kita kembali tersenyum bersama, mengenangkan semua ini.

“Oh ya…?”

Iya, itu saja kiranya cukup.  Lepas.  Bebaslah.  Meski terlalu dini, memang.  Pergilah, kemanapun engkau mau. Karena maaf telah saya berikan.  Ya.  Kata “maaf” adalah bermakna.  Kiranya cukup untuk melegakanmu kembali.  Menemanimu dalam bergerak.  Tetaplah bersamanya yaa… 🙂

Namun, bila memang engkau belum mampu untuk itu.  Yakinlah.  Selagi engkau masih memiliki kemauan yang tinggi untuk terus belajar, maka yakinlah bahwa engkau mampu.  Seperti halnya perubahan dan pertumbuhan yang telah dan sedang kita alami.  Di awali semenjak Ibunda melahirkan kita ke alam dunia hingga detik ini.  Semuanya membutuhkan proses yang panjaaaang banget.  Namun kita tidak merasakannya yaa.?  Betapa iya, baru kemarin rasanya.  Saat kita berjalan kaki pulang dan pergi dalam rangka menjemput ilmu dengan kostum yang suci dan berani itu.  Ia seakan baru saja terjadi.  Masih hari ini, dalam bayangan.  Buktinya, masih segar dalam ingatan ini, tentang suka-tidak suka yang telah menghampiri. Termasuk teriknya mentari yang menjadi saksi, kita telah melangkah sejak masa itu.  Hingga kini pun masih begitu.  Kita perlu terus menguntainya menjadi lebih baik lagi.  Yes!

Dalam relung kata-kata, mengalir suara yang tiada berdaya.  Namun ia masih bernyawa.  Bermakna.  Karena ia mampu menyatukan bahasa yang berbeda.  Bersama tanda-tanda baca.  Kalau tak?  Buat apa?

🙂 🙂 🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s