Mentaripun tersenyum (10)

Kun(l)tum

Kun(l)tum

(Suara dari kebun; still dreaming of you)

Ya, begini ini nich, efek dari banyak membaca. Dapat menimbulkan berbagai tanya di hati. Kemudian berbuah unek-unek yang memenuhi fikir ini. Hingga memenuhi seluruh ruang kehidupan. 😀 Dahsyat! Yaa.. akibat membaca itu. Terkadang ia membuat kita (saya aja kali yaa… :D) kembali berfikir lebih dalam. Lalu, pada suatu waktu menjadi tersengguk-sengguk karena pilu. Dan pada kesempatan yang lain, saya dapat pula tertawa bebas lalu tersenyum manis. Hingga ngedip-ngedipin mata saking terharunya.

Karena pernah suatu hari saya membaca beberapa bait kalimat. Begini:

Perbanyaklah membaca. Apa saja yang penting bermanfaat. Kemudian petiklah intisari dari bacaan yang baru saja kita baca dan renungkanlah… Guna menambah pengetahuanmu dalam suatu hal. Setelah membaca, terbukalah pandangan, pikiran kembali fresh dan ilmu pun bertambah. Dengan demikian, aktivitas membaca dapat menjadi jalan bagi kita untuk lebih dewasa dalam berpikir. Selain itu, membaca juga dapat membantu kita untuk memiliki kemantapan dalam mengambil tindakan. Dengan membaca, pengalaman pun bertambah, iya kan..? ~.^

Dalam mengambil suatu tindakan, janganlah asal ikut-ikutan saja. Akan tetapi, mempertimbangkan terlebih dahulu dengan hati bersama pikiran yang jernih, tentu lebih menyenangkan. Atau dapat pula minta pendapat dari orang lain. Bermusyawarahlah. Boleh jadi, sesama dapat memberikan ide-ide yang sangat berarti. Semoga kita selalu dalam bimbingan-Nya.

:=: “BUDAYAKAN MEMBACA DALAM HIDUPMU. INSYA ALLAH BERTAMBAH PENGETAHUANMU. MUDAH-MUDAHAN KEHIDUPAN YANG SEDANG ENGKAU JALANI MENJADI LEBIH MUDAH DAN PENUH DENGAN MAKNA. JANGAN TAKUT PADA SIAPAPUN MANUSIANYA. AKAN TETAPI SEGANILAH DAN HARGAILAH MEREKA. AGAR TIMBUL KEBERANIANMU. INNALLAHA MA’ANA.” :=:

Lalu, saya pun membaca barisan kalimat yang ini:

“Seorang tokoh Yahudi mengatakan “Kami tidak akan pernah takut kepada umat Islam. Karena mereka bukan umat yang membaca”. Semoga ini bisa menjadi cambuk bagi kita, untuk selalu terus semangat dalam membaca dan kemudian mengaplikasikannya.”

Aamin ya Rabbal’alamiin. 🙂

***

Sebenarnya sich… emang begitu.  Namun apa boleh buat. Kalimat-kalimat tersebut telah tersusun indah. Dan saya membacanya pula. Ini telah terjadi.  Kini kita hanya dapat tersenyum menyaksikannya.  Ya, menikmati dengan sepenuh hati atas apa yang alam-Nya sampaikan.  Lalu, kembali berupaya mengenali lebih dalam lagi.

Meski hanya dua baris kata. Namun sebagai insan sosial, kita memiliki tanggung jawab terhadapnya.  Karena yang menyampaikan ini adalah ia, saudara kita juga.  Ia adalah bagian dari sahabat kita.  Sahabat yang telah mengenalkan kita, tentang kehidupan ini.  Hingga melalui sang-sahabat tersebut, kita dapat menjalani hari ini dengan taburan cinta di hati.  Yes! Indahnya hidup ini.  Ketika kita begitu mudahnya untuk mau saling berbagi.

Saya lebih lega. Ketika selesai membacanya. Setidaknya, kelegaan yang saya alami saat ini, menjadi bukti betapa pentingnya saling mengingatkan. Bukan hanya untuk saudara-saudari kita yang sedarah saja. Namun, siapa saja ia, mesti kita perlakukan dengan sebijak-bijaknya. Ini bukan untuk mempercampuradukkan keyakinan. Namun untuk mengenali makna toleransi. Di mana ia kita tempatkan?

Ketika kita sedang membaca kalimat-kalimat yang perlu untuk dihayati, akan lebih baik kiranya yaa… ketika kita saling memahami. Hingga akhirnya, saya kembali merenungi. Inikah kehidupan? Yang realitanya membuat saya kembali berusaha dan berupaya keras untuk berfikir. Ya, kembali saya terusik dengan satu kata “toleransi”. Untuk masalah keyakinan, memang kita berbeda. Ini realita yang saya alami kini. Realita yang seperti sebuah permainan. Namun, memang itulah yang terjadi. Keinginan yang saya harapkan masih dalam mimpi. Sedangkan yang terjadi lain lagi. Dunia oh dunia. Terima kasih atas warna-warnimu, yaa….  😀

Namun demikian, sebenarnya di alam mimpi saya memiliki harapan yang jelas. Timbulnya rasa, setiap kali saya berfikir. Lalu menghadirkan sebuah tanya. Apakah mungkin, ia menjadi bagian dalam perjalanan kehidupanku ini? Dalam suasana percaya, rasa simpati terkirimkan padanya. Dan masih dalam harapan yang sama, saya bermimpi pula. Semoga benar, yaa. Ia tercipta untuk melengkapi hidupku ini. Bila saatnya telah tiba. Terkadang pula, fikir menyahut bersama tanya. Apakah ia sedang mengingatiku? Hanya ALLAH YANG MAHA MENGETAHUI. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala selalu menjaganya.

Untuk saat ini, mari, kita menjalani aktivitas kita masing-masing. Berteman do’a-do’a terbaik, agar kelak kita ‘bertemu’. Siapakah ia sebenarnya? Saya kembali bertanya. ^^ Apakah ia menyadari, ada yang memimpikannya…? Hingga akhir-akhir ini, ia dan bayangannya senantiasa menemani hari-hariku. Kepribadiannya, pandangannya yang tiada terlihat, hanya terbayangkan. Berikut suara dan tutur sapa beriringan dengan senyuman tulus. Mengagumkan sangat. Sungguh. Selain masih banyak lagi hal-hal positif yang tiada terlihat nyata. Namun memancar dari sosok beliau. Alhamdulillahirabbil’alamin, bersyukur pada-Mu YAA ALLAH. Yang telah memberi kesempatan padaku untuk memimpikan sesosok insan, hamba-MU.

Walaupun sebenarnya ia bukan tercipta untukku, tiada mengapa. Dalam yakinku masih ada harapan. Bahwa ALLAH subhanahu wa ta’ala sedang menyiapkan hamba yang terbaik-NYA. Karena ku menyadari, bahwa penentu segalanya adalah DIA. Dapat mengimpikan saja, merupakan anugerah terindah dari-NYA. Memang, hingga saat ini kita belum bertemu. Tentu saja ada berjuta-juta rasa yang muncul. Bahkan tiada dapat dihitung hanya dengan angka-angka. Namun, kelegaan dan kedamaian kembali menemani. Setiap kali adzan berkumandang syahdu. Setiap kali sang Mu’adzin menyampaikan panggilan yang bersahutan dari seluruh pelosok negeri. Lalu, kita pun memenuhi panggilan tersebut dengan segera. Kembali untuk mengingati-NYA.

Biarlah kita belum berjumpa untuk saat ini. Agar ada cerita tersendiri dalam impianku ini. Inilah jalanku. Mengambil sebagian waktu untuk mengimpikannya, dengan caraku. Sungguh! Hari-hariku menjadi lebih berarti dengan cara ini. Ya, tentu saja atas skenario-NYA. Sang Sutradara kehidupanku. ^^

“The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched. They must be felt within the heart.” (Helen Keller)

🙂 🙂 🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s