Yang selalu menyinari hari-hari kita, terangi hati-hati kita

... Mengingat Allah

... Mengingat Allah

Tiba-tiba beliau hadir menghampiriku.  Secepat kilat beliau nangkring di fikirku memenuhi  ingatanku.  Mampirnya beliau membuatnya benar-benar full.  Penuh…!! Hingga akhirnya tiada sanggup lagi ia menampung semua itu.  Apalagi untuk tetap menyimpannya berlama-lama.  Bisa gawat…!  Akibatnya, isi fikirku pun meluber keluar, merembes perlahan, menderu kuat dan teruuuuss mengalir deras.  Hingga akhirnya sampai pula ke sini alirannya, menghiasi lembar putih My Surya.


“Aku remaja baik-baik, peace… tolong jangan lagi engkau kejar-kejar daku.  Kumohon…. (memelas, menghiba dalam senyuman)”.  🙂 🙂 🙂 Namun, beliau masih belum mau mengalah untuk teruuuus mengejarku, berusaha menaklukkanku.  Aku berusaha untuk terus berlari semampu yang aku bisa, dengan kecepatan yang engkau juga pasti tahu.  Aku yang hanya dititipi dua kaki (kiri dan kanan) untuk melangkah, tentu tak mampu bergerak secepat laju mobilnya Valentino Rossi yang super kereeenn itu. Hingga akhirnya, aku terduduk lemah.  Dalam ekspresi yang sudah tidak enak lagi untuk dibaca bila dirangkai dengan kata-kata.  Ku lihat wajah beliau menjadi semakin menyeramkan saja, dengan mata yang merah menyala, bertabur cahaya.  Beliau terus memandangku dengan tatapan yang semakin tajam.  Aku merasa hampa, kelu tiada mampu berkata-kata.  Sudah terlalu banyak energiku yang terkuras habis.  Aku merasa beku, berteman fisik yang semakin lemah.  Sedangkan seluruh tulang yang biasanya tulus menopang tubuh tirus ini, terasa mulai berjatuhan satu persatu dari persendiannya.  Masing-masing berusaha merontokkan diri lebih cepat, saling mendahului.  Karena ia tiada ingin lagi bekerjasama dengan ku yang mulai sudah tidak berdaya. Hingga akhirnya akupun tidak sadarkan diri.

Setelah beberapa detik lamanya aku dalam kondisi alfa, beliau yang sejak tadi mengejar-ngejarku akhirnya berhasil menaklukkanku.  Sekilas aku sempat melihat sinar menerpa wajahku.  Tiba-tiba aku merasa beliau menjadi begitu baik padaku, tidak seperti sebelumnya.  Beliau menyapaku dengan penuh keramahan, berbingkai wajah yang penuh senyuman.  “Sebenarnya, memang sudah sekian lama kita belum lagi bersua.  Seingatku, terakhir kita bersama pada lebaran dua tahun yang lalu (belum genap).  Lalu, hingga saat ini tiada lagi silaturrahim yang terangkai, dengan tanpa alasan yang bisa dibenarkan.  Insya Allah, lebaran tahun ini ku kembali menemuimu, wahai saudaraku…” Lalu, beliau meraih jemariku, menatapku penuh kasih sayang.  Namun, yang sebernarnya aku rasakan hanya fikirku masih membara. Mendidih 100° (derajat) Celcius. Akibatnya, panas dan perih terasa meluluhkan pertahanannya. Semakin lama tiada mampu lagi aku menahannya.  Ada apa dengan hamba…?  Tiada perlu ada tanya yang kedua, karena sudah ada jawabannya:


Dzikrullah… padamkan nyala apinya
Dzikrullah… tentramkan jiwa,
Dzikrullah… cairkan rasa,
Dzikrullah… alirkan airmata,
Dzikrullah… kembalikan hamba padaNya,
Dzikrullah… ingat padaNya, Allah Tuhan kita,
Astaghfirullaahal’adziim…
Astaghfirullaahal’adziim…
Ya Rabb, kekalkan silaturrahim di antara kami, senantiasa alirkan sejuknya berukhuwah di dinding-dinding hati kami, hingga semakin indah hari-hari yang kami jalani kini, esok, hingga nanti di akhir usia kami, Aamiin ya Rabbal’alamiin.


Lalu, perlahan aku mulai kembali merasakan kedamaian, di tambah pula dengan keteduhan yang menentramkan jiwa, fisik dan fikirku.  Tubuhku sudah mulai pulih, jiwaku telah kembali bersatu dengan raganya, tulang belulang di tubuhku sudah tersusun rapi. Selanjutnya, ku berusaha menajamkan indera pendengaranku.  Awalnya masih samar-samar ku dengar beberapa patah kata, namun lama kelamaan semakin jelas ku mendengar suara beliau sampai di gendang telingaku. “I like your friendship“, begitu beliau berucap.

Alhamdulillaahirabbil’alamiin, kalau sudah dalam suasana begini ingatku pada Ayah Bunda tersayang kembali mendera jiwa.  Pesan-pesan beliau yang begitu berharga kembali menemaniku. Hadirnya mampu luluhkan hatiku, hingga aku benar-benar tertunduk dalam tafakur meresapi makna dalam setiap kata yang pernah beliau sampaikan untukku.

Kemudian tanpa ku pernah tahu sebelumnya, banyak orang sedang mengelilingiku, gemuruh suara itu menggema, menyadarkanku dari keadaan tak sadar yang baru saja menghampiriku.  Hingga akhirnya kini aku benar-benar sadar, kini ku sampaikan terima kasih yaa…. untuk semuanya yang selalu berjasa padaku.  Baik yang telah, sedang dan akan hadir dalam kehidupanku, menjadi bagian hari-hariku.  “I Like your friendship”.  Sekarang aku sedang menikmati indahnya kehidupan di dunia maya yang penuh pembelajaran, terima kasih wahai semua guruku yang baik hati.

Tolong bayangkan  wahai sahabat, bila kejadian serupa ini benar-benar terjadi di alam yang sesungguhnya. Tentu dunia nyata kita menjadi semakin penuh makna.  Lebih indah lagi dari hari ini yang sedang aku alami. Karena kebenaran, hari ini aku kembali punya tetangga baru -Fitri-, setelah sekian lama ku ditinggal pergi oleh Siti yang baik hati, sejak saat itu.

^Picture berasal dari sini…^

🙂 🙂 🙂

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Quran Surat An Nuur: 35)

🙂 🙂 🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s