Mentaripun tersenyum (Bag 1)

3 Feb 2009 Hari ini, Mentari kembali lagi untuk menunaikan kewajiban dan rutinitasnya seperti biasa.
Tapi, Mentari tak secerah kemaren. Seperti nya ada yang tidak beres.
Saat pertama masuk ke ruang kerjanya pagi ini, Mentari segera terhenyak di kursi. Lalu segera melanjutkan pekerjaan hari kemaren yang belum selesai. Bismillahirrohmaanirrohiim, Mentari memulai aktivitas hari ini dengan satu kalimat indah. Dengan menyebut namaMu Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.  Semua ini demi meraih RedhoMu Ya Rabb…. Suasana hati Mentari mirip banget dengan cuaca hari ini yang diselingi gerimis syahdu.  Ada mendung menggantung di sanubarinya. Seharian berada di ruangan kerja, Mentari tetap menjalankan tugas-tugas pekerjaan walau tanpa konsentrasi penuh.
Ops! Ada salah satu rekan kerja dari ruangan sebelah masuk ke ruang dimana Mentari berada, pake bawa rokok segala. E-houk,houk…kan Mentari sangat alergi sama yang namanya asap rokok.  Tanya kenapa? Karena aroma asapnya yang sangat khas. Pokoknya Mentari merasa tidak aman banget kalau udah berurusan sama aroma yang satu ini.  But, apa boleh buat, semua kolega Mentari are boy, mereka suka itu. 😦 .  Tiada yang salah dengan perbedaan.
Sepulang kerja pukul 05.00 PM, Mentari enggak kemana-mana lagi, Mentari langsung pulang ke kost-kostan untuk beristirahat. Sesampainya dikost-kostan imut bercat putih, (kayak Rumah Sakit ajah…) Mentari langsung bersih-bersih dan ganti pakaian lalu bersantap menu seadanya. Dalam kondisi seperti ini, yang Mentari ingin adalah menyantap menu masakan Bunda tercinta. Masakan Bunda yang Mentari suka, apa? Kusempatkan bertanya pada Mentari. Tanpa berpikir panjang, Mentari menjawab dengan mantap ” Semua-muanya…!! ” Karena bagi Mentari, makanan yang diolah oleh tangan mulia Bunda, tak ada yang Mentari tak suka. Tapi, untuk saat ini semua itu hanya ada dalam khayalan. Sang Bunda yang sangat dicintainya sekarang nun jauh di pulau Sumatera, sedangkan Mentari merangkai cita-cita melanjutkan langkah di pulau Jawa. Jarak yang begitu jauh untuk dua hati yang menyatu. Selesai menikmati menu tadi, lalu Mentari segera minum obat dan terbaring lemas di pembaringan sampai keesokan harinya.  Lemas.

4 Feb 2009 Mendung kelabu menyelimuti langit pagi ini. Tidak terlihat sinar mentari di ufuk timur. Begitupun dengan Mentari, Mentari sangat sulit untuk konsentrasi hari ini, walau masih di usahain tetap saja ngeloading.  Bener juga, akhir-akhir ini Mentari terlalu banyak mikir kali yaa, sekarang Mentari berusaha untuk berbagi, dan hasilnya is the best Mentari kembali merasakan angin baru di awal pagi ini. Dengan berbagi, semua akan menjadi mudah dan tak akan merasa terbebani. Berbagi cerita dengan kolega, berbagi kabar dengan sahabat.  Alhamdulillah, kembali damai di hatinya. Cuaca semakin dingin, padahal waktu telah menunjukkan pukul 10.30 AM.  Untungnya tadi pagi Mentari sudah antisipasi, pakai jaket super tebal ke kantor. Sesekali Mentari melemparkan pandangan ke luar jendela, terfokus nun jauuuh ke ujung. Tapi sejauh-jauh memandang, yang terlihat hanya hamparan kabut tipis dan awan putih. Gerimis yang kembali turun berkejar-kejaran membuat suasana semakin dingin.  Mentari menggigil!  Lalu ia merapatkan jaket ke tubuhnya yang tirus. “Bbbrrrrrrrr…. ” Mentari semakin menggigil kedinginan.  Pukul 12.00 AM jam istirahat menyapa. Bersama teman-teman yang lain Mentari segera menuju warteg terdekat, dan menikmati menu lunch siang itu dengan tidak terlalu berselera. Mmm..
Pukul 01.00 PM Mentari kembali melanjutkan pekerjaan. Panas tubuhnya meningkat. Kedua tangan dan kakinya dingin seperti salju. Tapi wajah dan matanya panas. Astaghfirullahal’aziim, semoga Mentari diberikan kekuatan oleh Allah SWT sampai jam 05.00 PM nanti. Amiin.  Mentari… keep spirit yaach! Engkau pasti bisa bertahan, Insya Allah.

5 Feb 2009 Pagi ini, Sang Surya mulai menunjukkan parasnya nan elok. Seperti halnya Mentari yang mulai ceria dan kembali bersemangat setelah tiga hari belakangan di serang demam. Saat bangun dari tidur nyenyaknya malam tadi, di pagi yang cerah ini Mentari kembali merasakan betapa indahnya menghirup udara segar kota Kembang di pagi hari. Alhamdulillah.  Seuntai kata syukur terucap dari bibir mungilnya. Sambil merapikan tempat tidurnya Mentari melantunkan zikir penuh cinta kepada penguasa alam semesta, Allah Subhanahuwa Ta’ala.

( Bersambung )

0 thoughts on “Mentaripun tersenyum (Bag 1)

  1. Pingback: Mentaripun tersenyum (Bag 2) « My Surya

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s