Yang paling beruntung dalam hidup ini adalah kita…

English: Nama Two Triple O diambil dari latar ...

Banyak hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita yang kita hadapi dalam hidup ini.  Tapi sadarilah bahwa sesungguhnya kita adalah orang yang paling beruntung yang di ciptakan oleh Allah Swt,  di mulai dari awal penciptaan kita sebagai salah satu sperma yang berhasil di buahi dalam janin ibu kita, dari persaingan dengan beratus bahkan beribu sperma lainnya yang ternyata gagal dibuahi,  sehingga hanya kita yang memiliki kesempatan untuk menikmati kehidupan ini.
***
Dalam rahim ibunda, kita berhak hidup sendiri, merasakan kasih sayang beliau dan penjagaan beliau. Beliau merawat kita dengan sepenuh hati dan tanpa perasaan terpaksa.  Dengan segala kasih sayangnya beliau memberikan perhatian yang lebih kepada kita.  Disamping diri beliau sendiri, ada kita di bagian tubuhnya yang harus diselamatkan dan dibahagiakan. Di sini kita dilayani dengan sepenuh hati, tanpa perlu kita memintanya.  Sehingga kita hanya diam disini menunggu saat kita menempuh kehidupan selanjutnya, yaitu alam dunia.  Setelah sembilan bulan berada dalam kandungan bunda, kita pun siap untuk menempuh perjalanan hidup kita.
***
Sehingga dilahirkanlah kita ke dunia ini dengan selamat.   Semua keluarga menyambut kita lahir ke dunia ini dengan dan penuh perasaan bahagia.   Tidak ada yang menangis, semua tersenyum menatap wajah lucu kita yang masih bersih, suci dan tak bernoda.  Saat itu hanya kita sendiri yang menangis, mengapa? karena kita merasa terkejut terlepas dari kenyamanan yang selama ini kita peroleh dari ibu kita.  Kita pertama kali merasakan hawa panasnya dunia ini, hembusan anginnya yang menerpa diri kita, dan kita merasa bahwa ada kelegaan yang maha dahsyat!!! yang pertama kalinya. Mereka ( keluarga kita ) tidak tahu, apakah kita menangis sebagai tangis bahagia, tangis kecewa, atau tangis kesedihankah?? Atau bisa jadi itu adalah campuran dari semua perasaan yang kita alami.  Semua rasa berkumpul menjadi satu dan tertumpah saat itu.  Yang tahu hanya kita sendiri, karena kita yang merasakannya.
***
Hari pertama lahir ke dunia, kita di bahagiakan oleh sang ayah bunda, mereka melayani kita bak ratu/raja.  Dilayani…..ya, mereka melayani kita. Padahal kita siapa? Bukan siapa-siapa kan??  Tapi, mereka dengan penuh cinta berusaha membahagiakan kita, kita adalah bagian dari diri mereka.  Kita terlahir karena mereka, kita adalah buah cinta mereka, hasil perpaduan cinta mereka. Betapa sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata apakah lagi namanya.  Yang terpenting, kita adalah belahan jiwa mereka. Separoh hati dan jiwa mereka telah terbagi untuk keberadaan kita di dunia ini.  Dapat kita bayangkan, bagaimana sang Bunda melahirkan kita dengan mempertaruhkan nyawanya, beliau meregang nyawa, otot-otot beliau merasakan kesakitan yang luar biasa, karena ada banyak bagian yang terputus dari dalam tubuhnya terutama bagian yang sangat sensitif, seperti tali pusar kita yang terlepas dari salah satu bagian di dalam perut beliau. Itu semua demi kita.  Dapat dibayangkan, betapa sakitnya saat-saat tersebut, saat melahirkan kita ke dunia.  Bayi yang telah bersemayam di dalam perutnya selama kurang lebih sembilan bulan, tiba-tiba di lahirkan.  Sungguh sakit!! Namun Sang Bunda tidak merasakan semua kesakitan itu, yang beliau rasakan adalah perasaan haru, bahagia, dan senang mendengar tangisan kita terdengar di telinga beliau.  Segala kepedihan yang beliau rasakan, tiba-tiba hilang.
***
Sampai umur kita menginjak dua-tiga-empat-lima hari, semua tetap berjalan seperti biasa, sang orang tua dengan penuh cinta tetap melayani kita, karena yang kita bisa hanya menangis…menangis…dan menangis, untuk mengungkapkan segala keinginan kita.
***
Apakah kita tidak merasa beruntung?
***
Lalu kita menginjak usia balita.  Kita masih di lindungi dengan senang hati. Kita di ajarkan berbagai hal, sehingga kita bisa tersenyum, tertawa dan berucap kata, walau masih satu atau dua patah kata.  Namun kita telah banyak berubah.  Lebih bisa memahami rasa, dan memiliki kemauan, sehingga semua kita lakukan dengan baik.  Tak ada hal yang luput dari tindakan kita, kita belajar hal-hal baru, merangkak, duduk, dan mulai berdiri. Semua kita hadapi dengan tidak ada rasa takut sedikitpun, karena itu adalah hal-hal baru bagi kita.
***
Setelah beberapa tahun kemudian, kita pun sudah siap untuk belajar di lingkungan yang lebih luas.  Kita didaftarkan untuk bisa belajar di sekolah dasar dan menuntut ilmu di sana, selain menuntut ilmu di lingkungan keluarga.  Di sekolah pun kita menemukan hal-hal yang baru, kita bertemu dengan guru-guru yang baru, teman-teman dari berbagai daerah asal, dan banyak ragam sifat yang mereka miliki.  Ada yang cengeng, pintar, baik, dll. Kita pun mempelajari mereka, karakter yang mereka miliki pun menunjang perkembangan kepribadian kita.  Sehingga kita pun ingin seperti mereka.  Kita memelas pada orang tua di rumah untuk di belikan baju seperti yang mereka punya, memiliki tas, sepatu dan lainnya, agar kita juga sama seperti mereka.  Orang tua kita pun memenuhi keinginan kita tersebut.
***

Apakah kita belum merasa beruntung?

Kita memiliki orang tua yang senantiasa memenuhi keinginan dan kebutuhan kita? Mana ucapan terima kasih kita pada mereka? Mana..??
***
Setelah enam tahun belajar di SD, kitapun melaluinya dengan memperoleh segudang ilmu, pengalaman suka-duka-dihina-disakiti-dipuji-dan lain-lain, atas apa yang telah kita perbuat selama enam tahun tersebut.  Sehingga kita pun menjadi seorang anak yang lebih percaya diri dalam melangkah. Tahukah kita?? Tidak semua anak mendapatkan kesempatan seperti kita untuk memperoleh semua itu.

So, mana rasa syukur kita atas keberuntungan itu??
***
Lalu kita pun ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Sekarang kita berada di bangku SMP, jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi.  Dan teman-teman yang kita miliki bisa dari berbagai daerah dan itupun membawa dampak kepada kita tentang kehidupan.  Kita mulai dikenalkan dengan daerah yang lebih jauh.  Karena mereka juga berasal dari daerah tersebut.  So, kita pun harus memahami mereka.  Seiring berjalannya waktu, telah 3 tahun kita menempuh pendidikan di sini, banyak kenangan, harapan dan keinginan yang kita punya yang belum tercapai saat ini.  Dan semua itu masih tergantung nun jauh dalam asa dan harapan.  Ya.  Cita-cita yang belum tercapai, masih jauh perjalanan yang harus kita tempuh untuk mencapainya.
***
Karena masih adanya harapan yang kita miliki untuk memperoleh penghidupan yang lebih baik lagi di masa yang akan datang, maka dengan segala keberanian, niat dan tulus, kita pun mencoba mendaftarkan diri untuk bisa menempuh pendidikan di SMK/SMU/SMA, dengan jurusan / program studi yang lebih spesifik lagi.  Disini ada berbagai pilihan bidang studi.  Ada ilmu sosial, ilmu alam, ilmu bisnis, dan masih banyak lagi yang lain.  Di sinilah kita di hadapkan pada pilihan yang sangat komplit, untuk bisa menentukan akan menjadi apakah kita selanjutnya? Karena saat ini adalah yang menentukan.  Akan menjadi seperti apa kita selanjutnya??
Mmmm….saat ini adalah saat yang paling rawan dalam kehidupan seorang insan, di sini  kita masih berjiwa labil, suka terbawa suasana, alias suka ikut-ikutan.  Karena belum punya pendirian yang teguh.  Di sini sangat di butuhkan perhatian yang dalam dari orang tua, agar sang ” kita ” tidak terjerumus pada hal-hal yang tidak diinginkan.  So, saat ini orang tua harus kembali didekati dengan pendekatan jiwa, bukan berarti selama ini kita tidak dekat dengan orang tua, tapi di sini kita akan banyak di goda oleh berbagai hal, sharinglah pada beliau selalu terhadap apapun yang kita alami, sehingga beliaupun mengetahui dan memahami apa yang sedang kita alami.  Jangan pernah sedetikpun menjauh dari beliau yaa.   Kita saat ini adalah seorang yang sangat egois, dan umumnya tidak mau di atur oleh orangtua, karena kita merasa klo kita sudah bisa segala hal padahal belum terbiasa.  Berarti belum bisa dikatakan bisa yaa.. ( kan bisa itu karena biasa, ya nggak? )
***
Setelah 3 tahun, waktupun berlalu, kita telah menyelesaikan pendidikan di jenjang ini.  Saat-saat yang sangat rawan dalam usia kita telah kita lalui dengan segala pengalamannya.

Inilah saat paling indah dalam hidup.
***
Lalu kita pun berencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.  Itu bagi yang orang tuanya memiliki dana yang cukup untuk itu. Tapi bagi yang kurang beruntung, dengan berat hati ( mengundurkan / bahkan memendam niatnya tersebut sampai suatu saat nanti pertolongan Allah datang ) untuk mengabulkan.  Jangan hanya gigit jari–tapi isi waktu luang ini dengan hal yang bermanfaat, seperti berhobi ria ( melakukan hal-hal yang menjadi hobby ) yang bermanfaat tentunya yaa, dan semuanya lakukan dengan tulus ikhlas disertai dengan doa.  Kalau tidak, pasti stress menyapa kita, mau gitu di sapa sama si virus stress??

Hii syeremm, jangan sampai dech.
***
Allah selalu bersama orang-orang yang sabar dan mendekatkan diri kepadaNya. Dan yakinlah dengan sepenuh hati, bahwa Allah Swt Maha dekat kepada hamba yang selalu mendekatiNya.
***
Kesabaran akan selalu berbuah kemanisan iman dan kelegaan pikiran.
***
Kesabaran is my life, there is no time without sabar, OK 🙂
***

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s