1

Ekspresi Cinta

Hai, Monday. Apakah penuh ekspresi? Bagaimana dengan cinta? Semoga ia ada dalam ekspresimu yaa. Sehingga tergambar melalui sikap, terasa melalui tatap, terlihat melalui suara, dan terdata keberadaannya.

Pagi Senin nan sahaja, mari membukanya dengan sebaris kalimat syukur di dalam hati. Ayo menghiasinya dengan setitik sabar dalam detik waktu.

Semoga bertumbuh syukur menjadi separagraf, bertambah paragrafnya, bertambah semakin banyak menjadi sebuah catatan tentang apa lagi yaa?

Mudah-mudahan berlanjut sabar menjadi dua titik yang bertemu, kemudian membentuk garis singkat, lalu menjadi tanda minus, lalu membentuk lengkungan senyum di bibir, berlanjut membentuk lingkaran yang utuh.

Baiklah teman. Jumpa lagi pada pagi Senin, mari bersenyuman, yuuk. Senyuman yang ku rangkai untukmu, menjadi senarai syukur berikutnya.

Yups, dalam rangka mengekspresikan cinta, ku bersyukur engkau ada. Makanya tersenyum, bahagia.

Yah, ada dua cara untuk mengekspresikan cinta yang ku kemas saat ini, teman. Semoga menambah daftar syukur kita yaa.

1. Share Your Smile ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Tersenyum. Ekspresikan cintamu dengan senyuman. Senyum saja, senyum lagi dan senyum terusssss, syalalaa. Bersamanya engkau bahagia. Walaupun sebelum senyuman hadir tidak bahagia. Senyum dapat membahagiakanmu, coba saja.

Wajah yang awalnya berat, saat engkau senyumi ia menjadi ringan. Mata yang mengatup, saat engkau senyumi menjadi terbuka. Pikiran yang penuh, saat engkau senyumi, membentuk ruang. Hati yang dongkol, saat engkau senyumi menjadi sumringah. Lalu, engkau bahagia. Coba saja.

Berikut kisahku bersamanya, senyuman.

Pada akhir pekan, kami berjumpa. Jumpa lagi, setelah sebelumnya juga bersua. Beliau adalah tamu ke dua dan ke tiga, yang hadir menemui kami. Saat tamu pertama masih ada. Siapakah tamu pertama? Beliau yang masih belum ku cari tahu lagi, siapa sesungguhnya. Who is he?

Let’s melanjut suara tentang tamu yang ke dua dan ke tiga ini. Marii.

***

“Apakah yang engkau senyumi, dear baby Faiza?,” ku menanya padanya.

Pertanyaan singkat sebagai tanda, bahwa aku sedang memaknai dan sangat menyukai senyumannya.

“I am smiling with you, Etek,” tentu begini jawabnya.

Jika saja Faiza sudah bisa bicara. Namun ia hanya tersenyum padaku, bersama suara yang tidak ku mengerti, bahasanya.

Ya, Faiza namanya.

Batita yang belum bisa bicara memang. Baru bersuara saja, bisanya. Ditambah suara-suara pekikan kecil yang sering ia keluarkan dan berbahasa entah dari planet apa.

Yap, berhubung masih kecil, ya begitulah adanya. Usianya menjelang enam bulan. Berbeda sebulan saja dari ponakan kembarku, Verdy & Varyz. Faiza yang lebih besar.

Faiza yang masih lucu-lucunya dan menggemaskan, membuatku ingin membersamainya lebih lama. Saat ia dan bunda berkunjung. Namun tidak bisa, dear friend. Karena ia sudah harus kembali. Setelah bundanya menyelesaikan keperluan dengan kami.

Ya, Faiza tersenyum padaku dan juga engkau, teman.

Halo, adakah engkau tersenyum juga pada Faiza, teman?

***

Engkau pun tersenyum segera. Senyuman buat Faiza dan juga aku. Engkau tersenyum padaku, karena kita bersua lagi dalam kesempatan terbaik ini. Bertemu dalam rangkaian kata, untuk bersapa. Walau hanya melalui tatapan mata di alam maya. Yha.

Senyuman sebagai ingatan, buatmu dariku. Sebagai ekspresi cinta. Ya, aku tersenyum padamu, duhai teman. Senyuman ini berwarna putih.

Artinya? Engkau menanya.

Pernahkah engkau mengingat dan atau teringat, teman? Ingatan yang mengajakmu mengembangkan bibir, segera. Bersama ingatan pada hal-hal indah yang telah engkau lalui. Misal; saat menikmati liburan akhir pekan di pantai, bersama keluarga yang membahagiakanmu. Atau engkau tersenyum karena teringat senyuman yang sedang engkau jemput. Meski sebelumnya engkau tanpa ekspresi. Namun engkau mudah saja menarik dua ujung bibir bersamaan, engkau tersenyum.

Ya, bisa saja, bukan? Seperti yang ku alami. Aku hadir di sini, untuk liburan. Yeaay! Aku ga liburan kemarin, ckckck. Jadi sekarang aja, yayaya.

Yuup, aku baru tersenyum juga, saat memandang senyuman Faiza, lagi.

Senyuman yang sempat ku bawa, sebelum kami kembali berjarak. Senyuman yang mengingatkanku untuk tersenyum saat ini. Dan menjadikannya sebagai inspirasi.

Senyuman penuh makna. Maknanya tidak biasa. Namun mewah. Iyah.

Tepat saat ini. Saat ku teringat padamu. Ingatan yang mengajakku menepi, bersama jemari. Lalu tersenyum seperti ini.

Senyuman ini ku rangkai, dalam ingat padamu. Semoga engkau juga mengingatku, yaa. Yaaa. Yaaaa, dear baby Faiza. I Love You So Much! ๐Ÿ˜™ And you too, my dear friend.

Senyuman ini ku rangkai di antara senyuman demi senyuman yang terus ku upaya. Semoga engkau masih tersenyum, wahai my dear friend. Walau berat, tersenyumlah, ya begitu.

Baby Faiza aja tersenyum, masa iya engkau engga? Ku mengingatkan diriku, lagi.

Ia yang sebentar tersenyum dan kemudian menyudahi. Ia yang sempat juga mengalirkan bulir bening permata kehidupan meski dalam senyuman. Ia yang melihat bulu-bulu kucing aja, langsung menggugurkan airmata, dalam hening. Tanpa terisak. Tetiba airmata jatuh berderai, hangat di pipi.

2. Give a Gift

Ekspresi cinta berikutnya adalah membagi hadiah. Karena cinta adalah keinginan untuk berbagi, ekspresikanlah dengan hadiah.

Hadiah bisa berbentuk benda, ucapan, tulisan, atau kehadiran. Hadiah yang dapat engkau lihat wujudnya, atau just a dream. Yiha! I ever dream it. Aku pernah mengimpikannya.

Aku punya impian, membagikan diriku sebuah hadiah dalam berbagai kesempatan. Hadiah yang ku titipkan dalam waktu-waktu berkesan, menjadi catatan. And this is my gift to myself. A little note about ‘Ekspresi Cinta’.

Ia menjadi hadiah tidak ternilai, oleh materi. Tiada sesiapa mampu menakarnya, selain aku. Apakah ada airmata dalam prosesnya atau tidak. Apakah kemudian ku hapus saja atau mengenang. Apakah sebagai senyuman atau menjemput.

Ingatlah. Airmata boleh menetes, dalam suasana bagaimana pun di hatimu. Namun senyuman mesti tetap dan harus engkau rangkai yaa. Agar engkau tahu, kapan airmatamu bermakna bahagia atau sebaliknya.

Sedapat mungkin, tersenyumlah. Bukankah mentari sering-sering mengingatkanmu tentang hal ini?

Mentari yang terus berseri-seri, meski tidak selalu terlihat oleh matamu. Tepat, saat awan mencandai. Begitu juga denganmu.

Engkau dapat belajar darinya, sebagai bagian dari alam yang indah ini. Dengan demikian, waktu-waktu yang engkau jalani berkesan. Bagaimana pun warnanya.

Saat hatimu bahagia, tersenyum bisa lebih mudah. Akan tetapi, yang namanya kehidupan tidak selalu tentang bahagia saja. Suatu waktu ada yang mencolek sudut hatimu, dengan tang.

Wait! Maksudnya apa, yaa? Engkau bertanya, namun tak ada jawaban. Engkau pun bertanya-tanya. Seraya menemukan jawabannya.

Engkau tetap melangkah, mengurai tanya. Tidak hanya pada manusia yang bisa bicara. Pada dedaunan yang jatuh engkau juga bicara.

Daun yang tidak akan kembali pada tampuknya pun bersuara, “Karena engkau bisa menghadapinya. Ya. Hadapilah dan senyumi, semoga indah dan menenangkan, dalam prosesnya. Sebagaimana aku, yang tersenyum mengikuti arah angin ke mana ia membawaku. Setelah tampuk dan aku, terlepas. Sudah menjadi ketentuan untuk diri. Semua ada dalam aturan-Nya. Terimalah.”

Demikian secuplik ingat buatmu, teman, tentang ekspresi cinta dariku. Semoga hari inimu penuh ekspresi, ya.

Happy Day![]

๐Ÿ˜Š๐Ÿค—๐Ÿ˜Š