Tanda Cinta

​Aku sedang di dalam ruangan. Makan malam, sambil menyimak bacaan demi bacaan. Menyendok sesuap demi sesuap, lalu berhenti. Kemudian membaca lagi. Sesekali tersenyum, lalu tertawa. Kemudian makan lagi, dan begitu seterusnya. Namun makananku tidak habis-habis juga. Mengapa?

Di luar sana, rintik hujan masih terdengar, pelan. Sedangkan senja, sudah berganti malam. Yah, di luar pasti sudah kelam. Sehingga aku, tidak bisa ke mana-mana lagi. Maka, lebih memilih di dalam ruangan, menghiasi waktu menjadi berharga.

Sekitar hening, tiada suara apa-apa. Kecuali suaraku yang sesekali terdengar juga. Tertawa kecil, sebentar. Kemudian diam lagi. Sunyi.

Kondisi seperti ini, tidak jarang ku alami. Apalagi sejak tiga puluh empat hari belakangan. Tepat, saat my roommate tidak bersamaku. Karena ia harus meneruskan langkahnya di sana. Untuk mengikuti kegiatan praktik kerja lapangan, adanya. Sebagai salah satu proses yang mesti ia tempuh. Sebagai salah satu syarat lulus dari jenjang pendidikan yang sedang ia tempuh. Ini adalah, bagian dari masa pendidikan.

Kegiatan praktik kerja lapangan untuk bergabung dengan kenyataan, menjadi bagian dari masyarakat. Belajar di dunia yang asli, tidak lagi di dalam ruangan saja. Bukan bergelut dengan teori lagi, akan tetapi berkecimpung dalam kenyataan. Hingga tidak terasa, sudah sebulan lebih ia jauh dariku. Namun, belum sekalipun ku rangkai catatan tentang kepergiannya. Maka, saat ini ku ingin mendudukkan sebuah catatan, tentang ia. Tentang Scatzy yang sudah kembali.

“Hai, memangnya Scatzy pergi ke mana sebelum ini? Koq engga cerita-cerita sama aku?” engkau menanyai.

Heheee, begini ceritanya, teman.

Menjelang kepergian Scatzy…

Scatzy namanya. Seorang gadis berdarah Jawa nan lembut dan ayu. Kalau bicara, sangat tertata dan selama kebersamaan kami, tidak pernah ia membuatku terluka. Karena pintarnya ia mendata kata-kata, mengalirkan ekspresi, membuatku sungguh tenang bersamanya.

Sampai detik-detik keberangkatannya, perasaanku mulai berulah. Ya, berbeda dari biasanya. Yang ku tahu, ini adalah efek akan berangkatnya Scatzy, ya. Aku mengerti, ku sangat sedih. Maka, sering kali terdiam, bersikap asing. Aku yang mengerti kondisiku, pun baring-baring, di depan tipi.

Ketika itu, malam hari. Malam hari sebelum keberangkatan Scatzy. Perasaanku sungguh tak enak. Aku tidak seperti biasanya. Berubah total. Tidak bisa bicara banyak. Meski biasanya juga engga banyak bicara. Namun kali ini ada yang kurang beres dengan diriku. Aku berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Ke kamar, lalu ke samping tangga di depan. Sesekali baca-baca, lalu bolak balik ke kamar dan ruang tengah. Hingga akhirnya berbaring lama di depan tipi.

Aku sedang menatap layar bercahaya itu, ketika sebuah suara menyapaku. Scatzy bilang, “Kakak, sudah ku pindahin yaa, barang-barangku. Kakak kalau mau bobo dulu, bobo laa…”

Suaranya yang ku deteksi menyimpan rasa bersalah. Atau, perasaanku aja kali yaa.  Aku jadi engga enak hati. Begini rasanya engga enak hati itu, yaa. *.^

Padaku, ia merasa bersalah. Karena sudah membuat kamar kami berantakan. Iya, biasalah. Kalau mau pindahan, pasti saja ada barang yang tergeletak di sana dan di sini, bukan?

Aku, bengong, aku bertanya-tanya. Kok bisa, Scatzy bilang gitu. Padahal, aku tidak memintanya merapikan kamar. Biar saja seperti adanya, tidak mengapa. Namun, ia dapat membaca sikapku rupanya. Sikapku yang berbeda. Bukan karena berantakannya kamar, namun karena aku sendu harus berpisah dengannya. Tapi engga bisa nangis. Huuwaa. Jadinya bersikap aneh. Diammmm lama.

Aku tersentuh. Aku bertanya. Bagaimana bisa ia mengetahui? Lalu mengenali perubahan sikapku sebagai kesalahannya. Sungguh, sangat pekanya ia terhadapku. Sungguh, aku belajar darinya tentang empati, peduli dan mengerti. Aku yang terkadang semau sendiri, tapi ia tidak sekalipun membuatku tersakiti, oleh sikapnya.

“Oiyaa, Scatz, bentar lagi, yaa,” ku memandangnya sekilas. Karena engga sanggup. Kemudian mengalihkan tatapan mata ke depan tipi, lagi. Meski tidak sedang mengikuti siaran yang ada di depanku, namun hanya untuk mengalihkan perhatian saja. Karena aku masih tidak bisa menangis. Padahal aslinya, aku mau tersedu ketika itu.

“Tidak lama, hanya satu setengah bulan saja, Kak,” jawab Scatzy.

Ketika ku bertanya lagi, untuk kesekian kalinya. Berapa lama ia akan menempuh masa praktek kerja lapangan di luar kota.

Di sebuah daerah, jauh dari keramaian. Di lokasi tanpa signal sama sekali, begini ia memaparkan. Setelah dapat kabar dari teman-teman sekelompoknya, usai survei lapangan.

“Oiiya? Jadi kita tidak bisa kontakan, dong yaa? Aku pasti merindukanmu, Scatzy. Hihiiii. 😀 ,” wajahku kemudian berseri, menanggapi informasi yang ia sampaikan, hari-hari sebelumnya.

***

Beberapa saat setelah Scatzy merapikan kamar, aku bilang padanya, “Scatz, kakak engga enak hati, ada apa yaa?”

Scatzy menanggapi, “Kakak mikirin apa?”

“Entahlah, ga tau juga. Padahal tadi engga ada ngapa-ngapain. Hanya sempat kirim-kirim kabar sama temen. Ia mau ajak kakak pergi-pergi besok. Mungkin pulangnya menjelang malam. Padahal, Scatzy mau berangkat, juga besok yaa?,” saat itu.

Ini adalah malam H-2 menjelang keberangkatan. Aku masih tidak dapat merelakannya pergi. Sehingga ekspresiku menjadi tidak terdata lagi. Bahkan oleh diriku sendiri.

Ditambah lagi, ku ada di antara dua pilihan. Mau bantuin Scatzy beres-beres persiapan atau menerima ajakan temanku. Kesimpulannya, diriku lagi galau, rupanya. 😀

***

Malam pun berlalu, setelah ku pamit bobo lebih awal.

Keesokan harinya, aku dan seorang teman, jadi pergi berwisata. Menghabiskan waktu seharian, hingga ke luar kota. Hahaaa, aku bahagia lagi. Walau sebelumnya sempat tidak menentu.

Dalam perjalanan, sesempatnya, ku tanya diri, “Mengapa ia bisa begini? Padahal Scatzy hanya teman biasa, yang engkau kenal di kota ini. Selanjutnya menjadi roommate dan sering mengerti kondisimu. Tidak jarang membaikimu dengan menawari susu putih sachet-an yang ia punya. Ia mudah berbagi untukmu, walau tidak jarang engkau menolak. Karena engkau lebih suka susu cokelat dari pada putih. Ia pun mengerti, tidak memaksamu. Ia sangat perhatian padamu, tidak sekalipun membuatmu tersulitkan. Lalu, bagaimana bisa engkau menyikapi rencana keberangkatannya dengan ‘engga enak hati?’

Aku juga berpikir begini untuk menghibur diri. Menyampaikan pada diriku sendiri, agar ia berseri lagi, “Bagaimana bisa ku tidak merelai kepergiannya? Padahal, ia pergi untuk meneruskan proses pembelajarannya? Ia pergi untuk menjemput citanya? Ia pergi, untuk kembali lagi.”


Sampai saat ini, ku masih belajar mendata diri. Ketika ia tidak menentu, ku mencari sebentuk solusi. Bagaimana bisa begini, sebabnya apa? Sehingga, kondisi serupa tidak terjadi lagi.

Apalagi kalau ku bersama dengan orang-orang yang tidak mudah mengerti diriku. Waaaah! Bisa masalahbaru, ini. Hu um. Aku masih belajar tentang diri. Mendekatinya, sekali lagi. Tepat, saat ia terasa jauh dan tidak ku kenali.

Begini aktivitas yang ku lakukan, di sela waktu luang.

***

Malam kedatangan Scatzy…

Hening, sunyi. Sehingga suara apapun bisa terdengar jelas. Di tambah lagi, tetesan hujan di luar sana sudah mereda. Tidak ada lagi titik-titik air jatuh ke atap. Hening, hingga terdengar jelas sapaan salam, dari luar.

Suara yang bagiku tidak asing, namun kali ini lebih berat. Sebab sudah tidak berjumpa dalam waktu lama, kah? Sehingga ada perbedaan darinya? Siapa yaa?

Aku bertanya, kemudian bangkit. Meninggalkan sejenak makanan, yang masih belum habis. Padahal sudah dari tadi aku menyantapnya.

Sebelum membuka pintu, ku mengintip dari balik kaca. Siapakah gerangan yang datang menjelang malam? Kalau teman-temanku, biasanya bukan jam segini kembalinya. Ku perhatikan teliti. Di luar, ada sosok yang ku kenal. Dalam gelapnya malam, ia tersenyum menawan. Aku tidak menyangka, ia datang secepat ini.

“Haaaaaii, Scatzy udah pulang? Asyikk-asyiiik- ada teman lagiiii,” aku jingkrak-jingkrak kegirangan. Aku bahagia, sambil loncat-loncat senang. Ternyata, kedatangannya lebih cepat dari perkiraan. Baru saja lewat sebulan. Tepatnya tiga puluh empat hari. Ia sudah kembali. Kami bertemu lagi setelah lama berjauhan, ku kembangkan senyuman untuknya.

Beberapa saat setelah kedatangannya, beberapa dus barang pun berdatangan. Teman-temannya yang mengantar, hingga ia tidak kesulitan. Sungguh, kerjasama yang ku acungi jempol. Begitu pun sebelum keberangkatan. Scatzy yang berperan sebagai sekretaris kelompok, menyediakan diri untuk mengumpul perlengkapan yang mereka butuhkan selama di tempat kami. Sehingga, ketahuan sekali kalau ia akan pergi lama dan jauuuh. Seperti pindahan saja, kesannya. 😀 Semua itu, mempengaruhiku, ternyata. Ah! Aku.

“Scatzy, udah makan belum? Kakak lagi makan, belum selesai-selesai, hihiii. 😀 ,” aku tersenyum untuknya.

“Aku mau yaa, Kakk, lapeeerrrr… Ini menggodaaaaa,” pintanya dan menyantap penuh senyuman. Lalu menyuap sendok demi sendok.

Selanjutnya, kami bincang-bincang tentang pengalamannya di ‘perantauan‘ selama sebulan lebih. Ia pun berbagi tentang kesan dan pesan melalui cerita. Termasuk sesi bagi-bagi kenang-kenangan. Ada bungkus kecil, dan juga besar. Salah satunya adalah boneka panda. Sambil membongkar hadiah demi hadiah Scatzy bilang, yang menghadiahi boneka tersebut adalah warga setempat, seorang laki-laki.

“Ia memberinya pun, malu-malu. Aku tidak menyangka, dapet hadiah begini darinya,” Scatzy tersenyum dan memperlihatkan surprised menurutkuTernyata pada bungkusnya ada tulisan dari pengirim, “Untuk Scatzy, yang ku kagumi sejak lama 🙂 .”

Senyuman Scatzy hari ini penuh arti. Ku baca melalui bola matanya yang berbinar. Lalu ia senyum-senyum lagi sambil membuka hadiah-hadiah yang lain. Scatzy terlihat bahagia.

Aku turut bahagia dalam kebahagiaannya. Walaupun ia bilang, sekembali dari ‘perantauan‘ kulitnya jadi hitam.

Haia! Ga apa-apa, namanya juga di ‘perantauan’. Tentu beda kondisinya dengan ‘kampung halaman’. Dan semua sudah berlalu, bukan?” ceriwisku di antara berai kenangan yang ia bagikan.

“Iya, Kak, banyak kesan dan pesan yang ku petik selama di ‘perantauan’. Banyak pelajaran yang ku jadikan pengalaman. Semoga menjadi bekal untukku meneruskan kehidupan,” ia senang, aku pun senang.

***

Kembalinya Scatzy, mengingatkanku pada kampung halaman juga. Aku ingin pulang, meski sejenak. Kampung halaman, yang semakin dekat dalam ingatan. Waaa, homesick ku pun kambuh. Pekan depan, semoga aku sudah di sana. Berjumpa keluarga, dan teman-teman.

Ingat keluarga, aku ingat bagaimana mereka menyambutku. Pasti saja ada menu special yang keluarga hidangkan saat ku kembali. Walaupun aku tidak request. Hidangan yang ku nikmati penuh senyuman. Sambil kami cerita-cerita kisahku di perantauan. Seperti Scatzy menceritaiku perjalanannya ‘merantau’ sejenak selama sebulanan.

Sehingga, kedatangan Scatzy lagi, ku sambut dengan ‘Roti Goreng Tanda Cinta‘. Roti goreng sederhana yang ku kreasi pagi ini, special untuk menyambut dan merayakan kedatangannya.

Semoga suka, dear Scatzy. 😀 Because you are my family. Engkau bagian dari keluargaku, di sini.

Mengapa? Karena sempat ku pinta padanya, detik-detik menjelang kami rehat, sebelum terlelap, “Scatzy, tolong sebutkan sebuah kata saja.”

Scatzy bilang, “Love”.

Oke, dan aku bisa menjadikan sebagai inspirasi. Sebab catatan ini untuknya, tentangnya. Thank you dear sister and happy day, Scatzy. This is for you. Hug. With love.[]

🙂 🙂 🙂